TUJUH

1529 Words
Malvin tak henti nya mengedarkan pandangan nya ke penjuru jalan yang di lewati nya. Dia juga mengurangi kecepatan mobil nya sejak tadi. Dari semua jalan yang di lewati nya, mata nya tak kunjung menemukan sosok itu. Ya Zeta, dia mencari gadis itu. Malvin terpaksa membatalkan waktu latihan nya setelah kepergian Zeta tadi. Jangan berpikiran bahwa Malvin khawatir. Sama sekali tidak. Dia hanya tidak ingin di introgasi oleh mama nya nanti jika pulang ke rumah. Karna sekarang dia tau, prioritas mama nya itu adalah Zeta. "Mana sih tu cewek aneh! Cepet banget ngilang nya." Gumam Malvin seorang diri. Sementeara itu di tempat lain... Zeta menghentikan langkah nya di atas sebuah jembatan. Rahang nya masih mengeras, dan nafas nya masih memburuh marah. "Arghh..." Zeta menendang pegangan jembatan tersebut berulang kali, melimpahkan segala kekesalan dan amarah nya di sana. Setelah merasa puas, Zeta mengusap gusar rambut nya dan meletakkan kedua siku tangan nya di pegangan jembatan. Menumpu tubuh nya di sana. Zeta menatap hamparan sungai yang ada di bawah nya kini. Semilir angin menerpa rambut nya. Emosi Zeta masih belum benar-benar hilang, namun sekuat mungkin dia meredakan nya. Takut jika orang yang tidak bersalah akan jadi imbas kemarahan nya nanti. "Gue bilang! Kalau lo itu di buang sama genk lo! Right? Bukti nya lo ada di sini, dan sendirian! Kasihan ya nasib lo! Setelah dua tahun lalu, gagal membawa tim lo ke jenjang kemenangan! Ternyata lo malah di campakkin---" Kata-kata yang keluar dari mulut busuk Dara, masih terngiang jelas di pendengaran Zeta. Dan hal itu kembali mengusik amarah Zeta. Tangan nya kembali terkepal, dan nafas nya memburuh marah. "Brengseekkk---" Geram Zeta seraya memukul pegangan jembatan tersebut.  Tanpa sadar jika seseorang sedaritadi memperhatikan gerakan nya. Zeta mengusap wajah nya dengan gusar, berusaha menekan amarah nya agar tidak berlarut-larut. Tertapi percuma, emosi nya sudah terlanjur membuncah hingga ke ubun-ubun. Zeta mungkin bisa terima siapa pun yang merendahkan nya. Tapi dia tidak akan rela jika ada orang yang membawa nama atas genk nya. Terlebih, membawa kejadian dua tahun lalu. Zeta sangat sensitif dengan hal itu. Bahkan dia tidak akan segan-segan membunuh siapa pun yang berani menyebut-nyebut tentang kejadian dua tahun lalu itu. Zeta yang tadi menunduk menatap ke bawah, kini mengangkat kepala nya saat mendengar langkah kaki orang mendekat. Walaupun jalanan itu cukup bising dengan kendaraan yang berlalu lalang, namun Zeta masih bisa menangkap langkah kaki orang mendekat ke arah nya. Zeta melirik dengan ekor mata nya, saat dia merasa mengenal orang tersebut. Dia menoleh. Zeta menghela nafas nya, saat mengetahui siapa orang pemilik langkah kaki itu. Dia lalu kembali menatap ke depan, dengan wajah yang kembali datar seperti biasa nya. "Ngapain lo di sini?" Akhir nya Zeta bertanya dengan nada dingin nya. Tanpa menoleh sedikit pun kepada lawan bicara nya. Malvin memposisikan diri nya di sebelah Zeta, ikut menumpu kedua tangan nya di pegangan jembatan dan menatap lurus ke depan. "Lo sendiri ngapain di sini? Mau bunuh diri?" Malvin bersuara datar. Zeta menyeringai. "Gue sendiri tau kali, dimana tempat bunuh diri yang bisa langsung mati. Di sini belum di jamin gue bisa mati." Malvin membenarkan itu, di bawah sini hanya sungai. Tidak bisa menjamin seseorang akan mati jika meloncat ke sana, apalagi yang bisa berenang. "Lain kali lo ajarin cewek lo! Kalau dia mau hidup lebih lama!" Zeta kembali bersuara. Malvin melirik Zeta yang masih setia menatap ke depan. "Dia bukan cewek gue." Balas Malvin datar. "Trus? Selingkuhan lo? Atau simpanan lo?" Zeta untuk pertama kali nya menoleh ke arah Malvin, menaikkan sebelah alis nya menatap cowok itu. "Selain aneh. Lo juga sotoy ya!" Malvin menyeringai ke arwh Zeta. Zeta tidak merespon lagi, dia menghela nafas nya sembari membalikkan tubuh nya menjadi bersandar ke pegangan jembatan dengan kedua tangan terlipat di d**a. Memperhatikan jalanan raya yang cukup ramai akan kendaraan. Malvin melirik Zeta tanpa mengubah pisisi nya. Gadis itu kembali melamun seperti kebiasaan nya. "Di tempat kayak gini aja lo masih bisa ngelamun ya." gumam Malvin. Zeta mendengar itu. Namun, tidak berniat membalas. Lalu, dia mengeluarkan sebuah kotak kue dan melemparkan nya ke arah Malvin. Seperti biasa, Malvin dengan santai menangkap nya. "Makanan tadi lo buang? Maka nya habis?" Malvin memerengkan tubuh nya menatap Zeta dengan kedua tangan yang memasuki saku celana. Setelah memasukkan kotak tersebut ke tas nya. Zeta menoleh ke arah lawan bicara nya. Dia lalu menaikkan sebelah alis nya tanpa ekspresi. "Lo cek aja tempat sampah! Ada atau enggak!" Setelah mengucapkan itu, Zeta berjalan melewati Malvin. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Zeta menghela nafas nya, seraya memasukkan kedua tangan nya ke dalam jaket lepis yang di pakai nya. "Mobil doang keren. Tapi doyan mogok." Gumam Zeta dengan nada cuek. Malvin menoleh ke asal suara, di temui nya Zeta yang tengah sibuk mengalihkan pandagan ke arah lain. Kebiasan jika gadis itu ngomong, tidak pernah menatap lawan bicara nya. "Eh-tau darimana lo kalau ni mobil sering mogok? Baru juga dua kali lo naikin ni mobil." Balas Malvin sedikit kesal. Mereka memang tengah berhenti di tepi jalan, pasal nya mobil sport yang biasa di bawa Malvin tiba-tiba ngandet dan berhenti begitu saja. Malvin berulang kali nenghela nafas nya. Dia bukan montir atau sejenis nya yang nengerti akan mesin mobil. Jujur, ini pertama kali nya mobil milik nya mogok. Sebelum nya tidak pernah, karna dia selalu merawat dan membawa mobil nya ke bengkel 1 kali sebulan. 20 menit berlalu, tidak ada perubahan sama sekali. Malvin terus mencoba menstater mobil nya, namun tak kunjung bisa. Zeta sudah berulang kali merubah posisi nya, menjadi duduk di tepi trotoar, berdiri lagi, duduk lagi, dan begitu seterus nya. "Ck, lo bisa gak sih?!" Tanya Zeta mulai jengah. "Diem lo! Kayak lo yang bisa aja!" Balas Malvin ketus, dan masih mencoba memeriksa mesin mobil nya. Zeta menghela nfas nya kasar. "Telfon montir aja apa susah nya sih?" "Gue gak punya montir pribadi. Nomor montir lain juga gak ada." Zeta meraih ponsel nya di dalam tas. Lalu mencari sebuah nomor di sana. Sementara Malvin memperhatikan gerak gerik Zeta yng tampak mengobrol lewat telfon. "Sekitaran 1 jam montir pribadi gue sampai." Sahut Zeta datar, dan menyimpan ponsel nya. "Satu jam?" Zeta melirik Malvin. "Ya. Kenapa? Kelamaan?" Malvin menghela nafas nya. Satu jam lebih baik, daripada tidak sama sekali. Karna posisi mereka kini sepi pengunjung, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat di sini. "Oke deh." gumam Malvin pasrah. Tak lama setelah itu. Byuurr.... Hujan deras tiba-tiba mengguyur jalanan. Malvin dengan segera mendorong Zeta masuk, saat gadis itu hanya berdiri dengan melindungi kepala nya dengan kedua telapak tangan. Malvin mengusap wajah nya yang sedikit basah. Kini baik dia dan Zeta sudah berada di dalam mobil. Zeta mengeratkan jaket yang ada di tubuh nya, lalu menyisir rambut sebahu nya yang sedikit menutupi wajah nya ke belakang. Dia menatap keluar jendela mobil, hujan yang turun sangat deras sampai bunyi rintikam nya terdengar sangat nyaring. Malvin melirik gadis di samping nya itu yang sibuk menatap keluar jendela. Menatap rintikan hujan yang membasahi jendela. "Suka hujan?" itu bukan pernyataan melainkan pertanyaan yang keluar dari mulut Malvin. Hening sesaat. "Dikit." jawab Zeta pelan, tanpa mengalihkan pandangan nya dari jendela. Malvin mengangguk samar. Lalu meletakkan sebelah tangan nya di stir mobil, dan ikut menatap keluar jendela di dekat nya. "Lo?" Zeta balik bertanya. "Enggak." jawab Malvin. Kedua nya sama-sama tidak saling menatap, sibuk menatap keluar jendela. "Kenapa?" Zeta kembali bertanya dengan suata datar nya. "Hujan bikin ruang gerak gue terbatas. Gue gak bisa main basket di luar." Malvin menjawab dengan suara yang juga tak kalah datar. Suasana mobil itu kembali hening. Hanya terdengar bunyi hujan di luar sana. "Hujan itu berani---" Malvin menoleh saat mendengar Zeta bersuara. "---Mereka berani jatuh dari langit yang paling tinggi dan mendarat di bumi yang paling rendah. Menciptakan kesunyian yang sesungguh nya. Mengusir panas nya matahari, dengan dingin yang mereka ciptakan. Walau terkadang jatuh nya mereka tidak di ingin kan, mereka tetap ikhlas jatuh menjadi sumber kehidupan semua manusia." Malvin tertegun mendengar perkataan Zeta. Gadis itu berbicara tanpa menatap ke arah nya, seakan bernicara untuk diri nya sendiri. Malvin tersentak saat Zeta beralih memandang ke arah nya, dengan cepat dia mengalihkan pandangan ke arah depan. Zeta tau, sedaritadi cowok di samping nya ini memperhatikan nya. "Kenapa? Kata-kata gue puitis?" Malvin tersenyum miring, dan melirik ke arah Zeta yang juga melirik nya. "Gak!" "Trus?" "Lo gak nyadar, kalau itu kalimat terpanjang yang pernah keluar dari mulut lo di hadapan gue?" Zeta ikut tersenyum miring. Dan menatap lurus ke depan. "Dan lo gak sadar? Kalau ini pertama kali nya, lo ngomong tanpa nada ketus ke gue?" Mereka kali ini saling pandang. Malvin menghela nafas nya, seraya mengangkat bahu nya. "Oke. Berarti kita 1 sama." Gumam nya. "Lo gak takut dapat masalah?" Pertanyaam Malvin membuat Zeta kembali menoleh pada cowok itu. "Kenapa?" "Dalam sehari, lo udah ngelakuin 3 kali pelanggaran. Dan itu bukan pelanggaran yang ringan. Ngelawan guru, tidur di kelas, dan terakhir ngehajar Dara." Zeta menyeringai ke arah Malvin. Masalah? Apa yang harus Zeta takutkan dengan kata itu. "Masalah udah jadi sahabat gue." Balas Zeta seadanya. Malvin diam, dia melirik Zeta. Apa ini maksud dari perkataan gadis itu tentang Hujan yang berani? Karna dia berani seperti hujan. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD