Sekali lagi, dia melindunginya.

2064 Words
The Evil Symphony Lucas mondar mandir di ranjang Rachel. Masih bertanya tanya apa yang salah dengan Rachel sampai ia pingsan tiba tiba. Apa operasi kemarin tidak berjalan dengan baik? Laki laki itu masih mondar mandir dan menunggu kedatangan Damian. Ia buru buru membawa Rachel ke ruang perawatannya dan memanggil Damian untuk datang memeriksa Rachel. Tapi Damian tak kunjung sampai. Lucas terus merasa bimbang sampai mata itu terbuka dan berkedip. “Kamu sudah sadar ... “ Dengan penuh antusias Lucas mendekatkan dirinya ke Rachel, mengamati lekat lekat kondisi Rachelnya. “Apa yang kamu rasakan...? sakit? Dimana ...? “ Lucas memberondong Rachel dengan berbagai pertanyaan, tapi Rachel tak tau apa yang Lucas tanyakan. “ Aku kenapa memangnya ...? “ Rachel bertanya dengan polosnya. “Kamu pingsan barusan .... “ Lucas berceletuk, nada khawatirnya masih tersemat di sana, “ Ehm, itu benar benar membuatku khawatir ... “ Lucas memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap wajah Rachel secara langsung. Wajahnya saat panik pastilah tak lucu untuk di pandang. Tapi Rachel malahan tersenyum geli, geli melihat Lucas yang seolah salah tingkah. “Aku lapar .... “ Rachel berguman lirih. “Apa ...? “ Lucas seperti kehilangan pendengarannya, ia tak bisa menangkap perkataan singkat yang di ucapkan Rachel barusan. “Aku pingsan karena kelaparan .... “ Akhirnya Rachel menyelesakan kalimatnya dengan nada geli, sejak kemarin ia tak makan apapun. Ia bergegas pulang ke apartemen untuk membuat makan malam untuknya dan Lucas. Tapi ia bisa merasakan perutnya yang kosong. Infus di tubuhnya hanya memberikan nutrisi cair, tak membuat kenyang. “Kamu lapar ... “ nada lega itu meluncur dari mulut Lucas, ia kemudian menjauh dari Rachel. “Tunggu aku, aku akan mencarikan makanan .... “ Lucas beralih dan pergi, meninggalka Rachel sendirian di ruang perawatan dengan penjaga di pintu ruangannya. Perempuan itu memiringkan tubuhnya, menatap pintu lekat lekat. Memikirkan kembali perkataan Lucas saat ia baru saja tersadar. Cinta. Ehm, cinta. Kata Itu tak pernah di bayangkan akan keluar dari mulut Lucas. Tapi setengah hati Rachel masih menolak keberadaan Lucas. Ia masih dengan cinta lamanya. Entah kenapa, belenggu cintanya masih di sana. Cintanya untuk laki laki itu masih semu. Tak terjelaskan. Tak terdefinisikan sama sekali. Mebuat Rachel bertanya ke dasar hatinya, kalau aku mencintainya. Lantas apa yang membuatku jatuh hati padanya, secepat ini. Rachel tak mencintai seseorang karena rupa, jelas salah besar. Ia bahkan tak tertarik dengan harta harta Lucas. Kekayaan Lucas sudah terbukti berbahaya untuk orang orang sepertinya. Lantas, apa Lucas di hatinya. Definisi yang mana yang bisa menjelaskan posisi Lucas untuknya saat ini. Sekedar megagumi, sedang terbuai, atau justru jatuh cinta. Entahlah. “Rachel .... “ Damian masuk dengan di iringin beberapa Dokter lain di belakangnya. Entah apa yang akan di lakukan Damian padanya dengan segala pasukan kemanusiaanya itu. wajah wajah serius yang menatap Rachel seperti pasien intensif. Tatapan itu membuatnya merasa tak nyaman. “Dokter Damian ... “ Rachel bangkit, dengan sedikit kewalahan. Ia masih merasa lemas setelah pingsan barusan, sungguh konyol. Ia hanya pingsan karena kelaparan, perut kosong. Tapi reaksi Lucas justru berlebihan. “Aku harus memeriksamu .... “ Damian mendekati Rachel, lima Dokter itu juga mengikuti langkah Damian yang mendekati Rachel. “Apa aku kritis ...? “ Rachel bertanya parau, ia sangsi dengan kondisinya sendiri. Kedatangan enam Dokter sekaligus. Apa ini artinya aku sekarat...? “Ini hanya pemeriksaan medis biasa ... “ Damian tersenyum kecil, ia memeriksa kondisi Rachel dengan sangat teliti dan hati hati. Detak jantung, nadinya, bahkan kornea mata. “Ada orang yang merepotkanku, memintaku. Ah tidak, memaksaku malahan ... “ Damian mengganti selang infus Rachel yang sudah hampir habis dengan infus yang baru. “Dia memintaku untuk memeriksa ginjalmu ... “ Damian menyentuh pinggang belakang Rachel, dimana letak ginjal ada di sana, “Jantungmu, paru paru, dan seluruh organ dalamu Rachel ... “ Damian geleng geleng kepala dengan perkataanya sendiri. Sungguh merepotkan memiliki sahabat yang lebih mirip seperti orang paranoid seperti Lucas. “Astaga Rachel, apa aku juga harus memeriksa tulang dan rahimmu ....? “ “Tidak perlu ..... “ Lucas memasuki ruangan perawatan itu dengan segala kantong makanan yang ia bawa, ia langsung memberhentikan ocehan Damian sebelum laki laki itu berbicara kelewat batas seperti biasanya. Apa yang tadi Damian katakan? Rahim? Dia ingin membuat Rachel mati muda!. “Aku hanya memintamu memeriksan organ vital, tak perlu tulang dan rahim kau bawa bawa ... “ Lucas meletakan tentengannya ke nakas di dekat ranjang Rachel. Memantau pemeriksaan Rachel. “Aku hanya bergurau dan kamu langsung marah, Rachel hanya operasi dan kamu menghawatirkan semua organ tubuhnya, ck ck ck Rachel.... malang sekali kamu di cintai laki laki posesif seperti Lucas ... “ Lucas langsung membulatkan matanya, kaget dengan kegamblangan dari ucapan Damian barusan, Rachel tak kalah kaget. Ia tak tau harus bereaksi seperti apa lagi, selain kaget dan berpura pura tidak mendengar kalimat terakhir Damian yang sukses membuatnya merona. Ia sibuk menundukan kepalanya. “Lihat, bagaimana dia tadi? Seperti itulah caranya menekanku semalam .... “ Damian selesai mencatat semua hasil pemeriksaanya, ia mundur ke belakang dan mempersilahkan lima Dokter lain untuk bergantian memeriksa kondisi Rachel. Semuanya aman, racun tak ada yang tersisa lagi di darah Rachel. Wanita itu hanya tinggal menunggu luka di perutnya pulih. Lima belas menit menunggu, dengan tatapan yang masih mengobservasi, tatapan mengawasi yang setajam elang. Mata tajam Lucas terus beralih dari Dokter dan juga reaksi Rachel saat di periksa. Ia takut Rachel kurang nyaman ataupun kesakitan. Tapi gadis itu gadis penurut yang tenang dan pendiam. Selama pemeriksaan ia menuruti semua perintah dan tak banyak bicara. “Kami akan memberikan hasilnya kurang dari dua puluh empat jam .... “ Damian tersenyum puas dengan kinerjanya dan tim medisnya. Seolah tengah menyombongkan diri kepada Lucas di saat yang bersamaan. “Enyahlah ... “ Komentar singkat yang membuat mata Damian membulat, hanya itu yang ia terima atas ketelitiannya dan kerja kerasnya memeriksa Rachel. Benar benar irit kata. Mereka pergi meniggalkan ruangan, di susul Lucas yang langsung mendekati Rachel dan membawa kantong makanan itu. “Kamu mau buah? Roti ? Bubur ...? atau apa ...? “ Semua makanan yang di sebutkan itu terulur satu persatu ke atas ranjang. Memenuhi ranjang itu dengan makanan yang entah di dapatkan Lucas dari mana dalam waktu singkat. “Dimana kamu semua membeli makanan ini ...? “ Rachel terheran heran. “Ini makanan Shawn, aku mengambilnya ... “ Ucap Lucas dengan santainya. “Shawn? Kamu tidak membiarkannya untuk sarapan dan membawa semua makananya ...? “ Lucas menepuk jidatnya, wanita di depannya ini lebih peduli orang lain dari pada kondisinya sendiri, bukankah dia sendiri yang mengatakan kalau ia pingsan karena lemas dan kelaparan? Kenapa sekarang malah memikirkan orang lain. Umpat Lucas dalam hati. “Aku akan membelikan makanan lain untuknya, jadi sekarang ini adalah jatahmu ...” Lucas mengambil mangkok plastik yang masih tertutup, membuka tutup itu dan uap mengepul ke udara. Bubur ayam yang masih panas dengan tampilan yang membuat mata jelalatan tak sabar memakannya. Sebenarnya Shawn membeli makanan itu untuk Lucas, tapi tak jadi masalah siapa yang akan makan bubur ini sekarang. “Buka mulutmu ... “ Ucap Lucas dengan canggung ke pada Rachel. Wajahnya berpaling ke arah kanan. Ia tak pernah menyuapai siapapun. Ini juga kali pertama bagi Rachel di suapi oleh orang lain selain Ibunya. Kecanggungan di antara mereka berdua benar benar sangat terasa. “Ah, ehm aku bisa makan sendiri ... “ Rachel berucap dengan nada sedikit gugup, tapi juga takut. Ia takut karena menolak niat baik Lucas, laki laki itu akan marah padanya. “Buka mulutmu, sekarang ... “ Lucas sudah tak berpaling lagi, ia menatap Rachel sepenuhnya. Matanya terpaku pada wanita di depannya itu, tangannya sudah terulur lurus ke arah mulut Rachel. Melihat itu, perlahan Rachel membuka mulutnya ragu ragu. Tapi entah mengapa, ini karena pesona Lucas atau karismanya itu memang tak bisa luntur. Suapan demi suapa masuk ke mulut Rachel, tak di sangka. Ia menghabiskan semangkok bubur ayam porsi besar sendirian. Lucas tertawa geli melihat mangkok yang sudah kosong, bersih tanpa isi, “Aku tak perlu khawatir lagi sekarang, kamu benar benar pingsan karena lapar ... “ ia beringsut membalikan badan, melempar mangkok plastik itu ke arah tempat sampah. “Sekarang, tinggal buah buahan yang harus ku masukan ke mulutmu .... “ Lucas membuka kantong makanan itu dengan girang, tak bisa di bayangkan. Menyuapi Rachel bisa membuatnya sangat berantusias. Ia jadi ingin terus menerus menyuapi Rachel. “Buka mulutmu lagi .... “ Potongan apel di tangan Lucas kembali masuk ke mulut Rachel, untuk waktu yang lumayan lama. Mereka hanya seperti itu,tanpa ada suara, hanya ada keheningan dan kedamaian yang hangat. “Rachel, apa sekarang kamu takut berada di sisiku ....? “ Pertanyaan itu terlontar begitu saja, tanpa di pikirkan oleh Lucas sendiri. Tatapan matanya menjadi sedikit berkabut, tapi tatapan Rachel justru lain dari yang Lucas bayangkan. Ia sudah terbayang kalau Rachel akan mengiyakan pertanyaanya. Siapa yang tak takut kalau kapan saja bisa terancam maut, di bunuh. “Aku tidak takut ... “ Rachel tersenyum lebar, lukanya tak berpengaruh pada senyum pebuh sinar di mata Lucas itu. Senyum yang membuat hati Lucas menjadi lega. “Orang jahat di dunia ini menjadi jahat bukan tanpa alasan, mereka pasti orang baik yang entah mengapa berubah jadi jahat. Itu berarti di dunia ini, masih lebih banyak orang baik .... “ Lucas mencerna kata kata sederhana Rachel, orang jahat. Mereka yang baik menjadi jahat karena suatu alasan, itu mungkin yang membuat Philip menjadi jahat. Ia punya alasan, dan itu tak bisa di pilih. Ia hanya punya satu pilihan, yaitu menjadi jahat. “Kamu benar .... “ Senyum Lucas mengambang, ia mengusap rambut panjang Rachel. Andai ia tak melihat tanda lahir di leher Rachel saat itu, mungkin wanita ini lebih takut berhadapan dengannya dari pada dengan orang baik yang menjadi jahat. Lucas pasti masih menjadi Lucas yang tak berperasaan. “Jaga dirimu baik baik dan beristirahatlah, aku akan pergi dan membuat pengorbanan orang baik yang menjadi jahat itu tak sia sia .... “ Lucas pergi meninggalkan Rachel setelah meninggalkan kecupan di ujung kepala gadis itu, membuat Rachel gugup dan membisu seketika. Ia berjalan pergi, menyetir mobilnya sendiri ke rumahnya. Rumah pinggiran kotanya yang tak di sambanginya setelah beberapa hari ini. Ia harus membuat pembalasan untuk orang yang telah membuat Philip, dari orang baik yang menjadi jahat. Mobil melaju kencang dan meninggalkan jejak ban di aspal yang panas itu. Melaju dan menjauh. Dion berjalan memasuki ruang perawatan Rachel, penjaga di depan pintu langsung mengenali dia sebagai Dokter yang menangani Rachel, ia langsung di perbolehkan masuk tanpa pertanyaan yang beruntun. “Rachel ... “ Panggilan ramah yang sudah tak asing itu, panggilan yang ia berikan selama ini kepada Rachel sukses membuat gadis itu antusias dengan kedatangannya. “Dion......! Ayo duduk .... “ Rachel sedikit berjingkrak di atas ranjang rumah sakit, membuat Dion memberikan ekpresi waspada dan gadis itu langsung berhenti setelah melihat tatapan peringatan dari Dion. “Kamu sudah sadar ternyata .... “ Dion duduk di tepi ranjang Rachel, wanita itu mendongakan wajahnya dan mulai berbicara pada Dion. “Aku tak tau perutku luka karena apa, tapi rasanya tak nyaman. Kamu tau kenapa perutku bisa begini ...? “ Rachel ingin menyakan itu kepada Lucas, tapi ia lupa. “Kamu di culik, penculik itu sengaja menembak perutmu. Dan Lucas melindungimu, dia mendapatkan luka di d**a kanannya dan juga kakinya ... “ Dion memberikan informasi itu dengan sedikit tak ikhlas. Ia juga ingin menjadi penolong untuk Rachel, bukan sebagai Dokter. Menolong orang yang kamu cintai sebagai Dokter. Seperti hidup dan mati. “Dia terluka .....? “ Rachel menutup mulutnya, kaget bukan main. Ia melihat Lucas sejak pagi, dan ia tak menyadari luka di kaki maupun d**a Lucas. Ia melihat laki laki itu segar seperti biasa. “Tapi dia seperti baik baik saja barusan, kenapa dia tak di rawat juga ... “ Dion menggeleng, ia juga tak tau alasan Lucas tak mau di rawat, melakukan operasi besar saja ia tak mau. “Mamamu mencarimu Rachel, dia bertanya apa kamu tidak menemuinya hari ini .... “ Baru kemarin ia mengunjungi Ibunya, tapi hari berat selalu terasa sangat panjang. Seolah Rachel sudah tak melihat kondisi Ibunya sekian lama. “Mama mencariku ...? apa dia juga tau kondisiku ini? Kalau belum tau, kumohon jangan beritau kepadanya Dion .... “ Dion menggeleng dan tersenyum tulus, “Aku tidak mengatakan apa apa, aku kemarin baru saja mengoperasi perutmu dan mengeluarkan peluru dari sana ... “ Dion menunjuk perut Rachel, “ Bagaimana mungkin aku akan mengatakan keadaanmu, kamu juga tak sadarkan diri ... “ Rachel bernafas lega, memiliki sahabat seperti Dion adalah anugerah yang dimilikinya. Anugerah yang harus di syukurinya sepanjang hidup, “ Pantas saja sangat sakit, luka di perutku ini ... “ Rachel mengelus perutnya yang terasa nyeri, Dion langsung mengalihkan obrolan sebelum Rachel penasaran dengan kondisinya dan bertanya macam macam. “Kamu harus membayar biaya operasi yang sudah kulakukan kalau begitu .... “ “Kamu balas dendam karena aku bilang aku lebih cocok dengan obat apotek dari pada di diagnosis olehmu Dion ..... “ Rachel pura pura marah dengan nada yang di buat buat, “ Aku kecewa ... “ Mereka berdua tertawa, candaan apa saja. Pasti akan membuat mereka tertawa, koneksi mereka seperti kakak adik. Dion akhirnya sadar itu. Ia yang salah, memposisikan dirinya sebagai saudara. Karena itulah cintanya tak bisa di pandang. Ia yang memposisikan diri sebagai kakak untuk Rachel, maka selamanya dia akan menganggapnya seperti itu. “Rachel ..... “ Dion berhenti sejenak, memotong ucapannya sendiri. “Aku ingin membawa Mamamu untuk di rawat di luar negeri bersamaku .... “
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD