Taksi berhenti di depan sebuat Depot Sarapan Pagi. Depot itu tidak begitu ramai. Nosa keluar dari taksi, kemudian membukakan pintu untuk Kaylila. Kaylila sedikit tertegun, namun kemudian keluar dari taksi, dan berjalan mengikuti Nosa. Nosa berhenti di sebuah meja yang terletak di sudut ruangan, dan sepi. Nosa menarik kursi untuk Kaylila, kemudian duduk di hadapan Kaylila.
Pelayan yang datang kemudian menawarkan menu yang dipesan.
“Kamu mau pesan apa?” Tanya Nosa.
Kaylila terkejut, tanpa melihat menu, segera menjawab :
“Saya ikut saja, yang mas Nosa pesankan.”
“Oke. Saya pesan nasi pecelnya 2 porsi dan teh hangat juga 2 porsi. Tambahkan menu tambahannya di piring tersendiri.” Nosa mengatakan pesanannya kepada pramusaji.
“Baik, Pak. Mohon ditunggu pesanannya.”
Pelayanpun pergi, meninggalkan Nosa dan Kaylila yang sama-sama berdiam diri, sibuk dengan pikiran meraka masing-masing.
“Banyak yang ingin saya tanyakan sama Mas Nosa.”
Kaylila memulai percakapan. Matanya masih sembab, namun air matanya sudah tidak mengalir lagi.
“Tanyakan saja.” Jawab Nosa.
“Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya?” Tanya Kaylila.
“Tidak pernah.” Nosa menjawab dengan singkat.
“Apakah Mas Nosa memata-matai saya?” Tanya Kaylila lagi.
“Apa? Memata-matai?” Nosa bali bertanya, kemudian Nosa tertawa terbahak-bahak, seolah pertanyaan Kaylila adalah sebuah cerita lucu yang patut ditertawakan.
“Apa untungnya bagi saya? Saya tidak punya waktu untuk itu.” Jawab Nosa setelah menghentikan tawanya.
“Lalu, bagaimana bisa Mas Nosa seolah-olah mengetahui segala hal mengenai hubungan saya dan Mas Genta? Mulai dari ultimatum mama untuk segera menikah usia 27 tahun, dan Mas Genta yang meminta batas waktu untuk menikahi saya. Apakah saya merupakan salah satu target dari tujuan yang ingin Mas Nosa capai?” Kata Kaylila lagi dengan penuh keraguan dan tanda tanya besar yang sedari kemarin membebani pikirannya.
“Hanya itu yang ingin kamu ketahui? Tidak ada yang lain? Bahkan hal yang paling menentukan hubunganmu dan si b******k itu? Apakah pertanyaan itu cukup membuatmu puas?” Tanya Nosa dengan penekanan pada kata u*****n itu.
Kaylila mengerutkan kening. Semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nosa. Kaylila menilai seolah-olah Nosa dan Genta sudah saling mengenal sehingga bisa mengeluarkan kata-kata sedemikian rupa.
Pembicaraan terputus, karena pramusaji mengantarkan pesanan Nosa. Dua porsi nasi pecel, dua gelah teh hangat dan sepiring lauk tambahan. Setelah pramusaji meninggalkan mereka, Kaylila kembali berbicara pada Nosa.
“Maaf, saya semakin lama semakin tidak mengerti dengan apa yang Mas Nosa sampaikan dan apa yang Mas Nosa ucapkan. Puas atau tidak itu relatif, tergantung saya melihatnya dari sudut pandang yang mana. Minimal saya bisa mendapatkan petunjuk akan semua tanda tanya besar yang saya pun tidak mampu mengutarakannya satu persatu. Tolong jangan buat saya bingung.” Kaylila berkata sambil memohon.
Nosa tersenyum mendengarkan penuturan Kaylila yang sudah jelas sekali merasakan keanehan yang terjadi. Darimana Nosa mengetahui tentang hubungan Genta dan Kaylila dan apa yang menjadi dilema bagi hubungan mereka. Tapi tampaknya Nosa tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Kaylila. Nosa ingin Kaylila mengetahuinya sendiri. Siapakah Genta sebenarnya.
Kaylila yang semula menatap lawan bicaranya, namun saat melihat Nosa tersenyum sinis, segera Kaylila membuang tatapannya. Kaylila merasa kesal, seolah-olah dipermainkan.
“Saya tidak ingin mengatakan apapun sebelum kamu menemukannya sendiri, melihat dengan mata kepalamu sendiri. Saya hanya mampu mengatakan bahwa kamu sangatlah naïf.” Nosa mengatakan hal tersebut dengan nada tegas mencoba meyakinkan Kaylila.
Kaylila tak mampu menahan amarahnya. Lama-lama pria yang menyebalkan ini membuatnya muak, dan geram. Apa sebenarnya maksud dan tujuannya selama ini padanya.
“Kalau kamu hanya ingin mengolok-olok saya, sepertinya tidak perlu bersikap seolah-olah kamu adalah pahlawan, yang menolong saya dari hal yang memalukan dan menyakitkan bagi saya. Seharusnya kamu berpura-pura saja tidak mengenal saya. Kamu sudah melukai harga diri saya.” Kaylila berucap dengan berapi-api, tak sanggup menahan emosi yang telah ditahannya sedari tadi.
“Apakah merupakan kebanggaan bagi kamu melihat saya yang sedang dalam fase ini? Ataukah sebenarnya kamu menertawakan kebodohan saya?” Kaylila bertanya dengan penekanan pada kata kebodohan.
“Sudah? Ada lagi?” Nosa menjawab dengan nada cuek. Nosa menimpali ucapan Kaylila dengan sikap tenang. Masih dengan gayanya yang cuek, dan menyebalkan.
“Kamu menyebalkan!” Kata itu keluar secara langsung dari bibir Kaylila.
Akhirnya keluar juga kalimat itu dari mulut Kaylila. Nosa tertawa terbahak-bahak lagi, lebih lepas. Sejenak Kaylila takjub melihat keindahan yang ada dihadapannya ini. Baru mengenalnya, tapi melihat tawanya yang lepas, sebuah pemandangan yang indah dirasakan Kaylila. Membuat Kaylila melupakan kegundahan hati dan kemarahannya untuk sementara waktu.
Sampai pesanan datang, Nosa masih tertawa, membuat Kaylila memonyongkan mulutnya, kesal. Kaylila menundukkan kepalanya, tak sanggup berbuat apa-apa. Kemudian Nosa menghentikan tawanya.
“Bagaimana dengan tawaran saya semalam? Sudahkah kamu memikirkannya? Semakin cepat semakin baik. Saya hanya tidak ingin melihat kamu menderita lebih lanjut lagi dengan pria b******k itu.” Kata Nosa mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kaylila langsung mengangkat kepalanya, menatap langsung kearah kedua mata Nosa. Kaylila masih menduga bahwa Nosa sedang bergurau. Namun, Kaylila salah. Nosa sangat serius, sangat serius. Mustahil Nosa hanya bermain-main saja dengan ucapannya. Namun, apakah pernikahan dengan perjanjian ini baik untukku? Kaylila bimbang.
“Bukankah itu hanya candaanmu saja?” Tanya Kaylila langsung.
“Tidak masalah kalau kamu menganggap itu candaan. Tapi yang jelas, saya bukan pria yang dengan mudahnya akan menarik apa yang sudah saya katakan.” Jawab Nosa.
Mereka terdiam, Kaylila tidak mampu bersuara, masih dengan keterkejutannya.
“Pilihan ada di tanganmu. Apa yang menjadi pertanyaan ingin kamu ketahui, akan segera kamu temukan jawabannya. Dengan satu syarat, kita menikah dengan perjanjian. Sekali lagi, tanpa cinta, tanpa saling bersentuhan satu sama lain. Pernikahan kita adalah pernikahan yang hanya sekedar formalitas saja demi status dan kepentingan kita masing-masing. Saya rasa cara ini dapat saling menguntungkan diantara kita.” Kata Nosa.
“Apa alasan yang membuat Mas Nova ingin menikahi saya?” Tanya Kaylila serius.
“Kamu butuh alasannya atau kesungguhan saya?” Nosa balik bertanya.
“Entahlah. Saya tidak dapat berfikir saat ini. Saya tidak tahu harus bagaimana.” Jawab Kaylila.
“Bisakah saya meminta nomor telepon orangtuamu?” Tanya Nosa.
“Untuk apa? Kebetulan saya tidak membawa handphone saya.” Jawab Kaylila sambil memangku dagunya dengan telapak tangan. Nosa tersenyum melihat Kaylila. Nosa tahu bahwa Kaylila benar-benar sedang bimbang.
“Berapa?” Tanya Nosa lagi. Kemudian Kaylila menyebutkan deretan beberapa nomor kepada Nosa masih dengan posisi tangan memangku dagunya, dan seolah-olah tanpa sadar. Setelah selesai di sebutkan, Nosa menghubungi nomor itu.