17

1287 Words
"Iko tim mangaa maengak- engak se si bawah? , nyawa urang ko mah" (ni tim kenapa cuman planga- plongo dibawah? ,nyawa orang ini), lanjutnya. "Tanangan pak, tanangan anaknyo pak" (tenangin pak,tenangin anaknya pak),perintah tim pada ayahnya Irvanda. Ayah mengusap- usap pundak dan tangan Irvanda sambil berkata sabar padanya. "Baji pan caliaknyo pa, jan cuman janji- janji, iko bukan baru kejadiannyo pa, informasi ko lah sampai dartadi ka inyo, kecewa Ipan pa" "benci Pan liatnya pa,jangan cuman janji- janji,ini bukan baru kejadian pa,informasi ini udah sampai dari tadi sama mereka, kecewa Ipan pa",adu Irvanda pada ayahnya. " Alah nak, anggap se iko sebuah kelalaian,Ipan yang tanang yo" (Udah nak,anggap saja ini sebuah kelalaian,kamu yang tenang ya) sekarang giliran ibuknya Irvanda yang berbicara. "g****k" semua memaklumi perkataan Irvanda,bukan maksud Irvanda berbicara kasar tapi itu adalah bentuk kekesalannya karena tidak mampu menyelamatkan semua teman- temannya yang masih berjuang di atas. "Awak kini cuman mamikian kawan- kawan awak se nyo, kalau sampai kawan- kawan wak ndak turun awas kalian yo" (Saya sekarang cuman mikirin teman- teman saya,kalau sampai teman- teman saya gak turun ke bawah awas aja kalian),ancamnya. "Emangnyo ndak tadang bunyi maledak dari ateh, cuman maengak- engak se dibawah, kalian serius karajo ndak? Kalau indak baranti se lah lai" (Emangnya gak kedengaran bunyi meledak dari atas,cuman planga plango di bawah ,kalian serius kerja gak sih?,kalau gak mendingan kalian berhenti aja kerjanya) "sabarr Pan", ucap ayah Irvanda. " Ndak kayak gitu do pa, kawan Pan masih di ateh" (Bukan kaya gitu pa,teman Pan masih di atas),suara Irvanda sudah parau menahan sesak di dadanya. "Iyo kan lai sadang dijapuik tu nak" (Iya kan lagi di jemput nak),ibu kembali mencoba menenangkan Irvanda. Irvanda menangis meletakkan kepalanya di antara kedua lutut,tak lama Irvanda kembali menegakkan kepalanya dan menatap sekeliling. "Maa? Ndak ado yang bisa jawek tanyo wak do? " (mana ?gak ada yang bisa jawab pertanyaan saya?) . "Alah alah nah" "udah udah",ibu sudah tidak tahan mendengar Irvanda yang terus mengomel pada tim yang ada di sana. " Maa? maa tim penyelamat? Maa tim keamanan? Ndak ado yang bisa jawek do? Capek lah jalehan!" (manaa? mana tim penyelamat? mana tim keamanan? gak ada yang mau jawab?,jelasin cepat!). Irvanda lagi dan lagi kembali menangis,ibu dan ayah sangat iba menatap Irvanda yang seperti itu tetapi mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa. "istigfar Pan",ucap ibu lembut memengang bahu Irvanda. "Ndak kayak iko do buk, iko maengak- engak se nyo namonyo mah buk" (Gak kayak gitu buk,ini mereka cuman planga plongo namanya buk). "itu sudah suratan takdir nak",ibu memeluk Irvanda.Irvanda kembali tenang tetapi tidak berlangsung lama,Irvanda kembali meluapkan emosinya pada sekitar. " Sajaleh itu ado yang maledak di ateh" (Sejelas itu ada yang meledak di atas). "Iyo itu alah takdir nak" (Iya itu udah takdir nak) , balas ibu. "Ndak ado takdir- takdir do buk, iko namonyo nyo maengak- engak, kalau inyo capek kasitu pasti sado kawan Pan bisa di salamek an buk" (gak ada takdir- takdir buk,ini namanya mereka planga plongo ,kalau mereka cepat kesana pasti semua teman Pan bisa di selamatkan buk), ucap Irvanda tak mau kalah. Setelah lumayan agak tenang,Irvanda segera mengganti baju dengan pakaian yang lebih baik,kaos tipisnya sudah di ganti dengan kaos berlengan panjang di tambah dengan jaket tebal yang di berikan oleh ayahnya. "Pulang wak lai dih Pan" (pulang kita sekarang ya Pan),ajak ibunya Irvanda setelah melihat Irvanda lumayan tenang dari amarahnya. "iyo buk,tapi wak ka rumah sakik lu yo buk,Pan nak caliak kawan- kawan Pan lu buk" (iya buk,tapi kita ke rumah sakit dulu ya buk,Pan mau jenguk teman- teman Pan dulu buk). Ayah dan ibu mengangguk mengiyakan permintaan dari Irvanda,tanpa menunggu waktu lama mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat teman- temannya tadi dirujuk. Jam 5 subuh,Irvanda sampai dirumah sakit yang di tuju dan Alhamdulillah semua teman- teman yang berhasil dituntun kebawah tadi sudah mendapatkan penanganan dari dokter.Selama 1 jam Irvanda terus menemani temannya disana sambil sesekali memberikan semangat untuk kesembuhannya. "lah nampak dek Pan keadaan kawan- kawan Pan kan?" (udah Pan liat kan keadaaan dari teman- teman?), tanya ibu saat mereka sudah berada di kursi tunggu rumah sakit tersebut. "iyo buk,semoga se capek sehat kawan- kawan Pan buk" (iya buk,semoga saja teman- teman Pan cepat sehatnya buk) "aamiin,yo lah kini pulang wak lai dih Pan,kan lah nampak dek Pan kawan- kawan lah dapek penanganan dari dokter,kini bia istirahat kawan- kawan tu lu Pan" (aamiin,yaudah sekarang kita pulang ya Pan,kan udah Pann liat kalau teman- teman sudah mendapatkan penanganan dari dokter,sekarang biarin teman - temannya istirahat Pan), bujuk ibu. "iyo buk" (iya buk). "Pan harus istirahat lo lu,semalaman Pan ndak istirahat kan" (Pan garus istirahat juga ya,semalaman Pan gak istirahat kan). "iyo buk,Pan ikuik ibuk jo ayah pulang ka rumah" (iiya buk,Pan ikut sama ibuk dan ayah pulang ke rumah). Walaupun berat hati untuk meninggalkan rumah sakit, Irvanda terpaksa mengikuti perkataan dari ayah dan ibunya. Irvanda hanya melamun mengingat semua kenangan mereka selama ini, Irvanda terus berdoa agar mereka semua bisa pulang dengan selamat dan kembali berkumpul seperti dulu lagi. Pagi harinya Irvanda langsung berangkat untuk kembali ke rumah, di sepanjang perjalanan ayah dan juga ibu terus menyemangati Irvanda. Ibu menggenggam tangan Irvanda sambil berkata kalau teman- temannya akan secepatnya di selamatkan oleh tim yang berada di sana. Ibu dan ayah tidak mau Irvanda memikirkan yang tidak- tidak karena itu juga akan berdampak pada kesehatan Irvanda. "jan mamanuang juo nak" (jangan ngelamun terus nak). "ado yang sakik ndak Pan,kecek an lah ka apa kok ado yang sakik yo" (ada yang sakit gak Pan,bilang sama papa kalau ada yang sakit ya). "ndak ado do pa,ndak ado badan Pan sakik do" (gak ada yang sakit kok pa,gak ada badan Pan yang sakit kok). "banyak- banyak se badoa yo Pan,jan mamanuang ndak elok do nak" (banyak- banyak aja doanya ya Pan,jangan ngelamun mulu gak baik kayak gitu nak). "iyo buk" (iya buk). Di perjalanan pulang ibu dan ayah terus mengusap- usap tangan dan kepala Irvanda,Irvanda yang sudah merasa cukup nyaman mencoba menutup matanya untuk tidur tetapi perasaannya tidak bisa di bohongi,ia trauma dengan kejadian yang baru menimpanya. Sesampainya dirumah sudah banyak saudara dan tetangga yang menanti kepulangan Irvanda. Semuanya sangat bersyukur Irvanda bisa kembali dengan selamat tanpa terluka sedikitpun. Saudara dan tetangga yang berada di rumah Irvanda tidak mendesak Irvanda dengan beberapa pertanyaan, semuanya paham kalau mental Irvanda sedang tidak baik- baik, oleh karena itu sesampainya dirumah Irvanda langsung disuruh ke kamar untuk beristirahat. Irvanda memaksakan tubuhnya untuk tidur, tubuh dan juga mentalnya terasa sangat berantakan saat ini. Sekeras apapun Irvanda berusaha untuk istirahat seperti itu juga alam bawah sadarnya mengganggu waktu Istirahat Irvanda. Beberapa hari Irvanda terus begadang karena mimpi buruk yang terus menghantuinya. Hanya 1 atau 2 jam Irvanda bisa tidur dengan nyenyak, selebihnya dia hanya tidur ayam dan selalu memimpikan hal yang sama. Irvanda terus memimpikan teman- temannya,selalu Irvanda bermimpi mereka melaksanakan aktivitas seperti biasa bercanda gurau dan bercerita bersama. Hingga satu persatu kabar dari temannya sampai di telinga Irvanda, harapan Irvanda mereka bisa kembali dengan selamat ternyata tidak di izinkan oleh Allah. Allah ternyata lebih sayang pada mereka sehingga Allah menempatkan mereka secepatnya ini di sisiNya. Setiap mendapatkan kabar duka dari petugas dan keluarga, Irvanda langsung menuju ke kediaman duka untuk membantu merawat jenazah dari temannya dan mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir. Walau tidak semuanya bisa di temui oleh Irvanda karena kampung mereka yang cukup jauh sebab mereka adalah mahasiswa mahasiwi yang berasal dari berbagai daerah bahkan kota yang berbeda. Dari 18 orang yang ikut mendaki ke marapi hanya 6 orang yang dapat pulang kembali bertemu dengan keluarganya,6 orang yang selamat di antaranya adalah Irvanda,Bima,Firman,Fadli,Rofid dan Ife. Firman dan Ife adalah korban yang berhasil di selamatkan oleh warga yang ada di sana setelah berjuang semalaman,mereka berdua berhasil di evakuasi setelah Irvanda dan beberapa orang lainnya berhasil di selamatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD