Bab 5

1010 Words
Jian sekarang tengah mempersiapkan diri untuk membantu penduduk desa. Ia berencana membagikan sumbangan secara langsung, untuk rakyat yang kekurangan di desa ini. Wanita itu terlihat cantik dengan menggunakan hanbok sederhana warna putih yang panjangnya sebatas mata kaki. Menyerupai, seorang gadis di desa. Ia tidak ingin terlihat mencolok seperti sebelumnya. Soo-young justru malah memandangnya tatapan bingung, ia bahkan tidak pernah melihat nonanya memakai pakaian sederhana sampai saat ini. Yang ia tahu, nonanya selalu ingin memakai pakaian mewah, dan jangan lupakan perhiasan mahal yang selalu melekat padanya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Jian, yang melihat Soo-young terus menatapnya seolah melihat hantu. "Nona sangat cantik..." Puji Soo-young. "Oh ya? Aku memang selalu cantik setiap saat." ucapnya dengan bangga. Wajah Ji-an memang sangat cantik dan mempesona. Tapi mungkin tidak sesuai dengan sikapnya yang selama ini semena-mena dan kasar pada semua orang. "Lebih baik kita cepat ke desa, mungkin mereka sudah menungguku." Ujar Jian, berjalan keluar dari rumah, menuju ke tempat pembagian bahan makanan untuk rakyat yang tidak mampu, yang dikirimkan pihak kerajaan untuk mereka. Saat sampai di sana, terlihat sudah ramai orang berkumpul untuk menerima jatah bahan makanan yang akan disumbangkan kerajaan. Jian tersenyum, ia berjalan mendekat dengan Soo-young yang setia di belakangnya. Semua orang seketika terdiam, saat melihat Jian berjalan ke arah tempat pembagian sumbangan. Semua orang langsung menyingkir memberikan Jian jalan. Membuat Jian jadi merasa heran sendiri. "Ya ampun, ya ampun... apa aku seperti seorang ratu sekarang, kenapa dengan orang-orang ini?" batin Jian. "Selamat pagi semuanya." Sapanya ramah, tapi semua orang masih saja terdiam kaku, bahkan semua orang di sana menunduk seolah tidak ingin menatapnya. Suasana di sana seketika berubah hening tidak seperti sebelumnya. "Yeon Ji-an sialan!" umpatnya dalam batin. Jian menghela napas panjang, ia berjalan ke arah pengawal yang bertugas membagikan bahan makanan, berdiri di hadapan seluruh penduduk desa. Wanita itu mengatur napasnya berulang kali, sebelum mengutarakan maksudnya. Prok!! Prok!! Prok!! Jian bertepukan tangan beberapa kali, untuk menginterupsi semua orang yang masih terdiam di tempatnya masing-masing. "Halo semuanya! Aku tahu di mata kalian aku seorang wanita jahat yang sering menyiksa orang lain. Jadi.... di hadapan kalian sekarang, aku Yeon Ji-an sangat meminta maaf atas segala perbuatanku di masa lalu yang telah membuat kalian takut." Jian berteriak kencang, ia lalu membungkukan badanya lama, berharap perbuatan Yeon Ji-an di masa lalu maafkan. Para warga desa menjadi kaget, bahkan Soo-young sendiri menutup mulutnya tak percaya. Mereka mulai berbisik-bisik mengenai Jian, yang tindakannya sekarang sungguh membuat mereka terkejut. "Apakah dia Nona Yeon Ji-an? Kenapa dia mau meminta maaf?" "Astaga Nona Ji-an meminta maaf? Harus bagaimana ini?" "Aku rasa dia meminta maaf dengan tulus." "Ya, sepertinya dia sudah sadar dengan perbuatannya." Beberapa saat kemudian Jian menegakkan tubuhnya, kembali menatap seluruh warga desa. Sepertinya perbuatan Yeon Ji-an susah sekali untuk dimaafkan orang-orang. Bahkan ia sendiri juga mengutuk perbuatan Yeon Ji-an yang sudah kelewat batas itu. "Apa kalian mau memaafkanku?" tanya Jian dengan wajah menunduk menunggu warga desa ada yang membuka suara. Hingga tak lama kemudian seorang wanita paruh baya maju ke hadapannya, Jian menatap wanita itu dengan wajah cemas. "Kami bersedia memaafkan mu Nona Yeon Ji-an." Ucapnya, yang diangguki beberapa penduduk desa. Meski begitu, masih banyak warga yang terlihat menggelengkan kepalanya, dan merasa tak terima jika anak penasehat kerajaan itu di maafkan dengan secepat. Jian tersenyum senang, wanita itu bahkan tiba-tiba memeluk wanita paruh baya itu. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk Yeon Ji-an di pandang baik oleh rakyatnya. "Terima kasih semuanya." Ucap Jian tulus, tatapannya memindai semua warga desa. Warga desa perbatasan barat akhirnya menerima Jian dengan baik dan menyambutnya ramah. Meskipun di dalam benak mereka masih ada rasa was-was akan keberadaannya. Saat ini mereka bahkan banyak yang mengajak Jian mengobrol. Jian pun menjadi senang sendiri, karena sekarang memiliki banyak teman. Soo-young juga ikut merasa senang, ia mengusap ujung matanya penuh haru saat melihat Jian akhirnya tersenyum bersama teman-teman barunya dengan bahagia. "Kalian bisa datang berkunjung ke kediamanku lain kali, aku pasti akan menantikan kalian." Ucap Jian antusias, pada beberapa gadis desa yang sedang asik mengobrol dengannya. "Apakah boleh Nona?" tanya salah satu gadis. "Tentu boleh, bahkan kalian bisa menginap di kediamanku. Asal kalian tahu yah, aku tidak punya teman selama ini." Jian tertawa kecil, tapi justru terlihat menyedihkan di hadapan gadis-gadis itu. "Kami mau jadi temanmu Nona Ji-an." Gadis lainnya menimpali. "Benarkah? Aku sangat senang karena sekarang akhirnya aku punya teman!" balas Ji-an dengan perasaan senang. Mereka akhirnya melanjutkan pembicaraan ke hal lain. Bahkan membahas tentang putra kerajaan sebrang yaitu pangeran kerajaan barat. "Aku dengar-dengar dia memang sering ada di hutan ini, entah sedang melakukan apa." Ujar salah satu gadis desa yang duduk di hadapan Jian. "Emhh kalau boleh tahu siapa namanya?" seluruh gadis tercengang menatap Jian. Jian mengedipkan matanya bingung. "Memang ada yang salah?" "Apa anda tidak tahu namanya sama sekali Jian menggelengkan kepalanya polos. "Biar kuberi tahu, dia itu namanya... Kim Hyun-jae putra dari Raja Kim." "Oh namanya Hyun-jae." Akhirnya. Jian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Menurut kabar yang aku dengar, dia memang suka berburu di hutan, bahkan hewan-hewan di hutan hampir punah karena ulahnya." Jian diam-diam mendengarkan. "Malah aku dengar dia ke hutan ini untuk melakukan ritual aliran sesat." Jian terbelalak kaget. "Bisa jadi, aku dan Ibuku pernah menemukan bekas api unggun di tengah hutan. Apa mungkin itu bekas Pangeran Hyun-jae?" "Astaga! Apakah di zaman ini sudah ada aliran sesat seperti itu?" batinnya tak habis pikir. "Kalian jangan menyebar fitnah, Pangeran Hyun-jae ke sana untuk mengenang pertemuannya dengan seorang putri yang pernah menolongnya di hutan sana." Jian ikut mengangguk mengiyakan, mungkin benar jika Hyun-jae memang suka ke hutan untuk melakukan itu. Mengingat pria itu pernah ditolong Ha-na di hutan ini. "Aku baru mendengarnya." Gumam gadis lain yang sejak tadi diam. "Aku mendapat informasi itu dari Ayahku yang pernah bertemu dengannya, dulu." Semua gadis hanya mengangguk. Melihat hari yang mulai gelap. Jian lantas bangkit dari duduknya. "Baiklah, semuanya. Sepertinya aku harus kembali ke penginapan karena hari sudah gelap. Terimakasih sudah menemani ku hari ini." Pamit Jian, yang diangguki oleh semua gadis. "Selamat malam semuanya, semoga kalian mimpi indah." Jian melambaikan tangannya, lalu berjalan ke arah penginapan. Tentu saja dengan Soo-young di belakangnya. ********** **********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD