Kontrak Perjanjian

2060 Words
Sesampainya di rumah. Tuan Steven yang tengah bersantai ditemani siaran drama televisi, langsung melemparkan senyum pada putrinya. "Putri Ayah sudah pulang?" "Ehm, iya, Ayah." Larrisa keheranan melihat ayahnya begitu cerah ceria menyambut kepulangannya. "Bagaimana dengan Eliot? Dia menyentujui perjodohan kalian," kata Tuan Steven santai. Dia begitu senang melihat Larrisa akhirnya lepas dari kutukan kesendirian. Dia juga merasa beruntung karena mendapatkan calon menantu yang sangat tampan dan cerdas. Tuan Steven sudah pasrah awalnya pada Eliot. Dia mengira bahwa cucu dari Tuan Erdogen itu akan menolak putrinya, mengingat betapa pemilih pria itu. Ternyata putrinya berhasil meracuni hati Eliot. Sungguh dia sangat bahagia mendengar perjodohan putrinya dengan cucu Tuan Erdogen. "Apa yang Ayah katakan?" tanya Larrisa. Mukanya datar hampir mati mendengar kabar dari mulut ayahnya. "Eliot akan mengatur kencan kalian berikutnya," lanjut Tuan Steven. Larrisa melemah, tungkai kakinya tak terasa lagi. Bahkan pijakan lantai seakan mengambang seperti awan. "Aku akan mati," katanya sambil berjalan seperti mayat hidup. Tuan Steven yang kebingungan hanya tersenyum dan melanjutkan tontonannya. Dia yakin putrinya terlalu senang karena mendapat calon suami seperti Eliot William. Sampai di kamarnya, Larrisa langsung menghubungi Eliot. Dia ingin meluruskan pada pria itu perihal perjodohan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Larrisa. "Kenapa dia malah menerimanya? Sialan! Membuat rumit saja," umpat Larrisa. Eliot sedang sibuk, tak sempat baginya menerima panggilan. Bahkan melihat nama panggilan ponsel pun dia tidak berniat. Tangannya terus membalik kertas laporan keuangan perusahaan miliknya. "Dia tidak angkat?! Eliot!!!" Larrisa berteriak. Dia memukul guling lalu meninju berkali-kali. Nafasnya terengah-engah, letih karena meluapkan emosi. Rambut panjangnya terurai ke depan hingga menutupi penglihatannya. "Huffht." Larrisa meniup helai rambut yang menutup matanya. Dia berdiri dari ranjang kemudian menenangkan diri. Beberapa menit kemudian, Larrisa mengirimkan pesan pada Eliot dengan muka yang begitu masam. Dia meminta untuk bertemu besok, tanpa menjelaskan tujuannya, Larrisa menegaskan bahwa tidak menerima penolakan dari Eliot, apa pun alasannya Eliot harus datang ke tempat yang sudah Larrisa tujukan. Melihat wanita itu mengirimkan pesan padanya, Eliot langsung tersenyum. "Dia sangat bersemangat," celetuknya. *** Sesuai permintaan Larrisa, Eliot menerima undangan makan siang dan menjumpai wanita itu sesuai dengan lokasi yang dikirmkan Larrida padanya. Sampai di sana, Eliot melihat Larrisa duduk dengan muka kesal. Tangan wanita itu terlipat di atas d**a seakan ingin menghantam Eliot. Dia sudah lama menunggu. Seperti biasa, Eliot selalu terlambat melewati waktu temu janji. Eliot menarik kursi dan kemudian duduk berhadapan dengan Larrisa. "Kebetulan, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu," kata Eliot. Dia memperbaiki jasnya dan juga sedikit melonggarkan dasinya. Larrisa terdiam. Dia mulai tegang saat melihat pria itu dengan wajah serius. "Aku di sini hanya ingin meluruskan. Aku tidak ingin menikah denganmu, dan juga tidak akan menerima perjodohan itu. Dari awal juga sudah kukatakan. Kenapa masih belum mengerti?" Larrisa langsung menjelaskan inti dari permasalahan yang menganggu pikirannya. Dia tidak berbasa-basi sama sekali. Cukup rumit masalahnya dengan sang ayah, kini Eliot hadir dan menambahi beban hidupnya. "Katakan …." "Apa?" tanya Larrisa cepat. "Bagian mana yang tidak kau suka dariku?" Eliot menunjuk wajahnya dengan tampang serius bertanya. Mukanya polos ingin meminta penjelasan dari Larrisa. Semalaman ia memikirkan mengapa wanita itu dengan mudahnya menolak dirinya, padahal tidak ada yang tahan akan pesona dirinya. Mustahil ada manusia yang tidak terpanah akan wajah maupun personality nya. "A-Aku … tidak suka wajahmu, mirip kuda," jawab Larrisa mengasal. Dia ragu mengatakan, hanya saja demi melemparkan penolakan yang logis, dia harus membual mengenai fisik sempurna pria itu. Padahal dia begitu menyukai Eliot, namun dia tak ingin menikah untuk saat ini. Baginya usia yang ia miliki masih terlalu muda, pikirannya belum sampai ke jenjang pernikahan. Belum lagi karena rumor tentang Eliot seorang gay, membuat Larrisa sedikit meragukan pernikahan dengan Eliot. "Ku-Kuda?" "Iya! Kuda. Dagumu runcing, rahang yang tegas, kaki panjang, bahu bidang. Wah! Kau … kau bukan tipeku," tambah Larrisa. Matanya tampak berbohong. Jelas dia menyukai fisik pria itu. Dari ujung kaki hingga helaian rambut, semuanya sangat menawan. Tidak bisa dipungkiri pria itu sangat tampan. Larrisa mengaku telah terpesona saat pertemuan pertama, hanya saja pria itu sangat menjengkelkan menurutnya, hingga rasa kagum itu berubah menjadi kekesalan. "Aku tidak suka berbasa-basi. Kau juga bukan tipeku." Eliot menatap bagian d**a Larrisa. " Datar sekali," sambungnya menghina. "Apa?!" Larrisa mengeraskan suaranya. Benar, dadanya datar seperti papan. Dia ingin marah, tapi yang dikatakan oleh Eliot memang fakta. Eliot meletakkan map ke hadapan Larrisa. "Apa ini?" Larrisa membukanya. Menemukan lembaran fotonya tengah bermain skating. Tertera bahwa tanggal pengambilan gambar itu baru-baru ini. "Apa maksud semua ini?" Tidak sampai disitu saja. Eliot memutar rekaman percakapan Larrisa dengan beberapa pria beberapa hari yang lalu. "Cukup! Apa tujuanmu?" "Tanda tangan di bawah ini." Eliot memberikan sebuah bolpoin dan juga kertas berisi kontrak perjanjian. "Tidak akan!" tegas Larrisa. Tertulis bahwa Larrisa harus bersandiwara menjadi calon istri Eliot, selama dia berada di Zrenjanin. Dia juga harus bersedia berpura-pura menerima tawaran perjodohan itu hingga tempo yang sudah ditentukan. Jika pihak B, yaitu Larrisa melanggar kontrak, maka akan dikenakan sanksi biaya yang menguras kekayaan. "Satu miliar?! Matanya membulat kokoh melihat nomonal yang tertera di atas kertas putih itu. Baru kali ini dia melihat sebuah kontrak dengan denda sebesar itu. Bahkan tabungannya tidak sampai sebanyak itu." Sudah kukatakan tidak mau melanjutkan perjodohan ini!" tegas Larrisa. "Tidak ada penolakan." Eliot tanpa ampun tidak memberi celah Larrisa. "Jika tidak tanda tangan, aku akan berikan semua ini pada ayahmu," ancam Eliot. "Aku tidak takut, adukan saja. Ayahku tahu tentangku bermain skating," balas Larrisa. Meski dia sedikit bergetar mengatakannya. Bagimanapun dia sangat takut jika sampai Eliot mengadukan perbuatan nakalnya pada ayahnya. Entah hukuman apa yang akan diterima jika ayahnya sampai tahu? "Brens, pria yang kau temui waktu itu, berniat memperpanjang hingga jalur hukum mengenai pencemaran nama baik yang kau sebabkan." Eliot memberikan rekaman kedua. Kali ini terdengar percakapan Larrisa dan Brens. Jelas di tengah rekaman terdengar Larrisa menghina Brens. "Ayahnya terkenal sangat kuat dalam firma hukum," tambah Eliot menambah bumbu ancaman untuk menakuti Larrisa. "Aku sudah membungkam dan mengambil bukti rekaman darinya. Jika kau tidak terkendali, aku sendiri yang akan membawamu ke jalur hukum," tukas Eliot. Brens terkenal akan keonaran yang dia perbuat. Dia suka sekali mempermalukan orang lain, khusunya wanita yang dikencaninya. Saat ingin bertemu Larrisa dia sudah mempersiapkan diri untuk merekam percakapannya dengan Larrisa. Jika Larrisa menolak dirinya, dia akan mempermalukan ke media sosial tentang keburukan wanita itu. Dia sudah sering melakukan hal itu pada wanita lainnya. Bukan hanya sekali saja dia mengancam wanita untuk menerima cintanya. Bahkan cara itu adalah teknik yang dia gunakan kepada wanita. "Pilih sekarang. Tanda tangan kontrak, atau aku akan mempersulit semua ini?" Eliot dengan senyum licik sudah merasa menang ketika melihat Larrisa tertekan tidak bisa memilih selain menandatangani kontrak itu. "b******k!" Larrisa meraih bolpoin di depannya. Lalu mulai mengukir namanya di atas kertas seolah menerima kontrak perjanjian tersebut. "Kau licik sekali!" sambung Larrisa yang tidak henti mengutuk pria itu. "Terima kasih." Eliot mengambil kertas itu, lalu kemudian berdiri dari kursinya. "Kau mau kemana?" tanya Larrisa spontan. "Mau ikut?" "Cih, kau bercanda?" "Kau tahu, Nona Larrisa, aku ini sangat sibuk. Demi tanda tangan Nona Larrisa yang terhormat, aku rela membuang waktu berhargaku." Eliot langsung beranjak pergi meninggalkan Larrisa. "Buang waktu? Wah! Mulutnya sangat pahit. Dasar orang sok sibuk." Larrisa terus mengumpat sepanjang Eliot berjalan pergi menjauh darinya. Dia memukul dahinya berulang, kekudian menggesek tumit sepatunya di lantai. Dia merengek kesal mengingat perjanjian bodoh yang dibuat oleh Eliot. Dia sangat benci pria itu, apa pun ceritanya Larrisa membenci Eliot. "Arghh! Kenapa jadi begini?" Larrisa terus menggerutu tanpa henti mengingat Eliot menindas dirinya. Sedangkan Eliot yang sudah berada di kursi mobilnya menatap wajahnya ke cermin mobil. "Apa aku semirip itu dengan kuda?" Dia membolak-balik wajahnya. "Beraninya dia menghina wajahku," kesal Eliot membayangkan bibir wanita yang dengan ringan menghina wajah tampannya. "Ada yang mengganggu pikiran Anda?" tanya Joan, manager sekaligus orang kepercayaannya. Joan sudah lama bekerja untuk Eliot. Dia tahu betul seperti apa bosnya itu. Melihat eksperisi wajah Eliot, Joan tahu sekarang bosnya itu tengah kebingungan seperti orang bodoh. "Apa aku seperti kuda?" tanya Eliot. "Ya, Tuan?" tanya Joan lagi. "Aku terlihat seperti kuda?" Eliot menunjuk wajahnya sambil memusatkan pandangan pada Joan. Matanya berkedip sekali menampilkan pesona yang memukau. Joan menatap lama wajah Eliot. Dengan jujur dia mengangguk. "Sepertinya memang mirip, Tuan," jawabnya polos. Dia ragu mengatakannya, daripada berbohong lebih baik dia jujur, begitu benaknya. Eliot menjegilkan matanya menatap Joan. Tangan Eliot menepuk bahu Joan dengan tekanan yang kuat, hingga managernya itu tiba-tiba menginjak rem, dan terpelanting karena berhenti. "Turun!" perintah Eliot. Tanpa banyak tanya, Joan pun turun dari dalam mobil. Dia tidak mau memancing amarah bosnya yang sangat tempramental. Meski mobil itu adalah milik pribadinya, dia hanya diam patuhi perintah Eliot. "Aku adalah korban," ungkap Joan merenungi nasib. *** Untuk menenangkan diri dari emosi, tidak ada yang dapat dia lakukan selain daripada membuang kekesalan itu. Larrisa pergi ke gelanggang es untuk melupakan jengkel yang menyeruak dari dadanya. Meski tahu bahwa perbuatannya memancing murka sang ayah, Larrisa tidak mempedulikan janjinya pada Tuan Steven, kalang kabut sudah menutupi hatinya, hanya sepatu skating yang dapat meredam amarahnya. Pikirannya sedang kusut, tidak ada pelampiasan yang paling efektif selain daripada menari di atas lapisan es. Membentuk gerakan indah dan memercikkan amarah di dalam tarian itu. Larrisa mulai mengayunkan kakinya dengan sekali tarikam nafas dalam. Dia terpejam sebentar, menenangkan pikiran sebelum mulai menetapkan blade atau mata pisau sepatu di atas lapisan es bening dan teramat dingin. Larrisa mulai mendekap dadanya dengan tangan menyilang. Membebaskan sebelah kakinya untuk memutar tubuh, dan satunya dijadikan tumpuan. Dia mulai memutar tubuhnya. Hingga elok tubuhnya terpancar nyata di atas beningnya es. Secara tidak beraturan, Larrisa terus menari hingga tak sadar bahwa dia kehabisan tenaga untuk hanya sekedar berjalan ke pinggir arena es. Namun dia tidak bisa berhenti, nafasnya memacu seakan terdekap, Larrisa terus melanjutkan tarian indahnya. Dia mengangkat sebelah kakinya hingga di atas kepala dan meraih sosok skate blade sambil berputar. Dia melakukan gerakan yang bisa dikatakan cukup sulit bagi seorang figure skate. Dia terus menari dan menciptakan gerakan tersulit yang dia punya, hingga dia berhenti seketika. Drap! Kakinya melemah. Dia tersungkur di atas lapisan es dengan keadaan yang menyedihkan. Matanya yang sendu berubah pilu. Dia begitu tertekan. Air matanya turun sedikit, kemudian langsung dihapusnya. Dadanya sesak tidak bisa mereda sejak tadi. Bayangan Eliot terus muncul bersama perjanjian yang mengikatnya. Dia berdiri dengan cepat sebelum seseorang melihatnya dalam keadaan menjijikkan. Larrisa berlari ke bibir arena es, dan kemudian membuka sepatu indah berwarna putih itu. Dia mengganti pakaiannya ke bilik gelanggang karena sejuk berlebih ketika memakai pakaian tipis yang membentuk tubuhnya. Dari ujung bangku yang mengelilingi gelanggang tersebut, seorang berdiri menyilang tangan menikmati tarian indah Larrisa. Tempat itu begitu tenang dan sepi, tak seorang pun di dalam sana selain dia dan Larrisa. Namun gadis itu tak menyadari keberadaannya, entah karena pikirannya yang gundah, atau karena kesedihan yang tidak terluapkan. "Sangat cantik." Puji Eliot sambil tersenyum. Matanya berbinar menikmati tarian dari gadis berpipi cabi itu. Secepat mungkin dia menghentikan kekagumannya pada penari es itu. Meski Eliot mengagumi gerakan indah Larrisa, bahkan hatinya tergoyah dengan lekuk tubuh Larrisa yang lentik. Dia tidak boleh terperangkap. Baginya wanita hanyalah penghalang, menyusahkan, bahkan merugikan. Tidak ada kata cinta baginya, semua hanyalah bual belaka. Mustahil baginya mencintai wanita. Karena baginya, hanya almarhum ibunya lah satu-satunya wanita yang benar-benar tulus mencintai dirinya. Selain daripada ibu, semua hanya mengambil untung dan memanfaatkan dirinya. Sejak tadi, Eliot sudah mengikuti wanita itu. Bukannya kembali bekerja, Eliot malah menyempatkan diri memantau Larrisa diam-diam. Hatinya gundah tidak nyaman saat memikirkan Larrisa. Dia tergerak ingin mengejar wanita itu. Ketika menatap mata Larrisa saat di cafe, Eliot melihat sorot mata kesedihan yang memancing empati darinya. Di lain sisi dia juga jengkel mengingat hinaan fisik dari mulut Larrisa. Dengan enteng wanita itu menyamakan wajahnya yang tampan rupawan dengan seekor kuda. "Sungguh menjengkelkan," decak Eliot kesal. Bibirnya menyudut ke atas saat mengumpat. Hati Larrisa gundah memikirkan perjodohan bodoh itu, dan kontrak perjanjian yang mengganggu pikirannya. Dia berjalan keluar dari gedung dengan langkah kaki tidak teratur. Pundaknya membungkuk seolah terpuruk. Matanya hanya menatap jalan hitam yang diaspal dan tidak memperhatikan sekitarnya. Beberapa kali dia menabrak orang-orang yang sedang berjalan, karena terus menunduk tidak bersemangat. Dia tampak menyedihkan, seperti mayat yang sedang berjalan. Larrisa berdiri di sudut jalan, menunggu lampu hijau berubah menjadi warna merah. Dia hendak menyebrangi jalan meski tidak mengarah ke rumahnya. Sekaligus berjalan-jalan dan memenangkan pikiran yang kacau, benaknya. Tidak cukup hanya bermain skating, dia membutuhkan sesuatu yang dapat mengalihkan kegelisahannya. Saat dia terbungkuk di tiang lampu jalan menunggu kendaraan mempersilahkan penjalan kaki menyeberang, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD