Istriku

1336 Words
“Mas hari ini enggak masuk kerja?” tanya Ayu pada sosok Alvin yang baru saja tiba di ruang makan, pria itu masih terlihat memakai kaos putih polosnya dan celana boxer sebatas lutut. Alvin menarik kursi makannya, lalu duduk dengan raut wajahnya yang masih terlihat mengantuk, lantaran semalam tidak bisa tidur, ia baru bisa tertidur setelah salat subuh tadi. “Enggak,” jawab Alvin sembari mengambil cangkir berisi kopi yang sudah Ayu siapkan untuknya. “Ini bukan air garem lagi, ‘kan?” kata Alvin, memperhatikan kopinya dengan seksama. “Bukan, Mas. Lagian garam apa yang warnanya item kayak ‘gitu,” jawab Ayu. “Ya, bisa aja kamu taruh garam di dalam sini,” cakap Alvin seraya menyeruput kopinya perlahan. Ayu menghela napasnya pelan, lalu meletakkan sepiring nasi goreng di depan Alvin. “Em, kalau saya boleh tahu, kenapa hari ini Mas enggak kerja? Bukannya bentar lagi bakal ada event?” tanya Ayu kemudian. Alvin meletakkan cangkir kopinya, lalu menarik piring berisi nasi goreng miliknya yang sudah lengkap dengan semua topping kesukaannya. “Setelah event anniversary butik Edelweis, saya bakal balik kerja di perusahaan lagi,” terang Alvin. Ayu terdiam, entah kenapa tiba-tiba ia merasa sangat kehilangan, padahal Ayu masih bisa bertemu Alvin di rumah, tapi mengetahui bahwa dirinya dan Alvin tidak berada dalam satu tempat kerja lagi, hati Ayu merasa sedih. “Papa yang suruh Mas balik kerja ke perusahaan lagi?” Ayu kembali bertanya. Alvin mengangguk sembari mengunyah nasi goreng buatan istrinya itu. “Iya, semalem Papa telepon,” katanya. “Dia bilang udah percaya kalau aku bisa handle perusahaan,” imbuhnya. “Jadi, mulai hari ini Mas enggak akan kerja di butik Edelweis lagi?” tanya Ayu untuk yang kesekian kalinya. “Nanti ada manajer lain yang bakal gantiin posisi saya,” terangnya. Ayu terdengar menghela napasnya berat. Alvin bahkan sampai melirik ke arah istrinya itu, menatap Ayu yang tiba-tiba terlihat lesu. “Tapi walaupun saya udah enggak kerja di butik Edelweis lagi, saya tetep bakal anter jemput kamu kayak biasanya, di tempat biasanya,” cakap Alvin. Mendengar hal itu, rasanya belum cukup membuat mood Ayu bangkit kembali. Ayu masih berharap Alvin akan tetap bekerja dalam satu tempat yang sama dengannya. Walaupun kenyataannya itu mustahil. Karena bagaimanapun juga, Alvin kini menjadi anak tunggal dari keluarga Pak Darma, pria itulah yang akan mewarisi perusahaan keluarganya kelak. “Ayu?” panggil Alvin, menyentak Ayu dari lamunan singkatnya. “Kamu ngelamun?” tanyanya. “Eng-enggak kok, Mas,” kilah Ayu. Alvin menatapnya sekilas, lalu kembali menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya lagi. Ayu menghela napasnya pelan, kemudian ia menarik salah satu kursi makan, dan duduk berseberangan dengan Alvin. “Manajer lama kamu, dia yang bakal gantiin posisi aku sebagai manajer di butik Edelweis,” kata Alvin, usai menelan makanannya. Mata Ayu langsung terbuka lebar, seketika itu mood-nya seperti baru saja diberi suntikan nutrisi yang cukup banyak, hingga membuat Ayu terlihat kembali bersemangat. “Bu Winda? Serius, Mas?” tanya Ayu, benar-benar sangat antusias, Alvin bahkan sampai menatapnya heran. “Hm, ya, setelah event anniversary butik selesai, dia bakal dipindahin lagi jadi manajer di butik Edelweis,” cakap Alvin. Ayu kembali mengurai senyumnya. Alvin sebenarnya penasaran kenapa Ayu terlihat sangat menyukai sosok Bu Winda. Tapi, saat Alvin ingin bertanya, ponsel pria itu tiba-tiba berdering nyaring, sebuah panggilan masuk tertera di layar ponselnya, fokus Alvin pun beralih. “Aku angkat telepon dulu,” kata Alvin, yang kemudian melangkah pergi dari area dapur. * * * Sore itu, di kafe dekat kampus Alvin dulu. “Woi, Bro. Akhirnya lo dateng juga,” sambut tiga teman Alvin yang dulu sering nongkrong bersamanya. Alvin tersenyum lebar, lalu menyapa mereka dengan gaya khas para laki-laki yang selalu menepukkan tangan mereka ketika bertemu. “Tumben lo bisa ikut kumpul bareng kita, Vin? Biasanya selalu alasan, ‘gue sibuk’ atau ‘gue lagi kerja’, ini tiba-tiba pas gue telepon langsung jawab oke, syok gue,” komentar teman Alvin, yang tampak paling pendek di antara yang lainnya, nama cowok itu Jimmy. “Gue hari ini free, tapi besok kerja lagi,” jawab Alvin. “Padahal perusahaan Bapak lo itu tergolong perusahaan gede lho, Vin. Kok lo masih kayak ngoyo banget kerjanya,” komentar teman yang satunya, yang sejak dulu logat Jawanya terdengar medok setiap kali berbicara, namanya Winarto, tapi biar keren, dia selalu meminta orang-orang memanggilnya Win. Just Win. Alvin tersenyum menanggapi komentar teman-temannya yang ia kenal semasa kuliah dulu. “Namanya juga cowok, harus kerja keras lah,” cakap Alvin. “Dih, lo ngomong ‘gitu kayak udah nikah aja,” komentar Jimmy. “Padahal lo sampai detik ini masih jomlo, gara-gara belum bisa move on dari Lisa,” celetuknya, tanpa sadar kalau dirinya telah mengorek luka lama temannya sendiri. Josua—teman Alvin yang lainnya seketika itu melotot ke arah Jimmy, mengingatkan Jimmy untuk tidak sembarangan berbicara. “Mulut lo minta dicabein ya, Jim?” ujar Win, ikut menegur Jimmy secara langsung. “Sorry, Vin. Gue niatnya cuma bercanda doang, sumpah, gue enggak bermaksud ....” “It’s okey,” sela Alvin seraya mengurai senyumnya, yang terlihat sedikit dipaksakan. Josua menghela napasnya berat, lalu menepuk bahu Alvin pelan, dan sedikit mengusap punggung temannya itu sembari berharap kegalauan yang merekat di hati Alvin lekas hilang. “Tapi ... lo beneran belum bisa move on dari Lisa ya, Vin?” tanya Jimmy, yang entah bodoh atau bagaimana, pria itu malah kembali mengulangi kesalahannya lagi, dia masih saja mengorek-ngorek masa lalu tergelap Alvin. “Lo beneran minta dikebiri lagi ya, Jim?” kesal Josua. “Loh, gue cuma nanya doang. Lagian kalian enggak penasaran apa? Udah bertahun-tahun loh, masa iya sih belum bisa move on,” katanya, tanpa berpikir panjang lagi kalau luka di hati Alvin bisa saja terbuka kembali. “Sumpah lo ngeselin banget, Jim. Pengen tak totok rasanya palamu itu,” geram Win. “Udah cukup, gue dateng ke sini bukan mau lihat kalian berantem karena masa lalu gue,” sahut Alvin. “Dan lo, Jim. Gue bakal jawab pertanyaan lo tadi,” imbuhnya. “Vin, jangan. Lo enggak perlu tanggepin omongannya Jimmy tadi,” saran Josua, yang paling paham dengan perasaan Alvin jika sudah menyangkut tentang Lisa—wanita di masa lalu Alvin. Alvin tiba-tiba tertawa, membuat tiga temannya menatapnya heran, sekaligus cemas. “Vin, lo ketawa atau nangis?” tanya Win, bingung. Karena setiap kali membahas tentang Lisa, Alvin biasanya hanya akan diam seribu bahasa, wajah yang Alvin tunjukan pun pasti akan sangat datar tanpa ekspresi apa pun. “Kalian santai aja, enggak usah khawatir sama masa lalu gue. Lagian Lisa itu udah lama out dari kehidupan gue,” cakap Alvin, yang sulit dipercayai oleh teman-temannya itu. Tiga temannya bahkan tampak diam menatap Alvin lekat, melalui tatapan mata mereka, mereka secara tidak langsung menyuruh Alvin untuk tidak perlu berpura-pura bersikap baik-baik saja. “Aku beneran udah move ....” Alvin menghentikan kalimatnya ketika tiba-tiba ponselnya terdengar berbunyi, menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. “Bentar,” ucap Alvin, yang kemudian mengambil ponselnya dari saku jaket. Istri Nama kontak itu tertera di layar ponsel Alvin. Dan itu adalah Ayu. Sejak awal menikah, Alvin memang menamai kontak Ayu dengan nama ‘istri’. Dia sengaja melakukan itu tanpa ada alasan khusus. “Telepon dari Bapak lo, ya? Nyuruh lo kerja? Ada urusan penting?” tanya Win, bertubi. Alvin mengulas senyumnya, lalu ia berkata, “Bini gue telepon,” ujarnya, yang sontak langsung membuat tiga temannya membeliak kaget. “Bi-bini? Gue enggak salah denger, ‘kan? Lo enggak mungkin udah ....” “Sssttt ... gue angkat telepon dulu, ya?” pinta Alvin sembari mengulas senyum sumringahnya. Dari senyumannya yang tampak mengembang sempurna itu, Alvin sebenarnya tengah merasa puas karena sepertinya ia sudah berhasil membuat teman-temannya itu kaget dengan fakta bahwa dirinya telah menikah. Alvin juga merasa puas karena sepertinya ia juga berhasil meyakinkan teman-temannya jika dirinya telah lepas dari bayang-bayang Lisa, yang selama ini selalu menjadi perbincangan tabu di antara mereka berempat. Alvin pun lantas mengangkat panggilan dari Ayu. “Halo, Sayang,” kata Alvin pada Ayu yang ada di seberang panggilan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD