Laura dan Justin telah tiba di tempat tujuan mereka. Ketika mobil berhenti, Justin menoleh ke arah Laura untuk menatap gadis itu. Raut wajahnya berubah menjadi serius. Ia sebenarnya merasa sedikit heran mengapa secara tiba-tiba Laura ingin pergi ke tempat seperti ini. Hanya saja karena merasa ingin melindunginya, Justin pun memilih untuk mengantar Laura. Ia ingin memastikan gadis itu merasa baik-baik saja. Justin berharap gadis itu akan merasa lebih baik setelah keluar rumah seperti ini. Setelah beberapa waktu, akhirnya Laura mau keluar rumah. Gadis itu akhir-akhir ini hanya berada di kamarnya saja dan tidak mau keluar. Semoga saja menghirup udara segar dan bersosialisasi dengan lingkungan luar seperti ini bisa membantu Laura mengurangi rasa sedihnya.
"Apa kau yakin?"
"Kita sudah berada disini, Justin."
Laura pun melepas sabuk pengamannya. Ia lantas membuka pintu mobil dan keluar. Justin segera mengikuti hal itu namun merasa masih sangat ragu. Akan tetapi benar yang diucapkan oleh Laura. Mereka sudah berada disini.
"Aku hanya heran mengapa kau tiba-tiba ingin datang kemari."
Seharusnya ia tidak mengucapkan hal tersebut. Hanya saja Justin tidak memiliki bahan pembicaraan apapun dengan Laura. Gadis itu kelihatannya sedang dalam keadaan mau berbicara dengannya, sehingga Justin berusaha menghadirkan pembicaraan di antara mereka.
"Aku sering melakukannya dulu. Acara ini diadakan setiap tahun."
Laura menghela napasnya. Ia mengetahui tempat ini karena Alex memberi tahu. Biasanya Laura akan datang kemari tanpa sepengetahuan Nyonya Brigit. Itu adalah hal yang dilakukan Laura agar bisa mengenal wanita itu dengan baik. Jadi Laura akan datang dan sedikit menyamar untuk mengamatinya. Meski demikian, ia tidak cukup sering melakukannya. Hanya pernah dua kali mengingat jadwalnya sebagai model yang cukup padat.
"Kalau begitu ayo kita melihat-lihat."
Justin terlihat antusias menatap stand yang ada. Ia kemudian menggenggam tangan Laura dan menariknya dengan lembut. Mengajaknya melangkah bersama menuju salah satu stand.
"Aku tidak akan membiarkanmu terlalu lama disini. Kau masih terlihat pucat."
Meski Justin senang pada akhirnya Laura mau ke luar dari kamarnya, ia tetap merasa khawatir. Wajah Laura yang pucat membuat Justin khawatir kegiatan di luar rumah justru membuat keadaan kesehatan Laura memburuk.
"Ya, aku hanya akan sebentar."
-------------------
Jessica memilih untuk berpisah dengan Alex. Lelaki itu tengah berbincang bersama pemilik panti. Jessica ingin lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak. Sehingga dirinya benar-benar mendatangi semua stand yang ada. Ia juga membeli setiap makanan dan minuman yang dijual pada stand. Ia membelinya kemudian membagikannya kembali pada anak-anak yang menjaga stand. Rasanya menyenangkan sekali melihat mereka tersenyum bahagia karena Jessica.
Jessica sendiri jadi ikut merasa ingin memiliki anak. Dirinya memang tidak melakukan program kehamilan. Akan tetapi dirinya juga tidak bermaksud untuk tidak hamil. Ia hanya membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Tentu tidak bohong bila ia juga menginginkan seorang anak. Untuk saat ini, sayangnya ia belum diberikan seorang anak.
Menghadiri acara ini membuatnya menjadi merasa bahagia. Sepertinya ia semakin paham sekarang betapa kesepiannya Nyonya Brigit selama ini. Jessica masih sedikit beruntung karena memiliki ibu dan bibi Mary bersamanya. Mereka bisa membuat Jessica tidak merasa kesepian. Menjalani hidup bersama mereka rasanya menyenangkan meskipun kehidupan mereka bisa terbilang sulit secara finansial.
Lalu sekarang setelah menikah, Alex melarang dirinya bekerja. Menjalani kehidupan di mansion besar bersama ibu mertuanya tetap saja terasa sepi. Meski ada begitu banyak pelayan, tidak banyak yang bisa Jessica lakukan untuk aktivitas sehari-hari.
Jessica memperhatikan anak-anak yang berada disini. Senyumnya terus mengembang karena menyaksikan tingkah laku mereka. Memiliki anak pasti akan terasa menggemaskan. Jessica berharap ia bisa segera memilikinya.
Senyuman Jessica ketika menatap anak kecil terhenti seketika. Ia terdiam menatap seorang perempuan yang sepertinya ia kenali. Rasanya ia mengenali perempuan itu walaupun dari kejauhan. Jessica pun melangkah maju agar dapat melihat perempuan itu lebih jelas.
"Laura?" gumamnya.
Jessica kembali memperhatikannya dengan baik. Rasanya tidak mungkin Laura berada disini. Hanya saja ketika Jessica kembali memastikannya, ia benar-benar yakin bahwa itu adalah Laura. Ia kemudian mendekat untuk menghampiri perempuan itu.
"Laura? Kau disini?"
Laura menoleh dan sedikit terkejut ketika mendapati Jessica. Dirinya kemudian memberikan senyuman secara terpaksa. Menantu dari Nyonya Brigit itu pasti berada disini atas ajakan mertuanya. Mengetahui hal itu, rasanya Laura menjadi sedikit merasa iri. Bila saja saat itu Laura tetap melanjutkan hubungannya dengan Alex, maka pasti sekarang dirinya lah yang menemani ibu Alex itu melakukan kegiatannya.
"Hai, Jessica.."
Laura memberikan senyumannya. Entah itu bsia dibilang sudah termasuk senyuman penyambutan yang baik atau tidak karena Laura tidak benar-benar melakukannya dengan tulus.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu kau disini. Kau tahu acara ini?"
"Aku hanya mampir."
Laura juga tidak menyangka akan bertemu Jessica disini. Bertemu dengan perempuan itu hanya membuatnya merasa tidak baik. Ternyata rasanya cukup menyakitkan melihat Jessica begitu bahagia menjalani kehidupannya yang sekarang dengan Alex. Mereka benar-benar bahagia. Sementara Laura, justru seperti orang yang sudah memiliki harapan untuk hidup.
Laura tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya memang sengaja ingin datang kesini. Ia bahkan berencana pergi saja sekarang. Berbincang terlalu lama dengan Jessica benar-benar membuatnya merasa muak. Melihat wajah perempuan itu terlihat bahagia membuat Laura merasa menjadi sangat kesal.
Justin yang tadi mencarikan sebotol air mineral untuk diberikan kepada Laura pun merasa terkejut melihat ada Jessica. Ia segera menghampiri Laura yang berbincang bersama perempuan itu.
"Hai, Justin. Kalian datang bersama?"
Jessica merasa takjub melihat Justin yang datang bersama Laura.
"Iya. Kau juga disini?" tanya Justin.
Sebenarnya Jessica merasa sedikit canggung bila harus berhadapan dengan Justin. Dirinya hampir saja tidur dengan lelaki itu. Bahkan mereka pernah berciuman padahal sesama orang asing. Masa lalu memang kadang lumayan tidak mengenakkan.
"Ya. Aku datang bersama Alex dan Mommy. Bagaimana bila ku panggil mereka. Pasti mereka juga senang bila tahu kalian datang."
Ekspresi yang ditunjukkan oleh Laura menunjukkan bahwa perempuan itu tidak suka dengan gagasan Jessica. Meski dirinya dan Alex mengakhiri hubungan secara baik-baik. Bahkan meski Alex menganggap bahwa mereka kini adalah teman, tetap saja Laura merasakan hal yang berbeda. Terlebih saat ini dirinya tengah mengandung anak Alex. Rasanya mungkin akan berbeda untuk saat ini.
Justin yang menyadari perubahan raut wajah Laura pun sepertinya mengerti situasi. Ia paham bahwa gadis itu tidak ingin bertemu dengan Alex dan Nyonya Brigit untuk saat ini.
"Aku minta maaf, Jessica. Kami hanya mampir dan Laura sedang tidak enak badan."
Jessica pun menyadari bahwa Laura tetap pucat bahkan meski gadis itu sudah merias wajahnya dengan riasan tipis. Tetap saja gadis itu terlihat begitu kentara bahwa tengah tidak sehat.
"Kami pamit pergi dulu."
"Ah, iya. Ku harap kau segera sehat, Laura." Jessica memberikan senyumannya.
Laura pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Jessica. Semoga aku tidak sakit lagi."
"Kami duluan."
Justin kemudian menggenggam tangan Laura dan mengajaknya pergi meninggalkan Jessica.
"Hati-hati di jalan."
Jessica melambaikan tangannya. Ia menatap kepergian dua orang itu. Sepertinya Justin dan Laura memiliki kedekatan khusus. Ia pun merasa sedih karena Laura tengah sakit. Sepengetahuannya, gadis itu sudah tidak pernah terdengar lagi kabarnya di dunia entertainment. Jessica cukup tahu bahwa Laura memiliki popularitas yang baik sebagai model.
Melihat raut wajah Laura ketika dirinya menyebut Alex, membuat Jessica merasa sedikit bersalah. Gadis itu pernah bersama Alex dan bahkan sudah sampai tahap bertunangan. Bisa saja Laura masih merasa sedih karena harus berpisah dengan Alex. Bila mengingat lagi hal itu, maka dirinya teringat akan William juga. Lelaki itu bahkan pindah ke luar negeri.
Meski William mengatakan bahwa ia baik-baik saja namun kepindahannya tetap saja membuat Jessica jadi khawatir. Lelaki itu mungkin pindah supaya bisa melupakan Jessica dengan baik.
Mereka hampir menikah dan kebatalan itu tentu saja pasti menyisakan rasa sakit terhadap William. Begitu pula dengan Laura. Jessica jadi merasa tidak enak karena gadis itu sudah mau melepaskan Alex. Jessica dapat melihat pancaran cinta dan kesedihan ketika perempuan itu menemui dirinya dulu. Rasanya meski Laura mengatakan baik-baik saja, perempuan itu tetap tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Lalu sekarang bertemu dengan Laura di saat keadaan gadis itu terlihat pucat dengan tatapan mata menyiratkan kesedihan, Jessica jadi memikirkannya lagi.
"Semoga kau segera pulih, Laura. Pulih dari apapun rasa sakit yang kau alami."
Jessica berharap Laura memang tengah dekat dengan Justin saat ini. Justin terlihat begitu perhatian kepadanya. Mungkin lelaki itu menyukai Laura atau tengah berusaha menjaga Laura. Apapun itu, Jessica berharap dengan keberadaan Justin di sisinya, Laura bisa menjadi lebih baik. Jessica pun menghela napasnya. Entah bagaimana kehidupan Laura sekarang yang sebenarnya, Jessica jadi ingin memastikan agar perempuan itu tetap baik-baik saja.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanpa sadar rupanya Jessica sudah cukup lama berdiri mematung hingga tidak tahu bila Alex datang menghampirinya.
"Alex?"
"Kau melamun?"
"Tadi Laura kesini."
"Laura?"
"Ya, Laura datang bersama Justin."
"Dimana mereka? Aku tidak tahu bila Justin masih berada disini."
"Sudah pergi. Mereka hanya mampir."
Alex menyadari bahwa raut wajah Jessica menjadi berubah. Istrinya itu terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkannya.
"Ayo kita masuk," ajak Alex.
Jessica menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Alex. Dirinya masih saja berpikir mengenai Laura dan William. Jessica ingin mengetahui kabar William. Ia penasaran apakah lelaki itu baik-baik saja selama ini. Rasanya Jessica menjadi tidak enak.
Hanya saja bila dirinya memang tidak menikah dengan Alex, bukankah ada empat orang yang akan terluka? Jessica hanya berharap Laura dan William bisa dapat segera merasa bahagia.
"Alex?" panggil Jessica.
Jessica tahu bahwa Alex selama ini selalu sibuk bekerja. Lelaki itu juga hanya memusatkan perhatiannya kepada Jessica dan ibunya. Jadi tentu lelaki itu tidak memiliki niatan untuk mengetahui atau mencampuri kehidupan Laura setelah hubungan mereka berakhir. Hanya saja, Jessica ingin menanyakan apakah Alex mengetahuinya dengan baik atau tidak. Sama seperti dirinya yang mengakhiri hubungan William secara baik-baik, meski Jessica tidak yakin dengan hal itu. Laura dan Alex juga mengakhiri hubungan secara baik-baik. Hanya saja Jessica menjadi tidak yakin setelah melihat Laura tadi. Pandangan mata yang menyiratkan kesedihan serta ditambah wajahnya yang pucat membuat Laura terlihat seperti perempuan yang tidak bahagia.
"Apa menurutmu, Laura bahagia menjalani hidupnya saat ini?"