28

1118 Words

Andai Alden bisa menarik kata-katanya kembali, ia ingin sekali melakukannya. Atau setidaknya ia bisa mengulang waktu dan memilih tak mengatakannya. Sehingga dirinya sudah hampir satu minggu ini begitu menderita, sementara istrinya, Shei tampak sangat-sangat baik. Disatu sisi ia senang jika Shei bisa makan dengan benar tanpa merasa mual lagi, tapi di sisi lain ia menderita dan tidak sempat makan. Bahkan setiap pagi ia merasa mual sampai merubah jam dinasnya ke sore hari. Karena ketika sore ia bisa sedikit lega, mual tak dirasakan saat sore juga ia bisa makan seperti biasa. “Kamu sih muntah lagi. Aku jadi gak sempet sarapan deh.” Keluh Shei dengan pipi yang mulai chubby akibat sering makan. Entah kata-kata Alden dulu seperti mantra yang langsung terwujud. Seketika besoknya Shei jadi tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD