Ayu menghela napasnya pelan, sekali lagi ia menatap ke sekitarnya, tapi Alvin benar-benar tidak ada di sana.
Padahal pagi tadi pria itu dengan sangat yakin berkata kalau dia akan mengantar dan menjemput Ayu tanpa terlambat sedikit pun. Namun faktanya, kini Ayu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, mencari sosok Alvin yang nyatanya belum ada di sana.
Ayu kemudian mengambil handphone-nya dari dalam tas selempang yang ia kenakan, lalu menghubungi Alvin yang ia pikir lupa menjemputnya pulang.
Cukup lama Ayu menunggu panggilannya diterima oleh Alvin, sampai akhirnya panggilannya itu diangkat oleh sangg suami.
Namun, saat panggilan itu baru saja terhubung, Ayu sudah dibuat kaget dengan ....
“Halo, Sayang?” Kalimat yang Alvin lontarkan itu membuat Ayu terbengong.
“Sa-sayang?” bingung Ayu.
“Iya, Sayang. Ada apa? Aku lagi ngumpul sama temen-temenku, tadi ‘kan aku udah kasih tahu kamu,” cakap Alvin dari seberang panggilan, yang semakin membuat Ayu diterjang rasa bingungnya.
“Maaf, saya kayaknya salah sambung deh,” kata Ayu.
“Salah sambung ‘gimana, Sayang?” Alvin menanggapi.
Ayu mengembuskan napasnya berat. “Sayang, sayang, kamu itu emangnya siapa panggil saya sayang, ha?” tegasnya.
“Eh? Aku ini suami kamu, Sayang,” jawab Alvin.
“Suami saya enggak mungkin panggil saya kayak ‘gitu?” papar Ayu.
“Ya ampun, Sayang. Coba deh sekarang kamu cek nomor kontak yang kamu telepon atas nama siapa?” ujar Alvin.
Ayu langsung menatap layar handphone-nya, dan ternyata Ayu tidak sedang salah melakukan panggilan, karena di layar ponselnya, di sana tertera nama ‘Pak Alvin’ dengan sangat jelas.
“Pak Alvin,” cicit Ayu.
“Pak Al—” Alvin terdengar menggantungkan kalimatnya. Kemudian, samar-samar Ayu mendengar Alvin berbicara dengan orang lain. “Tunggu bentar ya, Bro. Gue mau ngomong sama bini gue dulu.”
Selang beberapa detik kemudian, Alvin kembali melanjutkan lagi perkataannya tadi.
“Tadi kamu bilang apa? Pak Alvin?! Kamu namai kontak saya kayak ‘gitu?” tukas Alvin.
Mendengar amukan dari seberang panggilan itu, kini Ayu baru yakin kalau yang ia hubungi itu benar-benar Alvin, suaminya.
“I-iya,” lirih Ayu.
Alvin terdengar menghela napasnya kasar. Ada getaran rasa kesal yang dapat Ayu rasakan dari diri Alvin yang berada di seberang panggilan.
“Saya itu suami kamu, Ayu. Saya bukan Bapak kamu. Harus berapa kali saya ingetin kamu, ha?!” tukas Alvin.
“Maaf, Mas. Soalnya Mas ‘kan juga atasan saya,” balas Ayu.
“Sekarang udah enggak lagi, saya bukan lagi manajer di butik Edelweis,” tandas Alvin.
“Iya, tapi ‘kan butik Edelweis masih milik perusahaan yang bakal Mas pimpinan nanti,” cakap Ayu.
Sekali lagi Ayu mendengar suara embusan napas berat dari seberang sana. Alvin sepertinya benar-benar tengah dilanda rasa kesal.
“Saya enggak mau tahu, pokoknya kamu harus ganti nama kontak saya. Jangan namai yang aneh-aneh,” pungkas Alvin.
“Iya, Mas,” jawab Ayu, tak berani menolak.
“Sekarang kamu ada di mana? Kamu telepon saya ada masalah apa?” tanya Alvin kemudian.
“Saya barusan udah pulang, Mas. Sekarang lagi di deket halte bus, nunggu Mas jemput,” terang Ayu.
Alvin melihat jam tangannya, waktu baru saja menunjuk pukul empat sore.
“Baru jam empat kok udah pulang?”
“Iya, Mas. Sebenernya hari ini saya enggak kerja. Tapi karena bentar lagi ada event, jadi saya ambil lembur buat bantu-bantu yang lain,” jelas Ayu.
“Kamu itu ada-ada aja, kalau libur ya harusnya kamu libur, ngapain lembur? Biar dapet bonus? Uang bulanan yang saya kasih masih kurang?” oceh Alvin.
“Bu-kan kurang, Mas. Tapi saya ....”
“Udah, enggak usah diributin lagi. Nanti kita bahas di rumah aja. Sekarang saya mau jemput kamu. Kamu tunggu di situ, jangan ke mana-mana. Kalau ada yang tawarin buat anter kamu, siapa pun itu, kamu harus tolak, inget itu,” urai Alvin, tegas.
“Iya, Mas,” jawab Ayu.
Setelah itu, Alvin memutuskan panggilannya.
Ayu menghela napasnya pelan seraya menatap layar ponselnya. Ayu mulai mengganti nomor telepon Alvin.
Tapi, beberapa kali Ayu terlihat mengetik dan menghapus nama kontak yang ia tulis itu.
Awalnya Ayu mengganti nama kontak Alvin dengan ‘suami’, tapi tiba-tiba Ayu merasa kurang menyukainya, akhirnya Ayu menggantinya dengan ‘husband’. Ayu hampir menyimpannya, tapi kemudian ia berpikir kalau itu terlalu lebay.
Ayu mengganti nama kontaknya lagi dengan nama yang lebih sederhana ‘Mas Alvin’.
Tapi, lagi-lagi saat Ayu ingin menyimpannya, tangan Ayu kembali terhenti. Ayu takut ketahuan oleh rekan-rekan kerjanya yang akan curiga padanya jika Ayu menamai kontak Alvin dengan nama ‘Mas Alvin’.
Dan setelah sekian kali percobaan, Ayu akhirnya mengganti nama Alvin dengan ‘mas’ saja.
“Ini kayaknya lebih aman,” gumam Ayu seraya mengembuskan napasnya pelan.
* * *
Alvin kembali mendekati teman-temannya setelah ia selesai berbicara dengan Ayu dari telepon.
“Sorry ya, Bro. Gue harus pergi, mau jemput bini gue dulu, takut nanti dia ngambek,” cakap Alvin, yang masih berakting lihai di depan teman-temannya itu.
“Vin, tunggu dulu,” cegah Jimmy. “Lo beneran udah nikah?” tanyanya.
Alvin tersenyum lebar, lalu menunjukkan jari manis di tangan kirinya pada tiga temannya itu, di sana ada cincin paladium yang melingkar tegas.
“Nanti kalau gue bisa ketemu sama kalian lagi, gue bakal ceritain ke kalian,” cakap Alvin. “Sekarang gue harus pergi,” imbuhnya.
“Lo utang penjelasan sama kita, Vin. Inget itu,” tukas Win.
“Iya, iya, gue bakal inget,” balas Alvin sembari mengambil kunci mobilnya dari atas meja. “Ya udah, gue cabut duluan ya, have a good time,” lanjutnya.
Selepas itu, Alvin melenggang pergi. Pria itu keluar dari dalam kafe.
Saat berada di luar, senyum Alvin seketika itu memudar. Alvin bahkan sampai berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terasa berat.
Sebenarnya, akibat perkataan Jimmy tadi, memori Alvin tentang Lisa kembali terputar dengan sangat jelas, hingga membuat Alvin merasa sangat sesak walaupun pria itu sudah berulang kali mencoba untuk menepisnya.
* * *
Sesampainya di rumah, Alvin langsung masuk begitu saja ke dalam ruang kerjanya.
Ayu yang melihatnya pun hanya bisa menatap heran.
“Kenapa lagi dia?” gumam Ayu. Tapi, Ayu memilih untuk tidak terlalu memedulikannya.
Ayu lekas masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk pergi mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan lelah.
Selang beberapa saat kemudian, setelah Ayu selesai mandi, Ayu keluar dari dalam kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ia pegang.
Ayu melangkah mendekati meja riasnya untuk mengambil hair dryer.
Namun, saat Ayu ingin menghidupkan hair dryer itu, Ayu melihat pintu kamarnya terbuka, fokus Ayu pun teralih. Ayu menatap ke arah pintu itu melalui pantulan cermin yang ada di meja riasnya.
Alvin terlihat masuk dan menutup pintu kamarnya rapat, pria itu bahkan tampak mengunci pintu kamarnya dengan sengaja. Padahal sebelumnya, Alvin atau pun Ayu tidak ada yang pernah mengunci pintu kamar itu.
“Ayu,” panggil Alvin kemudian.
“Iya?” Ayu langsung menoleh, memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Alvin yang tampak mendekatinya.
Saat tiba di depan Ayu, Alvin menatap Ayu sejenak, sebelum kemudian ia bertanya, “Boleh saya tanya sesuatu?”
“Tanya apa?”
“Kamu lagi menstruasi enggak?” tanya Alvin, yang cukup membuat Ayu sedikit kaget, karena Alvin tidak biasanya bertanya tentang hal-hal seperti itu padanya.
“Enggak, Mas. Saya baru selesai empat hari yang lalu,” terang Ayu.
Alvin mengangguk paham, lalu menatap Ayu semakin lekat, sebuah tatapan yang seolah penuh dengan makna.
“Ada apa, Mas?” tanya Ayu, mulai risih dipandangi selekat itu oleh Alvin.
“Malam ini, aku mau minta hak aku sebagai suami kamu,” ujar Alvin, yang tentunya langsung membuat jantung Ayu berdegup kencang, seperti baru saja ditabung genderang.