"Kamu ternyata bisa juga bercanda ya." ucap Rischa.
"Hmm... Aku mau nanya, kamu menganggap aku ini apa? Teman, sahabat atau apa? " tanya Ikhsan.
"Kalo aku tergantung kamunya. Kamu anggap aku apa?" Rischa malah nanya balik.
"Aku anggap kamu teman. Di setiap kegiatan keagamaan sekolah kita selalu bersama. Apa itu namanya teman dekat?"
"Hmm.. Bisa jadi."
"Oke jadi status kita mulai hari ini adalah teman dekat. Sepakat??"
"Sepakat!!"
Mulai saat itu, status mereka adalah teman dekat. Namun, tak jarang Ikhsan bersifat dingin ke keadaan semula. Dan itu, membuat Rischa kesal. Semakin hari semakin dekat. Tapi sifat dingin Ikhsan tak pernah mencair. Yap, mencair. Dia itu dinginnya kaya es, tapi susah dicair-in nya.
Rischa sangat ingin melihat Ikhsan seperti waktu itu, saat Ikhsan bilang bahwa dirinya tampan. Tapi sayang, peristiwa langka itu hanya terjadi satu kali saja. Dan sampai saat ini Rischa belum mendapatkannya kembali. Mengobrol pun sekedarnya dan seperlunya saja.
Hati Rischa sungguh cape, cape menghadapi sifat dinginnya Ikhsan. Sampai suatu hari, ada anak baru. Anak baru itu berhasil membuat Rischa merasakan sebuah Cinta dalam hati untuk pertama kalinya.
Anak baru itu bernama Muhammad Reza Al-azhar. Dia adalah lelaki yang tampan, cerdas dan ramah. Dia sekelas dengan Rischa. Semakin hari perasaan dalam hati Rischa semakin tumbuh. Dan Rischa sangat yakin bahwa perasaan itu adalah Cinta. Rischa baru pertama kali merasakan perasaan itu. Rischa dibua baper saat Reza selalu mengajaknya berbicara dan bercanda. Kedekatan mereka membuat Ikhsan merasa tersingkirkan. Ikhsan merasa bahwa dirinya dan Rischa bukanlah teman dekat lagi.
Bahkan kedekatan Rischa dan Reza membuahkan berita bahwa mereka pacaran. Sementara Ikhsan tidak peduli dengan berita yang semakin menyebar. Dan kedekatan Rischa dengan Reza membuat status teman dekatnya dengan Ikhsan semakin luntur. Setiap Rischa bertemu dengan Ikhsan, wajah antara keduanya adalah acuh, bahkan seperti tidak saling mengenal.
***
Di Taman sekolah yang ramai, Reza dan Rischa duduk di bangku panjang yang kosong.
"Rischa, aku suka sama kamu." ucap Reza tanpa ragu.
Rischa diam. Dia membeku. Dia sangat gugup. Dia memang sangat ingin mendengar kata itu dari mulut Reza. Tapi dia sangat gugup. Mulutnya terasa kaku, sepertinya Rischa akan sedikit kesusahan berbicara.
"Aku jj juga." ucap Rischa.
"Kamu mau jadi pacar aku?" pertanyaan yang berhasil membuat Rischa terpaku.
Rischa semakin gugup. Ia hanya mengangguk pertanda bahwa ia setuju.
Sejak itulah mereka resmi berstatus pacaran. Orang-orang sudah memprediksikannya. Namun diantara Reza dan Rischa masih menjaga jarak aman. Sedangkan Ikhsan hanya memasang wajah tak peduli saat mendengar hot news berjudul "cewe jutek punya pacar" itu.
Jutek, itulah sebutan bagi gadis bernama Rischa Kiana Putri itu. Semua lelaki kelas 9 yang menyukainya selalu menyebut Rischa cewe jutek. Bagaimana tidak? Setiap ada lelaki yang ingin berbincang dengannya, dia tidak pernah menanggapi dan selalu menghindar. Dan mungkin Reza yang berhasil meluluhkan hati nya.
Hubungan Rischa dan Ikhsan semakin merenggang. Terlebih saat ketua dan wakil rohis digantikan dengan murid kelas 8 karena kelas 9 harus fokus dengan UN.
Dan saat itu juga Rischa lupa, bahwa ia pernah bersepakat menjadi teman dekatnya Ikhsan.
***
Hari ini, berjalan seperti biasa. Rischa berangkat cukup pagi. Di kelas, Rischa melihat Ikhsan sedang duduk sambil membaca buku paket pelajaran IPS. Tentu tidak aneh, karena hari ini ada ulangan IPS.
"San, IPS ulangannya bab 3 kan?" tanya Rischa.
"Tanya aja sama pacar kamu." jawab Ikhsan ketus.
"Aku cuma nanya. Apa semua yang aku lakukan harus selalu pada Reza? "
"Engga juga. "
"Sampai kapan sih sifat kamu dingin? "
"Sampai aku menemui orang tertulis dalam skenario Allah untuk menjadi jodohku. "
Rischa diam. Apa salahnya. Dia hanya ingin menanyakan ulangan, kenapa jadi ke skenario??.
"Kamu tuh cowo aneh yang baru aku temui di dunia, tau gak?" pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Rischa dengan lancarnya.
Ikhsan menghentikan aktivitas membacanya, "Terserah mau bilang aneh atau apaan juga, karena semua orang punya sudut pandang yang berbeda."
Ikhsan bangkit dari duduknya, berniat pergi meninggalkan Rischa.
"Kayaknya kita hanya sekedar berteman biasa. Bukan teman dekat lagi!" perkataan itu membuat Rischa terpaku.
Lelaki dingin itu pergi, meninggalkan Rischa sendiri di kelas.
***
Rischa kembali bertemu dengan Reza di Taman. Mereka mengobrol cukup lama di waktu istirahat. Dan di balik tembok, ada sosok Ikhsan. Ikhsan memperhatikan mereka...
"Cha, kamu sama Ikhsan dulu deket ya?" tanya Reza.
"Mmm... Ya lumayan." jawab Rischa.
"Kamu ada perasaan sama dia?"
"Hmmm.... Engga tuh. Sifatnya itu loh yang dingin. Mana bisa aku punya perasaan sama dia. "
"Ooh, tapi kamu cocok ko sama dia."
"Maksud kamu apa Za?"
"Kamu cocok sama Ikhsan. "
"Engga!! Aku ga suka Ikhsan. Status kita cuma teman ga lebih. Ikhsan juga pasti ga suka lah sama aku." tolak Rischa.
"Eehh.. Kamu jangan gitu, siapa tau jodoh loh.. "
Mendengar percakapan itu, entah mengapa hati Ikhsan berkata, aamiiin, insyaallah..
"Apaan sih. Kamu tuh kaya bukan pacar tau ga, tapi lebih tepatnya temen biasa." ucap Rischa sambil mengerucutkan bibirnya..
"Ehm.. Hehe... Maafin aku dong" ucap Reza.
Mereka kembali berbincang. Tawa pun pecah diantara mereka berdua. Meskipun begitu, Reza menutupi rasa sedihnya dengan wajah bahagianya. Ya. Sedih. Reza sedih karena tidak lama lagi ia akan berpisah dengan Rischa. Ya, berpisah. Karena ayahnya dipindah tugaskan lagi. Entah sudah berapa kali Reza pindah sekolah. Keputusan itu tidak bisa dibantah.
Di sisi lain, Ikhsan sedang membaca buku kesukaannya. Tiba-tiba Fahri datang.
"Woiyy...!!" ucap Fahri sambil menepuk pundak Ikhsan.
"Eh, apaan?" tanya Ikhsan.
"Lo ga panas ngeliat Rischa sama Reza pacaran?"
"Buat apa panas? Ga penting.!!"
"Gue kira lo suka sama Rischa. Soalnya pas elo jadi ketua rohis deket banget sama Rischa."
"Kita deket karena ada tugas yang memang seharusnya dikerjakan berdua."
"Dulu lo pernah suka Rischa ya? "
"Engga lah!!" bantah Ikhsan.
"Aah bohong lo!"
"Engga lah ri, kita cuma temenan, ga lebih. Dan ga akan pernah lebih dari temen."
Ikhsan terus membantahnya. Di hatinya tidak ada siapapun. Hatinya kosong, belum ada wanita yang berhasil membuat hatinya luluh setelah wanita yang disayanginya pergi jauh. Ikhsan terus beranggapan bahwa ia tidak memiliki perasaan pada orang apalagi Rischa. Hatinya terus menolak akan hal itu...
Teman, mungkin itulah status kita. Hanya berteman, tidak lebih!
**