Zeta mengerjapkan mata nya, menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya silau yang di timbukkan dari sinar matahari pagi yang tanpak masuk melalui celah-celah jendela kamar. Zeta meringis dan memegangi perut nya yang masih terasa sedikit perih, seperti di tusuk-tusuk oleh ribuan kaca. Belum lahi, tubuh nya yang terasa sangat lemas dan tak bertenaga. Dengan sisa tenaga nya, Zeta merubah posisi nya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Bersamaan dengan masuk nya seseorang. Mata sayu Zeta yang tidak mengurangi tatapan datar gadis itu, bertemu dengan mata yang tak kalah datar nya. Malvin tampak berjalan ke arah ranjang Zeta, dengan tangan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan air putih. "Makan! Dokter bilang lo gak boleh telat makan!" Ujar Malvin dingin dan meletakkan nampan terseb

