Dalam mobil saat perjalanan pulang Rea menyerengit melihat Erlan yang nampak gelisah.
"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Rea
"Hm!.. Aku baik-baik saja," Erlan menjawab dengan nada tenang namun tak dapat menutupi kegelisahannya
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Rea kembali
"Maksudmu?" Balas Erlan tak paham akan pertanyaan sang istri
"Dari tadi di bandara kau terlihat gelisah dan sekarang kau jadi pendiam biasanya jika kau menjadi pendiam seperti ini, itu tandanya kau sedang banyak pikiran." Jelas Rea membuat Erlan dengan segera memaksa otot wajahnya untuk mengembang membuat senyuman
"Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit masalah perusahaan saja yang menggangguku." Erlan berkilah padahal dikepalanya saat ini sedang berkecambuk memikirkan masalahnya dengan Dara.
"Jangan terlalu di pikirkan, sayang. Aku yakin kau akan mendapat kabar gembira hari ini, misalnya kabar akan ada seseorang yang menanam modal di perusahaan atau membeli saham perusahaan."
"Amiin." Sambar Erlan cepat
"Malam ini kau akan pulang tepat waktu bukan?" Tanya Rea
"Tentu saja, bukankah selama ini aku selalu pulang tepat waktu," jawab Erlan membuat Rea mengangguk tanda setuju
"Hhmm kalau begitu pulanglah lebih awal karena aku akan memasakan makanan kesukaanmu lalu kita akan makan malam romantis bersama." Erlan tertawa kecil mendengar Rea berucap dengan nada sedikit nakal untuk menggodanya.
"Itu ide yang bagus," sahut Erlan tersenyum manis sebelum kembali terfokus kearah jalan.
***
Rea tersenyum menatap meja yang kini telah diisinya dengan hidangan makan malam kesukaan suaminya, tak lupa lilin aroma terapi dan botol wine serta gelas yang juga tak mau ketinggalan mengisi kekosongan di meja yang ada dalam kamar.
Saat jam menunjukan pukul 8 malam, Rea segera mematikan lampu yang ada di kamarnya setelah menyalakan lilin yang ada di atas meja, Rea kini terduduk di sofa kecil yang ada di kamarnya di dekat meja hidangan dengan anggun, Rea bahkan terlihat cantik dengan baju tidur sexynya yang dia kenakan untuk menyambut sang suami. Sementara itu di perusahaan DMD group, Erlan berjalan terburu mengingat janjinya dengan Rea tadi pagi. Erlan bahkan tak henti-hentinya tersenyum kala kembali mengingat nada suara Rea yang sedikit nakal saat memintanya pulang cepat namun senyuman Erlan menghilang ketika ia menatap ponsel yang berdering di tangannya "Dara," gumam Erlan dengan wajah frustasi, bagaimana mungkin ia bisa melupakan gadis itu? Dengan cepat Erlan menjawab panggilan telponnya meski enggan.
"Jangan lupa janji kita Erlan," ucap Dara menyerobot begitu Erlan menjawab panggilan telponnya bahkan sebelum Erlan mengucapkan kata hallo terlebih dahulu.
"Baiklah, aku kesana sekarang." Jawab Erlan lalu bergegas menghampiri mobilnya dan melanjutkan mobil itu ke arah hotel tempat Dara berada, Erlan berpikir bahwa ia harus menemui Dara dan mengakhiri hubungan gelap mereka sebelum Rea mengetahuinya.
Tiba di hotel, Erlan bergegas menuju kamar 403, dia berdiri di depan pintu beberapa saat sebelum Dara membuka pintu kamar dan menyambutnya dengan gaun tidur terbuka serta senyuman hangat.
Begitu Erlan masuk dan menutup pintu Dara langsung memeluk Erlan noda lipstik bahkan sedikit tertempel di kemeja Erlan tanpa Erlan ketahui. Muak dengan wangi parfum yang menyengat Erlan dengan segera melepaskan pelukan Dara dari tubuhnya membuat gadis itu sedikit tersentak.
"Hentikan semua ini, Dara." Ucap Erlan dengan raut wajah dan nada tegasnya mendapati sikap dingin Erlan, Dara langsung tersenyum kecut gadis itu sudah menebak akan mendapatkan perlakuan dingin nan kasar dari Erlan.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk mengakhiri hubungan ini?" Ucap Erlan seraya menatap jam yang melingkar di tangannya memastikan ia tidak terlalu terlambat untuk pulang.
"Bagaimana aku harus mengakhiri hubungan ini Erlan, disaat diriku sedang mengandung anakmu."
Deg!... d**a Erlan langsung terguncang mendengar ucapan Dara, dia sama sekali tidak menyangka pertemuannya dengan Dara 3 bulan lalu di Amerika akan menjerumuskannya dalam masalah sebesar ini, tubuh Erlan langsung lemas.
"Mari kita bicarakan itu nanti, aku harus pulang sekarang." Erlan hendak melangkah pergi namun tangan Dara dengan cepat mencekal pergelangan tangannya
"Setidaknya habiskanlah waktu denganku satu jam lagi," pinta Dara memelas namun Erlan menolak tapi Dara tidak kehabisan akal
"Baiklah jika tidak dengan 1 jam, maka setidaknya temani aku minum sebentar, hanya segelas ini saja." Ucap Dara seraya mengambil gelas wine yang telah dia siapkan diatas meja.
Setelah berpikir sejenak Erlan segera meraih gelas minuman yang disodori Dara kearahnya, Erlan bahkan langsung menegak minuman dalam gelas itu sekali teguk sementara Dara langsung menyeringai melihat itu.
"Aku sudah menghabiskan minumannya, terimakasih. Aku harus pulang sekarang karena Rea sudah menungguku." Ucap Erlan lalu berbalik ingin meninggalkan kamar.
Dara meraih pergelangan tangan Erlan, memeluk Erlan erat kemudian berbisik ditelinganya "Kau takkan bisa pulang malam ini, Sayang."
Erlan menyerengit mendengar bisikan Dara, sebelum kemudian kepala Erlan mulai pusing, suhu tubuhnya memanas rasa dalam dirinya tentang jiwa lelakinya tiba-tiba melonjak tinggi, pandangan Erlanpun bahkan berkunang-kunang bagian pribadinya mulai mengeras dan terasa sakit jika tidak di keluarkan.
Erlan menatap Dara nanar seraya sesekali menahan gojolak di dadanya agar tak menerkam Dara saat ini "Apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Erlan membuat Dara tertawa
Dara mendekatkan mulutnya kearah telinga milik Erlan lalu berbisik "Aku hanya memberimu sedikit obat khusus lelaki." Ucap Dara kemudian menjilat ujung telinga milik Erlan membuat tubuh Erlan langsung gemetar bereaksi dan tak dapat menahan lagi gejolak dalam tubuhnya yang mulai memberontak, dengan cepat Erlan langsung meraih tengkuk Dara, mencium bibir Dara dengan ganas bahkan sedikit ia menjambak rambut gadis itu namun permainan kasar seperti itulah yang diinginkan Dara.
Erlan kini beralih kearah leher jenjang milik Dara lalu turun kearea d**a gadis itu untuk bermain disana, suara Dara yang mulai menikmati permainan Erlan mulai mengalun menghiasi ruangan kamar saat itu.
Sementara itu di kediaman Monorre, Rea terlihat menatap hidangan makan malam diatas meja yang ada dikamarnya mulai dingin, wajah Rea terlihat gelisa karena hingga saat ini ia belum mendapatkan kabar dari suaminya, Erlan.
"Seharusnya Erlan sudah ada dirumah saat ini." Pikir Rea
Dengan perasaan gusar, Rea meraih ponsel diatas meja lalu menelpon nomor suaminya, baru beberapa saat suara operator terdengar yang menandakan ponsel sang suami sedang tidak aktif.
"Ada apa ini?" Gumam Rea panik karena tidak biasa suaminya tidak mengaktifkan nomornya, merasa khawatir Rea segera mengganti bajunya lalu meminta supir untuk mengantarnya ke perusahaan untuk menyusul Erlan.
Tak beberapa lama di perjalanan, Rea kini tiba di perusahaan, suasana perusahaan yang sunyi langsung menjadi penyambut Rea saat itu juga.
Rea menghampiri seorang anggota keamanan perusahaan yang saat itu sedang duduk di area pintu loby perusahaan.
"Nona" ucap anggota keamanan itu sedikit terkejut melihat kedatangan Rea
"Pak, apa suami saya masih ada di dalam?" Tanya Rea
"Oh Tuan Erlan sudah pulang hampir 3 jam yang lalu Nona." Jawab anggota keamanan itu membuat Rea menyerengit
"Jika Erlan sudah pulang 3 jam yang lalu, lalu kenapa dia belum tiba di rumah?"pikir Rea kemudian berlalu pergi setelah mengucapkan kata terimakasih pada staff keamanan itu.
Rea kembali memasuki mobilnya sorot mata dan fokusnya hanya tertuju pada layar ponselnya sembari sesekali ia kembali menelpon ponsel milik Erlan namun masih tak ada sambungan.
Bersambung