Bab 1
Di sebuah kamar, seorang gadis berusia 23 tahun tengah menangis haru. Setelah ia selesai menonton film drama Korea yang sedang viral di kalangan para remaja.
Film bergenre romansa fantasi yang bercerita di mana seorang pangeran bernama Kang Hae-jun dan wanita yang ia cintai bernama Seo Ha-na.
Pasangan itu berjuang untuk mendapat restu karena hubungan mereka ditentang oleh pihak kerajaan.
Banyak yang menentang hubungan itu. Karena keluarga Seo Ha-na dari kalangan kelas bawah, dan tidak cocok menjadi istri seorang pangeran.
Dan karena perjuangan mereka, akhirnya hubungan Ha-na dan Hae-jun bisa lanjutkan ke jenjang pertunangan. Bahkan hubungan mereka kini sudah direstui oleh seluruh rakyat kerajaan Timur.
Namun sayangnya, ada satu kendala lagi yang harus mereka hadapi. Yaitu seorang putri penasehat kerajaan bernama Yeon Ji-an.
Wanita itu juga sangat mencintai dan terobsesi pada Hae-jun karena Ji-an, Hae-jun dan Ha-na sudah berteman sejak kecil. Tapi sayang sungguh sayang Hae-jun justru lebih memilih Ha-na.
Ji-an yang sejak awal tidak menyukai kedekatan mereka, wanita itu kerap mencelakai dan berusaha agar Ha-na terlihat buruk di mata rakyat.
Ji-an bahkan pernah mendorong Ha-na ke dalam kubangan lumpur di hadapan banyak orang. Dan masih banyak ulah lain yang dilakukan gadis itu di setiap ada kesempatan.
Ji-an yang sebelumnya seorang wanita baik hati dan penyayang, menjadi wanita jahat berkelakuan bak seorang iblis.
Hingga akhirnya, Ji-an melakukan aksi nekat dengan memerintahkan seseorang untuk membunuh Ha-na saat wanita itu tengah tertidur.
Tapi sayang, rencananya harus gagal, karena saat itu Hae-jun tengah menemani Ha-na yang sedang demam.
Dan tak butuh waktu lama, Ji-an akhirnya ditangkap karena dianggap sebagai dalang dari rencana pembunuhan Ha-na.
Yang lebih menyedihkan lagi, yang membocorkan rencananya adalah kakaknya sendiri, Yeon Jae-min. Setelah pria itu tanpa sengaja mendengar percakapan adiknya dengan seorang pria tak dikenal.
Akhirnya Jian dihukum mati dengan cara digantung dihadapan seluruh rakyat kerajaan Timur. Dan seorang Yeon Ji-an akhirnya meninggal dengan cinta yang tak terbalas dari pangeran Hae-jun.
"Astaga ... filmnya benar-benar keren! Ya Tuhan, aku bahkan sampai menangis seperti ini." Jian mengusap pipinya yang sudah banjir air mata.
"Sialan. Kenapa produsernya membuat nama peran antagonisnya sama seperti namaku?"
"Untung namaku bukan Yeon Ji-an, tapi Kim Jian Sulastri." Wanita itu bernafas lega, lalu meraih remote TV untuk mencari film lain.
"Jian, tolong belikan Mama bahan-bahan kue di minimarket depan komplek!!" teriak sang mama dari lantai bawah.
Jian memutar bola matanya malas.
Ia pun keluar dari kamar dengan masih mengunakan piyama dan sandal bulu berbentuk kelinci kesayangannya.
Di bawah, gadis itu menemukan uang tergeletak di atas meja ruang tengah dan secarik kertas catatan yang berisi apa saja yang harus ia beli.
"Ma, Jian ke minimarket!!"
BRAK!!
Jian menutup pintu dengan kencang. Melangkahkan kakinya menuju minimarket yang berada tak jauh dari rumah.
Hanya sekitar 100 meter, tepat di sebrang komplek perumahannya.
Jian pun menyebrang dengan santai, karena merasa keadaan jalan yang cukup sepi.
Namun tanpa ia sadari dari arah lain sebuah mobil truk besar tengah melaju dengan cepat.
Jian yang sebelumnya bersikap santai seketika syok di tempat, kedua matanya membulat sempurna saat melihat sebuah truk yang hanya berjarak kurang dari satu meter dengan truk yang tengah melaju kencang.
"Αaaaaaaa!!!"
BRAKK!!!
Tubuh Jian terhantam truk dan terpental cukup jauh dari tempatnya berdiri. Cairan merah kental mengalir dari kepala gadis itu. Pandangannya mulai buram dengan mata yang mulai terpejam secara perlahan.
Pada akhirnya ia di kirim ke surga.
Selamat tinggal dunia - Jian Sulastri.
**
**
"Αaaaaaa!!!"
"Nona Ji-an sudah siuman! Nona Ji-an sudah siuman!"
Teriak seseorang, membuat Jian bangkit dari tidurnya dan termenung.
"Eh, siapa kalian?!" wanita itu terkejut, saat melihat beberapa orang asing mulai masuk ke dalam ruangan aneh yang tengah ia tempati.
"Silahkan di periksa Tuan Tabib." Ucap seorang perempuan yang memakai hanbok. Membuat Jian semakin dibuat pusing.
Seorang tabib hendak memeriksa Jian, namun wanita itu langsung melompat dan berdiri di atas ranjang dengan pose kuda-kuda.
"Mau apa kalian? Jangan menyentuh seseorang sembarangan!" Jian menatap tajam tabib itu dan beberapa wanita aneh di sekitarnya.
"Anda hanya akan diperiksa Nona." Cicit seorang wanita yang berada ada di samping tabib.
Jian seketika terdiam, menundukkan kepalanya dan menatap tubuhnya yang kini juga menggunakan hanbok.
Secara naluriah, tangan wanita itu bergerak meraba-raba seluruh tubuhnya.
Sampai akhirnya Jian tersadar.
Bukankah ia tertabrak truk tadi? Tapi kenapa tubuhnya baik-baik saja, bahkan ia tidak terluka sama sekali?
Para pelayan di sana mulai menatap Jian dengan tatapan bingung, Tuan Tabib bahkan masih melotot tak percaya.
"Non..."
"Keluar kalian semua!!" teriak Jian kencang, wanita itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, syok.
"Lebih baik kita keluar dulu, Nona Ji-an sepertinya masih butuh istirahat." Ujar Tuan Tabib yang diangguki oleh semua pelayan.
Mereka akhirnya keluar, Jian terdiam cukup lama mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.
Kepalanya perlahan kembali menunduk, menatap seluruh tubuhnya yang terasa asing.
Ekor matanya tanpa sengaja melirik cermin besar di sudut kamar. Kakinya seketika melompat turun dari ranjang, berlari ke hadapan cermin dan mengamati setiap inci tubuhnya.
Dan yap, seluruh tubuhnya telah berubah.
"Ya Tuhan siapa ini?!!!"
**
**
Matahari terlihat bersinar indah dengan pohon-pohon sakura yang mulai menumbuhkan kuncupnya.
Musim semi akhirnya datang, membuat orang-orang menyambutnya dengan suka cita.
Tapi tidak dengan seorang gadis yang masih asik rebahan di atas ranjang dengan ditemani pelayan pribadinya.
"Apa Nona tidak ingin pergi jalan-jalan?" itu adalah pertanyaan yang entah sudah ke berapa kali pelayan itu lontarkan, namun Jian masih asyik berada di atas ranjang sambil mencatat sesuatu.
"Aku sedang mencatat sesuatu. Jadi, tolong diam!" jawabnya dan kembali lanjut menulis.
Menurut film, sekarang usia Yeon Ji-an berati 23 tahun dan wanita itu nanti akan meninggal saat berusia 24 tahun.
"Berati hanya tinggal satu tahun lagi aku akan mati!" batin Jian mengingat drama Korea yang ia tonton beberapa hari sebelumnya hingga akhirnya ia mengalami kecelakaan, dan terjebak di dunia film.
"Tidak-tidak. Aku tidak ingin mati secepat itu!" Jian menggelengkan kepalanya frustrasi. Pelayan pribadi yang melihatnya menjadi ikut sedih.
"Pasti Nona Ji-an tertekan karena Pangeran akan bertunangan dengan Putri Ha-na." batin pelayan Jian dengan raut wajah prihatin.
"Berati yang harus aku jauhi di dunia ini adalah, Pangeran, Ha-na, Kaisar, lalu siapa lagi yah?" Gumam Jian. Berharap tidak melupakan nama orang-orang yang akan membawanya menuju kematian.
"Yang paling penting itu Pangeran dan Ha-na. Aku harus menjauhi mereka dan aku akan hidup tertram dan kaya raya." Jian tertawa kecil, lalu menutup bukunya.
"Akhirnya..." pelayan pribadinya bernafas lega.
"Hei, namamu Soo-young kan?" tanya Jian, membuat Soo-young menghela napas panjang, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah Soo-young, karena aku tidak mengingat apapun sekarang, jadi tolong bantu aku mengembalikan ingatanku!"
"Dengan senang hati Nona." Jawab Soo-young dengan senyum ramah, ia merasa senang karena majikannya akhirnya mau bicara.
Jian berpikir sejenak. "Dimana Ayahku?"
"Beliau sedang bekerja di Kerajaan Nona."
Jian mengangguk.
"Sekarang, tugasmu menemaniku mengelilingi kediaman ini!"
Soo-young mengangguk patuh.
Jian pun tersenyum dan segera beranjak dari ranjangnya lalu berjalan keluar kamar.
*********
*********