Rea yang saat itu terduduk sembari merekam tangannya membuat kerajinan dari kristal tiba-tiba menghentikan aktifitasnya saat menatap jam yang kini menunjukan pukul 9 pagi.
"Sebaiknya aku menyiapkan makan siang untuk Erlan dan mengantarnya ke perusahaan, sekalian aku membuatkan makanan rumahan untuk Dara. Aku yakin Dara pasti merindukan makanan rumahan, aku bisa mampir ke hotel nanti setelah pulang dari perusahaan." Pikir Rea, ia segera membereskan semua peralatan yang dia gunakan untuk membuat kerajinan kritas, memasukan alat-alat itu dalam kardus lalu menyembunyikan kardus itu di bawah tempat tidur karena ia tak ingin suaminya dan siapapun tau bahwa selama ini ia hobbi membuat kerajinan kristal. Setelah ia merasa cukup aman menyembunyikan peralatannya, Rea bergegas menghampiri dapur kemudian mulai mempersiapkan bahan-bahan masakannya yang juga dibantu oleh beberapa orang pelayan yang saat itu ada di dapur.
Sementara itu di perusahaan DMD group Erlan yang tadinya terduduk dengan wajah serius dibalik kursi kebesarannya selaku CEO tersentak kaget saat Dara menerobos masuk ruangannya diikuti oleh sekretaris Erlan yang berusaha menghalangi Dara masuk bahkan dari tempat duduknya Erlan samar-samar mendengar ucapan sekretarisnya pada Dara yang berkata sedikit berteriak "Anda tidak boleh masuk jika tidak ada janji terlebih dahulu Nona."
"Maaf Tuan dia..." Erlan mengangguk kepada Sekretarisnya membuat gadis itu mengerti apa maksudnya dan segera meninggalkan ruangan.
Dara tersenyum menang melihat sekretaris dari Erlan pergi "Berani sekali kau menghalangiku masuk. Lihat saja, kau orang pertama yang akan ku pecat jika Erlan menikahiku nanti." Pikir Dara menatap sinis kearah sekretaris yang saat ini sudah kembali duduk di posisinya.
"Apa lagi yang kau inginkan Dara?" Pertanyaan dari Erlan membuat Dara segera menoleh kearahnya lalu melangkah mendekati sofa dan mendudukan tubuhnya disana tanpa permisi seolah ruangan itu miliknya.
"Kau mengatakan akan membahas masalah kehamilanku semalam, jadi aku datang menemuimu sekarang karena terlalu lama jika aku harus menunggumu menemuiku." Jawab Dara nada suaranya sedikit menyindir Erlan
"Tapi tidak harus di perusahaan juga bukan."
"Lalu kau ingin aku membicarakan ini dimana? Kau sendiri bahkan tidak ingin menemuiku." Erla menghela nafas berat, melangkah menghampiri sofa kemudian ikut mendudukan tubuhnya disana.
Erlan menatap Dara dalam, lalu menatap kearah perut milik Dara, sejujurnya ia sedikit senang mendengar Dara hamil meski sedikit kaget. Erlan memang menginginkan seorang anak selama ini namun selama hampir 3 tahun pernikahannya dengan Rea, Rea juga belum dikaruniai bayi.
"Tidak ada salahnya juga jika aku merawat bayiku," pikir Erlan sementara Dara menyeringai melihat sorot mata dan ekspresi Erlan yang melunak.
"Bisakah kau menemaniku mencari rumah sekaligus untuk studio kerjaku?" Tanya Dara memanfaatkan kesempatan atas luluhnya hati Erlan
"Baiklah," sahut Erlan tanpa pikir panjang
Erlan menyerengit melihat sepatu yang dikenakan Dara "Kau menggunakan heels padahal kau tahu dirimu tengah hamil?" Ucap Erlan lalu bergerak menghampiri meja kerjanya, meraih ganggang telpon kemudian menelpon sekretarisnya
"Iya Tuan," jawab sang sekretaris menjawab panggilan telpon dari Erlan dengan cepat
"Siska, pergilah ke mall atau toko belikan aku sepatu atau sendal untuk wanita tapi yang flet dengan ukuran 38."
"Baiklah Tuan." Jawab Sekretaris itu sebelum panggilan telpon berakhir
"Kau sudah makan siang?" Tanya Dara
"Belum," sahut Erlan
"Ayo kita makan siang bersama di caffe dekat perusahaan ini saja, kebetulan aku juga belum makan." Ajak Dara
"Baiklah," Erlan menyetujui dengan cepat "Kau pergilah lebih dahulu ke caffe aku akan menyusulmu. Tidak enak jika dilihat karyawan jika kita pergi bersama."
"Baiklah," Dara beranjak bangkit "Aku akan menunggumu, aku tidak akan makan sebelum kau datang. Jika kau tidak datang itu pertanda kau membiarkan aku dan bayi kita kelaparan." Ucap Dara lalu melangkah meninggalkan ruangan milik Erlan dan perusahaan.
Tepat setelah Dara memasuki area caffe di seberang perusahaan, mobil yang ditumpangi Rea berhenti di depan perusahaan. Rea segera memasuki perusahaan sembari menenteng tas berisi bekal sang suami.
Di ruangan Erlan yang selsai merapihan berkas pekerjaannya kini berjalan menghampiri sisi kiri meja kerjanya mendekati jas yang tergantung disana kemudian mengenakan jas itu.
"Apa kau akan pergi sayang?" Suara Rea yang tiba-tiba muncul membuat Erlan terlonjak kaget, ia bahkan tidak mengetahui kapan istrinya itu memasuki ruangannya.
"Iya," sahut Erlan
"Kemana?" Rea bertanya sembari melangkah menghampiri sofa lalu mendudukan dirinya disana
"Tadinya aku ingin keluar untuk makan siang." Jawab Erlan tangannya dengan cepat melepas jas yang baru saja ia kenakan, menggantungnya kembali kemudian melangkah menghampiri sofa lalu duduk tepat di samping Rea.
"Aku tidak tahu kau akan datang sayang." Ucap Erlan lembut seraya menatap Rea
"Kejutan," bisik Rea kearah telinga sang suami dengan wajah yang tersipu malu dan suara sedikit manja, Erlanpun bahkan heran kenapa akhir-akhir ini Rea suka bertingkah manja dan sedikit menggodanya namun ia senang akan perubahan Rea itu karena selama ini jangankan menggodannya atau manja menatap dirinya saja Rea sudah merasa malu.
Rea dengan cekatan mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas yang dibawanya sembari berkata "Kalau begitu jangan keluar, aku sudah menyiapkan makan siang untukmu."
Rea membuka tutup tempat bekal satu persatu ada rendang, nasi serta telur gulung tak lupa chapcai kesukaan Erlan yang langsung mengkhiasi atas meja.
"Kau sangat tahu apa yang ku butuhkan saat ini." Erlan berkata seraya mencium kening Rea.
Rea menyendok makanan itu lalu mengarahkannya kearah mulut Erlan, sementara Erlan dengan cepat menerima suapan dari Rea.
"Enak?" Erlan mengangguk kemudian berkata seraya mengunyang makanannya "Masakan istriku tidak perna gagal." Seketika itu juga Erlan langsung melupakan janji makan siangnya dengan Dara.
1 jam Dara menunggu di caffe, Erlan tak kunjung datang bahkan 30 menit lagi waktu makan siang sudah mulai berakhir, merasa di permainkan oleh Erlan, Dara meninggalkan caffe dengan kesal kemudian melangkah memasuki perusahaan DMD group dengan amarah yang menggebu-gebu.
Dara memasuki lift tak butuh waktu lama kini ia tiba dilantai 7 dengan langkah terburu ia berjalan menuju ruangan milik Erlan dan menerobos masuk sembari berkata dengan emosi "Bukankah ini sudah keterlaluan, Erlan..." Langkah dan ucapan Dara seketika berhenti saat ia melihat ada Rea di ruangan itu sedang bercengkrama dengan Erlan.
"Dara?" Panggil Rea bingung mendapati sosok Dara memasuki ruangan Erlan tanpa permisi terlebih dahulu, sementara Erlan langsung menghembuskan nafas berat dan mengusap kasar wajahnya saat ia mengingat janji makan siangnya dengan Dara.
Dara melangkah memasuki ruangan kerja Erlan, mendekati sofa lalu mendudukan tubuhnya disana, sementara itu Rea masih menatap Erlan dan Dara bergantian berusaha mencari kejelasan akan situasi saat itu.
"Kalian terlihat begitu akrab," ucap Rea membuat Erlan kalang kabut karena panik
"Tentu saja kami akrab Rea," balas Dara seraya menatap Erlan dengan tatapan penuh ancaman
"Sejak kapan? Bukankah kemarin kalian..."
"Semalam," sambar Erlan cepat
"Maksudnya?" Pikiran aneh dan negatif mulai memenuhi isi kepala Rea namun sebisa mungkin ia mengabaikan hal itu karena ia tak mau mencurigai suami dan sahabatnya itu.
"Semalam aku meminta Dara datang kemari karena aku ingin membahas sesuatu yang nantinya akan jadi kejutan untuk mu tapi nampaknya rencanaku memberikanmu kejutan sudah gagal." Jelas Erlan membuat Dara tertawa kecut melihat betapa pintarnya Erlan mengarang cerita.
"Aku sebenarnya meminta Dara datang kemari karena aku ingin Dara merancang gaun khusus untukmu yang nantinya akan ku jadikan hadia ulang tahun pernikahan kita untukmu 3 hari lagi, tapi sayangnya sekarang kau mengetahuinya." Penjelasan Erlan lagi-lagi membuat Rea percaya, bukan hanya percaya Rea justru merasa terharu akan ucapan Erlan.
Rea dengan mata berkaca-kaca langsung cepat memeluk Erlan erat melihat hal itu Dara langsung memasang wajah sinis seraya mutar bola matanya sebal sementara Erlan menatap Dara dengan tatapan mengancam agar gadis itu tak memberitahu Rea tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Rea melepas pelukannya lalu beralih kearah Dara kemudian memeluk gadis itu "Aku sungguh wanita yang beruntung memiliki sahabat seperti mu Dara, dan aku juga memiliki suami seperhatian Erlan." Ucap Rea seraya menghampus air mata harunya tanpa ia sadari bahwa kini ia sedang di bohongi oleh kedua orang yang sangat dipercayainya itu habis-habisan
Bersambung.