“Ayah meminta kamu untuk menikah denganku,” kata Ajeng. Aku tidak menjawab pertanyaannya itu. Aku juga tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Walau sebenarnya, aku sangat kaget mendengarnya. “Kamu harus menikah denganku.” Ajeng mengulanginya kembali. Aku tertegun mendengar perkataan Ajeng. Dia meminta aku untuk menikahi dirinya. Entah, aku harus bahagia atau takut. Aku masih tidak bisa menjawab pertanyaan itu. “Hufff… baiklah. Aku paham kenapa kamu diam.” Tiba-tiba Ajeng berkata demikian. Padahal, aku sendiri belum tahu apa yang harus aku jawab. “Maksud kamu?” tanyaku. “Ya aku paham. Laki-laki seperti kamu pasti tidak mau melakukan yang aku minta. Kalian pasti hanya menginginkan kenikmatan sesaat. Sedangkan, menikah itu sebuah belenggu buat kalian,” kata Ajeng seolah paham dengan apa y

