Erlan menggeliat, merabah tempat tidur dengan mata masih terpejam lalu sebuah senyuman muncul di wajahnya kala ia menyentuh tubuh seorang gadis yang terbaring di sampingnya.
"Pagi sayang." Ucapnya masih dengan nada lembut, ia mendekatkan wajahnya kearah leher gadis yang ada di sampingnya lalu mencium leher itu.
Aroma tubuh yang sangat asing membuat Erlan tersentak dan langsung membuka matanya, alangkah terkejutnya Erlan begitu ia melihat yang terbaring tidur di sampingnya tanpa sehelai benangpun bukanlah istrinya Rea melainkan Dara sahabat sang istrinya.
Tubuh Erlan seketika membeku, otaknya berpikir keras mengingat kejadian semalam dan samar-samar ia berhasil mengingatnya, Erlan panik kalang kabut saat ingatannya membawanya pada adegan dimana Rea memintanya untuk pulang lebih awal.
"Sial!" Umpat Erlan, beranjak meraih celananya yang ada di ujung tempat tidur, mengenakan celana hitam itu dengan terburu lalu berjalan mendekati kemeja putih yang tergeletak di lantai.
Dalam keadaan terburu-buru Erlan dikagetkan oleh suara Dara yang menyapanya "Pagi sayang,"
Erlan menolah kearah Dara dengan wajah kesal tak ada keramahan di wajah lelaki itu "Obat apa yang kau berikan padaku?" Tanya Erlan
"Aku tidak memberimu obat, Erlan. Tadi malam kau begitu menggebu-gebu dan bersemangat itu tandanya kau masih mencintaiku bukan karema efek obat."
"Diamlah Dara!" Bentak Erlan, andai orang yang di depannya saat ini bukanlah seorang gadis mungkin ia sudah menghajarnya sampai tak sadarkan diri. Malas berdebat dengan Dara, Erlan bergegas menghampiri meja yang ada di ujung ruangan saat melihat ponselnya tergeletak disana. Ia meraih ponsel itu dengan terburu dan semakin gelisa saat mengetahui ternyata ponselnya mati karena tidak memiliki daya, sebelum kemudian Erlan berlari dengan terburu meninggalkan ruangan tanpa menatap kearah Dara sedikitpun, sementara Dara hanya menatap sedih punggung Erlan yang menghilang dibalik pintu kamar hotel.
Rea yang kala itu tidur di sofa ruang tamu tersentak bangun dalam posisi terduduk saat salah seorang pelayan membangunkannya.
"Apa Erlan sudah pulang?" Tanya Rea dan pelayan itu langsung menggelengkan kepalanya untuk menjawab sebelum berlalu pergi meninggalkan Rea.
Rea beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya sembari menelpon Erlan namun telponnya tak dapat tersambung itu semakin membuatnya khawatir. Saat memasuki kamar tubuh Rea langsung lemas melihat kamar yang telah ia hias dengan sedemikian rupa agar dapat menciptakan suasana romantis namun sayang usahanya sia-sia, dengan berat Rea mulai membereskan kamarnya sebelum ia dikagetkan oleh suara pintu kamar yang terbuka dengan segera Rea menoleh.
Rea bernafas lega melihat suaminya berdiri di hadapannya tanpa luka sedikitpun.
"Sayang," ucap Erlan lembut , bergegas menghampiri Rea lalu memeluknya erat sementara Rea merasakan pelukan hangat suaminya langsung menumpahkan air matanya, semalaman hingga pagi ini pikiran buruk akan keadaan suaminya terus menghantui pikirannya mulai dari Erlan yang kecelakaan hingga dirampok orang, namun semua pikiran itu hilang dan dapat membuatnya bernafas lega ketika Erlan muncul dalam keadaan sehat.
"Maafkan aku, Sayang." Ucap Erlan berulang kali sembari menciumi pucuk kepala Rea yang terus terisak tangis dalam pelukannya.
"Kemana saja kau, kenapa tidak ada kabar ponselmu bahkan tidak aktif," suara rengekan Rea terdengar begitu lirih
Erlan melepas pelukannya "Tadi malam aku ada rapat mendadak, cliennya terlalu merepotkan dia terus memaksaku minum hingga aku mabuk dan tak sadarkan diri jadi terpaksa aku memesan salah satu kamar hotel disana untuk tidur, niatnya aku ingin tidur sebentar sampai rasa mabuk dan pusingku hilang namun nampaknya aku tidurnya kebablasan dan saat aku bangun aku baru sadar ponselku kehabisan daya." Jelas Erlan dan langsung dipercayai oleh Rea tanpa ada pertanyaan lanjutan ataupun mencurigai Erlan sedikitpun.
Erlan membuka bajunya membuatnya bertelanjang d**a "Aku harus mandi dan segera pergi ke perusahaan, aku sudah sangat telat." Ucapnya kemudian berlalu ke kamar mandi.
Rea meraih kemeja yang ditenggalkan Erlan di ujung sofa berniat ingin memindahkan baju itu kebagian tempat pakaian kotor namun Rea menyerengit begitu mendapati aroma tidak asing di kemeja milik Erlan yang jelas aroma itu bukan berasal dari parfum yang biasa Erlan pakai.
Rea dengan segera mengendus aroma parfum yang menempel di kemeja milik Erlan meski samar-sama namun Rea dapat mengenali wangi parfum yang bercampur dengan parfum milik Erlan, harum vanila bercampur jasmin yang menyenget itu adalah aroma parfum yang dicium Rea saat berdekatan dengan Dara kemarin, mata Rea kembali terbelalak ketika melihat noda lipstik dibagian depan d**a kemeja milik Erlan.
Rea berusaha berpikir tenang ia tidak boleh menyimpulkan sebelum mendapat penjelasan dari Erlan.
Rea duduk di ujung tempat tidur bersama kemeja milik Erlan yang ada di tangannya, ia menanti Erlan selsai mandi lalu menanyakannya baik-baik.
Setelah 15 menit menunggu akhirnya Erlan keluar dari dalam kamar mandi dengan sehelai handuk yang melilit bagian pinggangnya.
Erlan bingung menatap Rea teduduk diam di ujung tempat tidur sebelum mata Erlan terbelalak mendapati kemeja miliknya yang saat ini ada di tangan Rea memiliki noda lipstik "Sial," gumam Erlan sepelan mungkin ketika ia kembali mengingat bahwa semalam saat Dara memeluknya bibir gadis itu tertempel di kemejanya, dengan cepat Erlan memutar otaknya untuk berpikir mencari jawaban yang akan ditanyakan Rea padanya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Ucap Rea menatap kearah Erlan.
Erlan segera tersenyum berusaha menyembunyikan ketegangannya "Tentu saja, sayang." Jawabnya
"Apa kau bertemu dengan Dara?"
"Semalam hotel tempatku rapat adalah hotel tempat Dara menginap. Aku tidak sengaja bertemu dengan Dara di lobi saat aku membantunya karena dia nyaris terjatuh wajahnya bahkan membentur dadaku dengan begitu keras semalam." Jelas Erlan seraya sesekali mengamati perubahan ekspresi Rea
Mendengar penjelasan Erlan, Rea segera bernafas lega ia lagi-lagi mempercayai ucapan sang suami, dengan senyum Rea berjalan menghampiri Erlan lalu memeluk Erlan erat "Maaf sayang, tadi saat melihat kemejamu ada noda lipstik dan aku mencium parfum seorang gadis tertempel di kemejamu pikiranku sempat jelek padamu. Aku sempat berpikir kau selingkuh di belakangku, maafkan aku karena telah sempat meragukanmu tadi." Ucapan Rea langsung membuat Erlan bernafas lega.
Erlan melepas pelukan Rea kedua telapak tangannya yang besar langsung menangkup pipi Rea, ia menatap Rea dengan begitu lembut "Sampai kapanpun aku tidak akan perna mengkhianatimu, Rea. Kau satu-satunya untukku." Ucap Erlan membuat Rea tersipu malu bahkan wajahnya langsung memerah.
"Bersiaplah setelahnya kita sarapan. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Rea, maaf sayang. Ku rasa aku akan melewatkan sarapan kali ini, aku harus ke perusahaan aku sudah sangat telat." Tolak Erlan lembut meski kecewa akan penolakan sang suami Reapun hanya mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah kalau begitu," ucap Rea sembari tersenyum
Sementara itu di hotel kini Dara sedang sibuk memilih baju apa yang akan dia kenakan hari ini, karena ia berniat menemui Erlan di perusahaan.
Bersambung..