Di kediaman Monorre, Rea dengan segera menyambut Erlan yang baru saja pulang kerja, dengan cekatan Rea meraih tas yang dibawa Erlan lalu mengikuti langkah Erlan di belakang melangkah menuju kamar mereka.
Dalam kamar Erlan segera melepas jas, dasi dan kemejanya sementara Rea setelah meletakan tas kerja Erlan dalam lemari, iapun kini beralih mengambil baju tidur sang suami yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apa saja yang kau lakukan hari ini, Sayang? Apa kau bersenang-senang tadi bersama Maya dan Dara?" Tanya Erlan, meletakan kemeja kotornya di ujung tempat tidur
"Tadi aku hanya sebentar bertemu Maya dan aku juga tidak dapat bersenang-senang karena tadi Dara muntah-muntah jadi..."
"Dara muntah-muntah?" Serobot Erlan panik memenggal kalimat Rea
"Hhm!" Sahut Rea membenarkan "Dara muntah-muntah dan mual tadi jadi terpaksa aku harus mengantarnya lebih awal ke hotel."
"Kau tidak mengantar Dara ke rumah sakit untuk periksa ke dokter?"
"Aku sudah mengajak Dara ke rumah sakit tapi Dara menolak dan lebih memilih untuk di antar ke hotel saja." Ucap Rea
"Benar juga, Rea akan tahu Dara hamil jika Rea mengantar Dara ke rumah sakit." Pikir Erlan
"Dan kau tahu sayang," ucap Rea membuat Erla yang tadinya bergelut dengan pikirannya sendiri langsung menatap kearah Rea
"Tau apa sayang?" Tanya Erlan
"Yang lebih lucunya itu Maya, saat Dara mual dan muntah-muntah Maya langsung beropini bahwa Dara hamil."
Deg!... jantung Erlan berdegup kencang mendengar perkataan Rea "Lalu apa kau mempercayai perkataan Maya?" Tanya Erlan seraya menatap penasaran kearah Rea
"Tentu saja tidak, aku yakin Dara tidak akan menjadi gadis murahan dengan hamil tanpa suami."
Mendengar jawaban Rea spontan Erlan langsung tertawa kecut "Kau benar sayang, Dara bukanlah gadis murahan." Tutur Erlan pelan
Rea meletakan baju tidur Erlan diatas tempat tidur sembari berkata "Kau mandilah sayang, aku harus ke dapur menyiapkam makanan."
"Makanan untuk apa? Bukankah aku sudah katakan tak perlu menyiapkan makan malam karena aku sudah makan di caffetaria perusahaan tadi." Ucap Erlan bingung
"Mama malam ini akan datang dan akan menginap." Balas Rea
"Mamaku?" Tanya Erlan kembali berusaha meyakini dan dengan segera Reapun mengangguk membenarkan
"Kau mandilah, baju gantimu sudah ku siapkan diatas tempat tidur, aku akan membuatkanmu s**u hangat sekalian." Ucap Rea sebelum berlalu pergi meninggalkan sang suami.
Setelah pintu kamar tertutup Erlan dengan segera meraih ponselnya lalu menelpon nomor kontak bernamakan "Clien 1" yang ada di koleksi kontaknya, tak beberapa lama menunggu suara seorang gadis menyapa indra pendengaran Erlan.
"Tumben kau menelponku? Apa kau merindukanku?" Tanya gadis yang ada di saluran telpon
"Kau baik-baik saja Dara? Ku dengar dari Rea tadi kau mual dan muntah-muntah." Balas Erlan langsung to the point
"Iya mungkin bawaan bayi kita." Jawab Dara dengan nada manja
"Pergilah ke dokter periksa keadaanmu dan bayi itu." Titah Erlan dengan nada khawatir
"Aku akan periksa kecuali kau menemaniku. Ayolah temani aku malam ini. Apa kau tega membiarkan bayi kita merindukanmu? Aku juga tidak akan memohon meminta kau menemuiku jika ini keinginanku tapi masalahnya ini keinginan bayi kita. Apa kau tega?" Rengek Dara dengan nada memelas membuat hati Erlan nyaris luluh syukurlah Erlan memiliki prinsip yang kuat
"Aku tidak bisa menemuimu malam ini Dara karena Mamaku juga akan datang dan menginap di rumah malam ini. Aku janji besok akan menemanimu." Ucap Erlan menolak "Kau istirahatlah, selamat malam." Lanjutnya lalu mengakhiri panggilan telpon
Setelah sambungan terlpon berakhir Dara dengan segera tersenyum muncul ide licik di kepalanya sedetik kemudian jemari Dara yang lentik terlihat menari diatas layar ponsel lalu beberapa saat ia mengarahkan ponsel pintarnya kearah telinganya setelah menelpon nomor ponsel milik Rea.
Rea yang saat itu masih bergelut di dapur dengan beberapa orang pelayan, menghentikan aktifitas memotong sayurannya setelah ponsel dalam saku celananya bergetar dengan segera Rea menjawab panggilan telpon itu.
"Iya Dara?" Jawab Rea "Ada apa? Apa kau sakit lagi? Butuh teman ke dokter?" Serobot Rea panik
Suara tawa renyahpun menelusuk ke telinga Rea "Aku baik-baik saja Rea, aku menelpon karena sedang bosan saja." Ucap Dara membuat Rea langsung bernafas lega.
"Rea, tadi aku lupa. Aku baru saja membuka koperku dan aku menemukan oleh-oleh yang telah ku persiapkan untukmu, untuk suamimu untuk mertuamu dan untuk ke dua orang tuamu. Tadi aku lupa membawanya."
"Kenapa harus repot-repot membeli oleh-oleh segala." Ucap Rea merasa tidak enak pada Dara
"Aku ingin memberikannya padamu sekarang karena aku takut lupa lagi sekalian aku ingin ke rumahmu aku merasa suntuk di hotel. Jadi bolehkah aku ke rumahmu malam ini?" Tanya Dara
"Tentu saja boleh, tunggulah aku akan meminta supir menjemputmu."Ucap Rea
"Eeh!.. Tak perlu repot-repot biar aku saja yang pergi sendiri tak perlu repot meminta supir menjemputku. Kau cukup kirim alamatmu saja maka aku akan pergi ke rumahmu." Balas Dara
"Kau yakin tak perlu jemputan?" Tanya Rea lagi
"Yakin!" Sahut Dara
"Baiklah kalau begitu tunggulah akan ku kirimkan segera." Balas Rea sebelum mengakhiri panggilan telpon lalu mulai mengetik alamat rumahnya kemudian mengirimkannya pada Dara.
***
Rea bernafas lega setelah berhasil menata meja makan dengan hidangan masakan kesukaan Ibu mertuanya.
"Haah!.." Rea mengerang lega merasa plong saat ia berhasil memasak semua hidangan bahkan sebelum Nyonya Lina, Ibu Mertuanya tiba.
Suara bel pintu mencuri perhatian Rea "Apa itu Mama?" Pikir Rea lalu dengan cepat menghalau seorang pelayan yang hendak ingin membukakan pintu "Biar aku saja," ucap Rea seraya berjalan meninggalkan dapur menuju pintu utama yang ada di ruang tamu.
Tiba di depan pintu, Rea sesekali menarik nafas dalam lalu di hembuskannya berlahan ia melakukan semua itu untuk menenangkan diri sembari mengumpulkan semua keberaniannya untuk menemui Ibu mertuanya, mengingat selama ini Ibu mertuanya yang bernama Nyonya Lina tidak menyukai Rea.
Setelah di rasa tenang dan cukup berani Rea segera membuka pintu dan alangkah terkejutnya Rea begitu ia membuka pintu bukanlah sosok mertua yang ia lihat melainkan kedua orang tuanya.
"Ibu, Ayah?" Ucap Rea dengan wajah terkejut
"Begitu sekali cara kau menyambut orang tuamu." Balas Nyonya Tita merasa tak terima akan reaksi Rea melihat kehadiran mereka.
Rea dengan segera menutup pintu lalu meraih pergelangan tangan Ibu dan Ayahnya menuntun mereka sedikit menjauh dari pintu agar kehadiran kedua orang tuanya tak terlihat oleh Erlan.
"Kenapa Ayah sama Ibu tidak memberitahu terlebih dahulu kalau mau datang?" Tanya Rea dengan nada suara pelan
"Ibu sama Ayah tidak akan datang kalau suamimu sudah transfer uang bualan. Ibu sama Ayah mau ketemu sama Erlan mau tanya kenapa uang bulanan untuk Ibu dan Ayah belum di transfer juga." Ucap Nyonya Tita membuat Rea mendesah berat
"Bu, kan kemarin aku sudah kasih Ibu uang 5 juta, aku kasih uang itu agar Ibu dan Ayah gak minta uang lagi sama Erlan." Tutur Rea putus asa
"Kau ini bagaimana Rea, uang dari kamu yah jelas bedalah dari uang bulanan yang dikasih Erlan." Balas Tuan Yoga "sekarang mana suamimu, panggil saja dia atau suruh dia transfer sekarang juga uang bulanan kami." Sambung Tuan Yoga tanpa tahu malu
Rea dengan segera mengangguk menyetujui permintaan sang Ayah "Baiklah aku akan meminta Erlan transfer uang bulanan untuk Ayah sama Ibu jadi sekarang Ayah sama Ibu pulang yah." Pinta Rea mengusir kedua orang tuanya karena ia takut jika kedua orang tuanya bertemu dengan mertuannya yaitu Nyonya Lina maka itu akan menjadi masalah besar
Bersambung