Tamu tak di undang

1002 Words
"Ibu sama Ayah pulang dulu yah, besok aku pastikan Erlan mengirim uang bulanannya." Ucap Rea lembut "Gak bisa sekarang aja dikirimnya?" Tanya Nyonya Tita memaksa "Ibu, Erlan baru pulang kerja dia capek besok aja aku minta Erlan transfer. Sebaiknya Ibu sama Ayah pulang dulu yah." "Setidaknya izinkan Ayah sama Ibumu ini masuk, Rea. Kau tidak ingin memberi kami makan? Kami belum makan setidaknya izinkan kami masuk dan makan." Ucap Nyonya Tita seraya menerobos ingin masuk sembari menarik tangan Tuan Yoga dengan sigap Rea menghalau kedua orang tuanya "Ibu sama Ayah makan di restoran aja, aku kasih ayah sama Ibu uang untuk makan oke?" Ucap Rea berusaha merayu dan rayuan Reapun berhasil "Baiklah kalau gitu, mana uangnya?" Tanya Nyonya Tita membuat Rea bernafas lega setidaknya ia berhasil membujuk kedua orang tuanya untuk pergi "Tunggu akan aku ambilkan." Balas Rea kemudian berlalu masuk, saat Rea masuk sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan teras dan tak beberapa lama sosok wanita paruh baya dengan sorot mata angkuh dan gaya mewah turun dari dalam mobil. Wanita yang baru saja turun dari dalam mobil itu menyerengit menatap kedua orang tua Rea yang berdiri di teras "Kenapa mereka ada disini?" Sinisnya "Eeeh Nyonya besan!" Seru Nyonya Tita senang menyambut Nyonya Lina yang merupakan besannya namun berbanding terbalik dengan Nyonya Tita Yang senang melihat kehadirannya, Nyonya Lina justru merasa jengkel melihat Ibunda dari Rea itu Nyonya Tita dengan senyum lebar ingin mengajak Nyonya Lina berjabat tangan namun dengan kasar Nyonya Lina menepis tangan Ibunda dari Rea. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Nyonya Lina "Ah!.. Kami disini sedang..." "Ini uangnya," ucap Rea menyerobot dari dalam langsung memenggal kalimat dari Ibunya, mata Rea terbelalak ketika mendapati Ibu Mertuanya berdiri di teras rumah. "Mama," gumam Rea gugup sementara itu Nyonya Lina langsung tersenyum sinis saat melihat uang sebesar 500 ribu ditangan Rea Melihat situasi yang menegang antara Rea dan mertuannya, Nyonya Tita tanpa tahu malu menyambar uang di tangan Rea lalu berjalan pergi dengan terburu sambil menyeret tangan Tuan Yoga seraya berkata "Terimakasih uangnya, Rea." Rea menundukan kepalanya tak berani menatap Ibu mertuanya sementara Nyonya Lina menatap Rea dengan tatapan hina. "Enakkan menikahi anakku kau jadi dapat menghidupi keluargamu selain uang bulanan yang diberikan anakku pada orang tuamu ternyata kau juga memberikan jatah uang yang lainnya." Sindir Nyonya Lina membuat Rea tak bersuara untuk membela diri karena menurut Rea apa yang dikatakan Ibu mertuanya itu benar. "Aturan kamu sadar diri dong, kasih tau orang tuamu jangan terlalu matre karena itu bukan uang mu tapi uang anakku enak sekali main kasih-kasih aja, emang kurang jatah bulanannya?" Sindir Nyonya Lina kembali "Maaf Ma," ucap Rea sementara dari arah dalam Erlan yang saat itu melinta di ruang tamu hendak menuju ruang makan segera memberhentikan langkahnya kemudian menyerengit ketika mendengar suara Nyonya Lina di teras. "Mama?!" Gumam Erlan kemudian melangkah menghampiri teras "Mama?!" Panggil Erlan langsu mencuri perhatian Rea dan Nyonya Lina Erlan menatap Rea yang saat ini berdiri dengan wajah tertunduk mendapati situasi istrinya yang seperti itu Erlanpun sudah dapat menebak bahwa Rea sedang dimarahi oleh Ibunya, dengan cepat Erlan menarik tangan Rea lalu berusaha menyembunyikan Rea dibalik punggungnya. "Kenapa Mama cuman berdiri di luar, ayo masuk." Ucap Erlan berusaha mengalihkan perhatian sang Ibu "Gimana mau masuk, baru sampai mood Mama sudah rusak." Sahut Nyonya Lina ketus "Memangnya kenapa, Ma?" Erlan bertanya dengan nada lembut "Apa lagi kalau bukan gara-gara istrimu." Sahut Nyonya Lina sinis Erlan menatap Rea yang bersembunyi dibalik punggungnya "Ada apa sayang?" Tanya Erlan berbisik namun bukannya menjawab Rea hanya menggeleng pelan "Kamu nasehatin istrimu itu, Erlan. Jangan terlalu boros dengan uang, apa masih kurang jatah bulanan yang kamu kasih untuk kedua orang tuanya sampai mereka harus datang ke rumah minta uang lagi." Mendengar ucapan Nyonya Lina mata Erlan langsung terbelalak. "Astaga benar, aku lupa mentransfer uang untuk Ibu dan Ayah untuk bulan ini." Keluh Erlan membuat Nyonya Lina menyerengit Erlan membalikan tubuhnya menghadap Rea yang masih menundukan kepalanya "Ibu sama Ayah datang ke rumah?" Tanya Erlan dan Reapun mengangguk pelan membenarkan "Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Erlan dan kini Erlan tak mendapat respon dari Rea. "Aku lupa untuk mentransfer uang bulan," ucap Erlan lalu mengeluarkan ponsel pintarnya hendak melakukan transaksi pengiriman uang namun gerakan Erlan terhenti ketika Nyonya Lina menarik ponsel yang ada di tanganya. "Untuk apa transfer lagi. Tadi Rea sudah memberikan uang pada mertuamu yang tidak berguna itu, jadi tidak perlu kirim uang lagi semakin mereka di turuti semakin ngelunjak." Ucap Nyonya Lina seraya menatap sinis kearah Rea "Ma.." panggil Erlan berusaha melarang sang Ibu untuk tidak berkata buruk tentang mertuanya. "Apa yang Mama katakan benar Erlan, keluarganya menjadi benalu untukmu selain itu mereka mata duitan, selain itu coba lihat istrimu sudah hampir 3 tahun menikah dia belum juga hamil..." "MA!!.." Erlan membentak membuat Nyonya Lina langsung terdiam seribu bahasa "Sudahlah Mama lapar," ucap Nyonya Lina mengalingkan topik karena ia tahu jika ia melanjutkan topiknya maka dapat dipastikan Erlan akan marah padanya "Ayo Ma, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan Mama." Rea yang dari tadi terdiam kini bersuara berusaha mencairkan suasana. Nyonya Lina melangkah masuk dengan gaya angkuhnya meninggalkan Erlan dan Rea. "Maafkan Mama, Rea." Ucap Erlan nadanya terdengar sangat menyesal Rea tersenyum "Kenapa minta maaf, kau tidak salah. Apa yang dikatakan Mama ada benarnya." Balas Rea lalu melangkah masuk menyusul Ibu Mertuanya sementara Erlan masih berdiri mematung sembari menghela nafas berat, setelah berhasil menenangkan pikirannya yang sempat kalut karena tingkah sang Ibu, Erlan kini berjalan menuju ruang makan. Di ruang makan Nyonya Lina tengah terduduk diam dengan Rea disampingnya yang dengan cekatan menyajikan makanan keatas piring miliknya. Erlan melangkah menghampiri Rea, menarik tangan Rea lalu memaksa Rea untuk ikut duduk disampingnya "Itu bukan tugasmu, biarkan pelayan yang melakukannya." Ucap Erlan kearah Rea kemudian memberi kode kearah pelayan untuk menyajikan makanan kepada Nyonya Lina. Tengah asyik menyantap makanan tiba-tiba suara bel pintu berbunyi menandakan adanya tamu, seorang pelayan bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu. "Siapa malam-malam begini?" Tanya Erlan, Reapun menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan sang suami "Mungkin itu mertuamu lagi yang datang kembali meminta uang." Ketus Nyonya Linda Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD