Aurora.

2089 Words
The Evil Symphony Rachel mengernyitkan dahinya, ia merasakan rasa sakit yang berpusat di perutnya. Ia meraba perutnya, ia tak sadar mengapa ia terluka. Tapi ia teringat kejadian yang baru dia alami. Ia yang berjalan menghampiri laki laki di apartemen, sosoknya seperti Lucas. Membuat Rachel tanpa ragu menghampiri laki laki itu. Tapi ia bukan Lucas. Tentu bukan, laki laki itu mengacungkan s*****a tajam padanya. Rachel langsung panik dan berlari ke ruangan Lucas, hanya ada dua ruangan berpintu di apartemen Lucas. Kamar dan ruangan Biola Lucas. Rachel langsung berlari dan berusaha bersembunyi di dalam sana, mati matian mengunci pintu dengan hasil yang sia sia. Ia di terkam dengan kekuatan yang tak sebanding. Rachel yang terus meronta dengan pisau yang mengacung di lehernya. Tapi ia berhasil memberontak dan melukai laki laki itu. Tapi ada satu hal yang membuat hati Rachel mengganjal. Dia pernah bertemu laki laki itu. Ia pernah berjumpa dengan laki laki itu. Tapi entah di mana. Pikiran Rachel terus berlayar, banyak yang mengganjal hatinya. Dari perilaku Lucas, kejadian yang baru saja menimpanya, dan laki laki misterius yang menculiknya. *** 000 *** “ Tuan, kami berhasil menemukan lokasi keluarga Philip .... “ Shawn melapor secepat mungkin setelah Lucas memerintahkannya untuk mencari tau di mana anak dan istri Philip berada. Philip di ancam menggunakan anak dan istrinya, itulah sebabnya ia berkhianat. Ini kelemahan setiap laki laki. Apapun akan di lakukan untuk orang yang mereka cintai. “Dimana mereka..? belum ada orang kita yang bergerak menyelamatkan mereka? “ “Kita masih mengintai Tuan, mereka tak lagi lengah setelah kejadian hari ini .... “ Lucas menatap keluar jendela, ia masih di rumah sakit. Berada di ruangan khusus untuk berunding. Banyak orang orangnya yang telah terluka hari ini. Itu pukulan berat bagi Lucas. Pandangannya menerawang jauh ke luar sana. Langit yang gelap seperti tinta, tengah malam dan dia masih terjaga. Ia masih menahan diri untuk tidak mondar mandir menemui Rachel. Akhirnya ia mengurung diri dan mencari tempat tenang untuk berpikir. “Tetap pantau mereka, lakukan secepat mungkin kalau kita bisa menyelamatkan mereka dengan cepat dan selamat. Kita harus menghargai pengorbanan Philip atas kematiannya .... “ Lucas sudah menyuruh orang orangnya untuk kembali lagi ke lumbung tua itu. Tapi tempat itu bersih sempurna, tak ada jejak yang tertinggal sedikitpun. Bahkan jasad Philip yang ingin ia semayamkan juga ikut di musnahkan. “Shawn, bagaimana dengan kondisi Rachel ... “ Lucas mengehela nafas berat. Tapi Shawn memahami beban berat di pikiran Lucas. “ Tuan, ini sudah berkali kali anda menanyakan keadaan Nona Rachel. Tapi saya hanya bisa menjawab kalau Nona Rachel akan sadar esok hari. Silahkan Tuan beristirahat, orang orang kita sudah menjaga Nona Rachel, jadi tenanglah .... “ Lucas mengangguk, ia bahkan tak tau sudah berapa kali ia bertanya tentang Rachel kalau saja Shawn tak mengingatkannya barusan. “ Pergilah Shawn, berisirahatlah. Aku takan mengganggumu lagi, aku juga butuh istirahat .... “ Lucas mengibaskan tangannya, mengisyaratkan Shawn untuk keluar dan beristirahat. Laki laki itu menunduk dan pergi mengikuti perintah Lucas. Suara langkah kaki yang di iringi suara pintu yang di tutup. Lucas sepenuhnya sendirian sekarang. Ia kembali lagi menatap ke langit di luar sana. Tangannya terus menerus mengusap wajahnya yang tak lama kemudian menangis. Tangisan tersedu tanpa suara. Tangisan yang paling menyesakan jiwa diantara banyak tangisan. Karena tangisan ini adalah tangisan yang tertahan.. Lucas menangis. Laki laki dingin dengan karisma dan tatapan tajam mematikan itu tengah menangis sekarang. Ia yang sangat tertutup. Seperti yang Damian ketahui, Lucas selalu menyembunyikan perasaanya. Bahkan perasaan terdalamnya. Sulit baginya untuk berekspresi. Orang orang terdekatnya bisa langsung terancam karena itu. karena perhatiannya yang di tunjukan pada Rachel. Rachel menjadi terluka. Inilah alasan Lucas menutupi dirinya dengan kegelapan dan sikap dingin. Bukan karena ia tak peduli, tapi justru karena ia sangat peduli. Ia masih menangis. Tangannya masih menutupi wajah dengan air mata yang mengetarkan pungguh kokoh Lucas. Bahu lebar itu tergoncang. Benar benar tangisan panjang yang menyesakan. Lebih menyesakan lagi, karena Lucas sendiri. Ia tak bisa berbagi perasaannya. “Maafkan aku .... “ Suara itu keluar dari mulut Lucas, permintaan maaf yang ia ucapkan berkali kali di dalam hatinya kini terlontar di mulutnya. “Maafkan aku yang membawa petaka kepada keluargamu .... “ “Maafkan aku yang menjadikan anakmu sebagai anak yatim .... “ Tubuh Lucas kembali terguncang, guncangan pelan dengan air mata yang surut setelah lama menangis. “Aku bukan sahabat yang baik .... “ Malam yang panjang itu, Lucas isi dengan tangisan dan pikiran yang rumit. Membayangkan kembali persahabatannya dengan Philip yang terjalin di Bali. Keluarga bahagia idaman Lucas. Istri yang setia di tambah dengan anak yang ceria. Ini benar benar semangat hidup Philip yang ingin Lucas miliki. Ia sudah merancang masa depannya dengan Rachel. Menyatakan cintanya, merangkai masa depan dengan anak anak mereka yang akan ia beri kasih sayang selembut alunan Biola. Angan itu hancur, Lucas dengan angan angannya dengan Rachel. Persahabatannya dengan Philip. Semua itu hancur dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Ia tertidur dengan posisi yang tak nyaman. Tidur yang tak membantu masalahnya sama sekali. Pagi ini dengan tubuh yang sudah lebih segar dan jiwa rapuh yang sudah di perkuat. Lucas bangkit lagi, ia tak ingin orang orangnya terluka lagi. Ia bertekad untuk melindungi mereka lebih dari ini. Ia harus melindungi mereka semua. Laki laki itu sudah tampil lebih segar, d**a yang terbalut perban itu sudah segar. Ia sudah mandi dan sekarang mata di lorong lorong rumah sakit itu mulai menyadari lagi ketampanan Lucas. Berbeda dengan kemarin, saat ia benar benar kacau. Tak ada satu orangpun yang mengenali ketampanan Lucas yang setampan Zeus. Pandai bersajak layaknya Apollo. Namun pesona cinta tak terelakan seperti Aphrodite. Lucas berjalan ke ruangan Rachel, ia ingin jadi orang pertama yang Rachel lihat saat wanita itu bangun sadarkan diri. Ia ingin menyatakan cintanya pada wanita itu. Lucas melangkahkan kakinya dengan antusias yang di tutup tutupi. Ia sudah di depan pintu perawatan Rachel. Penjaganya tak ada di sana. Kejanggalan ini membuat Lucas terserang rasa panik seketika. Ia langsung menerobos masuk, mendobrak pintu dan mendapati kekosongan di sana. Dimana Rachelnya. Kemana dia...? Lucas beringas, ia mencari Rachel dengan ketakutan yang menguasai dirinya. Ia berlari keluar dan berlari ke seluruh penjuru koridor. Jantungnya melesat cepat dan berpacu tanpa bisa di kendalikan. Ia berlari menyusuri koridor. Mencari dimana Rachelnya. Tapi tak ada. Bagaimana mungkin kalau ia di culik lagi? Bagaimana mungkin ia lengah dan membiarkan Rachel dalam bahaya untuk yang kedua kalinya. Lucas sudah berlari lagi, ia sekarang hendak menuju ke lantai lain. Ia akan mengitari rumah sakit sampai Rachelnya ditemukan. Tapi nafas Lucas sesak, tercekik tepat di tenggorokannya. Seolah ia menghirup partikel berat di setiap udara yang ia hirup. Ia menemukan Rachel di sana, dengan pengawalan penuh oleh dua bodyguardnya. Ia melangkah mendekati Rachel yang memunggunginya. “Kamu mau aku temani jalan jalan kemana lagi ....? “ Rachel tengah menggandeng tangan anak kecil. Anak perempuan yang juga mengenakan pakaian rumah sakit seperti Rachel. Tubuh kecil dan rambut tipis yang di biarkan tergerai. Ia tengah berbicang dengan nada keibuan dengan anak itu. ini akan jadi pemandangan yang indah kalau saja Lucas tak tau luka apa yang melekat di dalam tubuh Rachelnya. Anak itu mengangguk dengan girang, tangannya terjalin dengan tangan Rachel. Dua perempuan itu sama sama berjalan dengan satu tangan yang terinfus. “Kaka, siapa paman itu .... “ Gadis kecil itu menunjuk ke arahku dengan tatapan polosnya di ikuti pandangan Rachel yang mengikuti uluran tangan itu. Rachel, jangan. Jangan buat aku menjadi lebih berat untuk merahasiakan beban ini darimu. Kumohon. Rachel tersenyum tulus pada Lucas, senyuman lebar yang justru menusuk Lucas. Segala kebahagiaan di dunia ini tak ada yang abadi. “Paman Lucas .... “ Rachel berjalan menuntun gadis kecil itu untuk berjalan mendekati Lucas. Langkah kecil yang riang. Tanpa sadar Lucas tersenyum kikuk. Gadis kecil itu mendekatinya dengan riang. Refleksnya, Lucas berjongkok di depan gadis kecil itu saat mereka hanya berjarak beberapa senti. “Siapa namamu ....? “ Lucas tersenyum manis ke gadis kecil itu, ini pemandangan langka di mata Rachel. Laki laki itu bisa selembut ini. Ia memiliki sisi lembut yang nyata. Seperti yang ia alami semalam, kelembutan Lucas padanya. Sepertinya bukan bunga tidur. “Aurora ..... “ Gadis itu tersenyum manis, kulit pucat itu tak menghalangi kecantikan anak perempuan di depan Lucas. Lesung pipi yang dalam di kedua pipinya membuat senyum Aurora semakin manis. “Apa kamu yang menculik Kaka Rachel dari ruangannya ...? “ Ia mengusap lembut rambut Aurora. Sekarang ia bisa tersenyum lega. Ia tak perlu menghajar penculik Rachel. Ia menemukan penculik paling manis di dunia. Mendengar pertanyaan Lucas barusan, justru Aurora terlihat bingung. “Aku yang menghampirinya dulu .... “ Rachel ikut berjongkok, mengambil kantong infusnya agar ia bisa dengan nyaman berhadapan dengan Lucas dan Aurora. “Aku melihat dia tengah duduk di kursi di depan ruangan, dia sendirian dan dia bilang tengah menunggu Ibunya .... “ Rachel tersenyum riang, bertemu gadis manis seperti Aurora seperti hiburan manis untuknya. Ia sangat menyukai anak kecil. “Aku berbohong Ka Rachel .... “ Aurora berceloteh atas kebohongannya, tapi bukan amarah yang ia dapat. Lucas dan Rachel justru memberikan senyuman manis, seperti memaklumi kebohongan yang di susul kejujuran dari mulut anak kecil ini. “Aku sedang kabur dan bersembunyi...... Mamaku sedang mengambil obat yang banyak, aku tidak suka obat sebesar besar jariku ini ... “ Aurora berceloteh sambil menunjukan jempolnya yang mungil. “ Obat itu mebuatku takut .... “ Lucas terkekeh, sebesar itu obat yang Aurora takuti. Kalau begitu bagaimana dengan obat anti depresinya yang lebih besar dari jempol Aurora itu. Pasti melihat itu membuat gadis kecil itu lari ketakutan. “Kalau begitu, kamu tidak akan sembuh .... “ Lucas memberikan pengertian sederhana yang dapat di pahami anak kecil, mata Aurora membulat. Banyak orang yang mengatakan itu kepadanya. Tapi kata kata yang sama, yang keluar dari mulut Lucas justru membuatnya percaya. “Benar ....? Kenapa Paman berbicara seperti Dokter ..... “ “Karena, kalau kamu mengikuti saran Dokter dan minum obat. Kamu bisa sembuh lebih cepat ... “ Aurora tersenyum girang. Entah apa yang tersangkut di otaknya. Tapi ucapan Lucas berdampak besar untuk Aurora. Ia menjadi berenergi lebih. Berjingkrak tak karuan. “Aku akan rajin minum obat mulai hari ini .... “ “Aurora ..... “ Panggilan halus dengan nada khawatir itu sukses membuat mereka bertiga menengok ke sumber suara. Seorang wanita tiga puluhan, dengan kantong obat yang penuh di tangannya. Wanita itu berjalan terburu burur menghampiri Aurora yang justru berlari ke arahnya. “Mama ..... “ Aurora memeluk perempuan itu dengan girang dan langsung di hujani tatapan tajam dari wanita yang ia panggil Mama itu. “Kamu kabur lagi dan membuat Mama khawatir .... “ Aurora justru tak menggubris omelan Ibunya, ia sibuk memeluk erat wanita itu dan mendongakan kepalanya. “ Aku akan minum obat dengan rajin dan tidak akan kabur kabur lagi, aku berjanji ... “ Janji manis itu sukses membuat sunggingan senyum di bibir Ibunya. “Apa yang membuat kamu menjadi ingin rajin minum obat .... “ “Paman itu yang bilang kepadaku .... “ Aurora menunjuk ke arah Lucas dan Rachel yang sama sama tengah menatap kearah mereka. Mereka berempat berpandangan. Takzim. Aurora berjalan mendekati Lucas dan Rachel dengan Ibunya yang masih di borgol dengan tangannya. “Terimakasih sudah mau menjaga anak saya ini .... “ “Kamu tidak keberatan, kalau tak di temani. Aurora mungkin tersesat dan banyak hal buruk yang bisa terjadi padanya ....” Rachel menatap Auora yang tengah di belai rambutnya oleh sang ibu. Ah, ini mengingatkannya dan juga membuatnya rindu dengan ibunya sendiri. “Terimakasih, dia biasanya akan menolak untuk minum obat. Tapi tadi dia bilang akan minum obat dengan teratur. Entah apa yang sudah kalian katakan padanya, saya benar benar senang dan sangat berterimakasih ... “ Entah apa yang membuat perempuan itu menangis, tapi itu membuat Lucas bertanya tanpa pikir panjang. “Kalau boleh tau, Aurora sakit apa ....? “ “Leukimia .... “ Lucas tertegun, jadi ini alasan tubuh Aurora yang sangat kurus kering, rambut tipis yang rontok saat ia mengusap rambut gadis kecil itu. Gadis periang dengan kulit pucat yang memiliki senyum manis dengan dua lesung pipi itu. Sakit, Leukimia. “Paman bilang, aku tidak akan sembuh kalau aku tidak minum obat. Jadi aku harus rajin minum obat supaya cepat sembuh kan Ma ....? “ “Iya, kamu akan sembuh .... “ Perempuan itu mengusap air mata kepedihannya dengan hati hati. Satu lagi perempuan kuat yang Rachel temui setelah Mamanya. “Dia akan sembih, benar kan Aurora ....? “ Rachel mengusap bahu, saling menguatkan. Keajaiban itu ada dengan cara yang asing. Seperti Mamanya yang sembuh dengan takdir yang harus mempertemukannya dengan Lucas, laki laki di sampingnya ini. “ Terimakasih, kalau begitu kami pamit dulu. Hari ini Aurora harus melakukan kemoterapi .... “ Lucas mengangguk dan mengiyakan, Rachel masih terdiam sendiri. Dua perempuan itu pergi dengan Aurora yang masih melambai. “Sampai jumpa Ka Rachel, Paman Lucas .... “ Senyum ceria itu, ternyata menyimpan luka. “Dia gadis kecil yang manis ..” Rachel bergumam. Tangannya tiba tiba di raih Lucas, ia menjalinkan jarinya ke tangan Rachel yang bisa merasakan kehangatan tangan Lucas itu. “Dia hanya kurang beruntung .... “ Lucas menuntun Rachel berjalan pergi, menyusuri lorong dengan kediaman. “Ada yang beruntung dengan umurnya yang panjang, ada juga yang hidup penuh syukur tapi dengan hidup singkatnya .... “ Rachel bersuara. Suara yang lembut. Suara lembut yang perlahan menghilang. “Rachel ....!! “
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD