BAB 2

1628 Words
“Kepalaku pusing sekali.” Aku memegangi kepalaku yang terasa sangat berat. Tiba-tiba selimut yang tadi menutupi badanku terbuka. Dan aku baru sadar aku tidak memakai pakaian sama sekali. “Aaaa….” Aku berteriak sambil menarik kembali selimutku. “Ini di mana? Kenapa aku bisa sampai di sini?” Aku melihat seluruh ruangan yang terasa asing buatku. Aku tidak ingat kenapa aku bisa sampai di sini. “Eeehhmmm…” terdengar suara berat dari samping aku tertidur. Dan aku membuka pelan-pelan selimut yang menutupinya. Kemudian terlihat tubuh laki-laki tanpa busana sama sepertiku. “Aaaaaa….” Teriakan ku tambah keras saat melihat laki-laki tanpa busana berada di sampingku. Aku menarik lebih banyak selimut agar menutupi seluruh badanku. Tetapi karena itu, sebagian tubuh laki-laki itu jadi lebih jelas terlihat. Aku berteriak lebih keras sambil menutup kedua mataku. Karena teriakan ku itu, laki-laki yang berada di sampingku juga ikut terbangun. Dia pun juga terkejut saat melihat dia tanpa busana di ranjang bersamaku. Kami pun saling tarik selimut untuk menutupi badan kami. “Kamu siapa?” Kami bertanya dalam waktu yang bersamaan. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya laki-laki itu. “Harusnya aku yang tanya, apa yang sudah kamu lakukan padaku.” Aku tidak mau kalah, karena aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa berada di sini. “Kamu, jangan macam-macam. Aku tahu perempuan seperti kamu cuma mau duit kan” perkataan laki-laki ini benar-benar menyakitkan. “Emang kamu pikir aku perempuan apaan?” Aku meninggikan suaraku dan memukul badannya. Tanpa sengaja selimut yang menutupi badanku turun ke bawah dan memperlihatkan belahan dadaku. “Kamu emang perempuan yang enggak benar. Dasar…” teriaknya sambil memalingkan wajahnya. Karena kesal dengan ucapannya, aku menendang punggungnya saat dia berbalik dan hendak keluar dari dalam selimut. Dia tersungkur di lantai dengan tubuh yang tidak tertutup sehelai benang pun. “Aaaaa…” Aku langsung menutup wajahku dengan selimut, agar tidak melihat tubuhnya. Tiba-tiba, selimut yang aku gunakan ditarik olehnya. Aku berusaha menahan selimutnya agar tidak tertarik olehnya semua. Dia dengan gerak cepat, naik ke atas tubuhku yang tertutup oleh selimut. Sedangkan, tubuhnya yang polos tidak tertutup apapun. Aku memejamkan mataku dengan sangat rapat, agar aku tidak bisa melihatnya. “Kenapa pakai menutup mata segala! Kamu kan udah biasa melihat tubuh laki-laki tanpa busana,” ujar laki-laki itu dengan sangat sinis. “Apaan maksudmu?” Aku melotot tidak terima dengan ucapannya. Saat aku tidak sengaja melihat tubuhnya lagi, aku kembali memejamkan mata. Ini pemandangan yang tidak boleh di lihat sebelum menikah. “Enggak usah pura-pura kamu!” Laki-laki itu mengangkat daguku dengan sangat kasar. Aku makin kesal dengan laki-laki yang tidak tahu diri ini. Aku pun menepis tangannya dari wajahku. “Awas kamu, kalau kamu enggak mau pakai baju. Biar aku yang pakai baju.” Aku berusaha mendorong tubuhnya untuk menjauh dari diriku. “Siapa bilang kamu boleh pergi!” Dia kembali mengurungku dalam selimut. “Setidaknya, tolong tutup badan kamu,” kataku sambil mengalihkan penglihatan ku dari tubuhnya. “Baiklah, kalau itu yang kamu mau.” Tiba-tiba dia masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang sedang aku gunakan. “Aaaaa… bukan itu maksudku. Pergi kamu!” Aku kembali menendang dirinya. Namun, kali ini tidak berhasil. Dia menahan kakiku dengan tangannya. Dan dia merangkak di atasku di balik selimut yang sama-sama menutup diri kami. Aku terus meronta-ronta agar tubuhnya bisa menjauh dari diri. Namun, tenaganya lebih besar dari yang aku perkirakan. Aku berusaha menahan tubuhnya dengan kedua tanganku agar tubuh kami tidak saling menempel. Tetapi dengan mudahnya, dia menggunakan satu tangan mengikat kedua tanganku, dan membawanya ke atas kepalaku. “Udah kamu enggak usah pura-pura menolak,” kata laki-laki itu dengan senyum sinisnya. “Kamu kurang ajar,” teriakku sambil mencoba melepas ikatannya. “Kalau kamu terus seperti ini, aku semakin suka main sama kamu.” Laki-laki ini benar benar seorang hidung belang, aku sangat kesal melihatnya. Kelakuan dengan tampang sangat jauh berbeda. Baru saja aku mau membalas perkataannya, tiba-tiba ada orang yang mendobrak masuk ke dalam kamar ini. Seketika, kamar ini ramai dengan banyak orang. Mereka semua membawa kamera dan dengan gerakkan cepat langsung mengambil foto kami berdua. Spontan laki-laki itu langsung bangun dari atas diriku. Aku juga langsung menutupi mukaku dengan selimut agar orang-orang ini tidak bisa melihat diriku. Walaupun, tadi beberapa wartawan sudah mengambil beberapa gambar yang terdapat wajahku di dalamnya. “Siapa kalian… keluar kalian semua… sembarangan aja kalian masuk ke sini. Bagaimana keamanan hotel ini.” Laki-laki di sampingku terus berteriak mengusir para wartawan. Aku juga mendengar laki-laki ini mengangkat telepon dan menghubungi bagian resepsionis hotel. Dia meminta bagian keamanan untuk datang ke kamar dan mengusir para wartawan ini. Dan tidak lama kemudian, para wartawan itu dapat diusir dari kamar. “Aaaaa….” Teriakku saat laki-laki ini menyingkap selimut yang menutupi diriku. “Mau sampai kapan kamu sembunyi di sana.” Dasar laki-laki tidak berperasaan. Bahkan, dia dengan santainya melilitkan handuk kecil di depanku. Padahal, tidak ada satu helai benang pun yang menutupi k*********a. “Emang enggak tahu malu,” kataku sambil memalingkan wajahku. “Coba kamu bilang sekali lagi! Siapa yang enggak tahu malu,” katanya sambil melempar bajuku yang berserakan di lantai. “Dasar… cowok mesum.” Aku menarik semua selimut dan melilitkan ke seluruh tubuhku dan berniat membawanya ke kamar mandi. Aku pun juga berusaha memungut semua pakaian yang berserakan di lantai. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang mengangkat tubuhku dan menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. “Apa maksud kamu tadi…” laki-laki ini terlihat kesal dengan umpatan yang aku berikan padanya. “Cowok mesum.” Aku mengulangi umpatan yang sama. “Aku bahkan belum melihat tubuh kamu sama sekali. Berani beraninya kamu menyebut aku mesum.” Dia sangat tidak terima perkataanku. Kemudian, dia buang baju yang dari tadi dengan susah payah aku pungut. Kemudian, dia mencoba menarik paksa selimut yang sedang melilit badanku. Dan mulai terlihat sebagian tubuhku. Laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya saat tubuhku sudah mulai terlihat sedikit. “Kamu mau tahu bagaimana cowok m***m itu…” Dia terlihat sangat marah. “Jangan… jangan… tolong… jangan seperti ini.” Aku terus menahan selimut yang masih tersisa menutupi tubuhku. Tetapi kekuatan laki-laki yang sedang marah memang sangatlah kuat. Aku tidak bisa melawan tenaga laki-laki ini. Dengan satu tarikan yang keras membuat selimut itu terlepas seluruhnya dari tubuhku. Semua tubuhku terlihat dengan jelas olehnya, tanpa sehelai benang pun menutupinya. Aku hanya berusaha menutupi tubuhku dengan tangan dan mencoba meraih bantal yang terdekat. Aku pun bergerak menjauh dari laki-laki yang gelap matanya. Aku berusaha serapat mungkin menutupi tubuhku dengan bantal. Dan berjalan menjauhi laki-laki itu. Namun, laki-laki itu terus bergerak maju menghampiri diriku. Aku sangat ketakutan, setiap benda yang aku temui pasti aku lempar ke arahnya. Tetapi, laki-laki itu dengan tangkas menepis semua benda yang aku lempar. Aku sangat ketakutan, laki-laki yang ada di depanku ini seperti sedang kesurupan. Sampai aku melempar asbak dari kayu dengan ujung runcing dan tidak sengaja mengenai jidatnya. Dia tidak merintih kesakitan, padahal darah mulai keluar dari jidatnya. Dia hanya menghapus darah tersebut dengan tangannya. Dan itu tidak membuat dia diam. Namun, membuat dia semakin murka terhadapku. Langkah kakinya tiba-tiba saja menjadi sangat cepat mendatangi tempatku. Aku tidak sempat melarikan diri dan dia berhasil menangkap diriku. Kemudian, dia menindih tubuhku yang sudah terjatuh di atas sofa panjang yang berada di tengah kamar ini. Tanganku masih erat memegang bantal yang masih bisa menutupi badanku ini. Tiba-tiba laki-laki itu kembali mengunci ke dua tanganku di atas kepalaku dengan satu tangannya. Dan tangannya yang lain mengambil bantal yang tadi menutupi badanku. Sekarang, aku terlihat sangat-sangat polos tanpa ada yang menutupi. Bahkan, kakiku juga tidak bisa aku gerakan karena dihimpit oleh tubuhnya yang kekar. Laki-laki itu sudah menggunakan celana panjangnya. Namun, dia belum mengenakan bajunya. Masih bisa terlihat jelas otot-otot d**a dan perutnya yang sangat seksi. Bahkan, jarak otot-otot itu tidak jauh di atas tubuhku ini. “Jangan… tolong…” Aku memelas, meminta untuk dilepaskan olehnya. “Sttt…” kata laki-laki itu sambil meletakan jari telunjuknya di bibirku. Tangan laki-laki itu mulai meraba perutku yang rata, terasa getaran aneh dari dalam tubuhku setelah menerima sentuhannya. Aku terus meronta agar bisa terlepas dari dirinya. Namun, percuma, dia sangat kuat. “Kamu yang bilang aku adalah cowok m***m. Akan aku tunjukan seberapa mesumnya aku.” Laki-laki ini terus memainkan tangannya di perutku dan mulai bergerak pelan ke atas. Dan tangannya hampir menyentuh buah dadaku. “Jangan…” teriakku. “Sstttt… kamu mau semua orang tadi masuk ke sini lagi.” Dia memerintahkan ku untuk diam. “Biarin saja, asal kan bisa lepas dari kamu.” Aku terus meronta agar bisa melepaskan diri dari ikatannya. “Yakin kamu minta aku berhenti.” Laki-laki itu terus menggodaku dengan belaian tangannya yang masih setia bermain di atas perutku. “Atau kamu mau mencoba mulutku yang bermain di sana?” Laki-laki m***m ini tidak mau melepaskan aku. “Lepaskan….” Aku mendorong dengan sekuat tenaga laki-laki itu, sehingga dia menjauh dari tubuhku. Dan aku lanjut menendang perutnya, sehingga membuat dia terjatuh. Bahkan, kepalanya juga menabrak pinggiran meja. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari mengambil semua pakaianku dan berlari ke kamar mandi. Laki-laki itu terus mengusap kepalanya yang terbentur. Saat dia tersadar aku lari ke kamar mandi, dia pun berusaha mengejarku. Dia berhasil mengambil salah satu pakaianku yang sudah aku pungut. Daripada aku tertangkap lagi olehnya, aku melepas semua pakaian yang tadi ada dalam genggamanku. Aku melanjutkan lari ke kamar mandi, dia pun terus mengejarku. Belum sempat aku mengunci pintu kamar mandi, dia sudah datang mendorong pintu tersebut dengan sangat kencang. Raut wajahnya terlihat lebih menyeramkan dari yang tadi. Bahkan, darah juga mulai mengalir dari jidatnya yang terluka dua kali di tempat yang berdekatan. Aku berusaha meraih handuk yang ada di kamar mandi, dan melilitkannya di tubuhku. Dia terus maju ke tempatku berdiri, pelan namun pasti. Aku sangat takut, apa yang akan laki-laki ini perbuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD