Zeta membuka pintu balkon kamar yang di tempati nya sekarang. Langit sudah berubah gelap dan hanya di terangi oleh bintang-bintang. Dari atas sini Zeta bisa melihat pemandangan komplek yang sudah gelap gulita, dan hanya di terangi oleh lampu-lampu jalan yang remang-remang.
Sebenarnya tempat dan kota ini nyaman dan asri. Baru dua hari Zeta menginjakkan kaki di sini, tapi jujur dia sudah merasa cukup nyaman. Kota yang tidak terlalu padat, tidak menciptakan kebisingan. Zeta merasakan ketenangan yang lebih jika di sini, namun tetap saja sejauh apa pun dia pergi dan lari tidak akan merubah apa pun. Jiwa nya tetap terasa kosong, bahkan semakin kosong.
Zeta menghela nafas nya, dan duduk di bangku yang ada di sana, menatap pemandangan langit malam yang menenangkan. Semilir angin yang menerpa permukaan kulit nya menciptakan dingin yang menyejukkan.
Zeta mengangkat kedua kaki nya ke atas bangku yang di duduki nya, memeluk lutut nya yang tertekuk dan meletakkan dagu nya di sana.
Satu detik, dua detik, tiga detik kemudian. Tanpa sadar air mata Zeta menetes tanpa di minta nya. Zeta ingin agar dia tidak meangis, tapi sakit yang di topang oleh d**a nya begitu menyiksa nya selama ini.
"Din---kenapa? Kenapa lo harus lakuin ini! Gue lebih baik kehilangan impian daripada gue harus kehilangan elo---" Lirih Zeta di kesendiran malam, tanpa merubah posisi nya sedikit pun.
Tangis Zeta semakin pecah, dan menggigit bibir bawah nya berharap isakan tangis nya tidak keluar.
"Gue tersiksa---" gumam Zeta dengan bibir yang bergetar.
Krekkk ...
Zeta tersentak saat dia mendengar seseorang membuka pintu kamar nya. Dia dengan ligat menghapus air mata nya, dan menormalkan wajah nya seperti biasa.
Zeta menoleh, dan mendapati Malvin berdiri di ambang pintu, menatap nya dengan sorotan dingin.
"Lo di suruh ke bawah sama Nyokap! Makan malam!" Ujar Malvin datar.
"Bisa gak lo ketok dulu kalau mau masuk?"
Suara dingin Zeta menghentikan langkah Malvin yang tadi nya ingin beranjak pergi.
Malvin kembali menoleh, mata nya kembali bertemu dengan mata dingin Zeta.
"Lo b***k? Gue udah ketok dari tadi! Tapi emang dasar lo nya aja yang doyan ngelamun." Sinis Malvin.
Zeta menghela nafas nya pelan, lalu kembali mengalihkan pandangan nya ke depan.
Malvin memperhatikan gerak gerik Zeta dari belakang, sebelum akhir nya menutup pintu kamar. Memilih untuk tidak ambil pusing, mau Zeta makan atau pun tidak itu bukan urusan nya. Yang terpenting dia sudah menyampaikan pesan mama nya.
"Loh! Zi nya mana Malvin? Mama kan sudah nyuruh kamu panggil." Tegur Miranda saat Malvin hanya turun sendirian.
"Udah di bilang Ma. Tapi gak tau dia mau turun apa enggak." Jawab Malvin seada nya.
"Trus kamu gak nanya gitu?" Kali ini Rahardian yang membuka suara.
Malvin mengangkat bahu nya. "Gak penting."
Miranda dan Rahardian menghela nafas secara bersamaan.
"Ya udah biar mama aja yang panggil. Heran sama kamu! Dingin banget jadi cowok! Gimana kamu bisa dapat pacar!" Omel Miranda, sembari bangkit dari kursi nya.
Malvin tidak merespon, dan tidak ambil pusing.
Baru selangkah Miranda beranjak, Zeta sudah terlihat berjalan menuruni tangga.
"Akhir nya kamu turun juga sayang." Miramda tersenyum menyambut kedatangan Zeta.
Zeta duduk di sebelah Malvin seperti tadi pagi. Di depan nya sudah tersedia nasi beserta lauk pauk yang sudah di siapkan Miranda.
"Makan ya Zi! Dari tadi pagi kamu gak makan. Trus kata Malvin tadi kamu juga gak makan bekal yng tante bikin. Kamu gak suka ya?" Miranda bertanya, seraya menatap Zeta.
Zeta mengangkat kepala nya, lalu menggeleng. "Enggak tante. Zi cuman--"
"Gak papa kok sayang. Tante gk marah. Tapi lain kali kamu makan yang teratur ya, tante gak mau kamu sakit---"
"Ntar ngerepotin!" Sambung Malvin ketus dan sinis.
"Malvin!!" tegus Rahardian tegas. "Apaan sih kamu?!"
Bukan nya takut Malvin malah semakin memasang wajah santai nya. Masa bodoh dengan kemarahan papa nya.
"Ya udah gak usah di bahas! Sekarang kita makan aja!" Miranda menghela nafas nya.
Zeta masih diam dan memperhatikan makanan di depan nya. Entah kenapa sejak tadi pagi, dia kehilangan selera makan. Walaupun makanan yang di sajikan justru makanan yang di sukai nya semua.
Tanpa Zeta sadar, Miranda sedaritadi memperhatikan Zeta yang tidak meyentuh makanan nya. Dia menatap khawatir ke arah gadis itu. Pasal nya sejak pagi tidak ada makanan yang masuk ke perut anak sahabat nya itu. Wajah Zeta juga sudah terlihat pucat pasi dan tanpa tenaga. Ada apa dengan gadis ini?
"Miranda! Aku mohon ya sama kamu! Kontrol waktu makan Zeta. Biasa nya, kalau ada keju dia pasti mau makan. Tolong aku Miranda! Perbaiki pola makan Zeta, makan dia gak teratur sejak masalah itu datang."
Miranda jadi teringat dengan ucapan Desi dua hari yang lalu saat mengantarkan Zeta ke rumah nya. Apa segitu berat masalah yang di hadapi anak remaja ini sampai benar-benar memutar balik kehidupan nya?
"Tante suapin ya Zi!" Miranda merubah posisi nya menjadi duduk di samping Zeta. Meminta Malvin untuk pindah ke tempat nya.
Zeta megangkat kepala nya, dia menatap Miranda yang kini menyodorkan sesendok nasi ke mulut nya.
Zeta membuka mulut nya secara perlahan, dan meenerima setiap suapan Miranda.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️
"Nah apa kalian semua mengerti?"
"Ngertiii Bukk!!"
"Bagus! Sekarang silahkan kalian buat latihan di buku cetak halaman 203, dan di kumpulkan sekarang!"
Bu Windy menatap sekeliling kelas XII IPA 3 yang mulai sibuk mengerjakan perintah nya. Semua siswa siswi yang di ajar nya menurut, keculi seorang gadis yang tampak diam di meja nya tanpa melakukan apa pun, selain menatap keluar jendela kelas.
Bu Windy terus memperhatikan Zeta yang sejak masuk tadi tidak bergerak sedikit pun. Bahkan di atas meja gadis itu tidak terkembang buku mata pelajaran nya, meja gadis itu kosong.
Untuk sepersekian menit Bu Windy terus memperhatijan Zeta yang menatap kosong keluar kelas. Dia memang sering memperhatikan gadis itu dari jauh, bahkan saat jam istirahat pun gadis itu tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun.
"Zeta!"
Bu Windy yang memanggil nama itu membuat perhatian satu kelas teralihkan. Semua mata kini menoleh menatap ke arah Zeta yang malah menatap keluar jendela. Apa gadis itu tidak mendengarkan suara Bu Windy?
"Zi! Kalau kamu gak niat belajar! Lebih baik tinggalkan kelas sekarang juga!" tegas Bu Windy.
Kelas hening.
Gerakan tidak di duga dari Zeta membuat semua yang melihat terperangah. Bayangkan gadis itu bangkit berdiri, sembari meraih tas nya dan berjalan dengan santai keluar kelas, tanpa mengucapkan apa pun.
"Ziii!!"Teriak Bu Windy murka. Dia tidak percaya dengan reaksi gadis itu. Pasal nya ini pertama kali nya ada siswi yang begitu berani.
Zeta menghentikan langkah nya di ambang pintu. Lalu memutar poros tubuh nya menatap guru itu.
"Berani-berani nya----"
"Bukan nya anda yang meminta saya untuk keluar?" Potong Zeta dengan suara dingin nya.
Bu Windy melongo mendengar ucapan Zeta, begitupun orang satu kelas.
"Gila si Zi! Berani banget!" Bisik Risky kepada Malvin yang duduk di samping nya.
Rendra ikut mencondongkan tubuh nya ke depan. "Wihhh gue suka banget sama gaya nya!" celetuk cowok itu.
Kelas XII IPA 3 mulai ribut membicarakan Zeta setelah gadis itu meningglkan kelas.
"Vin! Dia emang kaya gitu ya?" Risky menyenggol lengan Malvin.
Malvin mengabaikan suara Risky, dan masih sibuk mengerjakan soal latihan, melanjutkan tugas nya yang tertunda tadi.
"Vin!!"
"Apaan sih lo? Mana gue tau! Penting buat gue tau sifat dia?!" ketus Malvin saat merasa risih dengan Risky.
Risky mendengus. "Dasar manusia es lo! Cocok lo sama si Zi! Sama-sama manusia keturuan kutub utara." gerutu Risky, dan kembali menulis.
Malvin yang mendengar itu hanya menghela nafas nya, tidak ambil pusing.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️