POV Andika (relawan Gunung Marapi)
Hari minggu itu tepatnya pada pukul 3 sore, Andika sedang bersantai melepas penat setelah pulang bekerja. Saat sedang santai sambil memainkan handphone, Tiba- tiba terdengar bunyi gemuruh yang sangat keras. Suara gemuruh itu disusul dengan gempa, semua kaca yang ada di dalam rumah terasa bergetar, bumi yang di pijak terasa bergeser.
"Aa yang tajadi ko? "
(Apa yang terjadi?) , ucap Andika merasa tanah di bawahnya bergetar. Andika lalu keluar dari rumah melihat kearah gunung, namun gunung Marapi seakan hilang. Gunung Marapi tidak tampak dari pandangannya. Kabut tebal membatasi pandangan Andika untuk menatap Marapi.
Andika langsung melihat ke arah Gunung karena biasanya gempa yang terjadi di daerah tempat tinggalnya sering di akibat oleh gempa vulkanik dari Gunung Marapi.
Dari halaman rumah, Andika lalu berjalan ke atas menuju ladang yang ada di dekat rumahnya. Disana ada 4 orang warga yang sedang berladang, Andika mendekatinya lalu bertanya mengenai gempa yang baru saja terjadi.
"Ado aa ko da ? , kok manggaga raso tanah da, kaco rumah raso ka pacah dek getarannyo"
(Ada apa ini uda?, kok tanah rasany bergetar begini uda, kaca dirumah serasa mau pecah karena getarannya ), tanya Andika.
"Gunuang Marapi malatuih"
(Gunung Marapi meletus), jawab salah satu dari mereka. Warga yang sedang berladang tetap melanjutkan pekerjaannya. Bagi mereka kejadian ini tidak terlalu berbahaya, hanya erupsi biasa sama seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
"Yo bana malatuih Marapi, da? "
(Beneran meletus Marapi, da?), tanya Andika sekali lagi memastikannya.
"Iyo, kok ndak picayo cubo lah caliak sabanta lai, sabanta lai nampak asok nyo nah"
(Iya, kalau gak percaya liat aja sebentar lagi, sebentar lagi bakalan keliatan asalnya),ucap warga yang lainnya.
Andika terus memandang ke Gunung Marapi, Andika ingin membuktikan perkataan pekerja di ladang tadi. Namun yang terjadi hanya suara gemuruh yang terus terdengar semakin kuat. Gemuruh dari arah Gunung terus terdengar membuat perasaan Andika semakin tidak karuan.
Andika terus menatap ke langit, tak lama setelah gemuruh tadi, Andika dapat melihat asap hitam yang pekat mulai naik. Asap itu tampak sangat menakutkan, sekeliling Andika serasa seperti akan di lahap oleh hitamnya asap .
Andika mengambil handphone dari saku baju yang di pakainya , lalu menelfon ibu.
"Assalamu'alaikum, dimaa ibu? "
(Assalamu'alaikum, dimana ibu? ), tanya Andika cemas.
"Ibu di Bukittinggi, sadang di pasa bukik"
(Ibu lagi di Bukittinggi, lagi di pasar Bukittinggi), jawab ibu setengah berteriak.
"Yo malatuih Gunuang Marapi bu? "
(Gunung Marapi beneran meletus bu?), tanya Andika kembali. Padahal sudah jelas di depan matanya ada asap yang keluar dari Gunung Marapi tetapi tidak membuat Andika yakin dengan bencana yang menimpa tempat tinggalnya.
"Iyoo Marapi malatuih, sabanta lai ibu pulang, sampai abu Gunuang Marapi tu ka Bukittinggi, dari siko jaleh nampak puncak Marapi tu mangaluan asok hitam"
(Iyaa Marapi meletus, sebentar lagi ibu pulang, abu dari Gunung Marapi sampai ke Bukittinggi, dari sini puncak Marapi keliatan jelas ngeluarin asap hitam), jelas ibu.
Ternyata dari Bukittinggi Marapi terlihat sangat jelas, puncak Marapi terlihat jelas mengeluarkan asap lalu membentuk seperti awan.
Andika kembali memasuki rumah sambil sesekali bejaga- jaga melihat keluar, Andika mengalihkan rasa cemasnya dengan cara membuka berbagai sosial media yang dia punya.
Satu jam berlalu, terlihat ibu pulang dengan barang belanjaannya sambil tergesa- gesa memasuki rumah.
"Gunuang Marapi malatuih"
(Gunung Marapi meletus), kata ibu lagi saat sudah berada di dalam rumah.
"Iyo bu, tu baa lai bu? Kan lai aman wak disik bu? "
(Iya bu, trus gimana bu? Kita aman gak disini bu?).
"InsyaAllah aman, beko kok ado aa pasti di agiah tau infonyo dek pak wali"
(InsyaAllah aman, nanti kalau ada apa- apa pasti di kasih tahu infonya melalu kepala desa).
Andika membuka berbagai sosial media hingga tiba- tiba diberanda sss nya terlihat ada dua orang perempuan meminta tolong. Dua orang itu masih berada di atas Marapi, mereka terjebak di sana.
"Ibo den caliaknyo lai, iko pasti den bisa tolongan inyo mah, kok ndak baduo paling indak surang pasti bisa den salamek an ka bawah"
(Kasian gua liatnya, ini pasti gua bisa bantuin mereka. Kalau gak bisa bantu keduanya, paling tidak gua bisa selamatin salah satunya ke bawah), bathin Andika.
Andika mencoba mencari informasi dengan cara bertanya pada warga sekitar. Andika duduk di warung di dekat rumahnya, disana sudah ramai oleh warga. Andika mendekat dan duduk di warung itu, warung tempat Andika biasa jajan.
"Baa keadaan di ateh kini bang?
(Gimana keadaan di atas sekarang bang?), tanya dia pada salah satu warga yang ada di sana.
" Alum ado yang tau lai do Dika, pasti banyak korban di ateh mah, kini kan minggu "
(Belum ada yang tahu Dika, yang pasti banyak korban di atas sana, karena sekarang kan hari minggu).
Andika pun menyadari, hari minggu adalah hari banyaknya para pendaki yang masih belum turun.
Andika berfikir kalau dia hanya menunggu dibawah tentunya informasi yang di dapat akan simpang siur, Andika tidak akan tahu keadaan di atas sana dan juga tidak akan tau berapa banyaknya korban yang membutuhkan bantuan.
Andika lalu menanyakan pada beberapa temannya yang berada di sana, "ang ka ateh ndak?, bilo wak ka ateh?, wak cari infomasi ka ateh tu lah"
(Lu keatas gak? Kapan kita ke atas? Kita cari aja informasinya ke atas yok) , ajak Andika.
Ajakan dari Andika langsung di setujui oleh teman- temannya.
Andika lalu meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Sebelum ke atas, Andika mengganti sendal jepitnya dengan sepatu yang biasa digunakan untuk mendaki gunung.
"Yo lah den tunggu disiko, capek dih"
(Yaudah gua tunggu disini, cepetan ya).
Saat Andika mengenakan sepatunya, ibu menghampiri Andika.
"Kapai kama Dika? , tumben basapatu? "
(Mau pergi kemana Dika? , tumben pakai sepatu?), ucap ibu penuh curiga.
"Dika pai ka pos sabanta lu bu"
(Dika pergi ke pos dulu sebentar bu), jawab Andika berkata jujur.
"Mangaa? "
(Ngapain?), tanya ibu.
"Pai caliak keadaan se nyo bu"
(Mau liat keadaan disana aja bu).
"Owhh pai lah tapi jan ikuik lo mancari naiak ka ateh ndak, bahayo disitu kini nah"
(Owhh yaudah pergi lah tapi jangan ikut mencari juga ke atas ya, disana lagi bahaya sekarang), balas ibu memperingati Andika.
Andika hanya mengangguk. Niat hati Andika untuk ikut naik menjemput para korban ternyata di tantang oleh ibunya sendiri.
Andika tetap melanjutkan langkahnya menuju pos, Andika berangkat bersama bertiga temannya pada pukul setengah lima sore, tepat pukul 5 mereka sudah berada di pos yang ingin di tuju. Disana sudah ramai oleh tim, relawan, warga bahkan keluarga dari korban yang masih terjebak di atas Marapi.