Seorang pelayan yang tadi pergi membuka pintu kini berjalan menghampiri Rea lalu membungkuk, berbisik kearah Rea "Nona teman anda yang bernama Dara ada di ruang tamu."
"Dara?" Gumam Rea agak keras membuat Erlan terbelalak
"Untuk apa dia datang kemari?" Pikir Erlan
Rea segera meninggalkan ruang makan setelah izin pada Erlan dan Nyonya Lina
"Benar tebakan Mama bukan Erlan, itu pasti mertuamu lagi, buktinya istrimu buru-buru sekali ke ruang tamu." Ucap Nyonya Lina namun tak ada tanggapan dari Erlan
Di ruang tamu Rea langsung mendapati Dara tengah terduduk di sofa dengan beberapa paper bag di sampingnya.
"Dara," panggil Rea, tersenyum lalu memeluk Dara hangat
Dara menatap kesegala arah mencari keberadaan Erlan namun sosok Erlan tak ditemukan diarea sekitar ruang tamu.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Rea dengan cepat Dara menggelengkan kepalanya untuk menjawab
"Kalau begitu ayo, kebetulan Erlan dan Mama mertuaku sedang makan malam, mari kita makan bersama." Ajak Rea seraya meraih pergelangan tangan Dara lalu melangkah memasuki ruang makan.
Melihat sosok Dara, Nyonya Lina tersentak lalu tersenyum takjub "Bukankah kau Dara Demitrians? Perancang busana terkenal itu? Yang merancang gaun pernikahan arti papan atas hollywood itu?" Tanya Nyonya Lina masih memandang takjub kearah Dara
Dara dengan senyum ramahnya langsung memasang wajah kaget "Dari mana anda tahu Nyonya?" Tanya Dara
"Tentu saja aku tahu, anggota sosialita mana yang tidak mengenal dirimu." Ucap nyonya Lina, beranjak berdiri kemudian melangkah mendekati Dara "Aku sangat mengagumi semua gaun yang kau rancang." Sambung Nyonya Lina lagi "Astaga mimpi apa aku semalam hingga kedatangan perancang busana terkenal sepertimu."
"Anda terlalu memujiku Nyonya." Balas Dara merasa salting melihat intetaksi Dara dan Ibu mertuanya, Rea langsung tersenyum ia bahkan langsung bersyukur karena kehadiran Dara dapat meredam emosi mertuanya itu pada dirinya.
"Kenapa memanggilku Nyonya, panggil aku Tante sayang." Ujar nyonya Lina "Ayo mari kita duduk," ajaknya sembari menggenggam tangan Dara mengajak gadis itu untuk duduk di kursi meja makan yang tepat berada disampingnya seolah-olah dia tak ingin berjauhan dari Dara.
"Apa yang membawamu datang kemarin, Dara?" Tanya Nyonya Lina
"Ah!.. Aku dan Rea adalah sahabat dari kami SMA dulu Tante, jadi aku datang berkunjung sekalian ingin memberikan oleh-oleh untuk Tante, Rea dan juga Erlan." Jawab Dara dengan nada sesopan mungkin
"Bagaimana mungkin kau bisa bersahabat dengan Rea. Seorang gadis sukses sepertimu bisa-bisanya bersahabat dengan gadis kampungan seperti Rea itu mustahil." Cibir Nyonya Lina
"Ma?" Panggil Erlan merasa tak suka akan ucapan sang Ibu yang merendahkan Rea saat itu.
"Kenapa Erlan tak bertemu denganmu saja lebih dulu mungkin sekarang kau sudah menjadi menantuku."
"MAMA!.. apa-apaan?" Bentak Erlan kembali membuat Nyonya Lina terdiam
Namun situasi itu membuat Dara mengetahui bahwa Rea tak disukai oleh mertuanya, dalam hati kecilnya Darapun tertawa "Ini semakin membuat langkahku untuk menjadi istri dari Erlan semakin muda." Pikir Dara
***
Rea yang saat itu membantu membersihkan ruang makan sesekali mendengar suara tawa Nyonya Lina dan Dara yang ada di ruang keluarga, mereka berdua tampak akrab padahal ini adalah pertemuan pertama mereka, Rea sedikit menoleh kearah ruang tamu dari kejauhan Rea dapat melihat betapa Nyonya Lina sangat memperhatikan dan menyayangi Dara melihat adegan hangat itu terbersit rasa iri di hati Rea sebelum beberapa detik kemudian Rea menggelengkan kepalanya "Apa yang sedang ku pikirkan? Yeah Tuhan maafkan aku, seharusnya aku tidak boleh iri seperti ini." Pikir Rea lalu melanjutkan aktifitasnya.
Hampir 2 jam Nyonya Lina dan Dara mengobrol sebelum Dara menatap kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh maaf Tante, ku rasa aku harus segera kembali ke hotel sekarag." Ucap Dara membuat Nyonya Lina langsung menatap sedih seakan tak terima harus berpisah dengan Dara.
"Kenapa tidak menginap disini saja?" Usul Nyonya Lina
"Hhhmm.. lain kali saja Tante, saat aku datang aku akan menginap lain kali, malam ini aku tidak bisa menginap karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus." Tolak Dara.
"Rea, aku pulang dulu." Ucap Dara berpamitan
"Tunggulah, akan ku minta supir untuk mengantarmu." Balas Rea
"Untuk apa meminta supir, panggil Erlan saja minta Erlan yang mengantar Dara." Sambar Nyonya Lina
"Eeeh tidak perlu Tante, aku pulang naik taksi saja." Tolak Dara hanya berpura-pura padahal dalam hatinya ia ingin Erlanlah yang mengantarnya pulang.
"Jangan keras kepala, Dara. Dengarkan perkataan Tante jika tidak Tante akan marah padamu." Ucap Nyonya Lina mengancam
Dara menatap kearah Rea memberi ekspresi bahwa ia terpaksa harus menerima usulan Nyonya Lina sementara Rea hanya merespon dengan menganggukan kepalanya sembari tersenyum pertanda bahwa menuruti keinginan Ibu mertuanya bukanlah masalah baginya.
"Apa yang kau tunggu, Rea. Cepat panggilkan Erlan dan minta Erlan untuk mengantar Dara pulang."
"Baik Ma," sahut Rea kemudian melangkah menuju kamarnya.
"Terimakasih loh, sayang. Syal yang kamu berikan sebagai oleh-oleh sangat bagus dan indah, pasti mahal." Ucap Nyonya Lina setelah kepergian Rea
"Tidak seberapa Tante." Balas Dara
Sementara itu Rea yang baru masuk dalam kamarnya langsung mendapati Erlan terduduk dengan leptop diatas pangkuannya.
"Apa Dara sudah pulang?" Tanya Erlan, Rea menggelengkan kepalanya untuk menjawab seraya mendekati Erlan
"Mama memintamu untuk mengantar Dara pulang." Ucap Rea seketika Erlanpun menyerengit
"Apa tidak ada supir? Kenapa tidak minta supir saja untuk mengantar Dara?"
"Mama ingin kau yang menganatar Dara." Ucap Rea
"Sayang, aku sedang sibuk kenapa harus aku, di luar ada supir kenapa tidak minta tolong supir saja." Tolak Erlan bersikukuh
"Ayolah antar saja Dara pulang itu keinginan Mama, aku tidak ingin Mama marah lagi. Ku mohon turuti saja permintaan Mama." Rengek Rea berusaha merayu suaminya dan akhirnya Erlanpun luluh.
"Baiklah, berhenti merengek seperti ini." Ucap Erlan memyetujui, Reapun tersenyum senang.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Erlan seraya beranjak dari tempat tidur kemudian mencium kening Rea lalu pergi meninggalkan kamar.
Dara tersenyum senang, ia bahkan nyaris melompat ketika melihat sosok Erlan keluar dari dalam kamar.
"Nah itu dia Erlannya." Ucap Nyonya Lina, senyum senang langsung menghiasi wajahnya
"Ayo!" Ajak Erlan setibanya dia di hadapan Dara dan Nyonya Lina
Darapun segera berdiri lalu berpamitan pada Nyonya Lina sebelum kemudian berlalu menuju parkiran.
"Aku pergi dulu, Ma." Ucap Erlan
"Hhm!.. Hati-hati, jangan terburu-buru Erlan, nikmati saja waktu kalian berdua dulu untuk saling mengelan satu sama lain." Balas Nyonya Lina yang seolah-olah menjodohkan Erlan dan Dara tanpa memikirkan perasaan Rea.
Bersambung