mual karena ngidam

1218 Words
"Apa kau sudah makan siang Dara?" Tanya Rea dengan cepat Dara menggeleng pandangan mata Dara terus terfokus pada Erlan "Baguslah jika belum, kebetulan aku juga membuatkan bekal untukmu niatnya tadi ingin ku antar ke hotel tapi untunglah kau ada disini." Ucap Rea, mengeluarkan makanan yang ada dalam tasnya lalu membuka kotak bekalnya satu persatu. Melihat perlakuan Rea yang sangat perhatian pada Dara membuat Erlan merasa menyesal telah memiliki hubungan gelap dengan Dara. "Makanlah," Rea meraih tangan Dara lalu meletakan sendok dan garpu, berlahan Dara mulai memakan makanan yang di berikan Rea padanya. "Enak?" Tanya Rea dan Darapun mengangguk, senyum Rea langsung berkembang di wajahnya melihat Dara sangat menikmati makan siang buatanya. "Ah! Aku sampai lupa, kau sangat menyukai nanas bukan." Ucap Rea, meraih garpu lalu menusuk sepotong nanas yang segar kemudian memberikannya kepada Dara. Dara tersentak kaget begitu juga dengan Erlan baik Erlan maupun Dara masih sangat percaya bahwa ibu hamil yang memakan nanas dapat menyebabkan keguguran. Dara tersenyum, ia memanfaatkan potongan nanas itu untuk mengecek apakah Erlan benar-benar tidak mempedulikannya dan bayinya atau tidak. Erla menatap Dara berusaha memberikan kode agar Dara tak memakan nanas pemberian dari Rea namun itulah yang disukai Dara yaitu melihat reaksi Erlan yang begitu panik akan keadaanya. "Terimakasih," ucap Dara, mengambil garpu yang ada di tangan Rea Berkali-kali Erlan menggelengkan kepalanya kearah Dara saat Rea tak memperhatikannya dan saat Dara hendak memasukan potongan nanas itu dalam mulutnya, Erlan spontan berdiri dengan marah meraih garpu di tangan Dara kemudian melempar garpu itu ke lantai. "Sudah ku bilang jangan dimakan!" Bentak Erlan lepas kendali ia bahkan tak mempedulikan keberadaan Rea saat itu yang bisa saja mencurigai hubungan mereka. Melihat Erlan bertingkah seperti itu Rea hanya menatap suaminya bingung sementara Dara lagi-lagi hanya tersenyum puas. "Apa yang kau lakukan Erlan?" Tanya Rea matanya terfokus pada potongan nanas tertancam di garpu yang kini telah tergeletak di lantai. Mata Erlan terbelalak, ia begitu terkejut mendapati Rea menatapnya, ia tak habis pikir bagaimana mungkin ia bisa melakukan tindakan itu disaat Rea bersamaanya. "Apa kau tidak tahu Rea, Dara memiliki alergi terhadap nanas." Ucap Erlan, kembali terduduk dengan tubuh yang lemas sorot matanya menatap Rea penuh penyesalan "Benarkah itu Dara?" Rea mengalihkan perhatiannya menatap kearah Dara dan Darapun mengangguk membenarkan "Tapi sejak kapan kau memiliki alergi terhadap nanas Dara? Bukankah dulu nanas makanan kesukaanmu kau sering memakannya dulu dan tidak ada gejala alergipun terjadi saat itu." Perkataan Rea membuat Erlan kalang kabut ia berpikir keras mencari penjelasan untuk diberikan pada Rea agar Rea tak mencurigai hubungannya dan Dara Dara tersenyum lalu berkata "Dulu aku dapat memakan nanas dengan leluasa karena aku membawa obat alergi kemanapun aku pergi oleh karena itu aku bebas makan nanas sepuasku, tapi hari ini aku lupa membawa obatku." "Oh.." Seru Rea "Maaf, aku tidak tahu akan hal itu." Rea berucap kembali membuat Erlan bernafas lega karena lagi-lagi Rea mempercayai kebohongan mereka dengan begitu mudahnya. "Tapi sayang," Rea mengalihkan pandangannya kearah Erlan "Bagaimana kau bisa tau kalau Dara alergi nanas? Dan juga bukankah responmu sangat kasar?" Erla mematung, dia sama sekali tidak menyangka Rea akan menanyakan hal itu padanya "itu.. hhhmm.." Erlan tergagap tidak tahu harus menjawab apa otaknya membeku tidak dapat berpikir dengan jerni "Ah Rea, Erlan mengetahuiku alergi nanas karena semalam kami sempat bertemu di hotel dan waktu itu aku memakan nanas dan lupa membawa obatku dan Erlanlah yang membantuku membawaku ke rumah sakit semalam." Jelas Dara membuat Rea kembali teringat tadi pagi Erlan sempat mengatakan bahwa ia membantu Dara yang nyaris terjatuh mungkin Dara nyaris terjatuh karena mengalami alergi, setidaknya itulah yang berputar di otak Rea saat ini itulah kenapa dia begitu mudah mempercayai sahabat dan suaminya. "Kenapa tidak memberitahuku? Agar aku dapat menemanimu di rumah sakit." Tanya Rea menatap kearah Erlan "Semalam batrai ponselku habis sayang, dan aku hanya sebentar. Aku hanya membawa Dara ke rumah sakit lalu kembali ke hotel lagi bertemu dengan klien." Ucap Erlan, Reapun mengangguk seakan mengerti akan situasi yang dihadapi sahabat dan suaminya itu. "Aku yang meminta Erlan untuk tidak menghubungimu karena aku takut kau akan khawatir jika Erlan memberitahumu." Timpal Dara Rea menatap Dara dengan lembut Rea meraih tangan Dara lalu menggenggamnya erat "Lain kali kau harus memberi tahuku Dara, wajar jika kau membuat ku khawatir itu karena kau sahabatku. Kali ini ku maafkan tapi lain kali jika kau tidak memberitahuku aku akan marah." Dara dengan segera menganggukan kepalanya tanda setuju dan mengerti Rea menatap jam yang melingkar di tangannya yang kini menunjukan pukul 2 siang dengan cepat Rea membereskan kotak bekalnya "Kau akan pulang?" Tanya Erlan melihat Rea berberes-beres "Iya, lagi pula aku harus menemui Maya sebelum pulang nanti." Jawab Rea "Maya?" Gumam Dara membuat Rea mengangguk lalu menatap kearahnya "Maya sahabatku sama seperti mu, kami ada janji siang ini." Jelas Rea, Darapun mengangguk tanda mengerti "Apa kau ingin ikut Dara?" Tanya Rea membuat Dara berpikir sejenak lalu mengangguk tanda setuju karena tidak mungkin ia bertahan tinggal di ruangan Erlan yang ada itu justru akan memancing curiga dari Rea. Rea tersenyum senang "Aku akan mengenalkanmu dengan Maya. Aku yakin kau akan akrab dengan Maya, Maya gadis baik yang sangat menyenangkan." "Benarkah?" Tanya Dara segera Rea mengangguk membenarkan *** Tiba di sebuah caffe, Rea dengan antusias menggandeng tangan Dara memasuki caffe lalu menghampiri seorang gadis berkaca mata yang sedang duduk sendiri. "Itu dia Maya, Dara." Ucap Rea kearah Dara seraya menunjuk gadis berkaca mata itu "Maya!" Panggil Rea, mempercepat langkahnya menghampiri Maya. "Kenalkan Maya, ini sahabatku dari SMA namanya Dara." Rea memperkenalkan Dara pada Maya sebelum ia mendudukan tubuhnya di kursi "Maya," ucap gadis berkaca mata itu sembari menjabat tangan Dara "Dara." Balas Dara seraya tersenyum manis dan mereka bertigapun mulai mengobrol tentang berbagai hal mulai dari hal-hal lucu hingga seram. Tengah asyik mengobrol seorang pelayan datang menghampiri meja tempat Rea dan kedua temannya duduk. Pelayan itu menghidangkan milk shake dan manggo cake untuk Rea dan Dara lalu menghidangkan spageti untuk Maya yang belum makan siang. Melihat spageti dihidangkan diatas meja tiba-tiba Dara menutup hidungnya lalu beberapa detik kemudian mual-mual bahkan nyaris muntah. "Kau baik-baik saja?" Tanya Rea khawatir "Iya aku..." Dara tak dapat menyelesaikan ucapannya karena rasa mual yang begitu kuat. "Bisa minta tolong singkirkan spagetinya karena aku..." lagi-lagi Dara tak dapat melanjutkan ucapannya dan nyaris muntah ketika ia mencium aroma spageti, melihat tingkah Dara akan spageti Maya mulai menyerengit dan dapat menyimpulkan sesuatu. "Aku ke toilet dulu." Ucap Dara lalu berlari kearah kamar mandi karena jika tidak dia bisa saja memuntahkan semua isi perutnya diatas meja. "Ku rasa Dara hamil." Ucap Maya setelah kepergian Dara "Eeeii.. tidak mungkin, Dara belum memiliki suami mana mungkin dia hamil." Balas Rea yang tak mempercayai ucapan Maya "Itu gejala wanita sedang ngidam Rea. Mual yang dirasakan Dara bukan mual biasa tapi mual akibat ngidam." "Tapi Dara belum menikah jadi bagaimana mungkin dia bisa..." Ucapa Rea terhenti saat Maya tertawa "Ayolah Rea sekarang sudah akhir zaman sudah banyak kasus seorang gadis hamil tanpa suami apa lagi Dara yang notabennya tinggal di Amerika otomatis hal seperti hubungan suami istri tanpa status pernikahan sudah menjadi hal biasa disana, jangankan di Amerika di negara kita sendiri saja hal itu sudah menjadi hal yang biasa kita jumpai." "Jika Dara hamil lalu kenapa dia pindah dari Amerika ke negara kita?" Gumam Rea "Hhmm apa mungkin dia pindah ke Negara kita karena ingin menemui ayah biologis dari anaknya." Celetuk Maya seraya menyantap spageti dihadapannya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD