Beberapa menit kemudian muncullah Haris. Wajahya tampak mengeras, ada yang mengganggu pikirannya. Langkahnya tergesa-gesa menghampiri Kaylila. “Mbak tidak apa-apa?” “I’m fine. Sebenarnya kamu ga perlu datang, Mas. Aku ga mau ngerepotin.” “Jangan bilang begitu, Mbak. Walaupun mbak baik-baik saja, tapi tidak akan baik-baik saja buat Mas Nosa.” “Oh iya, Mas. Kenalin, teman kerjaku sekantor.” “Iya, Della bukan?” Haris mengulurkan tangannya pada Della. Sementara Della melongo kebingungan, bagaimana mungkin orang itu mengenalnya padahal baru saja bertemu. “Jangan heran, Mbak. Udah biasa Mas Haris begini.” Kaylila berusaha menenangkan pikiran Della yang masih saja bingung. “Mbak sebaiknya lekas pulang saja. Biar saya yang akan urus disini. Sebentar lagi Romi juga akan datang membantu say

