Laura merasa sangat berterima kasih karena hari ini ia bisa menjalani kehidupan yang baru. Dirinya sudah pindah dari mansion pemberian Alex dan ia yakin Justin tidak akan bisa menemukan dirinya. Terserah nantinya lelaki itu akan bagaimana. Yang jelas untuk saat ini Laura ingin ada Justin di dalam hidupnya. Ia tidak membenci lelaki itu, hanya saja merasa sediki muak mengingat Justin begitu keras kepala. Lagi pula Laura merasa bahwa lelaki itu pantas mendapatkan yang terbaik. Memperjuangkan Laura bukanlah ide yang bagus untuk lelaki seperti Justin.
Alex sudah menunggunya di suatu tempat. Laura yakin lelaki itu pasti datang tepat waktu. Ia bukan sengaja datang terlambat hanya saja perutnya cukup sulit untuk diajak bekerja sama ketika pagi hari. Ia muntah dan berusaha menghilangkan mualnya dalam waktu yang cukup lama. Sekarang sudah lebih baik sehingga dirinya dapat berangkat. Hanya saja tidak menutup kemungkinan Laura akan tiba-tiba merasa mual nantinya.
Laura memasuki ruangan VVIP setelah seorang pelayan membukakan pintu. Nampak Alex sudah berada disana dan menatapnya. Raut wajah lelaki itu terlihat tegang. Laura pun merasa bahwa sepertinya Alex sudah tidak sabar untuk segera berbicara dengannya.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa, Laura. Silahkan duduk."
Laura menganggukkan kepalanya kemudian duduk di hadapan Alex. Alex kemudian memberikan buku menu kepada perempuan itu. Dirinya baru memesan minuman saja.
"Lama tidak bertemu. Sebaiknya kita pesan makanan juga."
Alex tadi sebenarnya sudah sarapan di rumah. Hanya saja sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Tidak ada salahnya bila ia juga makan untuk saat ini.
Laura pun segera memesan dengan cepat begitu juga dengan Alex. Lalu ketika pelayan telah keluar dari ruangan itu, mereka saling terdiam.
"Bagaimana kabarmu, Laura?"
Biar bagaimana pun, Alex dan Laura mengakhiri semuanya dengan baik-baik. Mereka juga tidak memiliki masalah apapun dan kini sepakat untuk menjalin hubungan baik sebagai seorang teman. Hanya saja memang wajah Laura nampak pucat.
"Aku tidak baik-baik saja."
Alex menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia nampak menghela napas.
"Aku masih terkejut karena kau hamil."
"Kita bisa memeriksanya ke rumah sakit bila kau tidak percaya."
Alex dapat melihat keyakinan di sorot mata perempuan itu. Dirinya bukan tidak percaya bahwa Laura tengah hamil saat ini. Hanya saja ia cukup merasa terkejut karena Laura justru hamil disaat seperti ini.
"Aku mempercayaimu, Laura. Hanya saja.."
"Aku juga terkejut dengan semua ini, Alex. Terlebih kau sudah menikah."
Keheningan pun tercipta di ruangan tersebut. Keduanya tidak tahu harus berkata apa lagi. Laura sendiri tidak tahu bila saja dirinya lebih awal mengetahui kehamilannya ini, kemungkinan besar hubungan dirinya dan Alex berlanjut ke tahap pernikahan.
"Bagaimana bisa?" tanya Alex. Ia tidak ingat kapan terakhir kali melakukannya dengan Laura. Dirinya memang melakukan kesalahan dengan tidur beberapa kali bersama Laura ketika mereka berpacaran dahulu. Hanya saja seingatnya ia selalu menggunakan pengaman. Bahkan meski telah menjalin hubungan dengan Laura saat itu, sudah bertunangan dan memiliki niat menuju jenjang serius, dirinya belum ingin Laura hamil.
Lalu sekarang perempuan itu justru hamil setelah dirinya menikah dengan Jessica. Alex merasa sedikit ragu bahwa bisa saja itu anak orang lain, namun Alex mempercayai bahwa Laura adalah gadis yang baik. Dirinya memang yang terlalu bersikap tidak baik karena mengambil kesucian gadis itu.
"Terakhir kali kita melakukannya saat berlibur bersama. Saat itu kau begitu frustrasi karena Jessica."
Laura masih mengingat saat itu. Entah apa yang menjadi penyebab Alex terlihat begitu frustrasi, ia menduga bahwa itu adalah karena Jessica menjalin hubungan dengan William. Alex kemudian mengajaknya berlibur bersama dan Alex pun mabuk berat saat itu. Laura juga mabuk berat. Lalu keesokan harinya mereka terbangun di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana.
"Kita mabuk dan melakukannya. Lalu saat pagi ketika sama-sama sadar, kita melakukannya lagi."
Alex terdiam sejenak dan kemudian mengingat saat itu. Benar apa yang diucapkan Laura. Dirinya juga baru ingat bahwa saat itu memang tidak mempersiapkan pengaman. Ia mengajak Laura berlibur dengan harapan bisa menghilangkan rasa tidak nyamannya setelah mengetahui Jessica berhubungan dengan William. Yang terjadi adalah justru dirinya menghabiskan waktu di ranjang bersama tunangannya itu, tanpa pengaman.
"Aku benar-benar meminta maaf untuk hal itu."
"Permintaan maafmu tidak akan menjadi jalan keluar untuk masalah ini, Alex."
Sebenarnya Laura merasakan kerinduan yang cukup mendalam ketika dirinya bertemu dengan Alex setelah sekian lama. Hanya saja lelaki itu bersikap seolah semua ini bukanlah masalah besar. Lelaki itu mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukannya sehingga ia hanya bisa meminta maaf. Terlepas dari semua yang tengah terjadi saat ini, Laura merasakan perasaan menyesal kembali menyusup di hatinya. Ia menatap Alex dengan sangat lekat. Lelaki itu dulu adalah miliknya. Alex dulu adalah tunangannya dan Laura sering menghabiskan waktu bersama lelaki itu. Rasanya masa-masa itu benar-benar membahagiakan. Sekali lagi, Laura rasanya benar-benar menyesal dulu mengakhiri hubungan dengan Alex begitu saja. Padahal tadinya mereka berencana untuk menikah. Laura sepertinya benar-benar bodoh ketika memiliki pemikiran melepaskan Alex saat itu.
Ah, Laura benar-benar merindukan lelaki itu berada di sisinya. Laura rindu menghabiskan waktu bersama lelaki itu dan menggodanya karena selalu serius dalam mengurus pekerjaan. Masa-masa itu akan Laura perjuangkan kembali saat ini.
"Apa itu benar-benar anakku, Laura?" tanya Alex dengan pandangan serius.
Laura menatap Alex tepat di pandangan matanya. Ia kemudian menatap cincin yang melingkar di jari Alex. Itu cincin pernikahannya dengan Jessica. Bisa-bisanya Alex meragukan apa yang Laura katakan. Lalu memangnya apa yang ada di pikiran lelaki itu? Apakah Alex berpikir ini adalah anak orang lain namun Laura mengakuinya sebagai anak Alex. Jika laki-laki itu memang memiliki pemikiran seperti itu, maka Alex benar-benar tidak memiliki perasaan.
Alex dan dirinya sudah menjalin hubungan cukup lama dan Alex mengenal Laura dengan sangat baik. Meski demikian, Alex justru tidak mempercayai dirinya seperti ini. Itu terasa, melukai perasaan Laura.
"Ya. Kita bisa membuktikannya jika kau tidak percaya. Hanya saja butuh sedikit waktu untuk melakukan hal itu. Usia kandunganku masih terlalu muda."
Laura sangat yakin bahwa anak dalam kandungan ini adalah anak dirinya dengan Alex. Untuk itu bila Alex memang meragukan dirinya, maka Laura tidak keberatan bila dirinya harus melakukan tes DNA. Entah itu setelah bayinya lahir, atau masih dalam kandungan. Hanya saja Laura tidak berharap Alex benar-benar melakukannya ketika anak ini belum lahir.
"Berapa usia kandunganmu?"
"Dua bulan."
"Sudah cukup lama."
Sudah cukup lama bahkan melebihi pernikahan Alex dan Jessica. Itu artinya Laura telah mengandung bahkan sebelum Alex menikahi Jessica.
"Laura.. Aku."
Laura hanya diam saja menatap Alex. Ia kemudian mengelus perutnya tanpa sepengetahuan Alex. Entah apa yang akan diucapkan oleh lelaki itu. Dirinya hanya sedang mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terpikirkan oleh dirinya.
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa, aku tidak bisa sendirian selama hamil dan setelah anak ini lahir."
Tentu saja Laura membutuhkan seseorang yang mendampingi dirinya. Terutama setelah anaknya ini lahir. Bila Alex menelantarkannya begitu saja, Laura benar-benar tidak akan tinggal diam. Semakin lama, anaknya akan tumbuh dewasa dan mengerti. Lalu bila saat anaknya mempertanyakan ayahnya, sementara Alex justru asik dengan keluarganya bersama Jessica. Hal itu akan membuat Laura benar-benar membenci Alex dengan sangat.
"Dia adalah anak kita," ucap Laura kemudian.
Alex menghela napasnya. Entah bagaimana cara memberitahu Jessica terkait hal tersebut. Ia juga tidak tahu bagaimana cara memberitahu Mommy terkait hal ini. Dirinya bisa saja menikahi Laura namun itu akan menjadi hal yang sulit. Jika pun tidak menikahi Laura namun hanya bertanggung jawab atas kehidupan perempuan itu dan anaknya, Alex tentu akan melakukan hal itu seumur hidupnya dan membagi waktu untuk anaknya dengan Laura serta anak dengan Jessica.
Kemarin malam Alex sudah merasa mantap akan keputusannya, hanya saja setelah melihat wajah Laura yang pucat serta tatapan mata perempuan itu yang menyiratkan kepedihan Alex jadi merasa sedikit bersalah. Pantas saja Jessica menjadi merasa bersalah setelah melihat Laura, pasalnya keadaan perempuan itu sekarang bisa dibilang cukup menyedihkan.
Laura merasakan tidak enak mulai muncul di perutnya. Ia sungguh merasa tidak enak akan hal tersebut. Akhirnya rasa itu semakin menjadi dan rasa mual kini menghantamnya. Laura secara reflek menutup mulutnya karena rasa mual yang datang. Dirinya pun ingin muntah sekarang meskipun pada akhirnya ia yakin hanya air saja yang keluar karena dia belum sarapan sama sekali.
"Laura, kau kenapa?" Alex bangkit dari duduknya.
Laura pun bangkit dan melirik ke segala ruangan sepertinya dia memang harus keluar dan mencari toilet. Melihat Laura yang berlari pun, Alex segera ikut berlari mengejar gadis itu.
"Toilet?" tanya Laura dengan suara teredam terhadap pelayan yang dijumpainya. Sang pelayan pun menunjukkan papan penanda arah toilet, Laura mengikutinya dengan cepat. Alex ikut mengejar gadis itu yang berlari terburu-buru. Kepala Laura mulai kembali terasa pusing dan perutnya benar-benar tidak enak. Begitu menemukan toilet perempuan, Laura segera memasukinya dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Langkah Alex terhenti sejenak ketika menatap toilet perempuan. Dirinya tidak mungkin masuk ke dalam sana karena itu khusus untuk perempuan. Alex pun menatap sekeliling, nampak sepi. Kekhawatiranya akan Laura terasa lebih besar untuk saat ini. Itu sebabnya dirinya lantas memasuki toilet tersebut. Begitu ia masuk, Alex menemukan Laura tengah muntah-muntah di wastafel. Untungnya situasi toilet sedang sepi. Entah dibalik bilik, namun Alex hanya melihat Laura disini.
Alex segera membantu Laura dengan memijat tengkuk perempuan itu. Laura hanya memuntahkan air namun Alex dapat melihat bahwa wajah perempuan itu terlihat begitu tersiksa. Alex tahu bahwa perempuan yang tengah hamil biasanya akan merasa mual dan sering muntah. Hanya saja untuk Laura, sepertinya gadis itu sudah tidak memiliki apapun dalam perutnya untuk dimuntahkan. Melihat hal itu, Alex jadi merasa khawatir.
"Apa kau baik-baik saja?"
Alex semakin merasa khawatir. Laura terlihat tidak baik dan hanya diam saja. Perempuan itu memegang kepalanya dan terlihat meringis kesakitan. Lalu kemudian tubuh Laura ambruk dan Alex dengan sigap menangkapnya.
"Laura?"
Alex menepuk pipi gadis itu. Wajahnya benar-benar pucat dan sekarang Laura tidak sadarkan diri.