Ritual Pernikahan

1214 Words
Suara ketukan pintu, membuat aku terbangun dari tidur. Dengan tergesa melangkahkan kaki untuk membuka pintu utama. Rupanya tukang servis lampu, yang datang. Dia datang membawa peralatan lengkapnya. Mungkin saja Mas Darwan lah yang menyuruhnya datang. Namanya ialah Mang Ucup, satu-satunya tukang servis yang paling telitih dan jujur. Setelah mempersilakan masuk. Dia langsung menuju ke kamar utama, untuk mengganti lampu yang telah terputus dan bahkan saklarnya juga telah terbakar. Sangat aneh dan tidak masuk logika jalan pikiran manusia, jika lampu itu bisa rusak dengan sendirinya. Aku menghidangkan segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng. Untuk Mang Ucup, supaya dia bisa menikmatinya setelah selesai melakukan pekerjaannya. "Neng, aku pernah lihat si Tirta duduk sendiri di warung, yang sudah lama tidak berpenghuni di desa sebelah," ujar Mang Ucup, sambil mengunyah pisang goreng. "Ah, salah lihat mungkin Mang," sahutku dengan suara lembut. "Mungkin juga ya, soalnya waktu itu malam dan cuaca sangat gelap," terang Mang Ucup, sambil meniup kopi panas sebelum meminumnya. Dalam diam aku mencoba mencerna kata-kata dari Mang Ucup. Namun pikiran tiba-tiba menjadi buntu dan tidak mampu untuk berpikir waras. 'Semoga saja apa yang dilihat Mang Ucup itu tidar benar,' doaku dalam batin. Namun apa yang terjadi kemarin malam sungguh membuatku tak mampu berkata-kata. Mang Ucup berpamitan pulang setelah aku memberi upah kerjanya. Sisa pisang goreng pun aku berikan pada Mang Ucup, untuk putrinya di rumah. Dia pun menerima dengan senang hati. Perut terasa sangat lapar. Seperti biasa aku masak mie instan sebagai pengganjal perut, ketika suamiku tidak ada di rumah. Wangi aroma mie instan menggugah selera makan.Namun mendadak nafsu makan sirna seketika. Saat teringat cacing tanah yang menggeliat di sendok makan Mas Tirta. AKu membuang mie instan dalam kandang ayam di belakang rumah, supaya dimakan oleh ayam peliharaan Mas Titra, yang sudah lama tidak diurus. Aku merasa bosan di rumah karena sepanjang hari sebelum Mas Titra pulang, aku hanya bisa melihat televisi di dalam rumah. Sama sekali tidak ada kegiatan lain, yang bisa dikerjakan setelah berbenah. Malam semakin larut keheningan semakin mencekam. Mata susah untuk diajak terlelap. Bayangan Mas Tirta yang sedang menikmati cacing dan belalang selalu terbayang di pelupuk mata ini. Membuat diri ini merasa sangat tersiksa. Terdenga suara motor, pertanda jika Mas Tirta sudah pulang. Aku hanya berdiam diri di kamar. Tidak seperti biasanya Mas Tirta setelah mandi akan masuk ke kamar utama. Untuk menemuiku. Tangan kekar Mas Tirta menyentuh tubuh dan mencium bibirku, dengan kasar dan hangat. Malam ini terciptalah malam syahdu yang tidak direncanakan sebelumnya. Tingkahnya sangat buas dan liar, mungkin karena sudah lama tidak menyalurkan hasrat. Itulah yang ada di benakku. Entah mengapa malam ini Mas Tirta terasa sangat asing? Aku degera membuang pikiran buruk tentangnya yang sedang berkecamuk di dalam hati. Pelukan eratnya, aroma tubuhnya dan deru napas yang dulu kusuka darinya, kini semua terasa berbeda. " Sayang, aku pingin seorang anak, bolehkah aku menikah lagi?" tanya Mas Mas Tirta, sambil memelukku. Sebuah kalimat lembut, tetapi terdengar seperti belati. Menusuk tepat ke relung hati dan  jantungku. Jantung pun seperti terhenti dari denyutnya. Perlahan aku melepaskan pelukannya dan beringsut menjauh darinya. Tidur membelakanginya ternyata terasa lebih nyaman. Air mata pun berderai membasahi pipi. Terasa sangat sakit sekali, setelah sekian lama tidak tidur bersama. Kini Mas Tirta mengajakku bercinta. Namun, ada udang di balik semua itu. Rupanya Mas Tirta merayu dalam kasihnya, hanya untuk mendapat izin poligami dariku. Sungguh tegah dan kejam. Aku yang tidak berdaya karena terlalu mencintainya, membuat hati ini tidak untuk mampu menolak. Setiap pinta dari Mas Tirta. "Sayang, kamu marah, ya? Tolong mengertilah sayang!" Bisik lembut Mas Tirta di telingaku. Namun, terasa sangat perih di hati ini. " Tidak, Mas. Aku hanya belum siap; Izinkan aku memikirkannya untuk beberapa hari kedepan," sahutku pelan. Untuk menyakinkannya "Baiklah, aku akan menunggu. Sampai kamu sudah memikirkannya," ujarnya, sambil mencium pipiku. Malam yang seharusnya indah pun  menjadi kelabu. Aku mengubah posisi tidur. Untuk memperhatikan Mas Tirta, yang sudah terlelap. Wajah tampan, d**a bidang dan tatapan tajamnya kelak bukan untukku lagi. Aku pun bergumam, "Mas Tirta sedang berbaring di sini, mungkin hatinya entah ada di mana." gumamku, sambil membelai bibir seksinya. Perlahan diri ini dekati tubuh gagah, yang sedang tertidur lelap di sebelahku. Memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskannya. Air mata ini mengalir tidak dapat dibendung lagi. Dalam dekapan hangat tubuhnya, hatiku telah hancur. Berkeping menjadi puing-puing, yang tiada arti. Kicauan burung kenari milik tetangga. Terdengar sangat merdu, mewarnai pagi nan cerah. Mentari tampak indah bersinar, menerobos masuk melalui jendela kamar, yang terbuat dari kaca hitam. Kulirik jam yang tertempel di dinding dengan rapi. Tenyata sudah pukul tujuh pagi. Tersentak, dan terkejutnya diri ini. Rupanya aku kesiangan. Mungkin karena merasa nyaman tidur dalam pelukan Mas Tirta, hingga membuat aku kesiangan. AKu menatap wajah tampan, yang memiliki kumis tipis dan hidung mancung mirip dengan pangeran Willi dari Negri Dongeng. "Mas, bangun sudah kesiangan!" ujarku pelan, sambil mengguncang pundaknya. "Hari ini aku libur, Sayang," sahut Mas Tirta dengan suara pelan. Dia menarik tanganku, membawa tubuh ini dalam pelukannya. Kembali terulang lagi kisah syahdu semalam. Aku merasa sangat bahagia dalam dekapan cintanya. Bermandi keringat asmara di pagi nan indah. "Bagaimana keputusanmu, sayang?" kembali dia mengulang pertanyaan yang sama. "Baiklah, Mas. Aku ikhlas, tapi aku tidak mau tinggal serumah dengannya," terangku dengan pelan dan berusaha setenang mungkin. "Sayang, izinkanlah dia tinggal di sini! Mas tidak bisa jauh darimu," rayu Mas Titra, sambil membelai rambutku. 'Jika tidak bisa jauh dariku mengapa harus poligami, Mas? Mengapa harus menikah lagi? Bukankah bisa mengadopsi anak?' Hatiku menjerit, banyak pertanyaan yang muncul. Namun, tidak mampu bibir ini untuk bertanya langsung pada Mas Tirta. ****************** Menjelang malam Mas Tirta membawaku ke rumah Lastri. Seorang gadis yang berasal dari desa sebelah. Entah pesona apa yang dimiliki Lastri? sehingga berhasil memikat hati suamiku. Tujuan kami datang tidak lain untuk meminangnya menjadi istri kedua Mas Tirta. Mas Tirta melarangku untuk mengucapkan salam, ketika di depan pintu rumah Lastri. Katanya berbeda kepercayaan dengan kami. Aku pun tidak mempersalahkan perbedaan itu. Setelah bertemu merek aku merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal. Bukan hanya nama yang aneh, penampilan dan bahasa yang mereka gunakan aku sama sekali tidak mudeng. Beda dengan Mas Tirta dia sangat fasih berdialog dengan bahasa mereka. Banyak hidangan dan minuman yang tersaji. Semuanya kelihata sangat lezat. Kejadian aneh pun terjadi. Ketika aku membaca doa sebelum menyentuh makanan dan minuman. Mendadak semuanya berubah. Semua minuman yang berjejer rapi dalam gelas berubah menjadi air bunga, air kencing, bahkan ada yang menjadi air darah. Begitu juga makanan berubah menjadi aneka bunga, cacing, belalang, bangkai, daun kering, bahkan ada juga kotoran manusia. Semua orang kelihatan aneh dan menakutkan. Mereka menikmati hidangan dengan lahapnya termasuk dengan Mas Tirta. Mas Tirta rupanya telah menipuku. Dia mengajakku ke rumah Lastri bukan untuk meminangnya, melainkan untuk melihatnya melakukan pesta pernikahan. Ritual pernikahan pun sangat aneh dan unik. Malam pertama buat Mas Tirta. Aku seperti orang bodoh, yang duduk diam di pojokan ruangan di pesta semewah ini. Malam semakin larut, semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal aku, Mas Tirta serta Lastri di bangunan ini. Atas ide Mas Tirta dan seizinku, Lastri pun ikut pulang bersama kami. Aku dan Lastri dibonceng motor oleh Mas Tirta. Keanehan mulai terjadi di sepanjang jalan. Badan Lastri terasa sedingin es, yang menempel di punggungku. Motor seperti melayang hingga sangat cepat sampai ke rumah. Beda dengan waktu berangka tadi, yang menempuh perjalanan lebih dari satu jam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD