Chapter 6

1067 Words
Laura sungguh masih tidak menyangka bahwa dirinya telah hamil. Ia memang pernah melakukannya bersama Alex dulu. Hanya saja yang membuatnya bingung adalah, ia tidak menyadari kehamilannya itu hingga kini. Dirinya memandang test pack yang menampilkan dua garis merah. Dia sudah tahu apa yang akan dilakukannya sekarang. Meski itu termasuk hal yang sangat berani.  "Apa kau sudah siap?" Pertanyaan itu membuat Laura dengan cepat memasukkan test pack ke dalam tas miliknya. "Sudah. Ayo kita berangkat." Justin menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan Laura menuju mobilnya. Justin membukakan pintu untuk perempuan itu. "Aku ingin memastikan lagi, kau yakin akan melakukan ini?" tanyanya. Laura menganggukkan kepalanya dengan mantap. --------- Alex benar-benar menepati janjinya untuk pergi ke acara panti asuhan. Acara itu adalah acara penggalangan dana untuk panti. Pihak panti asuhan akan membuka bazar dan menjual beberapa barang. Memang tidak terlalu banyak dana yang dihasilkan dari acara seperti ini, namun setidaknya dapat melatih anak-anak untuk berusaha berdagang.  "Apa aku terlihat berlebihan dengan pakaian ini?" tanya Alex. Jessica yang akan memoleskan pelembab bibir pun menggelengkan kepalanya setelah melihat pantulan  Alex di cermin. "Kau terlihat sangat tampan seperti itu." "Aku memang selalu tampan." "Tapi aku bosan melihat kau dengan setelan jas itu." "Ah, aku paham maksudmu. Kau bosan melihat aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja." "Akhirnya kau paham." Jesicca telah selesai memoleskan pelembab bibirnya. "Ayo kita berangkat. Mommy pasti sedang menunggu." Jessica memasukkan beberapa alat make up ke dalam tasnya kemudian berbalik badan dan menatap Alex. "Tunggu sebentar," sahut Alex seraya menatap Jessica dengan kening berkerut. "Ada apa di wajahku?" tanya Jessica penasaran. "Apa ada yang salah?" tanyanya lagi. Alex mendekat kemudian menggerakkan tangannya untuk mencapai wajah Jessica. "Diamlah sebentar," wajah Alex terlihat serius. "Ada sesuatu di kelopak matamu. Pejamkan mata sebentar." "Ah benarkah? Apa eyeliner-ku berantakan?" "Pejamkan matamu sebentar." Jessica merasa bingung namun pada akhirnya ia memilih mengikuti permintaan Alex untuk memejamkan matanya. Cupp.. Jessica baru sadar apa yang dilakukan Alex ketika merasakan bibirnya dilumat oleh lelaki itu. Dirinya langsung membuka matanya kemudian mendorong d**a Alex. "Alex!" pekiknya. Alex pun terkekeh karena berhasil mempermainkan Jessica. Jessica kemudian kembali bercemin dan melihat bibirnya berantakan karena ulah Alex. "Bibirmu terlalu menggemaskan, aku tidak tahan." "Astaga, Alex. Aku jadi harus merapikannya lagi." Jessica mengambil tisu kemudian membersihkan bibirnya agar bisa mengulang memakai pelembab bibir. "Aku akan turun dan menemui Mommy. Jika lebih lama disini sepertinya kita bisa mandi lagi." "Pergilah, Alex!" usir Jessica cepat.  Alex pun terkekeh kemudian keluar dari kamar. Nampak Nyonya Brigit telah menunggu di sofa ruang tamu. "Morning, Mom." "Dimana Jessica?" "Masih berias." Nyonya Brigit lantas menganggukkan kepalanya. "Terima kasih sudah mau ikut datang ke acara ini. Pasti akan terasa ramai." "Terima kasih kembali, Mom. Maaf aku baru sempat ikut setelah beberapa tahun lamanya." Nyonya Brigit pun memberikan senyumannya. "Kau terlihat lebih muda dengan pakaian santai seperti ini." "Memangnya aku sudah tua, Mom? Oh ayolah. Putramu ini masih sangat muda." Nyonya Brigit pun terkekeh melihat ekspresi Alex. "Aku sudah siap. Ayo kita berangkat," ucap Jessica yang baru saja datang. --------- Suasana bazar tidak terlalu ramai. Seperti yang biasa terjadi. Hanya ada beberapa pengunjung yang merupakan donatur tetap di panti asuhan ini, salah satunya adalah Nyonya Brigit. "Alex, Jessica. Mommy akan bicara dengan Nyonya Alice. Beliau ketua yayasan ini. Kalian silahkan berkeliling dan belilah yang membuat kalian merasa tertarik." Alex dan Jessica menganggukkan kepalanya. Mereka memang terlihat lebih muda dengan pakaian santai seperti itu. Meski sesungguhnya mereka tidak setua itu. Akan tetapi kali ini, mereka lebih terlihat seperti dua orang yang tengah berpacaran dibandingkan sepasang suami istri. "Lihatlah, Lex." Jessica menunjuk sebuah stand dengan anak kecil yang berteriak menawarkan dagangannya dengan begitu bersemangat. "Ayo kita kesana," ajak Alex. Jessica menganggukkan kepalanya kemudian mereka melangkah kesana untuk melihat lebih dekat apa yang ditawarkan oleh stand tersebut. "Selamat datang di toko kami," seorang perempuan yang sepertinya berusia sekitar sepuluh tahun menyapa Alex dan Jessica dengan penuh semangat. "Apa saja yang kalian jual?" tanya Alex. "Kami menjual  BEC. Ini sangat lezat dan kami sendiri yang membuatnya." Jessica merasa takjub dengan anak-anak itu. Mereka pasti sudah pintar memasak mengingat bazar ini dilakukan setiap sebulan sekali. Pasti sudah beragam makanan yang mereka sajikan. Nyonya Brigit menjelaskan bahwa setiap anak akan dibentuk kelompok yang berbeda setiap bulannya dan setiap kelompok wajib membuat stand untuk menjual sesuatu. Sejauh ini yang paling sering adalah makanan. Mereka akan menjual menu yang berbeda dan memasak bersama-sama. Tidak ada persaingan yang ditetapkan. Semuanya diajarkan agar bisa bekerja sama, berusaha, bekerja keras, dan kemampuan lainnya yang bisa mereka dapatkan adalah pandai memasak. Konsep yang sangat bagus sekali untuk mereka. BEC sendiri adalah makanan berupa sandwich yang berisi bacon, telur, dan keju buatan bodega. Sebuah kombinasi sarapan yang hebat. Untungnya mereka tadi tidak sarapan terlebih dahulu. Nyonya Brigit sudah mengingatkan bahwa akan ada begitu banyak makanan yang bisa dinikmati disini.  Hal tersebut memang benar. Ada banyak stand dan tentu rasanya ingin mencicipi semuanya. "Kami membeli dua." Anak itu terlihat sangat bahagia mengetahui makanannya akan dibeli. Ia menganggukkan kepala dengan semangat kemudian mulai menyiapkan BEC tersebut untuk diberikan kepada Alex dan Jessica. Setelah siap, sang anak menyebutkan total harga yang harus dibayarkan. Alex mengeluaran uang dari dompetnya kemudian memberikan uang dengan total sepuluh kali lipat dari harga yang harus dibayarkan. Anak itu terlihat terkejut dan sempat menolak. Ia meminta dengan uang pas saja. "Tidak papa. Ah, dan tolong berikan lebih banyak untuk anak laki-laki yang berteriak itu," ujar Alex seraya menunjuk anak laki-laki yang terus saja berteriak agar mengundang para penjual datang. Anak perempuan itu dan Jessica pun ikut terkekeh. "Terima kasih banyak Tuan dan Nyonya," ucap sang anak kecil itu kemudian. Acara ini diadakan di halaman depan panti yang sangat luas. Biasanya warga sekitar atau pengemudi yang melihat acara ini akan mampir dan membeli beberapa makanan. Sejauh ini kondisi mulai ramai pengunjung dan beberapa stand mulai didatangi oleh pembeli. Alex mengajak Jessica untuk duduk di sebuah kursi supaya mereka bisa menikmati sarapan pertama mereka kali ini. "Sebaiknya kita duduk dulu untuk menikmati ini." Jessica menganggukkan kepalanya. Mereka mulai duduk dan menikmati sandwich tersebut. "Di dekat kita ada yang menjual minuman. Bagaimana jika setelah menghabiskan ini kita membeli itu." "Tentu saja," ujar Alex setuju. "Anak-anak disini pasti dididik dengan sangat baik."  Jessica menatap kagum kepada setiap anak terdekat yang dilihatnya. Cara mereka bersikap sudah sangat baik dan usaha mereka benar-benar menakjubkan. Ia menjadi sedikit miris melihat keberadaan anak-anak yang begitu lucu begini namun dibuang oleh orang tuanya. Mayoritas anak-anak penghuni panti ini ditemukan di depan pintu. Itu artinya mereka dibuang oleh orang tua mereka. Beberapa anak diselamatkan dari kasus penjualan anak.  "Ya. Aku mungkin akan memberikan dana lebih banyak lagi untuk mereka." Jessica tersenyum hangat. Nyonya Brigit sudah memberikan begitu banyak dana sehingga mereka bisa menyelanggarakan kegiatan ini setiap bulan meski keuntungannya tidak seberapa. Lalu bila Alex ingin menyumbang lebih banyak lagi, pasti pendidikan anak-anak ini bisa terjamin hingga mereka lulus perguruan tinggi. "Bicara tentang anak. Aku ingin segera memiliki anak juga," ujar Alex.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD