"Vin! Vin! Itu bukan nya bokap lo ya?" Rendra menepuk heboh bahu Malvin, dan menunjuk-nunjuk ke arah koridor.
Malvin mengikuti arah telunjuk Rendra. "Iya. Trus?" tanggap nya datar.
"Ngapain bokap lo ke sini? Secara lo gak pernah bikin masalah apa pun." Sahut Risky kali ini.
"Ngurusin Zeta." Jawab Malvin singkat.
Seperti biasa. Malvin, Rendra, Risky dan Gevan berada di tepi lapangan basket. Duduk di bangku panjang yang ada di sana.
"Masalah Zeta di perpanjang?" Kali ini Gevan yang bertanya.
Malvin mengangguk dengan wajah tenang nya. "Surat panggilan dateng tadi malam ke rumah."
"Berarti Zeta bakal dapat masalah dong?" Tanya Rendra
Malvin mengangkat bahu nya cuek. "Gak tau. Ini bukan masalah Dara kemarin aja. Tapi masalah dia yang sering tidur di kelas, trus ngelawan Bu Windy kemarin."
Gevan, Risky dan Rendra manggut-manggut.
"Malvin?"
Bukan hanya Malvin. Tiga yang lain nya ikut mendongakkan kepala saat suara berat itu terdengar.
"Ya Pa?" Jawab Malvin, saat papa nya tepat berdiri di depan nya.
"Siang om!" sapa Risky, Rendra dan Gevan.
Rahardian tersenyum seraya mengangguk. "Om pinjam Malvin sebentar ya!"
Ketiga teman Malvin mengangguk. Rahardian mulai beranjak menjauh dan di ikuti oleh Malvin. Mereka berhenti di depan lobi.
"Urusan nya selesai?" Tanya Malvin.
Rahardian menghela nafas nya. "Zi harus mendapat hukuman nya."
"Apa? Di skors?"
Rahardin menggeleng. "Skors bukan hal yang baik untuk dia. Kamu tau, Zeta menginginkam apa?"
Malvin menggeleng tidak megerti.
"Dia bahkan minta di keluarkan sekolah sebagai hukuman atas yang dia lakukan."
Ucapan Rahardian lantas membuat Malvin cukup kaget. Namun, tidak menghilangkan wajah datar nya.
"Trus?"
Rahardian menghela nafas nya. "Jelas papa gak setuju. Akhir nya, pihak sekolah menjatuhkan hukuman Zeta menjadi pengurus perpustakaan selama 1 minggu ke depan."
Malvin mengangguk.
"Malvin? Papa mohon sama kamu, tolong dong awasi Zeta. Dia itu gadis labil yang butuh bimbingan khusus." Ujar Rahardin dengan nada serius. Tak kalah serius dengan wajah nya.
Malvin menghela nafas nya malas. "Pa! Ngapain sih kita ribet-ribet ngurusin hidup dia. Dia aja gak peduli sama hidup nya." Jawab Malvin.
"Bukan begitu. Kamu tau, kenapa orang tua Zeta menitipkan dia ke kita. Karna dia percaya kita bisa merubah Zeta."
"Berubah yang seperti apa?" Tanya Malvin.
Rahardian menatap putra nya itu. "Coba lah menjadi teman Zeta. Dia bukan gadis liar, dia hanya berusaha menutupi jati diri nya yang sebenarnya. Dia gadis pintar, baik, dan manis. Tapi dia meninggalkan itu semua, hanya karna luka yang tidak bisa dia sembuhkan sendiri."
Malvin diam. Apa maksud papa nya ini?
"Anggap kehadiran Zeta ini adalah teka teki Malvin." Rahardian memegang pundak Malvin.
Malvin menatap mata Rahardian. Apa papa nya tau sesuatu tentang Zeta?
"Pa---"
"Om!"
Ucapan Malvin terhenti saat suara seseorang hadir. Itu suara milik Zeta, gadis itu berjalan ke arah mereka.
"Ada apa Zi?" Tanya Rahardin seraya tersenyum ke arah gadis itu.
Zeta menatap datar ke arah Rahardian.
"Zi---"
"Jangan repotkan diri om karna aku."
Rahardian terdiam karna ucapan Zeta.
"Zi! Masa depan kamu masih panjang." Ujar Rahardian dengan suara lembut.
Zeta menggeleng, dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. "Gak ada lagi masa depan. Karna aku tidak akan sampai ke masa itu. Jadi om gak perlu berusaha merubah apa pun yang mustahil untuk di rubah."
Rahardin tertegun, begitupun Malvin yang mendengar nya.
"Om atau siapa pun tidak tau apa pun yang terjadi."
"Om memang gak tau apa pun Zi." Rahardian memotong. "Tapi om cuman ingin kamu menjadi lebih baik. Mungkin kamu tidak ingin menyiapkan masa depan untuk siapa pun, tapi coba lah merangkai masa depan itu untuk diri kamu sendiri."
"jalan kamu masih panjang Zi. Dan om gak akan biarin, cita-cita dan hidup kamu berhenti di sini. Karna kamu sudah terlanjur di titipkan di keluarga ini. Jadi gak ada alasan, untuk om tidak membimbing kamu."
"Kamu punya cita-cita kan? Harapan? Om yakin ,gadis seperti mu punya banyak cita-cita dan harapan. Jadi coba lah untuk tidak membuag semua itu."
Kini giliran Zeta yang diam. Dia termangu mendengar ucapan pria paruh baya ini. Apa masih ada harapan dan cita-cita yang harus di kejar nya? Di saat dia merasa semua nya telah hancur sejak lama?
Rahardian mengusap puncak kepala Zeta, menatap nya dengan lembut. "Semua orang berhak untuk membuka lembaran baru dalam hidup. Berhak untuk bahagia Zi."
Rahardian menepuk pundak Malvin, lalu berlalu meninggalkan tempat itu. Malvin masih diam, menatap ke arah Zeta yang menatap kosong ke depan.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️
SMA Nasional siang ini di kagetkan dengan kehadiran orang tua dari Dara. Siswa siswi yang tadi nya berniat ke kantin memutar balik arah mereka saat mendengar keributan di arah ruangan guru. Setelah di lihat ternyata, keributan itu berasal dari suara Pak Remon---papa Dara.
Di samping Pria paruh baya itu berdiri Dara yang melipat tangan di d**a nya, dengan kepala yang tampak di perban. Apa separah itu?
"Pak bapak sabar! Kita bisa selesaikan semua ini dengan kepala dingin!" Pak Ryan yang notabene kepala sekolah, berusaha menenangkan Pak Remon yang emsoi nya semakin menggebu-gebu.
"Gak bisa gitu pak! Bapak gak lihat anak saya kepala nya mesti di perban kayak gini! Anak kurang ajar itu harus di beri hukuman!!" pekik Pak Remon dengan emosi yang meletup-letup.
"Iya pak kami sebagai pihak guru telah menjatuhkan hukuman kepada murid itu!" Ujar Pak Ryan.
"Gak bisa! Saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum! Anak itu harus di penjara!!" Sahut Pak Remon, membuat semua yang mendengar membulatkan mata mereka kaget.
Sedangkan Dara, malah tersenyum sinis penuh kemenangan.
Di tengah kerumunanan itu juga ada Gevan, Risky, Rendra dan Malvin. Mereka juga di buat kaget dengan keputusan orang tua Dara itu.
"Gila! Zi bakal di bawa ke kantor polisi!" bisik Risky.
"Lebay banget sih keluarga nya Dara! Masalah sepele kayak gini aja sampai bawa polisi! Dia juga gak geger otak." Tambah Rendra, dengan nada tidak suka.
Malvin masih berdiri di tempat nya memasang wajah tenang. Tapi jangan tanya, d**a nya kini justru berdegup kencang entah kenapa.
"Pak! Pak saya mohon! Jangan pakai jalur hu---"
"SAYA GAK PEDULI!! SAYA AKAN TERUS SERET ANAK ITU KE PENGADILAN!!" teriak Orang tua Dara dengan emosi yang semakin menggebu-gebu. "Sekarang tunjukkan mana perempun yang sudah membuat mu seperti ini Dara?!" Tanya Remon pada anak nya.
Dara tampak mengalihkan pandangan nya.
"Itu pa! Itu otang nya!" Dara menunjuk ke arah siswi yang berjalan bersama Bu Windy. "dia yang udah bikin aku kayak gini!" Ujar Dara.
Remon membalikkan tubuh nya bersamaan dengan Zeta yang datang di tengah kerumanan itu. Semua orang di sana menatap khawatir ke arah ratu dance itu, sedangkan Zeta masih menampikkan ekspresi tenang nya. Seakan tidak takut sama sekali.
Guru-guru juga di buat was-was akan kasus ini. Bisa-bisa nama sekolah akan tercoreng jelek.
Remon seketika terdiam dalam kekagetan nya saat melihat siapa yang kini berhadapan dengan nya. Mata dan ekspresi wajah nya jelas mengisyarat kan kekagetan luar biasa.
"Anda mencari saya?" Tanya Zeta dengan suara datar.
Remon diam, masih menatap mata datar Zeta.
Suasana mendadak berubah hening, namun tegang. Mereka menerka-nerka apa yang aka di lakukan Remon pada Zeta.
"Kamu---kamu anak---" Suara Remon terputus-putus. Semua orang mengerutkan dahi mereka melihat reaksi Papa Dara yang di luar dugaan. Terlihat gugup dan takut.
"Saya Zeta Zevanya Rezaldi. Putri tunggal keluarga Rezali." Zeta berucap tenang, dengan mata tanpa berpaling dari pria paruh baya itu.
Remon seketika menelan saliva nya. Tebakan nya tidak salah. Siswi yang berdiri di depan nya ternyata anak dari seorang pengusaha Rezaldi. Pengusaha sukses dan kaya se Asia tenggara. Pemilik perusahaan properti dan pertambangan terbesar.
"Pah! Papa kok diem sih! Ayok bawa dia ke penjara!" Desak Dara. "Pah ayok---"
"DARAA!!"
Bentakan papa nya membuat Dara tersentak bungkam.
"Kenapa kamu gak bilang kalau yang melakukan itu Zeta?" Tanya Remon pada putri nya dengan tatapan tajam.
Dara mengerutkan dahi nya. "Maks---"
"Kalau anda mau memenjarakan saya! Silahkan! Saya tidak akan bawa nama papa saya!" Zeta bersuara, membuat Dara menghentikan ucapan nya.
Remon kembali menoleh pada Zeta. Dia tersebyum kikuk, dan sedikit menundukkan kepala nya. "Maaf...non Zeta. Saya telah salah berprasangka. Anda tidak mungkin melakukan itu, jika bukan Dara yang memulai." ujar Remon dengan suara pelan.
Dara membulatkan mata nya melihat papa nya yang tunduk pada Zeta. "Pah--"
"Diam kamu Dara!" gertak Remon. "Sekali lagi maaf kan saya nona Zeta!"
Setelah mengucalkan itu Remon menarik Dara untuk meninggalkan kerumunan itu.
Semua orang masih bertanya-tanya akan sikap Papa Dara yang mendadak berubah, bahkan tunduk pada Zeta yang lebih kecil dari nya.
"Bubar semua!" Perintah Pak Ryan, yang langsung di turuti siswa siswi yang lain nya. "Zi! Silahkan kembali ke kelas mu!"
Zeta mengangguk samar. Kini lobi itu hanya tinggal Zeta, beserta Malvin dan teman-teman nya.
Zeta sempat bersitatap dengan Malvin, sebelum akhir nya berlalu meninggalkan lobi tersebut.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️