Sesampainya di rumah. Aku merasa menjadi tamu di rumah sendiri. Mas Tirta memilih menghabiskan malam dengan Lastri. Mereka tidur di kamar utama, sedangkan aku tidur di kamar tamu, yang hanya berjarak dinding sebagai pemisah dengan kamar mereka.
Suara rintihan dan desahan mereka terdengar begitu jelas dari tempatku berbaring. Mas Tirta begitu tega menyakiti hati ini. Mata tidak dapat terpejam. Malam semakin larut, semakin deras pula air mata mengalir seperti sungai Gangga.
Pagi yang cerah. Namun, terasa berawan bagiku. Mas Tirta kelihatan sangat bahagia, setelah menghabiskan malam pengantin bersama istri barunya. Dia menghampiri diriku dan mencium pipi ini penuh kasih sayang, tentunya setelah dia mandi pagi. Akan tetapi ciuman itu terasa sangat hambar.
Pagi ini masih sama seperti pagi sebelum dia menikah dulu. Mas Tirta duduk di dapur sambil menikmati kopi panas, sambil menemani aku menyiapkan sarapan pagi untuknya. Kami bercanda dan ketawa bersama seolah tanpa beban. Untuk sejenak melupakan keberadaan Lastri, maduku yang sangat pemalas.
Setelah selesai sarapan bersama suami tercinta, berangkat kerja dan aku memberikan bekal nasi kotak padanya. Masih seperti biasa, mengantarnya sampai di depan pintu berjabat tangan dan dia mencium kening, sedangkan aku mencium punggung telapak tangannya.
Aku berdiri terpaku menatap pintu kamar utama, yang tidak juga terbuka. Padahal hari sudah menunjukan pukul dua belas siang. Lastri belum juga bangun, berkali-kali kuketuk dan memanggil namanya. Namun, tidak ada jawaban. Pintu kamar juga terkunci. Setelah merasa cukup lama berdiam diri di depan pintu, aku pun bergegas pergi meninggalkan kamar, yang biasanya terbuka pintunya di siang hari.
Pada siang hari Lastri tidak keluar dari kamar, hanya malam hari sesudah Maghrib dia baru keluar. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar adanya, jika dekat dengannya aroma wangi bunga melati semerbak keluar dari tubuhnya. Namun, setelah dia berlalu, akan tercium aroma busuk seperti got di belakang rumah.
Di malam hari dia akan keluar entah kemana, lalu kembali masuk ke kamarnya. Tanpa tersenyum apa lagi pamit padaku. Mungkin dia menganggap diri ini hanyalah patung yang bernyawa. Tidak ada sedikit pun sopan santun sama sekali terhadap diriku, yang menjabat sebagai Kakak madunya.
Mas Tirta tidak seperti dulu lagi, dia pulang lebih awal dari biasanya dan dengan tubuh yang bau keringat. Tidak seperti dulu berbau got sangat kuat keluar dari tubuhnya. Senyum manis dan tidak ada tanda-tanda kelelahan seperti sebelum dia menikah dengan Lastri.
Ketika masuk ke rumah, Mas Tirta menghampiri aku yang sedang menonton televisi. Dia menciumi keningku dengan penuh kasih. Kemudian langsung bergegas menuju kamar Lastri, entah apa yang mereka lakukan. Setelah dua jam kemudian Mas Titra baru keluar dari kamar utama. Aroma got kembali tercium dari tubuh Mas Tirta, yang kelihatan sangat kelelahan. Dia menuju kamar mandi di dekat dapur dengan langkah gontai.
Ketika Mas Tirta sedang mandi. Jiwa kepoku meronta-ronta dalam otak, tentang keadaan kamar Lastri. Kemudian berjalan perlahan menuju kamar utama dan mengintip dengan hati-hati pintu yang terbuka sedikit itu.
"Ah," teriakku, sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
Kelihatan dengan jelas di keremangan kamar. Lastri berdiri dengan mengenakan pakaian berwarna putih polos. Dari wajahnya menetes darah segar di setiap luka sayatan yang ada. Dia yang menyadari keberadaan diriku. Mendadak memutar pandangannya, sehingga nampak jelas kedua mata yang keluar dari kelopaknya. Darah segar mengalir dari sela-sela kelopak mata. Suara tawanya nyaring. Mulutnya terbuka lebar. Gigi bertaring panjang dan tajam begitu jelas terlihat.
Kedua kakiku terasa kaku, tidak dapat untuk digerakkan. Jantung semakin berdenyut kencang. Mulut pun serasa tidak mampu untuk mengucap, hanya bisa diam membisu menyaksikan kejadian yang jauh dari logika.
Setelah cukup lama aku terpaku di depan pintu kamar utama. Mas Tirta pun datang menghampiriku.
"Ada apa, Sayang?" Mas Tirta bertanya dengan mengerutkan dahi.
"Itu, itu, Mas, Lastri jadi hantu," sahutku gugup.
"Ngaco kamu, Sayang!" Mas Tirta berkata dengan nada kesal.
"Ada apa, Mbak Nana?" tanya Lastri dengan suara lembut, yang tiba-tiba berada di sebelah Mas Tirta.
Mendadak semuanya berubah, kamar utama tidak gelap lagi. Lastri kelihatan sangat cantik dengan gaun kuning yang indah tanpa lengan, yang melekat di tubuhnya. Ditambah dengan riasan sederhana dan tanpa lipstick membuat wajah belia semakin ayu.
"Sayang, kamu harus ikhlas menerima Lastri menjadi adik madu!" nasehat Mas Tirta dengan suara lembut, sambil menatapku penuh simpati. Namun, ucapan dan tatapan terasa bagaikan belati tajam, yang menusuk relung hati ini.
" Iya, Mba Nana, aku aja bangga bisa menjadi istri kedua dari Mas Tirta. Seharusnya Mbak lebih bangga, karena menjadi istri pertamanya! " timpal Lastri, sambil memainkan rambutnya yang tergerai panjang.
Mulut ini hanya bisa tersenyum getir. Mendengar semua ucapan Lastri yang terdengar menggelitik telinga.
Mereka berjalan menuju ruang makan sambil bergandengan tangan, tanpa mempedulikan hati ini yang terbakar api cemburu. Aku mengekor mereka dari belakang, sambil menggerutu dalam hati. Tiba-tiba saja Lastri menoleh ke arahku, sambil menjulurkan lidah yang panjang sampai menyapu lantai.
"Ah," aku kembali berteriak.
"Ada apa , Sayang?" tanya Mas Darwan, sambil menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arahku.
"Itu, Mas, Lastri," sahutku gugup, sambil menunjuk ke arah Lastri.
"Tuh kan, Mas. Mbak Nana mulai lagi," ucap Lastri. Suara manja yang terdengar sangat menjijikan di telingaku.
Karena rasa kesal yang teramat dalam hadir di relung hatiku. Membuatku enggan melakukan ritual makan malam, bersama kedua sepasang pengantin baru itu dan berbalik pergi meninggalkan mereka dengan penuh kebencian.
Aku pun berlari menuju kamar tamu yang kini telah menjadi tempat peraduanku. Mas Tirta tetap menuju ruang makan bersama istri barunya, tanpa memperdulikan diri ini yang sedang menangis. Meratapi nasib malang sebagai istri tua, jauh dari kasih sayang suami.
Aku merasa ada kejanggalan mengenai sikap Lastri, tetapi tidak tahu apakah itu? Dalam hati ini bertekad esok aku akan menuju ke rumah ulama di kampung sebelah. Untuk menanyakan misteri di balik seorang Lastri, yang sudah berhasil menggoda suami tercinta.
"Besok akan kubuka kedok Lastri di depan Mas Tirta" gumamku, yang disertai air mata membasahi pipi semakin kurus.
"Sayang, boleh aku masuk?" tanya Mas Tirta dengan suara lembut, sambil mengetuk pintu dengan pelan.
"Masuklah, Pintu tidak dikunci!" sahutku ketus, sambil menghapus air mata. Kemudian aku tidur membelakangi pintu dan menutup tubuh dengan selimut.
Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka. Terdengar suara langkah kaki mendekati ranjang tempatku berbaring. Namun, aku masih tidak menoleh ke arahnya dan pura-pura tidur. Perlahan langkah kaki itu semakin mendekat, bahkan sepertinya berhenti di depan ranjang.
"Sayang, sebenarnya Lastri ialah gadis yang . . . ." Mas Tirta belum menyelesaikan ucapannya terdengar suara pintu dibuka.
"Mas, Mba Nana masih tidur. Sebaiknya kita jangan ganggu dia, kasian. Mungkin kecapekan. Yuk kita ke kamar sebelah saja!" ujar Lastri dengan suara lembut. Namun, terdengar sangat menyakitkan di hatiku.
Aku mulai mengutuk diri yang begitu bodoh, sehingga mau dimadu. Mengumpat dalam seribu cacian pada suami yang dulu mencintaiku sepuh jiwa dan kini cintanya sudah terbagi dua. Entahlah apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya?