Justin merasa ada hal yang mengganggu pikiran Laura sehingga gadis itu hanya diam saja. Laura bahkan menjadi pendiam setelah mereka bertemu Jessica. Justin sendiri tidak paham mengapa Laura justru ingin datang ke tempat itu. Dirinya tidak tahu bahwa Jessica serta Alex berada disana. Kebungkaman Laura sungguh membuatnya jadi merasa khawatir. Justin hanya tidak ingin perempuan itu kembali seperti sebelumnya. Keadaan Laura setelah Alex menikah dengan Jessica benar-benar menyedihkan.
"Bagaimana jika kita makan di restoran?"
Laura menggelengkan kepalanya.
"Belanja? Kau bisa menambah koleksi ruangan wardrobe-mu."
"Kita pulang saja."
"Aku tidak suka melihatmu seperti ini."
Laura pun menghela napasnya. Ia kemudian menatap ke arah Justin.
"Pergilah dariku, Justin. Berhenti melakukan semua ini."
Laura tidak pernah meminta Justin untuk tetap berada di sisinya. Ia bahkan sudah mengusir lelaki itu berulang kali. Dirinya hanya ingin ketenangan. Ia butuh sendiri dan tidak butuh orang seperti Justin yang mengasihani dirinya. Laura benar-benar tidak ingin Justin terus berada di sisinya seperti ini.
"Tidak akan."
Laura masih memandang Justin dengan tatapan mata sebal. Lelaki itu benar-benar kerasa kepala.
"Apa kau tidak mengerti bahwa aku benar-benar tidak ingin diganggu oleh dirimu?"
Emosi Laura memang sering meledak. Entah sudah berapa kali gadis itu menunjukkan kemarahannya kepada Justin. Justin tidak akan menuruti keinginan gadis itu. Terakhir kali dirinya meninggalkan Laura, gadis itu hampir saja membunuh dirinya sendiri. Justin tidak suka melihat Laura seperti ini. Hanya saja ia tidak bisa berbuat apa. Tentu wajar bila Laura merasa sakit hati dan merasa ingin mengakhiri hidupnya. Gadis itu mencintai Alex dengan sangat. Hal itu yang membuat Justin sungguh merasa sakit hati.
"Kita pulang dan makan di rumah."
Laura menatap lelaki itu dan menahan napasnya. Entah harus seperti apa Laura memberi tahu lelaki itu.
"Aku membencimu, Justin."
Ucapan itu membuat Justin segera menoleh terhadapnya. Mereka berpandangan sejenak.
"Tidak bisakah kau keluar dari hidupku? Aku benar-benar muak denganmu."
Justin terdiam dan menatap gadis itu. Ia memilih untuk diam saja. Membalas ucapan Laura yang sedang marah saat ini hanya akan menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Justin mencintai Laura dan tidak ingin gadis itu merasa sedih. Bahkan meskipun Laura membencinya dan merasa muak dengan keberadaan Justin. Justin yakin gadis itu membutuhkannya.
Justin tentu tidak akan menuruti begitu saja ucapan Laura. Justin mencintai Laura dan ingin memperjuangkan cintanya. Ia dahulu sudah menyesal karena salah start dari Alex. Meskipun dirinya tahu bahwa Laura mencintai Alex namun sekarang Alex sudah bersama Jessica. Secara tidak langsung itu menjadi peluang bagi Justin dan Justin tidak ingin menyia-nyiakannya.
--------------------
Jessica masih merasa tidak bisa melupakan ekspresi Laura ketika mereka bertemu tadi. Hal itu terus saja terasa mengganggu pikirannya. Untuk itu, dirinya berniat menelepon Joanna malam ini. Perempuan itu pasti bisa memberikannya saran. Lagi pula hanya Joanna orang yang bisa menjadi tempat Jessica untuk berkeluh kesah. Dia mengetahui semuanya dan bisa menjaga rahasia dengan baik. Jessica tidak bisa memberitahukan keresahan hatinya ini kepada Alex. Ia hanya tidak ingin lelaki itu ikut merasa terganggu seperti dirinya sekarang.
Selama ini Alex memang tidak pernah menyinggung perihal Laura atau William. Bagi lelaki itu semua sudah berlalu dan mereka hanya perlu menjalani kehidupan yang sekarang. Pernikahan ini juga terjadi atas keputusan dari Laura dan William. Apapun risikonya, mereka tentu paham akan hal itu. Hanya saja Jessica tetap tidak merasa baik-baik saja dengan semua ini.
"Halo, Jo."
"Halo, Jess. Ada apa? Ku kira masalah hidupmu sudah berakhir semenjak kau menikah dengan Alex."
"Masalah pasti akan tetap datang di kehidupan kita, Jo. Aku bertemu Laura tadi."
"Laura? Mantan tunangan Alex?"
"Ya, benar. Dia terlihat sakit. Wajahnya pucat."
"Lalu?"
"Aku merasa bahwa dia sepertinya tidak bahagia. Pandangan matanya menunjukkan kesedihan."
Terdengar helaan napas di seberang sana. Jessica menanti Joanna membalas ucapannya.
"Lalu kenapa kau menelponku untuk mengatakan itu, Jes?"
"Aku merasa tidak nyaman. Laura tidak pernah aktif lagi di dunia model. Dia seolah menghilang semenjak aku menikah dengan Alex. Lalu tadi aku bertemu dengannya, ia terlihat tidak baik."
Jessica juga tidak paham mengapa ia menjadi memikirkan Laura seperti ini. Padahal sebelumnya ia sudah merasa baik-baik saja. Laura dahulu meyakinkannya dengan baik begitu pula dengan William. Entah mengapa sekarang rasanya semua keyakinan bahwa dua orang itu baik-baik saja, menguap.
"Biarkan saja begitu, Jess. Itu sudah keputusannya sejak awal. Selama ini kau juga sudah baik-baik saja, Laura masa lalu Alex dan dia sudah mengakhiri hubungannya dengan Alex, kan? Jadi berhentilah merasa tidak nyaman. Berhentilah menduga bahwa kesedihan Laura karena pernikahanmu dan Alex."
Jessica memang hanya menduga bahwa kesedihan Laura disebabkan oleh pernikahan antara dirinya dan Alex.
"William juga langsung pindah ke Paris setelah aku dan Alex menikah. Tidakkah itu terasa seperti dia menghindariku?"
"Apapun alasan William. Bila memang kepindahan itu membuat dirinya merasa lebih baik, bukankah itu sudah menjadi keputusannya, Jess? Siapa tahu dia memang benar memiliki kepentingan untuk pindah. Jika pun ia pindah karena dirimu, mungkin hanya itu cara terbaik yang dipikirkannya untuk melupakanmu."
Jessica memutar tubuhnya ke belakang ketika mendengar suara panggilan dari Alex. Lelaki itu sudah kembali dari ruang kerjanya ternyata. Jessica yang saat ini tengah berada di balkon, tentu tidak diketahui oleh Alex.
"Alex sudah kembali. Menurutmu apa yang harus aku lakukan, Jo? Aku benar-benar merasa tidak nyaman."
"Biarkan saja, Jess. Cukup jalani hidupmu tanpa memikirkan mereka. Apapun yang terjadi dengan kehidupan seseorang. Selama itu murni keputusan mereka, kau tidak perlu merasa bersalah."
----------------
Laura terbangun dan langsung merasakan mual di perutnya. Ia segera bangkit dan menuju kamar mandi. Begitu dirinya di kamar mandi, ia langsung muntah. Memang tidak mengeluarkan apapun kecuali air karena dirinya baru saja bangun pagi. Rasa mual ini benar-benar menyebalkan. Laura menjadi merasa tidak nyaman.
Setelah menyelesaikan kegiatan muntahnya, Laura segera membasuh wajah dan menyikat gigi. Ia akan melanjutkan kegiatan tidurannya di atas kasur. Ini masih terlalu pagi dan dirinya tidak memiliki jadwal apapun. Ia sudah memutuskan untuk berhenti menjalani pekerjaan sebagai model. Semenjak pernikahan Alex, dirinya mulai merasa sedih dan kehilangan. Ia memang mengonfirmasi untuk vakum sejenak. Akan tetapi, pada akhirnya Laura memilih untuk berhenti. Lagi pula ia tidak akan bisa tampil di depan kamera seolah semuanya baik-baik saja padahal dirinya sangat hancur. Terlebih saat ini ia tengah hamil. Lama kelamaan perutnya pasti akan membesar. Bila publik mengetahui dirinya hamil tanpa adanya suami atau pendamping, maka itu hanya akan menciptakan skandal yang memperburuk namanya. Ujaran kebencian dari para haters-nya bisa saja membuat hidup Laura terasa semakin buruk.
Untungnya ia memiliki cukup uang bertahan hidup. Laura juga masih memiliki sumber penghasilan lain dari properti yang disewakannya. Menjalin hubungan dengan Alex membuatnya memiliki begitu banyak properti atas saran lelaki itu. Sehingga untuk saat ini, biaya hidupnya bukanlah masalah. Lagi pula, Justin sudah memberikannya begitu banyak uang. Hal yang juga Laura tidak sukai.
Justin memang sudah siap untuk menikahi Laura karena lelaki itu benar-benar mapan. Justin memberikannya black card dan juga memastikan segala kebutuhannya tercukupi. Entah bagaimana dirinya menolak lelaki itu. Justin benar-benar memaksakan untuk membiayai hidupnya.
Justin sama seperti Alex yang tidak pernah perhitungan masalah uang. Kedua lelaki itu benar-benar sama. Alex bahkan memberikannya mansion ini. Bukan karena mereka benar-benar kaya, namun karena para lelaki itu memang tidak keberatan untuk memberikannya. Mereka tidak pelit dan sangat pengasih.
"Aku disini mengandung anaknya, dan dia hidup bahagia bersama istrinya." gumam Laura ketika mengingat tentang Alex.
Dirinya kemudian meraba perutnya itu. Ia juga tidak menyangka mengapa semuanya justru menjadi seperti ini. Awalnya Laura berpikir ini adalah sebuah kesialan yang menimpa dirinya. Hanya saja sisi egois dalam dirinya mengatakan bahwa ini adalah anugrah.
Rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali dirinya tidur bersama Alex. Mereka memang sering berlibur bersama dan melakukannya. Hanya saja Laura tidak pernah sampai hamil. Laura hanya melakukannya dengan Alex jadi tentu sudah jelas bahwa anak dalam kandungannya adalah anak Alex. Sayang sekali ia terlambat mengetahui kehamilannya ini. Bila Laura tahu lebih awal, bisa saja pernikahan antara Alex dan Jessica tidak akan pernah terjadi.
Laura melangkah keluar dari kamar mandi dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia kemudian mengambil ponselnya di atas nakas kemudian melihat deretan pesan yang masuk. Ketika melihat pesan yang dikirimkan oleh Justin, Laura menghela napasnya.
"Lelaki itu sangat kerasa kepala dan pantang menyerah."
Laura merasa sedikit lega karena hari ini Justin memiliki pekerjaan yang harus diurusnya. Sehingga untuk hari ini Justin tidak akan datang berkunjung. Lelaki itu sebenarnya sangat sibuk tetapi justru mengunjungi Laura seolah tidak memiliki pekerjaan. Padahal menurut Laura, lelaki itu tidak perlu melakukan hal seperti itu. Terlalu berlebihan bahkan meski Justin mencintai dirinya. Seharusnya lelaki yang menjadi CEO itu bisa berpikir sedikit realistis bahwa tidak semua hal yang dilakukannya bisa membuat Laura merasa luluh. Bila memang Justin sudah berjuang untuknya, namun Laura tetap tidak bisa membalas perasaannya bukankah itu wajar. Mengingat perasaan tidak bisa dipaksakan dan Laura sudah menekankan hal itu kepada Justin. Laura tidak ingin Justin membuang-buang waktu seperti itu karena sepertinya sampai kapanpun Laura tidak bisa mencintai lelaki itu.
Masih teringat jelas ketika Laura merasa bahwa dirinya berada di titik terendah ketika rasa marah, cemburu, dan kehilangan menghampiri dirinya. Itu terjadi beberapa hari setelah Alex dan Jessica menikah. Justin datang menghampirinya dan berusaha memastikan agar dirinya baik-baik saja. Hal yang membuat Laura akhirnya tahu bahwa Justin sudah menyukainya sejak lama bahkan sebelum Alex. Lelaki itu mengatakan ingin menjalani hidup bersama Laura dan ia ingin menjaga Laura. Justin ingin memastikan bahwa Laura tidak merasa sedih. Karena cinta lelaki itu, ia selalu berusaha berada di sisi Laura. Hal yang sebenarnya tidak Laura sukai karena dirinya tidak memiliki perasaan apapun terhadap lelaki itu. Meskipun dirinya sudah bersahabat cukup lama dengan Justin, ia hanya menganggap lelaki itu sebatas sahabat saja. Perasaannya sudah jatuh untuk Alex sejak lama. Alasan yang membuatnya bertahan bahkan ketika Alex merasa terpukul karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Jessica.
"Kau membenci pengkhianatan, Lex. Tapi kau masih menerima perempuan itu dan menikahinya."
Rasa mual yang kembali muncul membuat Laura reflek menutup mulutnya. Ia pun segera bangkit dari tempat tidur dan kembali menuju kamar mandi dengan cepat. Sungguh bila seperti ini terus, rasanya akan sangat tidak nyaman.
Ketika dirinya kembali ke tempat tidur, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Melihat id caller sang penelpon, Laura segera mengangkat teleponnya dengan cepat.
"Halo?"
Laura pun tersenyum mendengar ucapan sang penelpon. Dirinya merasa senang atas hal itu.
"Baiklah. Kita akan bertemu nanti. Aku akan mengirimkan alamatnya."
Sambungan telepon pun terputus. Laura tersenyum setelahnya. Hari ini akan benar-benar menyenangkan. Tanpa adanya Justin dan Laura bisa mulai menjalankan apa yang ia ingin lakukan. Laura menjadi sangat bersemangat. Dirinya kemudian menatap perutnya lantas mengelusnya. Ia berharap ini akan menjadi awal yang baik agar dirinya tidak menjadi seseorang yang begitu bersedih dalam menjalani hidup.
Ia berharap semuanya akan baik-baik saja segera setelah dirinya tiba di restoran itu. Apapun hasilnya nanti, Laura yakin setidaknya itu akan membuatnya merasa lebih baik. Yang paling terpenting adalah Laura telah berjuang dan ia berharap hasil tidak akan mengkhianati usahanya.
"Semesta pasti paham siapa yang seharusnya layak dibantu."