Laki-laki itu terus maju mendekati diriku, aku sangat ketakutan. Tanpa aku sadari, air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku tidak menyangka, masa mudaku akan hancur begitu saja. Bahkan, aku akan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan setelah menikah. Ditambah lagi, aku tidak mengenal laki-laki ini.
Tiba-tiba, aku merasa laki-laki itu menghentikan langkah lakinya. Dan meraih sebuah handuk yang lain, yang berada di lemari. Kemudian, dia menutupi bagian k*********a dengan handuk tersebut. Dia juga keluar dari kamar mandi.
Aku masih terdiam di sudut kamar mandi. Aku juga terkejut dengan apa yang dia lakukan. Apakah dia mempunyai rencana yang lain untuk menyakiti diriku.
Namun, tiba-tiba dia masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dan melemparkan semua pakaianku ke mukaku.
“Cepat pakai baju kamu, setelah itu keluar dari sini,” katanya kasar.
Aku pun langsung mengenakan pakaianku, setelah yakin dia menutup pintu kamar mandi dengan rapat. Aku tidak mau tiba-tiba dia akan berubah pikiran, dan kembali menyerang diriku. Membayangkannya saja, sudah membuat aku sangat takut.
Setelah selesai berpakaian, aku langsung keluar dengan tergesa-gesa dan langsung berjalan ke pintu keluar.
“Tunggu!” teriaknya menahan diriku.
“Tuh kan, dia berubah pikiran,” kata hatiku.
Aku tidak mempedulikan panggilannya dan terus berjalan ke pintu keluar.
Namun, dia menahan pintu yang sudah sedikit aku buka.
“Aku bilang tunggu, bandel banget sih,” katanya kesal.
“Ka… mu ma… u a… pa?” tanyaku terbata-bata.
“Kamu mau diserang…”
“Tidak!” teriakku sebelum mendengar semua yang dia ucapkan.
“Stttt… jangan berisik,” katanya dengan suara pelan dan sambil menutup rapat mulutku.
“Sini kamu!” laki-laki itu menarik diriku kembali ke dalam kamar.
“Duduk!” hardiknya sambil mendorong diriku ke atas sofa.
“Kamu bisa tenang dikit enggak!” katanya.
Aku menggelengkan kepalaku. Dia terlihat sangat kesal dengan tingkahku. Laki-laki itu menghempaskan badannya di atas sofa single yang berada di sebelahku.
“Kamu yakin mau keluar?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Kamu siap diserang wartawan yang masih ada di depan pintu?” tanyanya lagi.
Aku diam tidak membalasnya. Ada benarnya perkataan dia, wartawan masih banyak di depan sana. Dan salah satu dari mereka adalah kakak iparku. Aku merasa sangat bersalah kepada kakak, karena aku tidak bisa menjaga diriku. Sehingga aku bisa berakhir di sini. Aku juga yakin, para wartawan itu pasti sudah mendapatkan gambar wajahku. Bagaimana kalau foto itu sampai jatuh ke tangan Ayah.
“Kalau kamu enggak mau ketemu para wartawan itu. Lebih baik kamu diam saja di sini. Asistenku sedang mencari jalan supaya kita bisa keluar dari sini,” katanya.
Tiba-tiba, suasana berubah menjadi sunyi. Aku juga melihat seluruh ruangan yang sangat berantakan. Sekilas, aku juga melihat laki-laki itu yang memegangi kepala yang masih mengeluarkan darah.
Aku merasa bersalah. Tetapi, dia wajar mendapatkannya. Kenapa dia harus jadi laki-laki kurang ajar tadi.
“Kenapa kamu diam aja?” tanyanya.
“Tadi kamu bilang suruh diam,” jawabku.
“Kamu paling paling ya kalau jawab orang,” katanya kesal.
“Mmmm…”
“Apa lagi?!” katanya dengan kesal.
“Aku minta maaf,” kataku.
“Baru kali ini aku melihat perempuan kayak kamu minta maaf. Bahkan menangis,” katanya seperti menghina diriku.
“Apa maksudmu!” kataku kesal.
“Ini bukan pertama kalinya aku seperti ini. Banyak perempuan yang tiba-tiba berada di sampingku tanpa busana seperti kamu pagi ini. Dan buntut-buntutnya, mereka selalu minta uang kepadaku,” katanya.
“Tapi aku enggak seperti mereka. Aku korban di sini,” kataku dengan nada tinggi.
“Korban! Hahahaha…” tawanya sangat menjengkelkan.
“Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Sekarang yang aku pikirkan, bagaimana nasib aku selanjutnya. Bagaimana sampai Ayahku tahu? Bagaimana kalau sampai anak-anak muridku tahu?” kataku membayangkan sesuatu yang mungkin terjadi.
“Kamu guru? Ada ya, seorang guru mencari sampingan sebagai p*****r seperti kamu,” katanya merendahkan diriku.
Aku langsung bangun dan menampar wajahnya. Tetapi sayang, dia langsung menahan tanganku.
“Kamu jangan sok suci. Aku kenal banyak perempuan seperti kamu,” katanya sambil mendorong aku jatuh ke sofa kembali.
“Sudah aku bilang, aku korban.” Tanpa terasa air mataku keluar dengan sendirinya.
Aku kesal dia menganggap aku wanita seperti itu. Aku tidak terima dia memperlakukan aku seperti ini.
“Diam, aku tidak suka melihat perempuan menangis di depanku,” teriaknya.
Aku tidak peduli, bahkan aku menangis dengan kencang dan sengaja membuat dia tambah jengkel. Dia bangun dari tempat duduknya. Dia terlihat gelisah dan tidak nyaman. Aku melihat dia mondar mandir dengan gelisah.
Ketika dia melihat aku, aku sengaja menambah keras tangisanku. Jika dia tidak melihatku, aku menghentikan tangisanku.
“Diam!” Dia terlihat tambah kesal dan gelisah.
“Huaaa…” Aku sengaja membuat suara tangis yang semakin keras. Tetapi sebenarnya, aku senang dalam hati. Baru kali ini aku melihat laki-laki yang begitu gelisah melihat perempuan menangis. Kemudian, dia mengambil handpone-nya dan menelepon seseorang.
“Masih lama enggak?” tanyanya kesal.
Setelah orang yang di dalam telepon menjawab, dia bukannya bertambah tenang. Tetapi semakin gelisah. Kemudian, dia melihat lagi kepadaku. Dan menghampiri diriku yang masih menangis dalam tawa.
“Oke, oke kamu mau minta apa? Kamu mau uang berapa banyak? Bakalan aku kasih, asal kamu bisa diam sekarang juga,” katanya.
“Hik… hik…” Aku sengaja membuat suara isak tangis dan sisa air mata terakhirku sengaja tidak aku hapus.
“Apa pun?” tanyaku.
“Iya apa pun,” katanya.
“Aku cuma mau kejadian ini jangan sampai terekspos di media sosial,” kataku.
“Cuma itu?!” katanya dengan entengnya.
“Apanya yang cuma itu. Itu sangat penting buatku,” kataku kesal.
“Tenang aja, tanpa kamu minta juga asistenku sudah membereskan semuanya tadi,” katanya percaya diri.
“Kamu yakin?” tanyaku tidak percaya.
“Kalau kamu enggak percaya. Ini kartu nama saya, kalau memang ada yang membocorkan kejadian hari ini. Kamu bisa menghubungi saya.” Dia meletakkan sebuah kartu nama di atas meja.
Di sana tertulis nama Andrew Alexander, CEO PT. Elief.
Jadi dia seorang CEO, pantas saja dia begitu sombong. Sikapnya yang sangat menyebalkan
“Sekarang kamu nyesel kan tidak minta yang lebih dari diriku,” katanya dengan percaya diri.
“Cih, menyesal. Enggak sama sekali,” kataku.
“Aku pikir tadi kamu meminta aku untuk tidur dengan diriku,” ejeknya.
“Apa! Dasar m***m,” kataku sambil menutupi dadaku.
“Hahaha… tenang aja. Walau aku sering melihat tubuh wanita tanpa busana, tapi aku tidak pernah berhubungan dengan mereka diluar nikah,” katanya dengan yakin.
“Kenapa? Kamu keliatannya yakin banget,” kataku tidak percaya.
“Ya, tentu saja.”
“Apa… kamu impoten?” tanyaku.
“Ets, jangan sembarang kamu. Atau kamu mau membuktikan kalau aku tidak impoten,” katanya sambil menggeser duduknya mendekati diriku.
Mendengarnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri, apa lagi membayangkannya kembali. Aku sudah berhasil lolos dari kejaran dia. Sekarang, dia mau memulainya kembali.
“Grttt… grrttt…” tiba-tiba handpone-nya bergetar.
“Hallo,” katanya dan langsung berdiri dan menjauh dari diriku.
“Huff… selamat,” kataku pelan.
“Ayo,” kata laki-laki itu dengan tiba-tiba menarik tanganku.
“Aaaa… tidak!” Aku menarik tanganku dan menutupi dadaku dengan menyilangkan tangan di sana.
“Ayo, mau…”
“Tidak!” Aku langsung menutup telingaku tidak mau mendengar apa yang akan dia ucapkan.
“Ya udah, kalau enggak mau. Kamu tunggu di sini aja sendiri,” katanya.
Apa yang dia maksud?
Aku melihat dia pergi menuju beranda kamar itu. Kemudian, dia membuka jendela kamar dan melangkahkan kakinya meloncati jendela.
“Aaaaa…” teriakku.
Andrew pun terkejut mendengar teriakkanku dan berpegangan yang kencang pada jendela.
“Ada apa, sih?” katanya jengkel.
“Kamu mau ngapain?” Aku kebingungan melihat dia yang mau meloncat keluar jendela.
“Kamu jangan bunuh diri gini. Ini dosa,” kataku sambil menahan tangannya untuk tidak melakukannya.
“Sembarangan aja. Liat yang benar,” katanya sambil menyuruh aku melihat yang berada di luar jendela.
Di sana terdapat sebuah lift yang biasa digunakan orang yang membersihkan jendela dari luar. Tetapi, ini sangat menakutkan jika harus keluar dengan menggunakan alat itu. Aku melihat ke bawah, dan merasa sangat tinggi. Bahkan, kendaraan yang berada di bawah terlihat sangat kecil nyaris tidak terlihat.
“Ayo, kamu mau naik duluan?” Dia menawarkan diriku untuk lebih dulu naik alat itu.
“Kita akan naik alat itu sampai bawah?” tanyaku ragu untuk melakukannya.
“Enggak, asistenku sudah menyewakan kamar kosong di lantai dua puluh,” katanya.
“Trus, sekarang ada di lantai berapa?”
“Lantai dua puluh lima,” jawabnya santai.
“Du… dua pu…luh lima?”
“Iya. Mau ikut enggak?” tawarnya.
“Enggak ah, tinggi.”
“Ya, udah. Kamu tunggu aja sampai para wartawan itu pergi dari luar. Paling dua hari, mereka baru pergi,” katanya.
“Eh, iya… iya, aku ikut,” kataku sambil menahan dia untuk naik. Dan karena ulahku, dia hampir saja oleng dan terjatuh. Jika dia terjatuh, tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
“Hisst… kamu ya,” katanya kesal sambil mengancingkan giginya dengan geram.
“Ups, maaf,” kataku.
“Ya, udah kalau mau ikut,” katanya yang sudah lebih dulu berada di atas alat tersebut.
“Tapi… “ aku masih sangat takut melangkahkan kakiku.
“Jadi enggak? Kalau enggak jadi aku suruh alat ini bergerak,” katanya.
“Iya… iya… tunggu.”
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk melangkah naik ke alat tersebut. Aku merasa semuanya bergoyang, membuat kepalaku oleng. Padahal, jika saat menari, aku sering melakukan tarian dengan bantuan tali, agar gerakannya lebih tinggi. Tetapi, ini sama sekali berbeda. Sekarang kita berada di lantai dua puluh lima. Kalau jatuh, bukan hanya cacat yang diterima. Bisa saja, langsung pergi ke alam baka.
Tiba-tiba langkah kaki tidak berpijak dengan pas, sehingga membuat tubuhku oleng. Seketika Andrew langsung memeluk diriku, untuk menahan tubuhku agar tidak jatuh.
“Kamu bisa tenang enggak sih,” katanya.
Aku hanya terdiam mendengarkan omelannya.
“Kamu mau kita jatuh,” katanya kesal. Tetapi, tangannya masih tetap berada di pinggangku.
Aku pun masih setia memegangi lengannya dengan erat. Dia yang sadar, kemudian melepaskan tangannya dari pinggangku. Namun, tiba-tiba alat ini bergoyang dan membuat aku merasa seperti akan jatuh.
“Aaaa….” Teriakku sambil memeluk lehernya.
Dan salah satu tangannya juga memegangi pinggangku. Sedangkan, tangannya yang lain memegangi pinggiran alat itu. Menahan agar kami berdua tidak jatuh. Aku merasa alat ini berayun dan sangat mengerikan.
Apakah kami akan jatuh dan tidak bisa diselamatkan.