19

1022 Words
Niat hati Andika untuk ikut naik menjemput para korban ternyata di tantang oleh ibunya sendiri. Andika tetap melanjutkan langkahnya menuju pos, Andika berangkat bersama tiga orang temannya. Pada pukul setengah lima sore mereka mulai berjalan menuju pos, tepat pukul 5 mereka sudah berada di pos yang ingin di tuju. Disana sudah ramai oleh tim, relawan, warga bahkan keluarga dari korban yang masih terjebak di atas Marapi. "Bang, baraa urang lai korban yang masih ado di ateh bang? " (Bang, berapa orang lagi korban yang masih berada di atas bang?), tanya Andika pada salah seorang petugas yang berada di sana. "Dalam pendataan masih ado sekitaran 35 urang yang masih di ateh" (Dalam pendataan masih ada sekitar 35 orang yang masih terjebak di atas), jelas orang itu pada Andika. Hati Andika semakin menggebu- gebu ingin ke atas. Andika yang juga seorang pendaki ikut merasakan kecemasan yang korban rasakan di atas sana. "Alah ado tim yang kaateh kan bang? " (Tim udah ada yang ke atas kan bang?), tanya Andika lagi. "Alah, alah ado tim pertamo ka ateh" (Udah, udah ada tim pertama yang pergi ke atas sana). "Baraa urang tu bang? " (Berapa orang emangnya bang), tanya Andika lagi dan lagi. "Palingan 8 urang, tapi tadi lai lah ado lo yang naiak 2 urang lai" (Palingan 8 orang, tapi tadi udah ada lagi yang naik ke sana 2 orang). Andika duduk terdiam, Andika berfikir ingin membantu menyelamatkan para korban, tetapi di satu sisi ibunya sudah melarang namun di sisi lai dia sangat ingin membantu mereka. Andika membayangkan kalau dia yang ada di posisi korban, tentunya Andika sangat ingin ada seseorang yang bisa menyelamatkannya dan membawanya turun ke bawah. Andika memperhatikan di sekelilingnya, banyak keluarga korban yang menangis meminta bantuan kepada tim. Para bapak yang terihat gagah dan berkharisma pun tidak malu untuk menangis dan merengek pada tim. Hati Andika semakin tersentuh, bahkan Andika juga melihat banyaknya ayah dan ibu yang tertatih berjalan menuju pos demi melihat putra dan putrinya, bahkan kalau di perbolehkan mereka ingin menjemput buah hantinya sendiri tanpa menunggu izin dari tim. Lalu tak lama datang seorang juru kunci dari Gunung Merapi, guru kunci itu adalah paman dari Andika. Andika langsung mengejar pamannya lalu bertanya. "Pai kamaa mak? " (Paman mau pergi kemana?), tanya Andika beberapa langkah di belakang pamannya. Di Minangkabau, pangggilan untuk paman atau saudara dari ibu adalah mamak. Para keponakan memanggil paman mereka dengan sebutan mamak. "Pai ka ateh, ang pai ndak? " (Pergi ke atas, lu ikut gak?), tanya paman pada Andika. "Iyo mak, pai den ciek" (Iya paman, gua ikut), jawab Dika dengan cepat. "Tunggu lu mak, den cari senter lu" (Tunggu sebentar paman, gua mau cari senter dulu). Andika meminjam senter pada warga yang ada di pos, namun tidak ada satupun yang berkenan meminjamkan untuknya. Wajar saja tidak ada yang mau meminjamkan, karena tentunya mereka juga membutuhkan senter untuk penerangan nantinya. Andika memaklumi nya, di saat seperti ini tentunya senter adalah barang berharga. Andika melihat layar handphone, terlihat jelas kalau baterai dari handphone Andika hanya tersisa 5℅. "Bisa ko mah, lai cukuik untuak den gunoan untuak ka ateh" (Ini bisa sih, cukup untuk gua gunakan pergi ke atas), bathin Andika. Tanpa pikir panjang, Andika mengambil air mineral dengan kemasan gelas . Air minum tersebut digunakan Andika untuk berjaga- jaga apabila ia merasakan haus saat mendaki nanti. " Yo lah mak, ka ateh wak lai! " (Yaudah paman, ayok kita ke atas), ajak Andika. Andika ke atas bersama pamannya, mereka berangkat beranggotakan 6 orang. Mereka terus berjalan dengan langkah cepat. Sesampainya di pos 2, Andika melihat ada rombongan yang turun membawa 1 korban yang selamat. Korban selamat itu seorang perempuan, perempuan itu di gendong salah satu tim menuju ke bawah. "Masih ado yang di ateh bang? " (Masih ada yang di atas bang?), tanya Andika saat mereka berpapasan. "Masih bang, masih banyak yang ado di ateh, ka ateh se lah langsuang" (Masih bang, masih banyak yang di atas, ke atas aja langsung) , jawabnya sambil berjalan tanpa menoleh pada Andika. Andika terus berjalan hingga menemui satu rombongan lagi yang juga tengah turun membawa satu korban perempuan. Korban kali ini terlihat sudah hampir tak sadarkan diri, separuh badannya kebawah sudah tampak mengelupas karena panas. Andika kembali bertanya pada rombongan itu. Dari rombongan itu, Andika mengetahui kalau tim PMI sudah berada di atas tetapi mereka belum mencapai cadas. Tanpa banyak pertanyaan, Andika kembali melanjutkan langkahnya ke atas. Andika bersama satu orang lainnya memutuskan untuk langsung berlari, Andika berlari dengan seorang pemuda yang berasal dari Batusangkar. Cukup puas berlari, Andika bertemu dengan tim PMI. Tim itu tampak sedang beristirahat sejenak, Andika pun memutuskan untuk ikut beristirahat melepas penatnya. "Baranti awak disiko lu bang, beko wak lanjut ka ateh liak" (Kita berhenti disini dulu bang, nanti kita lanjutin ke atas), ucap Andika pada temannya itu. Mereka sudah tampak sangt lelah karena berlari sekuat tenaga beberapa menit yang lalu. Disana Andika dan temannya minum dan makan, apa yang ada di depannya yang bisa di makan itu yang mereka konsumsi. Istirahat nya hanya digunakan Andika untuk makan dan minum, setelah makan dan minum Andika langsung bergegas melanjutkan pencariannya ke atas. "Lah pai ka ateh wak liak, korban masih banyak yang di ateh lai" (Yaudah ayok kita ke atas lagi, korban masih banyak yang berada di atas), ajak Andika. Andika berjalan ke atas bersama temannya dan anggota PMI yang di temui tadi. Setiap menemui tenda, Andika langsung membukanya dan masuk ke dalam untuk mengambil apa saja yang kemungkinan bisa membantu korban. Andika mengambil sleeping bag dan juga matras yang ada di dalamnya. Andika berharap barang yang ditemui ini bisa untuk menyelamatkan mereka yang masih bisa untuk diselamatkan. Saat sampai di cadas, Andika berteriak. Andika berteriak berharap ada yang menjawab teriakannya. Hingga terdengar suara seseorang yang memanggilnya. "Bang disiko bang, tolong bang, wak lah dingin bana bang" (Bang disini bang, tolong bang, saya udah kedinginan disini bang) , balasnya pada teriakan Andika. "Dimaa? " (Dimana?), balas Andika. "Ditenda bang" Andika berjalan lagi ke atas hingga menemukan tenda bewarna merah disana. Andika langsung membuka tendanya dan menemukan seorang pria tengah memanggu tangan disana. Pria itu hanya mengenakan celana dalam, sekujur tubuhnya sudah penuh dengan luka bakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD