Bab 8

1187 Words
Pagi datang seperti biasanya, hanya suasananya saja yang sedikit berbeda. Di kediamannya, seorang Yeon Ji-an selalu dilayani pelayan pribadinya Soo-young. Namun disini, Jian tampak bosan dan begitu asing. Apalagi dua pelayan kemarin, sudah digantikan oleh satu perempuan berpakaian hitam seperti laki-laki, yang malah membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Pelayan itu selalu mengawasi gerak-gerik Jian ke manapun ia pergi, bahkan saat ke kamar mandi, pelayan itu akan berdiri tegap di depan pintu menunggunya keluar. Jian memang bebas melakukan apapun, tapi perempuan itu akan mengawasinya setiap waktu, tanpa mengatakan apapun. Jian mendesah kesal, ia menatap perempuan itu seakan mengajaknya berkelahi. "Kamu, kapan mau keluar dari kamarku?!" Tanya Jian dengan nada menantang. Perempuan itu hanya diam seperti biasanya, Jian tampak frustasi lalu berjalan mengitari perempuan itu dengan tangan di lipat ke belakang. "Dari penampilan kamu, sepertinya kamu seorang ksatria perempuan. Apa kamu tidak mau menyumbangkan suaramu satu kata saja untukku?" tanya Jian dengan penuh penekanan. "Sepertinya kamu memang hanya bertugas mengawasi aku, tanpa mau mengatakan apapun? Hm, padahal aku butuh teman untuk mengimbangi ocehanku!" Jian duduk di kursi depan jendela, lalu mengalihkan pandangannya ke luar menatap hamparan rumput hijau. "Kenapa semua orang di dunia ini sangat aneh, dan membuatku tertekan." Gumam Jian memijat pelipisnya pusing. Ia menatap keluar dengan wajah sedih, memikirkan masa depannya. Karena jika ia berlama-lama berada di dekat Hyun-jae, maka nyawanya akan semakin terancam. Tapi untungnya ia belum memberitahukan identitasnya. Kali ini Jian memikirkan cara untuk melarikan diri dari kediaman Hyun-jae tanpa ketahuan. Tapi masalahnya sekarang, perempuan yang ditugaskan Hyun-jae selalu berada di dekatnya. "Bagaimana caranya agar aku bisa keluar?" Jian yang merasa lelah, memilih menyandarkan kepalanya di kursi. Matanya terpejam, karena berpikir terlalu keras. Cklek!! Jian menoleh ke arah pintu kamar dan menemukan Hyun-jae tengah berjalan mendekat ke arahnya. Jian memutar bola matanya malas, dan kembali menatap ke luar jendela yang terkunci rapat. "Kamu." Hyun-jae menunjuk perempuan yang di perintahkannya mengawasi Jian. "Keluarlah" titahnya, perempuan itu mengangguk dan pergi dari kamar Jian. Jian masih santai duduk di kursi, ia merutuki dalam hati akan kedatangan Hyun-jae yang tiba-tiba. Hyun-jae pun berdiri di sampingnya, otomatis Jian menatapnya dengan cengiran lebarnya. "Yo bro, siapa yang membuatmu tersenyum seperti itu?!" Hyun-jae mengernyit, mungkin ia berpikir Jian gila, karena terus tersenyum lebar seakan tidak takut padanya. "Tuan Hyun-jae ada apa gerangan dengan anda, tumben sekali anda mengunjungi saya yang rakyat biasa ini." Jian menundukkan kepalanya hormat. Hyun-jae duduk di kursi satunya, pria itu menatap Jian yang terus memasang wajah polos. "Siapa namamu?" tanya Hyun-jae dengan intonasi tenang namun mendalam. Jian menunjuk dirinya "Aku? Astaga benar, aku belum berkenalan denganmu." Jian mengangkat tangannya untuk berjabat tangan. Namun tangannya hanya mengambang di udara, karena Hyun-jae tidak kunjung membalasnya. Pria itu hanya menatapnya dengan wajah acuh. "Astaga, tanganku kotor. Aku tidak layak berjabat tangan denganmu bukan?" tanya Jian, menarik tangannya kembali pura-pura membersihkan. "Aha, oke perkenalkan namaku Su-tri, artinya orang yang selalu memiliki cinta dan kesetiaan" bohong Jian tersenyum dengan polosnya. Hyun-jae hanya mengangguk singkat "Dari mana kamu berasal?" tanya Hyun-jae lagi. "Ya ampun, tentu saja aku tinggal di Kerajaan Barat. Dan aku anak dari pemilik perkebunan di desa sana." bohong Jian lagi. "Bukanya kamu bilang kemarin Ayahmu kaya raya?" telak Hyun-jae, membuat Jian terdiam lalu tertawa kencang. "Ahaha ... Tentu saja. Perkebunannya itu luas sekali, mungkin bisa dikatakan sangat luas. Aku bahkan bisa sampai satu jam mengelilinginya. Tapi Sayangnya, aku hanya ditugaskan untuk menjaga kawanan babi di peternakan." Jian pura-pura sedih. "Jadi mintalah balas budi dari Ayahku, karena dia seorang sugar daddy. Dan aku anaknya hanyalah orang misquenn..." Hyun-jae berdiri dari duduknya, memasukan tangannya ke dalam hanbok yang ia kenakan. "Baiklah, sekarang kamu sudah tahu maka biarkan aku pulang." Tegas Jian, Hyun-jae tampak diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Hem, sepertinya kamu lupa balas budi Nona. Maka dari itu, kamu akan aku angkat menjadi pelayan di sini selama satu bulan." Ujar Hyun-jae santai. Jian langsung melotot. "Apa? Tidak mau!" teriak Jian kaget. Wajahnya memerah marah. "Tapi itu perintah." Hyun-jae menyeringai, lalu pergi meninggalkan Jian yang tengah mencak-mencak. "Akhh dasar! Hyun-jae kampret awas kamu!" teriak Jian, memandang punggung kokoh Hyun-jae tajam. ** ** Di Kerajaan Timur terlihat dua sejoli sedang duduk di taman. Mereka terlihat saling mencintai satu sama lain. Langit yang begitu cerah juga mendukung keromantisan mereka. "Apakah Ji-an sudah ditemukan, Hae-jun?" Tanya perempuan cantik itu yang suaranya membuat orang ingin mendengarkannya berulang-ulang, ya ia adalah si pemeran utama Seo Ha-na. Hae-jun menatap Ha-na dengan wajah kesal. "Mungkin dia sudah mati sekarang." Ha-na melotot. "Astaga, jangan berkata seperti itu Hae-jun. Dia juga temanku dan sahabat kecilmu." Hae-jun tersenyum membelai wajah Ha-na. "Ya dia sahabatku, dan orang yang paling aku benci. Maka dari itu kamu jangan berdekatan dengannya lagi." "Hae-jun, walau dia memperlakukan aku dengan tidak baik, namun dia juga masih temanku." Ucap Ha-na tulus, membuat Hae-jun tambah tersenyum. Melihat bagaimana Ha-na tidak pernah menaruh dendam pada Ji-an. Ia langsung memeluk Ha-na dengan erat, wajah Ha-na langsung memerah malu. Ia takut ada orang yang melihatnya. "Ha-na aku sangat mencintaimu." Ucapan Hae-jun membuat Ha-na tambah tersipu malu. "Aku juga." jawab Ha-na pelan. ** ** Lelah. Itulah kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi Jian kali ini. Kaki dan tangannya padahal masih sangat susah digerakkan. Namun, Hyun-jae tetap menyuruh Jian untuk melakukan pekerjaan. Tugas pertama Jian hari ini adalah membersihkan kandang kuda milik Hyun-jae. Yang baunya membuat Jian ingin muntah saat itu juga. Tapi, iia juga harus tetap pasrah mengerjakannya, takut Hyun-jae yang jahat itu akan menyiksanya. "Kudanya saja beringas begini, apalagi pemiliknya." Gumam Jian, menatap kuda besar berwarna hitam mengkilap milik Hyun-jae, yang tampak sangat gagah berani. "Huh, okey. Kuda milik Hyun-jae j*****m, Ijinkan aku membersihkan kandangmu yang menjijikkan ini." Ucap Jian dengan tangan membawa serok dan ember. Ia berjalan masuk ke kandang dengan menutup hidungnya. Dan menyerok kotoran kuda itu cepat-cepat. Saat ada pelayan yang melewatinya, Jian akan langsung tersenyum lebar menyapanya. Itu karena, ia tidak suka dianggap lemah oleh orang-orang. "Semangat Nona Su-tri!" Teriak pelayan muda yang melihatnya, Jian balas tersenyum, dan mengacungkan jempolnya. "Tenang saja aku kuat, aku hebat." Balas Jian, kembali membersihkan kandang. Kuda hitam di sampingnya tampak diam saja dan sesekali memakan rumput hijau di depannya. Jian bersyukur karena dia tidak mengamuk, atau bahkan menendang Jian seperti di film-film. Setelah hampir dua jam, akhirnya Jian selesai dengan pekerjaannya. Ia mencuci tangan dan membasuh wajahnya dengan air, yang tentunya harus ia pompa sendiri agar airnya dapat mengalir. Jian menghembuskan nafasnya, melangkah ke arah bawah pohon yang terdapat kursi kayu panjang dan duduk di sana dengan tenang. Sesekali memijat tangannya yang terasa pegal. Di kehidupan nyata, ia bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan berat, mungkin bisa dibilang Jian adalah golongan anak kaum rebahan, yang malas. Yang dilakukannya setiap hari hanya makan dan nonton drama Korea. Jian menatap awan di atas sana. "Ya Tuhan, takdir macam apa yang kamu berikan padaku?!" "Wah, siapa Nona manis ini?" tangan Jian langsung diraih seorang laki-laki dan dikecupnya dengan cepat. Cup! "Eh, tanganku bau taiiiii!" Jian langsung heboh, ia menyembunyikan tangannya ke belakang, kaget. Di hadapannya, berdiri seorang pria muda yang menatapnya dengan senyuman manis, membuat Jian langsung meleleh dibuatnya. Kepalanya menggeleng, ia belum mengenal pria di hadapannya ini, yang main comot tangannya begitu saja. Kurang ajar memang! ********** **********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD