"Tu baa lai Van, den takuik beko hipotermia nyo Van, ang paluak se lah nyo, suhu badan laki- laki ko kan angek dari padusi Van" (Trus gimana caranya Van, gua takut nanti hipotermia dia Van, lu peluk aja dia, suhu badan laki- laki kan lebih panas dari perempuan Van), bujuk Bima.
Irvanda terpaksa merangkul Tita dari belakang agar dingin yang di rasakan oleh Tita bisa berkurang.Irvanda sebelumnya sudah meminta izin pada Tita dan Tita hanya menjawabnya dengan mengangguk lemah.Upaya yang di lakukan Irvanda membuahkan hasil,badan Tita yang awalnya bergetar berangsur membaik.Udara dingin masih menusuk tubuh Tita tetapi setidaknya sudah tidak sedingin di awal tadi.
Irvanda memberikan minuman kembali dan menenangkan mereka semua yang sudah semakin cemas karena tim yang tidak kunjung datang.
"Van,itu sia tu Van?,tim tibo Van a"
(Van ,itu siapa Van?,tim datang itu Van),tunjuk Bima pada kegelapan yang berada di depan mereka.
"maa Bim?ndak ado tim disitu do Bim"
(mana Bim?,gak ada tim disana loh Bim).
"itu aaa,dari tadi nyo tagak disitu nampak dek den lai,mancaliak se ka awak nyo Van"
(itu ihh,dari tadi gua liat dia cuman berdiri disitu,dia ngeliat ke kita terus Van).
"maaa?,ndak ado nampak dek den do,emangnyo dimaa nyo nampak dek ang tu Bim?"
(manaaa? gak keliataan sama gua ,emangnya lu ngeliat dia berdiri dimana Bim?),Irvanda semakin penasaran .
Irvanda berharap Bima beneran melihat tim ,kalau bener Irvanda akan mendekatinya karena kemungkinan tim itu tidak melihat keberadaan mereka.
"itu aa,ndak nampak dek ang?,di baliak batang tu a tapi hitam se nampak dek den nyo,nyo surang se nyo Van,ndak nampak mungko nyo dek den do"
(ituu ihhh,gak keliatan sama lu ? di balik pohon itu tapi hitam aja yang keliatan sama gua ,dia sendirian aja Van,gak keliataan wajahnya sama gua).
Sekujur tubuh Irvanda langsung merinding,karena pasti yang dimaksud Bima itu bukanlah tim yang akan menyelamatkan mereka.Kalau yang di lihat oleh Bima adalah tim pasti mereka akan berjalan bersama- sama,tidak mungkin hanya satu orang saja yang berjalan ke atas.
"alah jan mancaliak jo kasitu,jan bagai- bagai jo ang,istigfar ang Bim"
(udah jangan liat kesana lagi,jangan aneh- aneh lu,istigfar lu Bim).
"dari tadi nampak dek den lai,awalnyo lai den diaman tapi nyo taruh mancaliak se ka awak Van"
(dari tadi gua liat nya ,awalnya masih gua diamin tapi dia terus ngeliatin ke arah kita mulu Van),ucap Bima pelan agar tidak didengar oleh teman- temannya yang sedang beristirahat.
"alah nahhhh,ang istigfar lah,puta arah duduak ang"
(udah lahhhh,lu istigfar aja,putar arah duduk lu).
Bima mengarahkan pandangannya ke arah lain tapi sekali- kali matanya masih mencuri padang ke arah pohon dan sosok itu masih setia berdiri di balik pohon.Bima terus beristigfar karena dia sadar hanya dia yang mampu melihat sosok itu.
Hingga tak lama terdengar adanya tim yang datang,sekarang yang di lihat Bima nyata adalah tim penyelamat.Mereka tidak tau pasti jam berapa tim pertama kali datang karena mereka sudah tidak ada satupun yang sempat melihat jam.
Tim memberikan mereka minuman dan pertolongan pertama.Setelah memberikan pertolongan pertama,mereka yang sudah lemah langsung di gendong menuju ke bawah.
Pertama tim membawa Widya dan Tita terlebih dahulu,di susul oleh Irvanda dan Rexy yang berjalan mengikuti mereka dari belakang,Hanya Irvanda dan Rexy yang masih mampu berjalan,di belakang Irvanda baru Bima dan yang lainnya yang di gendong oleh tim.
Bima yang sudah berada di gendongan tim kembali memberanikan diri melihat ke arah pohon tadi,sosok itu telah hilang bersamaan dengan tim yang datang menjemput mereka.
Bima membathin"makasih sudah jagain kami",Bima tersenyum menatap arah pohon tadi.
Bukan Bima bermaksud syirik tetapi Bima merasa sosok itu berada di sana untuk menjaga mereka,ntah itu sosok apa yang jelas kehadirannya tidak menganggu mereka sama sekali.
Irvanda berjalan beriringan dengan Rexy,sesekali mereka sempat terjatuh karena pusing di kepalanya yang semakin terasa mendenyut.Irvanda dan Rey hanya mampu berdoa dan kembali berdiri,jatuh bangun itulah yang mereka lalui di sepanjang jalan.
Pada jam 3 subuh,mereka sudah sampai di BKSDA,disana mereka kembali di beri minuman dan makanan.Tim berusaha menenangkan mereka yang sepertinya sangat trauma dengan kejadian meletusnya gunung marapi itu.
Irvanda langsung mengisi baterai Hp nya disana,hingga pada jam 4 subuh Irvanda bisa menghubungi kedua orang tuanya.
Irvanda tidak menyangka kalau kedua orang tuanya sudah berada di kantor wali nagari batu palano,ibu Irvanda terus menangis mendengarkan anaknya sudah berhasil turun ke bawah.
Irvanda meminta bantuan ke tim yang masih berada di sana untuk mengantarkannya bertemu dengan ayah dan ibunya.Sesampainya di kantor wali nagari,Irvanda langsung memeluk kedua orang tuanya.Ayah Irvanda sudah tidak mampu lagi menahan air matanya,Irvanda menenangkan kedua orang tuanya dan meyakinkan kalau dia sudah aman dan akan baik- baik saja.
"Ipan lai aman nyo buk,Ipan lai ndak baa- baa do"
(Ipan aman kok buk,Ipan gak kenapa- kenapa kok),ucap Irvanda menenangkan ibunya yang terus menangis memeluk Irvanda.
Sedangkan ayah sejak pertama bertemu tidak henti terus mengelus kepala ,tangan dan wajah Irvanda untuk memastikan kalau ini nyata anaknya dan anaknya dalam keadaan yang sangat baik.
Irvanda duduk di tengah- tengah ayah dan ibunya,Irvanda di berikan teh hangat oleh petugas yang ada disana dan mereka sedikit bertanya apakah ada bagian tubuh Irvanda yang terluka.
"Ipan lai ndak baa do buk, pak. Kawan- kawan Pan masih banyak yang di ateh buk, Ipan cuman bisa mambaok batigo urang nyo pak"
(Ipan udah gapapa kok buk,pak.teman- teman Pan masih banyak di atas buk,Ipan hanya mampu membawa 3 orang pak),Irvanda menangis di tengah- tengah masyarakat dan tim yang mengerubunginya.
"Iyo sana yo nak, beko kawan- kawan Irvan wak japuik sadonyo kaateh"
(Iya sabar ya nak, nanti teman- teman Irvan kita jemput semuanya ke atas),jawab salah seorang tim yang berjaga di sana.
"Kini aa gunonyo lai pak? Awak payah manyalamek an nyawa kawan awak di ateh pak, cuman awak se surang yang bisa bajalan di ateh tu nyo pak, delapan urang yang bisa wak tuntun ka bawahnyo"
(Sekarang apa gunanya pak?saya susah buat menyelamatkan nyawa teman saya di atas pak,cuman saya sendiri yang bisa jalan di atas sana pak,cuman delapan orang yang mampu saya tuntun kebawah),Irvanda meluapkan kekesalannya sambil menangis.
"Iko tim mangaa maengak- engak se si bawah? , nyawa urang ko mah"
(ni tim kenapa cuman planga- plongo dibawah? ,nyawa orang ini), lanjutnya.