Kencan Buta
""Tidak akan!" tegas gadis bermata bulat berwana hitam pekat.
Dia Larrisa Camory. Anak pengusaha sukses yang liar. Memiliki wajah mungil, berpipi cabi. Dia sangat manja bila di depan ayahnya, membangkang adalah kebiasaannya.
Usianya kini menginjak 22 tahun, tapi belum juga memiliki pendamping. Bahkan sekedar pacar semalam pun tiada. Sikapnya yang susah diatur penyebab pria enggan mengencani dirinya.
"Ayah sudah list pria yang akan kau kencani."
Steven Camory bersikeras memaksa putri semata wayangnya mencari pendamping hidup. Usianya sudah rentan, sementara perusahaan butuh pemimpin yang sehat dan bugar.
Larrisa tak ingin menjamah perihal perusahaan, dia stress mendengar kata bisnis. Sedikit pun dia tidak paham.
"Ayah, aku mengencani 2 pria seharian ini. Apa Ayah ingin menjual putrimu ini?"
"Risa, Ayah hanya ingin …."
"Cukup, Ayah. Aku tahu! Jangan jelaskan lagi." Larrisa membungkam cepat dengan memotong kalimat ayahnya.
Larrisa pergi meninggalkan ruang kerja milik ayahnya. Berjalan kesal menuju kamarnya.
Di pertengahan jalan ketika menaiki tangga, Larrisa melihat Pak Kaf berlari tergesa-gesa ke ruangan tadi.
Larrisa penasaran dan berlari turun tangga mengikuti Pak Kaf. Perasaannya sedikit tidak enak. Tidak pernah menejer ayahnya berekspresi demikian.
"Paman, itu apa?" tanya Larrisa menunjuk amplop coklat di tangan Pak Kaf.
"Nona, sebaiknya ikut masuk ke dalam," ajak Pak Kaf dengan muka kaku.
Larrisa tidak menolak dan mengangguk masuk ke dalam ruangan sana. Tidak tahu menahu alasan apa yang membawa kehadirannya. Dia mengira jika amplop coklat berukuran sedang itu berisi foto calon suami yang disiapkan ayahnya.
Larrisa berdiri di depan pintu dengan senyum tanpa dosa menatap keduanya sedang berbisik. Mata mereka tegang melotot melihat Larrisa.
"Kenapa?" Larrisa menaikkan bahunya sambil menatap ke arah samping kanan dan kiri. Dia bahkan sempat tersenyum beku saat kedua pasang bola mata tersebut menatapnya.
Larrisa berjalan menuju meja ayahnya, yang jaraknya tiga meter dari perpijaknnya. Telapak sendalnya terdengar karena suasana senyap tanpa suara.
Dia mengambil beberapa lembar foto yang berserak di atas meja ayahnya.
Deg!
Larrisa terkejut. Tangannya refleks menutup mulutnya, dan matanya terbelalak seirama dengan tarikan nafas yang berat.
"Ayah … aku bisa jelaskan," katanya meminta kesempatan berbicara.
Larrisa ketakutan. Ayahnya tampak murka sekaligus kecewa dengannya. Tidak ada satu kata keluar dari mulut Tuan Steven. Rasanya dia sia-sia mengkhawatirkan putrinya itu.
"Bagaimana kau menjelaskan ini?" tanya Tuan Steven balik dengan mata tak sanggup melihat putrinya yang tega membohongi dirinya.
"Maafkan aku, Ayah." Dia menitikkan air mata penyesalan. Kepalanya tertunduk memikul kesalahan yang telah terbongkar. tangannya tidak henti meremas baju yang dia kenakan.
"Apa perlu Ayah kurung selamanya?!" Suara Tuan Steven meninggi hingga menggema di ruangan yang dikelilingi buku-buku.
Sontak kaget jelas ditunjukkan Larrisa. Air matanya semakin menderu. Dia menciut tidak berani membuka mulut untuk bersuara. Ayahnya tidak pernah semarah itu, dia bahkan tidak berani melihat wajah sang ayah yang tengah mengamuk.
"Kaf, panggil dokter!" perintah Tuan Steven.
Larrisa langsung melirik Pak Kaf sambil meminta pembelaan. Sayangnya, Pak Kaf tak menghiraukan dan hanya menatap Larrisa kemudian berjalan keluar ruangan.
Setelah lama menyisipkan kesunyian. Larrisa menegakkan kepalanya, menatap sang ayah sambil memelas iba. Dia dengan penuh penyesalan meminta maaf pada Tuan Steven.
"Ayah … aku menyesalinya. Jangan membentak aku, Ayah," pinta Larrisa dengan suara lirih bergetar dengan air mata masih membuyur wajahnya. "Aku tidak bisa berhenti menari es, dan tidak ingin membuat Ayah marah padaku," jelas Larrisa.
"Sejak kapan kau kembali bermain skating?"
"Enam bulan terakhir ini, Ayah," jawabnya jujur.
Nafas Tuan Steven kembali membesar. Dia merasa dadanya tertusuk panah mendengar putrinya yang membangkang.
"Kembali ke kamar mu dan renungi kesalahan!" suruh Tuan Steven pelan sambil memijat pelipisnya. Pikirannya kacau ketika melihat tingkah putrinya yang sulit dikendalikan.
Larrisa adalah seorang figure skating, dan menjuarai berbagai lomba dibidangnya. Dia bahkan dinobatkan sebagai The Queen of Skater di negaranya.
Tubuh idealnya begitu sempurna ketika menari dengan sepatu skating yang indah. Ketika dia mulai melentikkan gerakan, disitu pula kekaguman muncul memujinya. Tariannya begitu indah, hingga pria berlomba-lomba mendapatkan dirinya.
Suatu ketika, ketika sedang latihan untuk perlombaan skating berikutnya, kecelakaan tidak diduga terjadi. Larrisa mengalami cedera bahu yang menyebabkan dia harus dirawat secara intensif di rumah sakit selama satu minggu. Dia juga rutin check-up untuk kontrol bahunya.
Sejak saat itu pula, Tuan Steven melarang Larrisa untuk menari es, dia takut jika putrinya itu mengalami kejadian yang sama lagi. Belum lagi dokter juga menyarankan agar bahunya tidak banyak digunakan untuk beberapa kegiatan yang memicu cedera.
Hari ini, Tuan Steven mengetahui putrinya telah berbohong padanya, diam-diam pergi ke arena skating dan menari di sana. Sungguh Tuan Steven kecewa sekaligus khawatir.
Tuan Steven tidak boleh lunak terhadap putrinya jika menyangkut perihal skating. Dia trauma dengan kejadian waktu lalu.
"Ayah ….," bujuk Larrisa dengan isak tangis ditambah sesenggukan tiada henti.
"Ingin membangkang lagi!!" Suara Tuan Steven meninggi.
Langkah Larrisa mundur selangkah ke belakang karena kaget. "Aku tidak mau!! Aku tidak mau!! Ayah … aku tidak akan merenungi kesalahanku. Aku hanya menari, apa yang salah, Ayah? Mengapa Ayah membunuh bakat putri sendiri? Ayah kejam!!"
"Risa!!!" Tuan Steven sampai berdiri dari duduknya mendengar putrinya tidak tahu situasi. Bukannya merasa bersalah karena berbohong, putrinya itu malah membenarkan kesalahannya. "Kau tidak akan mengerti rasa cemas seorang ayah. Dari sekarang jangan pernah keluar dari kamarmu sampai kau sadar dengan perbuatanmu!" perintah Tuan Steven.
"Ayah …," lirih Larrisa yang masih terkejut melihat kemarahan ayahnya.
"Masuk ke kamar, dan tunggu hingga dokter datang memeriksa bahumu!"
Larrisa pergi keluar dengan hentakan kaki kuat dan membanting pintu ruangan kerja ayahnya keras. Sampai Tuan Steven menelan sikap putrinya yang semakin hari semakin liar.
Baru beberapa detik putrinya meninggalkan dirinya. Rasa sesal setelah mengamuki Larrisa kian mencuat. Tuan Steven merasa bersalah karena terlalu keras pada putrinya tadi.
Tuan Steven mengerti betul bagaimana keras kepalanya Larrisa. Bahkan semua orang kewalahan dengan perangainya. Sangat sulit dikendalikan. Tuan Steven membutuhkan seseorang yang bisa membuat Larrisa patuh.
"Dia membutuhkan suami," decak Tuan Steven.
Mencoba berdamai dengan putrinya. Keesokan harinya, Tuan Steven menengok putrinya yang sedang mogok makan. Dia berusaha membujuk Larrisa agar menjaga kesehatan, sekaligus meminta maaf karena telalu keras semalam itu.
"Ayah akan mengizinkanmu bermain skating lagi," kata Tuan Steven dengan berat hati.
Larrisa yang tadinya mengacuhkan keberadaan ayahnya, sontak menoleh dengan mata membulat dengan senyum bahagia.
"Benarkah?" antusias Larrisa.
"Dengan syarat," sambung Tuan Steven.
Larrisa mengangguk menerima persyaratan ayahnya. Meski belum tahu apa isi persyaratan tersebut, Larrisa akan menerimanya demi agar bisa kembali menari di atas lapisan es.
"Menikah dengan salah satu pria yang Ayah pilihkan."
Larrisa menghela nafas dan semangatnya hilang seketia.
"Kau boleh berkencan dengan tujuan saling mengenal. Ayah tidak akan menuntut agar kau menikah secepatnya. Ayah hanya meminta agar kau menemukan calon suami yang nantinya akan kau nikahi," tambah Tuan Steven.
Dia duduk di samping putrinya sambil mengelus lembut kepala putrinya yang tak sadar telah tumbuh menjadi wanita cantik dan keras kepala.
"Tidak akan ada yang mau menikahi aku," balas Larrisa dengan muka muram. Sudah beberapa kali dia mencoba membuka hati, namun tidak pernah berhasil dan selalu gagal.
Pria yang dia sukai ketika SMA dulu juga menolak cintanya karena sikapnya yang liar. Padahal untuk pertama kalinya Larrisa mengungkapkan perasaan.
Sejak saat itu, dia tidak berani mencintai siapapun. Dia hidup tanpa ada harapan terhadap pria. Dia kurang ahli dalam percintaan.
"Pastinya ada," tambah Tuan Steven menyemangati putrinya.
"Baiklah, aku akan menerima persyaratannya." Larrisa dengan tekad kuat mengepal tangannya dan membakar bara semangat di jiwanya.
Batinnya terus memacu agar Larrisa berjuang demi mendapatkan izin menari es lagi. Dia harus mengorbankan sedikit waktu untuk mengurusi kisah cintanya. Meski dia malas melakukannya.
Larrisa bangkit dari ranjangnya setelah seharian hanya berbaring di sana. Dia membuka lemari kemudian mengambil hanger baju, kemudian memilih pakaian yang akan dia kenakan.
Tuan Steven sampai terkekeh melihat putrinya dengan tingkah seperti anak kecil. "Kenapa putri Ayah jadi semangat begini?" Tuan Steven ikut memilah pakaian yang menurutnya cantik dikenakan Larrisa.
"Agar bisa cepat main skating," jawab Larrisa tidak menghiraukan ayahnya. Dia terus memilih baju-baju yang sengaja diserakkan di atas ranjang.
Tuan Steven tertawa sambil mengelus lembut kepala anaknya itu. Dia tersenyum lebar lalu meninggalkan putrinya yang tengah repot memilih pakaian.
Ketika Tuan Steven baru saja melepaskan tangannya dari gagang pintu setelah keluar dari kamar putrinya, Larrisa tiba-tiba keluar dan memanggil ayahnya.
"Jadwalkan kencannya siang ini, Ayah!"
Larrisa melambaikan tangannya cepat pada ayahnya, lalu masuk ke dalam setelah kalimat itu terlontar dari mulutnya.
"Moodnya sangat mengerikan," celetuk Tuan Steven memandang sifat putrinya.
***
Di sebuah restaurant mewah sesuai pilihan pria yang sedang Larrisa kencani, terdengar dering ponsel di tengah sayatan steak pertama yang baru saja disulangnya ke dalam mulut.
"Silahkan angkat," kata Larrisa mengizinkan pria itu.
"Tidak perlu, ini tidak terlalu penting," jawabnya sambil membalik layar ponsel.
"Siapa yang menelepon?" tanya Larrisa ragu.
"Hanya teman."
"Hanya?" Larrisa menegaskan kata tersebut. "Katamu hanya?" Larrisa mengulang sekali lagi. "Angkat atau aku yang angkat, calon suamiku!" Nada Larrisa sedikit mengancam meski wajahnya tersenyum saat memerintah.
Pria itu merasa hawa berbeda dan dengan tangan sedikit bergetar mengangkat telepon itu. "Ha-Halo?"
Tidak disangka ternyata yang menyahut adalah seorang wanita dengan suara menggoda, memanggilnya dengan mesra.
Larrisa tersenyum licik melihat pria yang sudah pucat takut karena wanita bayaran yang sering melayani dirinya. "Aku rasa cukup sampai di sini makan malam menjengkelkan ini." Larrisa mengambil tasnya. Saat berdiri, tak lupa ia meneguk wine di gelas kaca hingga habis.
Larrisa meletakkan punggung gelas dengan keras ke atas meja.
Trang!
"Kau tahu harus apa, bukan? Jangan sampai skandal ini menghancurkan reputasi keluargamu, Tuan muda yang mesum." Larrisa meninggalkan pria itu dengan keadaan keringat bercucuran dari keningnya.
Larrisa menelepon Pak Kaf, meminta mengatur kencan keduanya di hari ini juga.
Tuan Steven yang bersebelahan dengan Pak Kaf menanyakan tentang kencan putrinya itu. "Tidak," jawab Pak Kaf pelan membisik.
Tuan Steven langsung paham. Dia menghela nafas dan kembali memilih pria yang akan dikencani putrinya.
"Apa Nona Risa tidak kewalahan, Tuan?" tanya Pak Kaf mengomentari kegigihan Larrisa.
"Kau tahu bagaimana persisnya gadis itu," balas Tuan Steven.
***
Pria kedua yang Larrisa kencani hari ini. Mereka makan di sebuah cafe nuansa klasik, sesuai pilihan pria itu. Mereka duduk santai, menikmati seduhan kopi beraroma pekat.
"Kau cantik sesuai berita," puji pria itu sambil tersenyum memandangi Larrisa.
Larrisa menyenderkan badannya lalu menyeringai. "Aku rasa Tuan Brens cukup senggang hingga sempat melihat gosip tidak penting."
"Bukan seperti itu, maksudnya …."
"Aku paham. Tidak perlu jelaskan," potong Larrisa tidak memberikan kesempatan pria itu menyelesaikan kalimatnya. "Oh, dan satu lagi, kabarnya Tuan Brens juga pernah menyebarkan aib aktris figuran waktu itu bukan?" sambung Larrisa.
"Kenapa?" tanya Larrisa lagi. "Karena ditolak, yah?" timpalnya merendahkan.
Pria itu terdiam tak berkutik. "Apa kau sedang menghina?"
"Ups, aku tidak bermaksud. Tapi kalau kau menganggap begitu, aku tidak menyangkal," jawab Larrisa tidak gentar.
"Lancang sekali kau!" Pria itu memukul meja hingga orang seisi cafe menoleh ke arah mereka.
Larrisa mengambil tasnya, lalu menutup wajahnya agar tidak terlihat. Untung saja dia duduk di sebelah pinggir cafe, hingga hanya perlu menutup sebelah sisi wajah.
"Kau tidak malu?" Larrisa membisik seolah tak berdosa. "Duduk, hey!" perintah Larrisa sambil mengayunkan tangannya memberi tanda.
Pria itu mengancing jas yang dia pakai, lalu memandang Larrisa dengan amarah. "Aku menolak perjodohan ini. Jangan pernah menghubungi ku lagi!" Pria itu beranjak pergi dengan kekesalan.
Larrisa tidak menahan sama sekali, dia malah tersenyum bahagia karena tidak jadi dijodohkan dengan Brens yang suka membongkar aib pasangan sendiri. Larrisa tentu harus memilih calon suami sesuai standar yang ia punya. Dia berhak atas pilihannya.
Di seberang jalan, sebuah mobil sport berwana hitam berhenti memperhatikan Larrisa dari kejauhan. Gadis itu tidak menyadari.
"Dia?" tanya sosok misterius pemilik mobil sport mewah itu.
"Iya," angguk satunya.
Kaca bening itu tentunya menghadiahi pemandangan jalan yang bersih. Dari balik, Larrisa menoleh ke arah jalan kemudian tak sengaja menatap mobil mahal tersebut. Dia memperhatikan lebih dalam, melihat seorang pria berpakaian hitam tengah memandang ke arahnya. Dia mengenakan kaca mata hitam pula, hingga Larrisa sulit menangkap wajah orang itu.
"Dia sedang melihatku?" batinnya bertanya.
Gadis itu kemudian keluar untuk memastikan. Ketika dia telah sampai di bibir pintu cafe, mobil itu telah pergi melaju menjauh dari sana.
"Cih," decak Larrisa kesal.
***
Larrisa kembali menelepon Pak kaf, menyampaikan kabar bahwa dirinya gagal dalam kencan keduanya. Lalu meminta diaturkan kencan berikutnya.
Begitu terus, tidak satu pun yang berhasil. Tuan Steven sampai angkat tangan melihat putrinya. Sama halnya dengan Pak Kaf, dia bosan dan lelah mengatur kencan untuk putri bosnya itu.