Chapter 9

1931 Words
"Kau menjadi lebih pendiam. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Alex menyadari hal itu semenjak mereka dalam perjalanan pulang dari panti asuhan. Kemarin Jessica begitu pendiam bahkan hingga hari ini. Jessica terlihat tengah memikirkan sesuatu. Entah apa yang  mengganggu pikiran Jessica. Alex ingin mengetahuinya dan berharap itu bukanlah masalah besar. Jessica yang mendapatkan pertanyaan seperti itu pun terdiam sejenak. Dirinya menatap Alex dan berpikir apakah sebaiknya mengatakan keresahan ini terhadap Alex.  "Katakan saja, Jess. Bukankah bila kita saling terbuka akan lebih baik?" Jessica kemudian duduk di atas ranjang. Alex yang berada di sebelahnya pun menatap dan menanti jawaban Jessica dengan sabar.  Jessica akhirnya memutuskan untuk mengatakan perasaan yang mengganggunya. Entah mengapa dirinya merasa seresah ini. "Aku memikirkan Laura." Jessica juga sebenarnya memikirkan William. Hanya saja ia tidak ingin membahas mengenai William di depan Alex.  "Ada apa?" tanya Alex lembut. "Aku merasa sepertinya Laura tidak menjalani kehidupan dengan baik. Dia terlihat sedih." Alex terdiam kemudian menatap ke depan. Ia sudah lama tidak menanyakan kabar mengenai Laura. Mereka bisa dikatakan mengakhiri hubungan secara baik-baik namun bukan berati Alex harus mengetahui kehidupan Laura dengan detail. "Kenapa itu mengganggumu?" "Karena dia mau mengakhiri hubungannya denganmu dan membiarkan kita menikah." "Jessica, kita sudah sepakat bahwa itu adalah masa lalu." "Aku hanya merasa tidak nyaman bila ternyata dia merasa sedih menjalani hidup setelah itu." Alex menarik tubuh Jessica sehingga kini memeluknya dari samping. Ia mendorong kepala Jessica sehingga gadis itu kini menyandarkan kepala di pundaknya. Alex pun mengelus rambut Jessica.  "Mungkin saja dia merasa sedih untuk beberapa waktu. Akan tetapi pasti dia akan merasa bahagia. Biar bagaimana pun Laura dulu mencintaiku. Ia pasti membutuhkan waktu untuk melupakanku, Jess." Alex memang benar. Sangat wajar bila Laura bersedih karena pastinya perempuan itu tengah berusaha melupakan Alex. Alex dan Laura hampir menikah jadi tentu saja butuh waktu bagi Laura untuk merelakannya. Hanya saja sekali lagi, entah mengapa tatapan mata menyedihkan yang tadi ditunjukkan Laura membuatnya merasa begitu resah hingga kini. "Aku khawatir dia benar-benar merasakan kesedihan yang mendalam." "Tidak apa, Jess. Laura pasti sedang dalam tahap menerima semua ini. Sama seperti William." "Bagaimana dengan William?" Jessica sebenarnya jauh lebih merasa bersalah terhadap lelaki itu. Kepindahan William ke Paris membuatnya semakin merasa tidak enak. Terakhir kali ia membicarakan mengenai William dengan Alex adalah saat William memutuskan pindah ke Paris. Hingga kini Jessica tidak tahu bagaimana kabar lelaki itu karena tidak ada yang memberitahunya. Jessica juga tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Rasanya masih begitu canggung. Untungnya sejauh ini tidak ada konflik keluarga yang timbul. Padahal awalnya Jessica akan menikah dengan William namun justru berakhir dengan Alex. Mereka satu keluarga dan tentu itu bisa saja menjadi pemicu konflik keluarga. Untungnya itu tidak terjadi. "Dia sudah memiliki kekasih." Jessica sungguh lega mendengarnya. Ia merasa senang karena akhirnya William telah memiliki kekasih. Memang bisa dibilang cukup cepat setelah William mengakhiri hubungan dengan Jessica. Hanya saja itu semua masih mungkin terjadi. Bukankah cinta bisa datang kapan saja.  "Aku senang mendengarnya." "Dia berkencan dengan model di Paris. Semoga saja undangan pernikahannya segera datang." Kabar mengenai William itu membuat Jessica merasa sedikit lega. Bila ada kesempatan nantinya, Jessica ingin berbincang santai dengan William. Layaknya teman yang akrab. Dirinya tidak berharap terjebak pada keadaan canggung bersama William karena berakhirnya hubungan mereka. William adalah lelaki baik dan Jessica sangat senang bila bisa berhubungan baik dengannya sebagai teman. Teringat kembali akan Laura, Jessica kemarin melihat Justin datang bersamanya. Justin menemani gadis itu dan terlihat menjaganya. Justin adalah sepupu Alex juga. Siapa tahu Alex mengetahui kebenarannya. Ia pun memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada Alex. Bila Laura saat ini memang tengah menjalin hubungan dengan Justin, Jessica benar-benar akan sangat merasa lega akan hal tersebut. "Kemarin Laura datang bersama Justin, Lex. Apa mereka menjalin hubungan?" Untuk masalah Justin, Alex tidak terlalu mengetahuinya. Memang di antara sepupu yang lainnya, Justin adalah yang terdekat dengan Alex. Bahkan mereka berdua sering bertukar cerita entah itu urusan pekerjaan atau cinta. Hanya saja Justin tidak pernah menceritakan dengan siapa dirinya dekat. Lelaki itu hanya menceritakan mengenai masalah cinta yang dihadapinya tanpa memberitahukan siapa gadis yang membuatnya terlihat seperti orang patah hati. Laura bersahabat dengan Justin. Setelah hubungan Alex dan Laura berakhir, mungkin saja Justin bersamanya sebagai seorang sahabat. Atau mungkin Justin menyukai gadis itu. "Aku tidak tahu. Justin tidak pernah menceritakan siapa yang dekat dengannya atau siapa gadis yang dia sukai." Bisa saja memang benar bahwa Justin saat ini tengah dekat dengan Laura. Alex tentu saja akan setuju. Laura adalah gadis yang baik. Alex sudah mengenal Laura selama mereka menjadi sepasang kekasih. Untuk itu Alex merasa bahwa Laura adalah gadis yang tepat untuk Justin. Mereka juga sudah akrab sejak lama dan saling mengenal satu sama lain dengan baik. Semoga saja dua orang itu benar-benar menjalin hubungan serius melebihi sahabat seperti selama ini. Mungkin Alex akan mulai bertanya kepada Justin bila bertemu dengannya. "Sudahlah, Jess. Memikirkan kehidupan orang lain hanya akan membuang waktu kita. Sekarang lebih baik kita tidur, oke?" Melihat raut wajah Jessica yang masih saja khawatir, Alex pun kini mendekat dan menjatuhkan kecupannya di atas bibir Jessica. "Tenanglah, Jess. Semua akan baik-baik saja." Jessica kemudian menganggukkan kepalanya. Setidaknya William sudah memiliki kekasih saat ini. Laura juga memiliki Justin bersamanya terlepas dari apapun hubungan mereka. Benar kata Alex, sebaiknya Jessica tidak terlalu memikirkan mereka. Hanya saja perasaan tidak nyaman ini terasa sulit dihilangkan. Sebaiknya Jessica harus melakukan kegiatan atau kesibukan lain supaya tidak terlalu memikirkan hal ini. "Aku besok akan berkunjung ke Ibu. Apakah boleh?" tanyanya pada Alex. Melakukan kegiatan di kebun bunganya sepertinya akan menyenangkan. "Tentu saja. Kau bisa mengajak Mommy juga jika ingin. Siapa tahu Mommy ingin ikut bersamamu." "Tetapi maaf, Alex. Aku sedang ingin quality time bersama mereka." "Ah, baiklah. Tentu saja. Lakukan apapun yang membuatmu merasa senang, Jess. Tolong titipkan salamku pada Ibu." Jessica menggumamkan terima kasih lantas menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian mengakhiri pembicaraan. Alex mengambil sebentar ponselnya di atas nakas. Hanya saja sebuah pesan yang muncul dari ponselnya. Alex pun membuka pesan tersebut. Dirinya sedikit terkejut melihat Laura yang mengirimkan pesan. Bisa dibilang ini pertama kalinya gadis itu mengirimkan pesan setelah Alex menikah dengan Jessica.  Alex terpaku membaca pesan yang dikirimkan gadis itu. Laura mengajaknya bertemu untuk membicarakan sesuatu yang penting. Hanya saja dia meminta agar Jessica tidak mengetahuinya. Alex pun membalas pesan itu dan menanyakan maksud Laura. Mengapa gadis itu meminta agar Jessica tidak mengetahuinya. Pesannya dibalas dengan cepat dan berisi sebuah foto yang sangat mengejutkan. Alex membulatkan matanya ketika melihat testpack yang dikirimkan oleh Laura. Alex kemudian menatap ke arah Jessica. Istrinya itu sudah memejamkan mata. Alex kembali menatap ke arah ponselnya. Laura mengatakan bahwa dirinya saat ini tengah hamil dan itu adalah anak dari Alex. Hal yang sangat mengejutkan bagi Alex. Ia merasa sedikit tidak percaya dengan pesan Laura ini namun gadis itu meyakinkannya untuk bertemu saja membicarakan hal ini. Meski Alex merasa tidak percaya terhadap apa yang baru saja diberitahukan oleh Laura, tetap saja dirinya menjadi merasa was was. Itu karena memang benar Alex pernah melakukannya dengan Laura. Bisa saja hal tersebut memang benar. Lalu bila memang anak yang dikandung Laura adalah anaknya saat ini, entah apa yang akan Alex lakukan. Bukankah seharusnya ia bertanggung jawab? Meski dirinya bisa bertanggung jawab, Alex tidak melakukan itu. Alex hanya menginginkan Jessica saja. Bila bertanggung jawab untuk menikahi Laura, rasanya Alex tidak mungkin melakukan hal tersebut. Jika memang benar hal itu terjadi, maka Alex hanya akan bertanggung jawab membiayai kehidupan Laura serta anaknya. Serta memastikan bahwa anaknya itu tetap mendapatkan pengakuan sebagai anak dari Alex dalam kalangan sosial. Alex juga akan memberikan warisannya untuk anak itu kelak. Ya, setidaknya itu yang dipikirkan Alex untuk saat ini. -------------------- Laura sudah merasa mantap untuk melakukan semua ini. Setelah dirinya menyusun semua rencana ini, ia hanya perlu menjalankannya. Laura pun mengusap perutnya. Ia kemudian tersenyum. Besok dirinya akan bertemu dengan Alex setelah terakhir kali bertemu dengannya sebelum Alex menikah. Jujur saja, tentu di hati Laura dia masih mencintai lelaki itu. Bahkan Laura masih mencintainya dengan sangat.  "Kita akan bertemu Papa besok, sayang." Laura berbicara kepada anak dalam kandungannya. Entah apapun reaksi Alex besok. Dirinya akan menjalankan rencana yang sudah disusunnya. Ia hanya berharap Justin tidak ikut campur dalam hal ini. Ia akan lebih mendukung Justin mencari perempuan lain untuk dicintainya.  "Sepertinya bila Justin mengetahui dirimu, dia mau saja menjadi ayah untukmu, Nak." Melihat bagaimana Justin memperlakukan dirinya beberapa waktu terakhir ini, Laura yakin Justin akan benar-benar menerimanya. Bahkan meskipun saat ini Laura tengah mengandung anak Alex. Laura sengaja tidak memberitahukan mengenai kehamilannya kepada Justin. Ia tidak ingin lelaki itu justru semakin melekat padanya. Kehamilan Laura bisa saja membuat lelaki itu khawatir. Bila berharap Justin akan meninggalkannya setelah mengetahui kehamilan Laura, peluangnya sepertinya terlalu kecil. Bahkan meski Justin mengetahui dengan baik selama ini Laura begitu terluka karena kehilangan Alex, lelaki itu masih tetap membersamainya. "Cinta yang berlebihan memang benar-benar membuat manusia menjadi bodoh." Sama seperti dirinya yang masih saja mengharapkan Alex. Padahal dirinya sendiri juga yang memutuskan untuk melepaskan Alex. Berpikir bahwa itu demi kebahagiaan Alex meskipun pada akhirnya dirinya justru menjadi seperti ini sekarang. Sama juga seperti Alex. Lelaki itu dulu begitu sakit hati dan mengatakan bahwa dirinya membenci Jessica atas semua yang telah terjadi. Akan tetapi nyatanya cinta lelaki itu lebih besar dan ia menikahi Jessica.  Begitu pula dengan Justin yang meski sudah mendapatkan penolakan terang-terangan dari Laura, lelaki itu tetap saja membersamai Laura. Justin menginginkan hubungan serius. Justin ingin dirinya dan Laura menikah lalu menjalani kehidupan layaknya pasangan yang saling mencintai. Sayangnya Laura masih mencintai Alex hingga kini.  Lalu bahkan meski pemikirannya melarang untuk melakukan semua ini, hatinya lah yang terus menuntut agar ia melakukan ini. Lagi pula semesta seolah membantunya dengan memberinya kehamilan ini. Meskipun awalnya Laura seperti orang gila yang tidak tahu harus berbuat apa dengan kehamilannya, ia akhirnya tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Laura mengira untuk adalah Alex, namun rupanya bukan. Laura pun segera mengangkat panggilan itu. "Halo, ada apa?" "Bagaimana?" Laura pun tersenyum. "Aku akan bertemu dengannya besok." "Baiklah. Jaga dirimu. Kau tahu bahwa kau sangat berharga." Ya, dirinya memang sangat berharga untuk rencana kali ini. Ia akan memastikan dirinya tetap sehat dan bertahan hidup dengan baik. Rupanya ada untungnya juga selama ini Justin menjaganya. Laura bisa bertahan hidup hingga sekarang. Bila tidak, mungkin kesempatan ini tidak pernah datang. "Tentu saja." "Aku akan mengirimkan supir untuk menjagamu." "Tidak perlu. Justin juga sudah menyiapkannya untukku." Benar sekali, Laura belum memikirkan masalah supir yang diberikan Justin. Supir itu pasti akan melaporkan segala kegiatan yang dilakukan Laura. Tadi pagi dirinya diantar juga untuk pergi ke restoran. Untungnya itu tidak terlalu mencurigakan mengingat Laura masuk ke dalam restoran seorang diri dan menghabiskan waktu cukup lama disana. Dia juga sempat mengatakan kepada supir bahwa sangat ingin makan hidangan di restoran itu.  Hanya saja perihal besok, Laura sendiri tidak tahu apakah akan aman dari pantauan supir Justin itu. Meski Justin tidak ada, pasti ia tetap akan mengawasi Laura. "Dia memang selalu memberikan yang terbaik." Justin memang benar-benar memberikan semuanya yang terbaik. Hanya saja menurut Laura itu terkesan menjadi sangat berlebihan. Justin terkesan menjadi seseorang yang sangat posesif dari sebelumnya. Secara tidak langsung, Laura menjadi merasa terkekang karena hal tersebut. "Apa aku boleh meminta bantuan lainnya?" Sepetinya ucapan-ucapan dan permintaan agar Justin menjauh tidaklah berhasil. Laura harus mulai bertindak untuk masalah ini. Ia tidak bisa terus-terusan dibatasi oleh Justin. Ia tidak ingin terjebak dalam kehidupan bersama lelaki itu dan juga tidak mencintainya. Selain itu, Laura juga tidak ingin Justin terjebak dalam kehidupan bersama Laura yang tidak mencintainya. Akan jauh lebih baik bila lelaki itu menjalani hidupnya dengan baik bersama perempuan yang bisa membalas cintanya. Tetap memaksakan untuk bisa bersama Laura hanya akan menyakiti lelaki itu dan juga Laura.  Sayangnya Justin tidak pernah mau memahami itu. Dirinya hanya tengah berjuang setelah penyesalan bahwa dulu Alex yang telah lebih dulu mendapatkan Laura. Lalu setelah itu, Justin terpuruk dalam rasa sakit dan bersikap sebagai sahabat yang mendukung Alex dan Laura. Sepertinya hal itu yang mendorong Justin sehingga tidak ingin kehilangan Laura lagi untuk saat ini. Sayangnya hal itu justru membuat Laura menjadi merasa kesal dengan sikap yang Justin sebut sebagai memperjuangkan. "Katakan saja, Laura."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD