Dihukum Dengannya

1193 Words
Seperti biasanya, Rischa selalu berangkat lebih awal di hari Jumat ini. Karena ada pembiasaan atau disebut dengan ceramah pagi di sekolah. Tak sedikit murid yang selalu datang siang karena malas mendengarkan ceramah, padahal itu amat baik bagi kehidupan akhirat mereka. Tak jauh berbeda dengan Ikhsan, ia sedang berada di kelas. Lebih dahulu dari teman lelaki lainnya. Dia berada di kelas sebab guru yang kebagian ceramah hari ini belum datang. Seharusnya saat ini ia berada di lapangan untuk mendengarkan ceramah pagi. Tak lama Ikhsan menyendiri di kelas, Rischa datang. Ikhsan terkejut dengan kedatangan Rischa. Dia kira Rischa selalu datang siang. Dan kini di kelas hanya ada Rischa dan Ikhsan. Jarak antara Bangku mereka terbilang cukup jauh, yaitu unjung dan ujung. Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan satupun. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Ikhsan menatap Rischa, namun ketika Rischa menoleh kearahnya, Ikhsan langsung mengalihkan pandangannya lagi. Entah apa yang ada di hati mereka. Tak ada rasa diantara mereka. Namun, kenapa hati mereka semakin lama semakin bergetar. Entahlah. Mereka sudah sangat lama berada di kelas. Berdua. Tak ada suara apapun yang menandai bahwa pembiasaan dimulai. 1menit... 2menit... 3menit... Dan.... "Tes, tes. " Suara itu, pertanda pembiasaan akan dimulai. Rischa tidak menyangka, bahwa Ikhsan memulai pembicaraan. Padahal setau Rischa, Ikhsan adalah sosok lelaki yang sangat dingin. "Rischa, ayo ke lapang. Bu Anna pasti udah nunggu." ajak Ikhsan dengan wajah datarnya. "Iya san bentar." sahut Rischa. Tak aneh apabila Ikhsan selalu memasang wajah datar. Karena itu adalah ciri khas nya. Rischa yang sedang membenarkan tali sepatunya, membuat Ikhsan cukup kesal. "Ayo cepetan, nanti kita ketinggalan materi ceramah hari ini. " ucap Ikhsan. Terus kenapa harus nungguin aku kalo takut ketinggalan materi??.. Batin Rischa. "Ya udah kamu duluan aja." ucaap Rischa ketus. "Engga!!! Ayo cepet, udah pada banyakan tuh di lapang." euh, katanya ga mau ketinggalan materi, tapi ko masih nunggu Rischa sih. "Ya udah gapapa kamu duluan, nanti kalo dihukum biarin aku sendiri. " ucap Rischa. "Engga bisa!!kalo kamu dihukum, aku juga harus dihukum." ucap Ikhsan yang tentu saja membuat gadis berwajah manis itu tak percaya. Ya Allah, kenapa aku harus bilang itu??...batin Ikhsan. "Ya udah yu, udah selesai kok." ucap Rischa sambil bangkit dari duduknya. "Dari tadi kek." didengar dari suaranya, sudah menunjukan bahwa Ikhsan dingin. Wajahnya saja datar; tanpa ekspresi. Baru aja tadi baik, sekarang udah mulai deh dinginnya... Batin Rischa kesal. Rischa pun duduk bersama barisan perempuan yang lainnya. Begitu juga dengan Ikhsan yang duduk di barisan lelaki. Baru saja Rischa duduk, Salsha selaku seksi kerohanian di kelas mencatat Rischa dan Ikhsan karena terlambat datang. "Loh ko aku dicatat Sha? " tanya Rischa. "Kamu telat tau, nih liat jarum panjangnya udah ke angka delapan. " ucap Salsha sambil memperlihatkan jam yang berada di tangannya. "Aduh, gawat nih, pelajaran pertama kan sama Bu Anna. Eh siapa aja yang telat? " tanya Rischa. "Siap-siap aja dihukum pas pelajaran pertama." Salsha melihat catatan murid yang terlambat, "sama... Ikhsan, cuma kalian berdua yang telat." "Yaah.. " keluh Rischa. Pembiasaan selesai, murid-murid berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Di kelas, pelajaran pertama adalah pelajaran Bu Anna. Bu Anna adalah salah satu guru agama yang cukup tegas. Ketegasan itulah yang membuat murid disiplin saat belajar bersamanya. "Assalamualaikum.." ucap Bu Anna. "Waalaikumsalam." jawab semua murid di kelas. "Salsha, hari ini siapa yang terlambat pembiasaan?" tanya Bu Anna. "Ikhsan sama Rischa bu." ucap Salsha. "Loh, Rischa, Ikhsan kenapa jadi kesiangan, biasanya kalian paling rajin loh kalo pembiasaan. Ya udah kalian pergi ke masjid sekolah, kemudian bereskan mukena, al qur'an, dan yang lainnya sekarang. Kalo udah beres cepat masuk ke kelas." perintah Bu Anna dengan tegas. "Baik bu." ucap Rischa. Mereka pergi ke masjid. Di perjalanan menuju masjid, Rischa mulai berbicara. Ikhsan berjalan di depan dan jarak mereka cukup jauh, sekitar 1 meter. "Kenapa kamu tadi tungguin aku?? " tanya Rischa penasaran. "Emangnya kenapa? " tanya Ikhsan yang tak bosan menampakkan wajah datar dan dinginnya. "Ya aku mau tau aja. Soalnya setau aku kamu itu cowo yang super dingin." ucap Rischa. "Dan setau aku juga, kamu adalah orang yang anti berbicara dengan lelaki, kecuali ada perlu." ucap Ikhsan. Ikhsan kembali berjalan, berlalu dari Rischa yang masih terdiam. Makin lama, Rischa makin kesel sama sikap dingin Ikhsan. Mereka sampai di masjid. Ikhsan sudah mulai membersihkan lemari tempat al qur'an menggunakan kemoceng. Sedangkan Rischa tengah melipat mukena yang berantakan. "Aku nungguin kamu tadi, gara-gara aku takut aja kamu dihukum sendirian. " ucap Ikhsan yang masih dengan wajah datarnya. Rischa membulatkan matanya. Dia bingung, apa yang tengah terjadi pada otak Ikhsan?? Apa yang Ikhsan katakan barusan pada Rischa? Takut kalo Rischa dihukum sendirian? Ikhsan kah yang bicara seperti itu? "Ikhsan, kenapa kamu ga mau aku dihukum sendiri? " pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Rischa. "Aku ga tau. Aku hanya menuruti kata hatiku. " entah kenapa, Ikhsan bisa berbicara dengan lancar saat ini pada Rischa. "Apa yang hatimu katakan?" tanya Rischa yang masih penasaran. "Jika kamu tidak ingin dihukum bersamaku, lebih baik diam! Kalo perlu biar aku sendiri yang membereskannya." ucap Ikhsan ketus. Hmm.. Ikhsan, Ikhsan, sampai kapan sih sikap dinginmu ada?? tanya Rischa dalam hatinya. Mereka membereskan masjid sampai beres dan bersih. Sesudah beres, Ikhsan meninggalkan Rischa yang masih mencuci tangannya. Di hati Rischa ada perasaan kesal pada Ikhsan. Coba aja kamu ga dingin, pasti aku ga akan kesel gini sama kamu. Bisa-bisa kalo aku sering deket kamu beku deh tubuhku.. Keluh Rischa dalam hati. Ikhsan, adalah lelaki ngeselin di dunia. Sifat dinginnya minta ampun bagi Rischa. Sifat dinginnya itu yang membuat Rischa selalu gugup dan merasa tak nyaman apabila berada di dekatnya. Baru saja Rischa dan Ikhsan memasuki ruang kelas, Bu Anna langsung menyuruh mereka berdua untuk membawakan buku tugas kelas IX-F yang berada di ruang guru. "Kalian tolong ambilkan buku tugas di ruang guru." perintah Bu Anna. "Bu, boleh tidak jika saya sendiri yang membawanya?" tanya Ikhsan. "Ikhsan, buku tugas kelas ini banyak. Ibu aja keberatan jika membawanya sendiri." ucap Bu Anna, "sudah, tidak ada penolakan lagi. Anggap saja ini hukuman tambahan bagi kalian berdua." Mau tidak mau Ikhsan harus ditemani Rischa. Bukan Ikhsan tak mau bersama Rischa, tapi dia merasa tidak biasa saat berada di dekat perempuan. Setumpuk buku yang berada di meja Bu Anna itu dibagi dua. Setengah dibawa oleh Ikhsan dan setengahnya lagi oleh Rischa. Seperti biasa, Ikhsan meninggalkan Rischa yang masih kerepotan membawa buku-buku itu. Dan... Bruuk.... Semua buku berada di lantai koridor. Rischa tidak sanggup jika membawa buku sebanyak ini. Saat itu pula Ikhsan menoleh ke belakang, dimana Rischa menjatuhkan buku-buku. "Biar aku yang bawain buku-buku itu." ucap Ikhsan sambil menghampiri Rischa yang sedang membereskan buku-bukunya. Rischa diam, tak bersuara. Tanpa pikir panjang, Ikhsan langsung mengambil setengahnya dari tumpukan buku yang dibawa Rischa. Dan setelah itu, Ikhsan pergi tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun meninggalkan Rischa. "Ish! Nyebelin. Aku kan belum bilang terima kasih." "Dateng tanpa di undang, pergi tanpa pamit, kaya kucing aku aja." "Wajahnya datar mulu lagi, kaya kayu tripleks aja." "Ish! Cowo itu emang cowo ter-nyebelin di dunia deh." "Kalo ada kategori cowo ter-nyebelin di dunia, udah pasti Ikhsan juaranya deh." Rischa terus berbicara beberapa hal tentang Ikhsan. Betapa menyebalkannya Ikhsan. Kalo berani, pasti Rischa ingin meninju Ikhsan hingga wajahnya babak belur. s***s ah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD