ENAM

1534 Words
Zeta berjalan mengelilingi sekolah nya sekarang ini. Sekolah yang lumayan besar dan megah. Fasilitas yang tersedia juga cukup memadai. Pantas saja sekolah ini menjadi sekolah populer di Kota Bogor. SMA Nasional merupakan SMA yang paling ketat dengan aturan tata tertib. Bahkan sekolah ini memberikan satu buah buku saku kepada setiap siswa siswi dan wajib di bawa setiap hari. Setiap siswa siswi yang melanggar peraturan yang ada, akan mendapatkan satu poin pelanggaran. Jika sudah mendapatkan 3 poin, maka orang tua atau wali akan di panggil ke sekolah. Namun, segala peraturan itu tidak membuat Zeta takut untuk tidak melanggar. Bagi nya peraturan bukan lah untuk di takuti. Justru dia akan amat bersyukur jika di keluarkan dari sekolah karna kelakuan nya. Masa depan, sudah tidak pernah di pikir nya lagi, sejak dua tahun yang lalu. Bagi nya, semua hidup nya telah berakhir terkubur bersama dia yang paling berharga dalam hidup nya. Zeta menghentikan langkah nya saat sampai di taman belakang sekolah. Di sana hanya ada satu bangku panjang di bawah pohon yang cukup lebat. Selebih nya hanya di penuhi oleh tanaman-tanaman yang berwarna hijau. Zeta duduk di bangku tersebut. Menikmati semilir angin yang menerpa rambut nya. Di sandarkan nya punggung dan kepala nya ke pohon, menatap daun-daun yang bergotang tertiup angin. Menentramkan. Sejenak Zeta merasakan ketentraman dalam diri nya. Dia lalu memasang headset yang bergantung di leher nya ke telinga, menyetel musik seperti biasa nya. Menikmati alunan musik serta angin sepoi-sepoi dengan mata yang terpejam. Zeta seketika membuka mata nya, saat merasakan ada seseorang yang berdiri di dekat nya. Zeta mendongak, dan mendapati Malvin dengan wajah es menatap ke arah nya. "Dari nyokap!" Malvin menyodorkan sebuah kotak kue ke arah Zeta. Zeta diam untuk sesaat, memandang kotak kue itu. Kotak yang sama dengan yang kemarin. "Pegel tangan gue!" Ketus Malvin, saat Zeta tak kunjung mengambil kotak kue itu. Zeta lalu meraih kotak tersebut, dan meletakkan nya di pangkuan nya. "Di makan! Jangan bikin tenaga nyokap gue terbuang sia-sia!" Sahut Malvin datar. Zeta mendongak. "Gue udah bilangkan gak usah di buatin lagi!" "Lo pikir nyokap bakal tenang kalau lo gak makan! Gak ngerti deh gue, sejak kapan lo jadi prioritas utama nya!" Zeta diam, dan kembali mengambil kotak kue itu. "Ambil aja buat lo!" Dia menyodrokan nya kepada Malvin. Malvin menyeringai. "Lo emang gak tau diri ya! Gak bisa ngehargain orang! Udah 2 kali lo gak ngehargain makanan yang di buat nyokap gue!" suara Malvin naik satu okataf. Zeta mengalihkan pandangan nya ke arah lain, seakan mengabaikan Malvin yang berbicara. "Kenapa lo yang ribet sama hidup gue?" Zeta bersuara datar, dan kembali menoleh ke arah Malvin yang berdiri. Ekspresi cowok itu tak kalah dingin dari Zeta. Malvin menyeringai nendengar ucapan Zeta. Dia membungkukkan tubuh nya, sedikit mendekatkan wajah nya ke arah Zeta. "Gak usah geer! Pertama, gue lakuin ini karna perintah nyokap! Kedua, gue gak suka lo gak ngerhagain nyokap gue kayak gini! Ketiga, gue cuman kasihan sama orang tua lo, punya anak yang gak berguna kayak lo!" Desis Malvin terdengar tajam. Tatapan Zeta semakin berubah dingin mendengar penuturan Malvin. "Lo tau! Lo adalah cewek paling aneh, dan paling kurang ajar yang pernah gue temui! Oranv gal berpendidikan, tapi ngaku sebagai pelajar!" Tambah Malvin, tanpa merubah posisi nya. Detik berikut nya, Malvin Menegakkan tubuh nya lalu berjalan meninggalkan lokasi tersebut. Meninggalkan Zeta yang diam di tempat nya. Mata Zeta lalu beralih pada kotak yang di pegang nya. Seentara itu, Malvin menoleh dan memperhatikan gerakan Zeta dari jauh. Entah kenapa, dia sedikit lega saat Zeta membuka bekal yang di berikan nya tadi. Dan memakan nya. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Zeta bersandar di pilar koridor, dari tempat nya berdiri kini dia dapat melihat ke penjuru lapangan basket yang dipenuhi oleh orang-orang. Terutama kaum hawa, mereka sibuk berteriak-teriak melihat tim basket yang tengah latihan. "Ya ampun! Malvin!!! My boyyy ganteng banget sih!!" "Malvin is cool! "Gevan!! I love you!!" "Malvinnnn! Ya Allah begitu indah ciptaaan mu!!" Zeta menaikkan sebelah alis nya mendengar suara-suara melengking yang memuja-muja pemain basket. Zeta ragu, apa mereka akan seheboh ini saat memuja Tuhan mereka? Proses belajar mengajar memang telah berakhir. Namun, masih banyak siswa siswi yang betah di sekolah dengan alasan hanya ingin melihat tim basket latihan. Zeta berdiri di sini bukan untuk menunggu Malvin. Jika kalian berpikir seperti itu, maka kalian salah. Basket, merupakan satu-satu olahraga bola yang di sukai gadis blasteran itu. Pruittt... Permainan basket berakhir, lima orang pemain inti beranjak ke pinggir lapangan untuk merehatkan diri. Terlihat bercak peluh yang memasahi wajah serta tubuh mereka, yang hanya memakai baju tanpa lengan. "MALVINNN!!" Siswi yang tadi nya berada di pinggir lapangan mulai menyerbu ke arah Malvin yang duduk di salah satu bangku. Namun, langkah mereka terhenti saat seorang gadis merentangkan tangan menghalangi mereka. "Eh- jauh-jauh lo pada! Awas deket-deket Mavin! Lo semua lupa huh, kalau gue itu princess nya Malvinnn!!" Ujar gadis itu dengan gaya angkuh dan super pede nya. "Pergi lo semua !!" Usir gadis yang di ketahui Zeta bernama Dara itu. Cewek yang sama yang kemarin bergelayut manja di lengan Malvin. "Hhuuuu!" siswi-sisiwi itu bubar seraya menyoraki Dara. "Norak banget sih ni cewek!" gerutu Rendra tidak suka. "Tauk!! Nempel mulu sama Malvin kayak perangko!!" tambah Risky dengan nada tak kalah tidak suka nya. Seperti kemarin Dara mulai duduk di samping Malvin dan mengelap wajah Malvin yang di basahi keringat, dengan gerakan super manja dan menjijikkan. Di saat Risky dan Rendra tengah bergidik jijik. Gevan justru mengulum senyum geli nya melihat Malvin yang sebenarnya risih, namun berusaha memasang wajah sedatar mungkin. Mata nya tanpa sengaja menatap ke arah koridor. "Vin! Itu Zi nunggu lo?" Gevan menyenggol lengan Malvin. Bukan hanya Malvin, Risky, dan Rendra ikut menatap ke arah pandangan Gevan. "wih iya tuh kayak nya!" Celetuk Risky. "Samperin gih Vin! Daripada lo di gerogoti sama si nenek lampir nihh!" tambah Rendra, sembari melirik tidak suka ke arah Dara. Malvin awal nya diam, dan memperhatikan ke arah koridor. Benar saja di sana ada Zeta yang berdiri bersandar di pilar, tampak menatap ke arah lapangan. Malvin memilih bangkit berdiri, otomatis tangan Dara terlepas dari lengan nya. "Malvinn!!" Dara memberengut, dan mengejar Malvin dari belakang. Risky, Rendra dan Gevan ikut berdiri menyusul Malvin. Zeta menegakkan tubuh nya saat Malvin berjalan mendekat ke arah nya.  Apa cowok itu berpikir jika dia menunggu nya? "Gue masih lama! Lo nunggu atau pulang?" Malvin berucap datar setelah berdiri di depan Zeta. Zeta menghela nafas nya. Bukan karna pertanyaan Malvin, tapi karna Dara mulai nemplok lagi di lengan Malvin. Bukan karna cemburu. Tapi jijik. "Pulang!" balas Zeta, Malvin menatap punggung Zeta yang mulai menjauh. "Tuh Vin! Ngapain sih di lihatin terus! Biarin aja dia pulang sendiri!! Orang dia yang mau!!" Itu suara Dara. Zeta masih bisa mendengar suata itu, karna dia yang belum jauh dari lokasi. "Eh-nenek lampir diam lo!!" Gertak Risky. "Suka-suka gue lah! Ribet aja lo!" kesal Dara pada Risky. "Lagian ngapain sih d pikirin cewek itu! Gak penting! Genk nya aja udah nyampakkin dia! Ngapain mesti di peduliin!" Langkah Zeta terhenti saat mendengar kalimat terakhir Dara. Tangan nya terkepal. Siapa pun boleh merendahlan diri nya, tapi jangan pernah membawa nama genk nya. Zeta berbalik, menatap dingin namun tajam ke arah Dara. Dia mendekat kembali. "Bilang apa lo barusan?" tanya Zeta dingin. Semua yang ada di sana dapat melihat tatapan Zet yang mencekam. Namun, Dara belum menyaadari itu. Dara menyeringai, dan melepaskan tangan nya di lengan Malvin. Membalas tatapan Zeta. "Gue bilang! Kalau lo itu di buang sama genk lo! Right? Bukti nya lo ada di sini, dan sendirian! Kasihan ya nasib lo! Setelah dua tahun lalu, gagal membawa tim lo ke jenjang kemenangan! Ternyata lo malah di campakkin---" Dara menggantung ucapan nya, seraya mendekatkan wajah nya ke arah Zeta, dengan seringian yang tak lepas di bibir nya. "---Kayak layak sampah!" Lanjut nya. Rahang Zeta mengeras, dan semua orang yang ada di sana dapat melihat itu. Termasuk Malvin. Zeta mengusap rahang nya, dia membalikkan tubuh nya. Sebelum akhir nya--- Brukkk... Semua orang memekik saat Zeta mendaratkan kaki nya di kepala Dara, sampai gadis itu tersungkur. Semua orang terkejut melihat tindakan Zeta itu. Zeta menarik krah baju Dara, sampai gadis itu bangkit berdiri dengan wajah yang menahan sakit karna tendangan nya. "Lo denger! Gue akan trima lo ngerendahin gue. Tapi jangan pernah bawa genk gue!" geram Zeta. Brukkk... "Arghh..." Zeta mendorong Dara sampai membentur keras nya dinding. Kalau saja seseorang tidak menahan tangan Zeta, mungkin gadis itu akan menghajar Dara lagi. Malvin menyeret Zeta ke parkiran. Dia dapat melihat wajah gadis itu yang memerah karna amarah. Dia terus menyeret Zeta, mengabaikan rontaan gadis itu. Zet menepis kuat tangan Malvin, dia menatap tajam ke arah cowok itu sebelum akhir nya kembali menatap Dara yang wajah nya memerah karna menahan sakit di kepala dan punggung nya. Atau justru menahan amarah terhadap Zeta. "Ini peringatan pertama buat lo! Sekali lagi! Gue gak akan segan-segan ngebunuh lo di sini!" Ujar Zeta dengan gigu yang bergemelatuk. Setelah mengucapkan itu Zeta berlalu meninggalkan koridor itu. Dengan mereka yang bergidik ngeri karna ucapan Zeta. Sementara Malvin, menatap punggung Zeta yang menjauh. Ini pertama kali nya, dia melihat kemarahan gadis itu. Selain es, Zeta adalah Api yang berbahaya. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD