Badan bidang milik Eliot hampir dirobohkan oleh gadis bernama Larrisa Camory itu. Gadis itu berlari mengejarnya dan kemudian menabrak badannya dari belakang.
Brak!
Larrisa terpantul hampir terjatuh. Tak sengaja tubuhnya beradu dengan Eliot. Pria itu tiba-tiba saja berhenti ketika Larrisa sibuk mengejar.
"Apa yang kau lakukan?" Eliot berbalik menghadap Larrisa.
"Ti-Tidak, cuma ingin mengikutimu saja," jawab Larrisa tidak berani menatap mata Eliot yang tajam dan menusuk." Kau mau kemana?" tanya Larrisa lagi.
"Tidak lihat bajuku basah?" Eliot melirik kemeja hitamnya yang terkena semburan dari mulut Larrisa.
"Tentu, tentu harus diganti. Kalau begitu biar kutemani," ucap Larrisa menawarkan diri.
Eliot langsung berbalik pergi tak menghiraukan Larrisa. Dia berjalan lurus menuju kamar yang masih kental dengan bau cat baru itu.
Larrisa terus mengejar. Dia tidak peduli akan izin dari Eliot. Baginya Eliot sudah menyetujui tawarannya karena pria itu hanya diam. Diam artinya setuju, begitu benaknya.
Eliot merasa risih seolah sedang diawasi oleh Larrisa. Ketika tangannya memegang gagang pintu, Eliot melemparkan tatapan kebingungan ke arah Larrisa. "Kau sedang memancing ku?"
Larrisa berhenti mendengar perkataan Eliot. Bulu kuduknya berdiri melihat serangan mata yang tajam dari mata indah Eliot. "Mancing? Mancing apa?" Larrisa kebingungan. Kepalanya yang kecil tidak menangkap maksud dibalik kalimat Eliot. Secepatnya, Larrisa menjelaskan mengapa dia mengikuti Eliot hingga ke depan pintu kamar di villa itu.
"Aku tahu kau sangat marah padaku tadi saat kita makan bersama kakekmu. Jadi aku hanya ingin meminta maaf," jelas Larrisa dengan penuh ketulusannya. Dia benar-benar ingin tampil baik dan anggun di depan Tuan Erdogen, hanya saja sifat liarnya tidak terkontrol, hingga merusak makan mereka untuk pertama kalinya. "Aku menyesal karena tidak tampil sempurna di hadapan kakekmu. Tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya. Lain kali saat di depan kakekmu aku akan jadi gadis yang baik." Larrisa mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya sambil menampakkan muka serius. "Kau tidak akan batalkan kontrak kita, kan?" Matanya membola.
Eliot mengira bahwa gadis liar itu khawatir akan dirinya. Ternyata dugaannya salah. Larrisa malah mencemaskan pasal kakek dan kontrak itu. Sudah mantap Eliot menerka, ternyata gadis itu tidak peduli akan perasaan marah Eliot terhadapnya. "Aku terlalu tinggi menilai gadis ini," batinnya menelan ketidak pekaan Larrisa.
"Pergilah! Aku mau ganti pakaian," usir Eliot.
Larrisa menoleh ke belakang, memeriksa keberadaan Tuan Erdogen. Saat melihat bahwa kakek itu sudah tidak ada di tempat, Larrisa merasa aman. Dia mengelus dadanya merasa lega.
Betapa shocknya Larrisa saat diberikan villa oleh Tuan Erdogen. Bisa masuk ke villa mewah itu sudah berkat terindah dalam hidupnya, apalagi villa itu diberikan padanya, sungguh badannya mati kaku tidak menyangka.
Larrisa memang lahir dengan harta dan kekayaan yang berlimpah. Tapi untuk sebuah villa? Mereka tidak seroyal itu memberikan orang lain hak milik secara cuma-cuma. Memang betul keluarga William memiliki harta berlipat ganda. Larrisa baru menyadari sekarang.
"Kenapa belum pergi?" Eliot mengusir gadis itu sekali lagi. "Malah bengong di situ," decaknya mengumpat.
"Ok." Larrisa langsung pergi tanpa merasa terbebani. Sudah cukup baginya terbebas dari Tuan Erdogen. Dia tak ingin bermasalah lagi dengan pria dingin bermulut pedas itu. "Mereka berdua menyusahkan aku saja," kata Larrisa saat berjalan pergi menjauhi Eliot.
Mendengar celotehan gadis itu, Eliot merasa terhina dan tidak terima dengan perkataan Larrisa. Gadis itu sudah membuat dirinya basah begitu, dan masih sempat Larrisa merutuki dirinya. Sungguh Eliot tidak habis pikir. Gadis itu harus diberikan sedikit hukuman.
Eliot memegang leher Larrisa pelan dari belakang, lali kemudian menariknya hingga tepat satu langkah di depannya. Dimana posisinya Larrisa tepat membelakangi tubuh Eliot. Pria itu menunduk sedikit, menyetarakan tingginya ke telinga Larrisa.
"Apa katamu?" bisik Eliot dengan suara berat seakan hampir menikam Larrisa.
Larrisa langsung terdiam membeku. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dan tak berani melihat ekspresi wajah Eliot. Dia menutup matanya juga dan tidak membukanya sama sekali.
Kini Eliot berdiri tepat di depan mata Larrisa, dia menyilangkan tangannya di atas d**a dan menunggu gadis itu menjelaskan maksud dari perkataannya tadi.
Tidak ada jawaban, Eliot malah diacuhkan. Gadis itu menutup matanya dengan muka tegang tidak terbayangkan. Eliot semakin kesal. Dia mendorong tubuh Larrisa ke sudut dinding dan kemudian meluruskan sebelah tangannya ke arah dinding itu.
Dup!
Larrisa membuka matanya dan memandang adegan begitu indentik dengan romansa di drama televisi. Dia tidak bisa menghirup udara dengan benar. Nafasnya terhenti dan kesulitan untuk bergerak.
"Katakan!" Eliot semakin mendekat ke arah Larrisa, hingga jaraknya begitu dekat dengan Larrisa.
Nafas pria itu terdengar jelas di telinga Larrisa, hingga dia merasakan ancaman begitu besar dari tatapan mematikan yang dilempar untuknya. Dia tidak bisa bergerak, tangan panjang berurat itu menghalangi jalannya. Belum lagi karena jarak yang terlalu dekat, membuat Larrisa tidak leluasa bergerak. Matanya hanya bisa memandangi wajah tampan Tuan Muda Keluarga William, dan juga sekujur tubuhnya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Terdengar menggema suara pria paruh baya dari lorong kamar itu. Tidak lain dan tidak bukan, dia Tuan Erdogen. Menangkap basah adegan yang membuat batin sedikit merasa ngeri.
Keduanya menoleh secara bersamaan menatap Tuan Erdogen. Mereka terkejut dengan kemunculan Tuan Erdogen. Belum lagi posisi mereka sungguh mendebarkan. Larrisa yang sudah hampir mati di tempat karena ulah Eliot, kini ditambah lagi dengan kedatangan kakeknya. "Tolong aku!" teriak Larrisa dalam hati.
Eliot menarik dagu Larrisa agar seutuhnya hanya memandang wajahnya. Kemudian dia menarik wajah gadis itu hingga tidak ada jarak diantara keduanya.
Cup!
Bibir mereka bertemu. Ciuman lembut dari mulut Eliot mendarat sempurna tepat di tengah ketegangan Larrisa.
"Apa yang terjadi?" tanya Larrisa dalam hatinya. Matanya terbelalak membola, dia tidak sanggup lagi menghadapi hari-hari bersama Eliot. Terlalu banyak kejadian baru yang membuat dia hampir tidak bernafas.
Sekali lagi ciuman itu dilemparkan ke bibir Larrisa. Wajahnya yang semula pucat berubah merah seperti delima. Darahnya seolah deras mengalir disetiap pembuluh darahnya. Kepalanya terasa ringan, dia tidak memikirkan apa pun selain daripada wajah indah milik pria di depannya itu.
Eliot kemudian melangkah mundur dan langsung menatap kakeknya dengan raut seolah tidak merasa bersalah.
"Kakek sudah mengganggu waktu kami," katanya dengan angkuh sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana katun berwarna hitam berlinang itu. "Bagimana menikmati acara berdua dengan pacar manisku ini?" Eliot menatap Larrisa.
Tuan Erdogen yang tidak percaya melihat kejadian langka itu langsung berucap syukur. Akhirnya cucunya benar-benar mengencani seorang wanita. Sungguh dia teramat senang. Padahal awalnya dia mengira bahwa Eliot sedang merundung Larrisa, sebab itu dia langsung melerai keduanya. Ternyata dugaannya salah, cucunya yang kolot akan cinta akhirnya berani berevolusi.
"Kakek tidak lihat apa pun." Tuan Erdogen tersenyum malu. Dia menelan salivanya dan kemudian tertawa keras menghilangkan kecanggungan. "Kalian bisa lanjut. Kakek hanya kebetulan lewat saja." Tuan Erdogen dengan langkah yang hampir patah patah itu berjalan cepat berbalik meninggalkan kedua pasangan kasmaran itu. "Dia sudah dewasa," batin Tuan Erdogen tersenyum.
***
Entah mimpi apa yang mengutuknya hingga kejadian hari ini menimpanya. Larrisa tidak terima karena ciuman pertama yang selalu dijaga olehnya telah hilang dalam sehari, bersama pria yang sangat menjengkelkan dalam hidupnya. Gadis itu mengepel kedua tangannya lalu menatap sinis netra Eliot. Pipinya yang semula merah malu berubah menjadi amarah.
"Beraninya kau! Meski kau begitu memandang rendah diriku, tidak berarti kau dengan sesukamu menyentuh tubuhku!" Larrisa begitu murkanya mengamuki Eliot. Tangannya bahkan ikut menunjuk karena kesalnya. "Jika bukan karena ayahku, aku… Larrisa Camory, tidak akan pernah berhubungan denganmu!" Matanya sedikit berkaca-kaca menahan marahnya. "Aku akan membalas kelancanganmu ini!" Larrisa pergi meninggalkan Eliot dengan wajah murka penuh amarah. Dia tak dapat berkata-kata lagi, toh semua telah terjadi, tidak ada yang bisa diperbaiki. Bibirnya yang suci itu telah dicemari pria dingin menyebalkan.
Eliot tak terlalu mempermasalahkan kemarahan gadis itu padanya. Baginya hal itu impas. Larrisa menyeburkan air padanya dan dia memberikan balasan yang setimpal atas kecerobohan gadis itu.
Larrisa duduk di belakang teras villa, dimana sebuah kolam renang berada. Dia dengan marahnya menggerutu Eliot hingga tak sadar hari kian larut. Awan putih telah berubah menjadi gelap. Dia tetap berada di kolam renang itu, dan tak kunjung keluar. Tidak ada yang mencarinya. Eliot tentunya tak peduli dengan keberadaannya. Sementara Tuan Erdogen, dia tak ingin menganggu cucunya yang tengah jatuh cinta.
Larrisa duduk berayun di sebuah kursi kayu panjang yang tergantung di antara sisi kolam renang. Dia menatap gelapnya lampu dan sebuah pijaran lampu bulat berukuran sedang. Dia merenung. Menyentuh bibirnya berulang kali dan terus terbayang dengan wajah Eliot yang menggoda. Cara pria itu mengecup bibir Larrisa sungguh menawan. Sejenak Larrisa terpesona dan lupa dengan sosok pria menyebalkan dari Eliot.
Untungnya dia cepat sadar dan kembali normal. Rasa yang sempat dia berikan sirna seketika setelah otaknya kembali normal. Dia membenci akan kelancangan Eliot, dia berusaha melupakan kejadian itu, tapi tetap saja, dia kembali teringat dan terbayang.
"Argh!" Larrisa menghentakkan kaki telanjangnya, dia membuka heel hitam itu dan meletakkannya tepat di sebelahnya.
Waktu terus berjalan. Namun tidak ada yang memanggilnga atau hanya sekedar menyadari keberadaannya. Larrisa semakin kesal. Hari sudah larut, jarak villa itu ke rumahnya cukup jauh. Membutuhkan waktu berjam-jam.
Larrisa melihat ponsel genggamnya. Dia melihat jarum jam menunjuk pukul sembilan. Tentu ada yang tidak beres hingga satu pun tiada yang menyadari dirinya.
Larrisa keluar dari teras belakang villa itu untuk menemui Eliot atau Tuan Erdogen. Dia ingin meminta keterangan atas ketidaknyamanannya selama berada di villa itu. Belum sampai satu hari, dia sudah jera berada di sana.
Ketika dia berada di dalam villa. Tak seorang pun di sana. Pelayan yang ramai-ramai menyambut mereka tadi tak satu pun terlihat. Hanya ada Eliot di sofa berwarna coklat tua dengan sebuah buku di tangannya.
Dengan rasa canggung, Larrisa mendekati Eliot. Di setiap langkahnya, secara bergantian bayangan kecupan teringat dan kemudian terbayang bagaimana cara Larrisa memarahi Eliot. Dia ingin mengurungkan niatnya untuk menanyakan pada Eliot. Namun malam semakin larut, dia tak bisa hanya duduk diam menunggu pagi menjelang.
"E-Eliot…." Larrisa dengan nada ragu berdiri di depan Eliot sambil memelintir jarinya.
Eliot dengan muka malasnya menatap Larrisa dan kembali membaca buku yang di genggamnya. "Hmm?"
"Kenapa tidak ada orang di sini? Dan… kapan kita akan pulang? Hari sudah malam." Larrisa dengan ragunya menanyakan secara beruntun pada Eliot yang sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Larrisa. "A-Aku tadi memang keterlaluan. Ma-Maafkan aku," tambah Larrisa lagi menyesal karena terlalu keras pada Eliot tadi. "Aku hanya terlalu marah tadi, sampai lepas kendali memarahimu," sambungnya.
Eliot tetap diam mengacuhkan Larrisa. Eliot tetap membalikkan lembar kertas buku itu tanpa terusik dengan keberadaan Larrisa.
"Lagian itu salahmu! Kenapa kau menciumku. Itu… itu ciuman pertama ku," ucap Larrisa pelan pada akhir kalimatnya.
Eliot menutup bukunya.
Tap!
Matanya menatap Larrisa dengan tatapan lembut. "Sudah selesai ngomongnya?"
Larrisa mengatup bibirnya langsung. Dia menutup mulutnya dan berhenti berbicara.
Eliot tersenyum tipis, meski hanya samar-samar terlihat oleh Larrisa. Entah mengapa hatinya sangat tergelitik melihat gadis yang terus mengoceh itu. Tanpa henti terus menjelaskan padanya, padahal Eliot tidak menghiraukan mulut cerewet Larrisa.
"Su-Sudah," angguk Larrisa.
Eliot berdiri menghadap Larrisa dan dengan santainya menyentuh bibir Larrisa. Seolah dia menyapu bibir kecil berisi milik Larrisa. "Sangat manis," ucapnya sambil tersenyum.
Tumit kaki Larrisa melemah seketika. Telapak kakinya bahkan terasa mengambang. Tanpa sadar langkahnya mundur ke belakang menjauh dari Eliot. "Ke-Kemana semua orang?" tanya Larrisa ketakutan. Dia melihat sekeliling dan tak menemukan orang di sekitarnya. Tiba-tiba suasana berubah mencekam. Seakan dia hampir diterkam binatang buas.
Eliot mengikuti langkah Larrisa sehingga mereka tetap dalam jarak yang dekat. Semakin Larrisa menjauh dari Eliot, pria itu terus mengikuti langkah Larrisa.
"Hanya ada kita berdua di sini," jawabnya dengan suara menindas. Dia tersenyum licik seolah puas melihat wajah Larrisa yang tengah ketakutan. "Tidak ada orang lain, mereka meninggalkan kita di sini, khusus membiarkan kita berdua." Dia menyeringai sambil membelai wajah gadis itu lembut. Dia menjelajahi wajah dengan pipi chubby milik Larrisa. Mulai dari kelopak mata hingga dagunya. "Sepertinya ciuman pertama Nona Larrisa Camory tidak terlalu berkesan. Bagimana jika diulangi saja? Hmm?" Suara yang begitu merdu seolah sedang mendongeng di telinga Larrisa. Hatinya bergetar namun dia ketakutan. Mukanya hanya tak sampai selebar tangan Eliot, melawan tidak akan ada gunanya. Toh dia juga yang akan kalah.
Dug!
Kaki Larrisa menabrak meja kaca di belakangnya. Suara dentum betisnya terdengar keras. Sakitnya tak seberapa karena kini dia sedang bergetar ketakutan.
"Eliot a-apa yang kau lakukan?" Larrisa tidak bisa mundur lagi.
Tidak hanya sampai di situ saja, Eliot kembali berulah. Dia merangkul pinggang kecil wanita itu, lalu menariknya hingga mendekat ke dadanya. Mereka tidak berjarak sama sekali. Sampai suara nafas Eliot dan Larrisa saling beradu.
"Ingin mengulangi ciuman pertamamu," bisiknya tepat ke daun telinga Larrisa.