Di ruang makan, Go-jun sudah duduk menunggu putrinya untuk sarapan bersama. Ia bahkan sudah menunggu hampir setengah jam, namun Jian tak kunjung keluar dari kamarnya.
Dari tangga ditemani Soo-young, Jian tampak cantik dengan menggunakan hanbok sederhana. Wanita itu terlihat berjalan ogah-ogahan menuju meja makan.
Kakinya berhenti melangkah, matanya menyipit, menatap ayah Ji-an yang sudah menunggunya di meja makan.
Ia tiba-tiba di liputi rasa canggung, bingung harus bagaimana menyapa pria itu.
"Emhh halo Daddy?"
"Halo Om, no.. no.."
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Jian memutuskan untuk turun ke meja makan dengan langkah yang tidak ada anggun-anggunya.
Hanbok yang ia pakai bahkan sudah ia angkat sebatas lutut, karena menurutnya sangat berat.
"Halo Ayah, bagaimana kabar Ayah hari ini?" tanya Jian sembari duduk di kursi samping Go-jun.
Ia mencoba menjadi putri yang baik hati dan juga ceria.
Go-jun seketika menganga lebar mendengar sapaan Ji-an, baginya itu luar biasa mengingat Ji-an tidak suka berbicara dengannya, mungkin setelah ambisinya mengejar cinta pangeran Hae-jun.
"Ah, kabar Ayah baik sekali, melihat kamu ceria seperti ini bahkan membuat Ayah jauh lebih baik lagi." Jawab Go-jun masih terperangah.
Jian tersenyum lebar dan menatap makanan yang dihidangkan di hadapannya. Hampir saja air liurnya menetes dari bibirnya. Hingga akhirnya ia tersadar, bahwa Go-jun tengah menatapnya.
"Apakah aku sudah boleh makan?" tanya Jian tidak sabar.
Go-jun tersenyum dan mengangguk, ia mulai membuka piring di hadapannya. Saat tangannya hendak mengambil lauk di hadapannya, Jian dengan cepat mencegahnya.
"Heh Ayah, biar Ji-an yang ambilkan" ucap Jian dengan semangat, lalu menaruh sepotong daging sapi panggang ke dalam piring Go-jun.
Go-jun dan para pelayan seketika menganga lebar, entah apa yang sedang di pikiran mereka. Yang paling penting sekarang adalah.... nona mereka sangat berbeda.
"Apa sudah cukup, Ayah?" tanya Jian masih berdiri menunggu jawaban Go-jun.
"Sudah cukup. Ayo kita makan." Jian tersenyum dan mengangguk, ia kembali duduk dan mulai menikmati makanannya.
Go-jun terdiam, menatap putrinya yang makan dengan lahap tidak seperti biasanya. Bahkan mulutnya belepotan oleh saus, membuat wajahnya terlihat lucu.
Sepuluh menit kemudian. Go-jun sudah selesai dengan sarapannya, namun Jian masih asyik melahap makanannya.
Pria itu berniat berbicara dengan putrinya tentang pertunangan Hae-jun dan Ha-na kemarin.
"Kalau tahu akan seperti ini, aku juga senang ada di dunia ini." batin Jian senang.
Jian akhirnya selesai, menepuk perutnya yang sudah kekenyangan.
Go-jun tersenyum kecil, melihat Jian yang terlihat lucu di matanya.
"Ji-an ..." panggil Go-jun.
"Ya Ayah, ada apa?" tanya Jian, menegakan badannya.
"Ayah minta maaf karena tidak bisa membantumu mendapatkan Pangeran Hae-jun." ucap Go-jun yang terlihat sangat khawatir dengan perasaan putrinya.
"Emhh soal itu, sekarang aku sudah tidak menyukai Hae-jun, Ayah." Jawab Jian santai tanpa beban.
Go-jun tentu saja merasa terkejut, karena putrinya cepat sekali berubah. Bagiamana pun juga, putrinya itu sudah sangat mencintai Hae-jun sejak dulu.
"Bagaima..." Belum selesai Go-jun bicara, Jian dengan cepat menyela.
"Ayah, aku sudah tidak mencintainya, aku bahkan sudah tidak ingat kalau aku pernah mencintai Hae-jun. Yang aku inginkan sekarang adalah bagaimana aku bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri." ucap Jian dengan senyumnya.
"Ayah sangat senang, akhirnya kamu mengerti. Ayah harap ini adalah langkah awal dalam meraih kebahagiaanmu yang sebenarnya." Go-jun tersenyum tulus, yang dibalas anggukan oleh Jian.
Tiba-tiba saja, Jian berdiri, gadis itu memeluk Go-jun dengan sangat erat. "Aku ingin selalu bersama Ayah." Go-jun membalasnya tak kalah erat.
"Putri kecilku memang yang terbaik." Go-jun meneteskan air matanya penuh haru.
Para pelayan yang mendengar itu juga tak kalah senang. Karena akhirnya nona mereka berhenti mengejar pangeran Hae-jun.
**
**
"Soo-young tolong jus jeruknya!" Soo-young dengan sigap menyodorkan segelas jus pada Jian yang tengah asik rebahan di gazebo dekat danau favoritnya.
Bahkan tanpa terasa sudah hampir dua minggu ia berada di dunia itu.
Yang wanita itu lakukan juga hanya duduk, rebahan, dan makan setiap hari.
Go-jun bahkan tidak berkomentar apa-apa, melihat putrinya yang hanya bersantai setiap hari. Ia justru malah merasa senang.
"Terimakasih Soo-young."
Soo-young mengangguk, kembali berdiri di samping Jian.
Ada sekitar lima pelayan yang saat ini sedang bersama Jian. Ada yang sedang memijat kaki dan punggungnya, dan ada juga yang sedang mengipasinya.
"Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan." batin Jian senang.
Sebenarnya Jian merasa senang menempati tubuh Yeon Ji-an. Namun, di sisi lain ia juga merasa takut dengan kematian yang akan terjadi di alur cerita ini.
Maka dari itu ia bertekad untuk tidak berurusan dengan pangeran dan Ha-na.
Ia cukup dengan hidup tenang di kediaman Go-jun yang sangat luas. Lalu menikmati kekayaan ayahnya yang sangat melimpah.
Bahkan sekarang Jian berpikir untuk pergi foya-foya. Tapi mungkin itu nanti, mengingat seluruh keperluannya sudah tersedia di dalam kamar.
Jian mengakhiri acara bersantainya, saat ia akan beranjak pergi, seorang pria berpakaian penjaga berlari menghampiri.
"Hormat saya Nona, anda ditunggu oleh Ayah anda di ruangannya." Ucap penjaga itu setelah berada di hadapan Jian.
"Baiklah, aku akan kesana." jawab Jian, ia berjalan di ikuti Soo-young dan para pelayan lainnya menuju ruangan Go-jun.
Saat sudah sampai, Jian memasuki ruangan Go-jun seorang diri. Sedangkan Soo-young menunggu di luar.
"Ada apa Ayah?" Jian duduk di kursi kosong di hadapan Go-jun.
"Ji-an, apa kamu mau menggantikan Ayah pergi ke wilayah perbatasan Barat? Ayah tidak tahu harus mengutus siapa lagi. Kakakmu belum pulang sampai sekarang dari wilayah perbatasan Timur. Dan besok, Ayah harus menyelesaikan masalah di Kerajaan." Go-jun menjelaskan dengan tatapan penuh harap.
Jian sedikit mengingat-ingat, tentang kakak Yeon Ji-an yang memang tidak pernah pulang ke kediaman, karena mengurus wilayah perbatasan Timur.
Pria itu bahkan dijuluki sebagai pria yang terobsesi dengan pengabdiannya untuk kerajaan.
Sampai-sampai ia turut andil dalam penyiksaan Ji-an di akhir hayatnya. Atau bisa dibilang, ia yang melaporkan Ji-an pada pihak kerajaan, setelah percobaan pembunuhan Ha-na.
Pria itu juga harus ia jauhi mulai sekarang.
"Baiklah, Ayah. Aku akan pergi kesana. Memang apa yang terjadi di perbatasan Barat, ayah?" tanya Jian penasaran.
"Masalah kecil, hanya masalah penyaluran bantuan pangan yang terlambat sampai ke pelosok desa." Jian mengangguk mengerti.
"Baiklah. Aku akan kesana besok, apakah masih ada yang lain, Ayah?"
"Besok kamu juga akan ditemani oleh prajurit dari kerajaan."
Kelopak mata Jian seketika melebar.
"Kenapa bukan pengawal dari kediaman kita saja Ayah?"
Go-jun menautkan kedua alisnya, "Menurut Ayah, prajurit kerajaan lebih kuat, Putriku. Makanya Ayah meminta mereka mendampingi kamu di sana."
Jian menggeleng cepat. "Tidak Ayah, aku mau pergi dengan pengawal kediaman ini saja." Kilah Jian yang tidak ingin bertemu dengan orang-orang dari kerajaan.
"Baiklah. Kamu akan dikawal oleh pengawal kediaman ini saja, sesuai keinginanmu." jawab Go-jun, yang tidak ingin memperpanjang masalah dengan putrinya.
Senyuman senang terlihat jelas di wajah Jian. "Terimakasih Ayah, kamu memang yang terbaik. Aku akan menyiapkan keperluanku untuk besok. Sampai jumpa Ayah."
Jian membungkukkan badannya, lalu pergi keluar sambil berlari senang.
Soo-young juga ikut membuntuti nonanya, dengan langkah terburu-buru.
"Hati-hati Nona, anda bisa terjatuh!" Pekik Soo-young melihat bagaimana cara Jian dalam berlari.
Mirip seperti kijang mungkin.
***********
***********