Salahkah, aku?

1135 Words
"Cha!! " teriak seseorang yang tak lain adalah uminya Rischa. "Iya mi ada apa?" tanya Rischa. "Sekarang berangkatnya sama ka Zidan lagi ya." ucap Zena-uminya Rischa. Pagi ini haruskah Rischa berangkat dengan kaka terjailnya lagi?? "Yaah, Pa Amir masih cuti?" tanya Rischa. "Masih. Abi kamu juga lagi ke Bandung." ucap Zena. Huh. Rischa mendengus kesal. Sangat kesal. Tapi tentu saja dia harus bersyukur, masih mending ada yang mau nganter. Saat Rischa melihat rak sepatu, disana hanya terdapat 1 sepatu sekolah miliknya. Mana pasangannya?? Kaya aku aja gak ada pasangannya.wkwkwk. Rischa sudah sangat yakin kalo ini ulah kaka jailnya. Siapa lagi?? Qilla? Ga mungkin. Qilla kan ga jail. "Kak Zidaaaaannn!!!" teriak Rischa memecah keheningan rumah itu. "Aduh apaan sih Cha, berisik tau." ucap Zena sambil menghampiri Rischa . "Liat umi sepatu aku cuma satu, yang satu lagi pasti diumpetin kak Zidan." keluh Rischa manja. "Ada apaan sih Cha?" tanya Zidan tanpa merasa salah sedikitpun. "Ada apa, ada apa. Tuh dikemanain sepatu adik kamu?" tanya Zena pada anak sulungnya itu. "Em,.. Ehehe, tadi ke tendang sama aku mi. Tuh kayaknya ketendang sampai dapur. Hehe." ucap Zidan sambil menggaruk kepala yang pastinya tidak gatal. "Huh dasar jail.. " ucapku. Rischa mendapatkan sepatunya yang berada tepat di samping tempat sampah. Rischa kesal. Hal itulah yang membuatnya tak ingin berangkat dengan Zidan. Rischa berangkat dengan kaka jailnya. Rischa terus memasang wajah marahnya. Hampir saja dia terlambat hanya gara-gara mencari pasangan sepatunya. Huft.. "Jangan marah dong Cha." goda Zidan. "Apaan sih. Awas aja ya ka, aku bilangin ke ka Natasya biar putusin kaka.. " ancam Rischa . Zidan mengelus kepala Rischa yang tertutup jilbab, "Iya maafin kaka ya, udah yah jangan marah lagi. Insyaallah kaka ga akan jail lagi. Tapi kaka ga janji ya. Hehe.'' "Ya udah terserah. Udah sana pergi!." usir Rischa. Zidan pun pergi. Rischa tau kakaknya itu jail, tapi Zidan juga selalu melindungi dan memberi kasih sayang pada Rischa dan Aqilla. Buktinya saat ada kecoa di kamar Rischa siapa yang buangin kecoanya? Zidan! Begitulah rata-rata seorang kakak lelaki. Dia memiliki kasih sayang pada adik-adiknya, tapi sikap jailnya kadang selalu ada. Bahkan hingga membuat sang adik menangis, dan setelah itu dia yang dimarahi orang tua. Di kelas... Ternyata hanya ada Ikhsan. Selalu saja. Selalu berdua. Pada kemana sih temen yang lainnya?. Huh.... Baru saja Rischa meletakkan tasnya, Ikhsan malah pergi ke arah luar. Wajahnya. Seperti menampakkan wajah marah. Rischa mengikutinya karena penasaran. "Ikhsan!! Kamu kenapa?" tanya Rischa. "Aku lagi kesel sama kamu. " "Apa salahku? " "Kamu tuh kalo di sekolah kaya yang menjaga pandangan kamu. Dan suka jaga jarak sama cowo. Tapi kenyataannya apa?? Kamu bareng sama cowo kan tadi?" tanya Ikhsan. "Coba jelasin apa maksudnya? Aku ga ngerti. Perasaan aku ga pernah deketan sama cowo tuh." Rischa tidak paham dengan apa yang barusan Ikhsan tanyakan. "Hah, ga pernah apaan. Orang aku liat sendiri. Dan bukan pertama kalinya." "Terserah kamu aja, aku ga ngerti. Bisa-bisanya kamu nuduh aku kaya gitu! " "Aku melihatnya. Jangan pura-pura ga tau." Ikhsan lantas pergi. Wajahnya sangat dingin hari ini, Rischa pun kedinginan. Rischa bingung. Apa maksud dari yang Ikhsan katakan?? Pelajaran demi pelajaran Rischa lewati. Dia cape. Dia cape sama Ikhsan. Apa maksudnya coba??? Memangnya dia suka dekat dengan lelaki di luar sekolah? Ah entahlah. OH IYA. Rischa baru sadar. Apa mungkin cowo yang dimaksud Ikhsan itu adalah Zidan?? Ya, pasti itu penyebabnya. Memangnya kenapa kalo Rischa deket sama cowo. Dia juga ga pernah peduli kan? Terus, emangnya Ikhsan siapa? Pacar? Bukan kan? *** Rischa selaku wakil ketua rohis merasa tidak dianggap. Bagaimana tidak? Ikhsan selalu mengerjakan tugas yang dikasih pak Iman sendiri. Padahal setiap tugas yang diberikan pada ketua merupakan tanggung jawab wakilnya juga. "Ikhsan, kalo aku punya salah. Aku minta maaf. Tolong jangan seperti ini. " ucap Rischa, mencoba untuk mencairkan suasana diantara mereka. Dengan satu tarikan nafas Ikhsan mulai berbicara, "kamu ga salah." ucap Ikhsan yang seperti biasa datarnya. "Mungkin maksud kamu adalah saat aku berangkat sekolah dibonceng cowo?? Aku ngerti san, tapi apa aku salah saat aku terpaksa harus dibonceng kakakku sendiri?? " tanya Rischa sedikit membentak. Tidak sedetikpun Rischa menunggu jawaban Ikhsan yang masih terpaku.. Rischa berlalu dari Ikhsan. Semarah itukah Ikhsan??? Hanya gara-gara Rischa dibonceng? Dia siapa?? Oke, Rischa akan memberinya sepucuk surat. Surat. Memang terkesan jadul. Tapi Rischa belum ingin berbicara langsung dengan Mr. Dingin itu. Rischa nemasukkan surat yang di buatnya pada tas Ikhsan secara diam-diam. Maafkan aku san, aku lancang... Batin Rischa. *** Bel pulang berbunyi. Ikhsan membereskan bukunya, namun saat ia membuka tasnya, seperti ada kertas putih. Ia membawanya. Namun ia malah menyimpan kertas itu di saku celananya. Ikhsan kembali membereskan bukunya. Sesampainya di rumah, Ikhsan langsung membuka kertas tadi. Ia sangat penasaran dengan isinya. Setau Ikhsan kalo ada yang suka sama dia pasti lewat bbm atau langsung bicara, ko ini ada yang ngasih surat ya?. Isi surat itu adalah... ___________________________________ Salahkah aku?? Aku hanya dibonceng oleh kakakku. Kepalaku hanya di elus kakakku. Apa itu salah? Apa seorang kakak tidak boleh atau bahkan dilarang untuk mengantar dan memberi Kasih sayang pada adiknya?? Apa aku salah?? Bila aku salah tegur aku dengan jelas. Berilah penjelasan tentang apa yang aku perbuat... Dari, Kau tau sendiri aku siapa. ___________________________________ Tulisan singkat yang membuat Ikhsan menegang. Ia salah paham. Apa yang ia lakukan pada Rischa? Kenapa Ikhsan melakukan semua itu pada Rischa?Apa karena Cemburu.? Tentu hatinya menolak akan hal itu. Ikhsan akan meminta maaf secepatnya. *** Keesokan harinya, Di kelas sudah ada Rischa yang sedang membaca buku. Seperti biasa. Mereka akan berdua cukup lama. Ikhsan memberanikan diri untuk berbicara. Namun dari jarak yang jauh. "Maafin aku Cha." ucap Ikhsan memecah keheningan. Rischa berhenti membaca, "Maaf untuk apa?" tanya Rischa seakan tak pernah terjadi apapun diantara mereka. "Aku udah salah paham sama kamu. Maaf. " "Tidak masalah ko. Aku paham. " Ikhsan kembali menjadi Mr. Dingin. Rischa sudah biasa menghadapi ini semua. Rischapun kembali membaca bukunya. Namun, aktivitasnya terhenti saat Ikhsan memulai pembicaraan. "Apa kamu keberatan dengan sikap dan sifatku?" tanya Ikhsan. "Ya." ucap Rischa singkat. "Jadi menurutmu aku harus bagaimana?" Ikhsan meminta pendapat pada Rischa. "Kalo kamu gak bersifat dingin lagi pasti kamu makin..... Emm.. Engh. Ehh... " "Makin apa? Makin tampan? Aku udah tampan dari dulu kali.hehe. " ucap Ikhsan yang tentu saja membuat Rischa heran. Secepat itukah Ikhsan mencairkan sifatnya yang dingin itu? Tapi, Rischa menyukai itu. Ouh Mr. Dingin, seandainya kamu selalu seperti ini..., batin Rischa. Rischa sempat tidak percaya jika yang tadi berbicara dengannya adalah Ikhsan. Ikhsan, si Mr. Dingin mengatakan bahwa ia tampan? Rischa tidak salah mendengarnya kan? Sedingin-dinginnya air, pasti bisa di hangatkan. Se-beku-bekunya suasana, pasti bisa di cairkan. Walaupun butuh perjuangan yang cukup keras, pasti bisa!! Sama kaya Ikhsan, dia juga manusia normal kan? Mana mungkin dia bersifat dingin terus. Emanya orang yang ada didekatnya gak bakalan kedinginan? Kau tau? Rischa juga kadang suka kedinginan saat ngadepin sifat Ikhsan yang super dingin itu. Wkwkwk. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD