Tatapan mata itu terlihat tenang dan datar, dalam waktu beberapa saat, jari-jemari lentik itu mulai menyusuri tumpukan buah dan mengambil satu buah anggur hijau tanpa biji dan dengan gerakan perlahan nan anggun–Carolin memasukannya ke mulutnya.
Sensasi manisnya mampu menenangkan dirinya, tapi ia tidak benar-benar tenang, karena dalam waktu beberapa saat–ia harus berpikir keras untuk menjawab setiap kata, dari siapapun juga.
"Lalu, apa yang harus aku katakan bila mereka mengorek tentang hubungan yang mungkin sudah kita lakukan? Apa aku harus mengatakannya jujur kalau kita sudah melakukannya dua kali? Oh, ya! Aku baru ingat! Mereka pasti ingin cucu, kan?! Apa kita turuti saja nanti?!" Carolin mengedipkan sebelah matanya dengan sangat genitnya.
Setelah mengatakan hal itu wanita itu meraih sebuah apel merah dan bergegas bangkit dari duduknya, lalu ia pun meninggalkan tempat itu segera.
Ucapannya membuat semua orang terpaku, dan Bian sendiri tampak melongo dengan segala hal yang wanita itu katakan! Bagaimana bisa wanita itu berkata demikian? Very sampai tercengang sepenuhnya! Baru saja ia hendak mendekati wanita itu, wanita itu malah mengatakan apa yang telah ia lakukan bersama Bian.
"Bian?! Kamu bilang pernikahan kamu tidak serius? Kenapa kamu melakukannya dua kali?! Bagaimana kalau dia hamil?!" ujar Very. Ia berusaha mengintrogasi sang teman, berusaha menanyakan sebenarnya sejauh mana hubungan mereka.
Karena sekarang, hubungan itu terlihat lebih mendalam, dan tidak mungkin Bian tidak menaruh rasa kalau ia bahkan sanggup menyentuhnya dalam keadaan sadar untuk kedua kalinya.
Bian diam, karena ia sendiri juga sebenarnya bingung dengan dirinya. Mungkin, ia merasa di hatinya janya ada, Aleta, tapi mengapa–ia selalu terangsang bila melihat Carolin?
Bian hanya diam, dan segala pertanyaan itu hanya menggantung dan tanpa kepastian dari sebuah jawaban. Sebenarnya, mungkin bukan hanya Bian saja yang bingung dengan segala hal yang terjadi, karena pada dasaranya–Carolin bahkan jauh lebih bingung dari Bian sendiri.
Ia pergi seolah menggoda Bian, padahal hatinya sudah kacau dan luluh-lantah oleh keadaan. Untuk saat ini, ia hanya bisa menjauh terlebih dahulu. Ia berusaha untuk tetap tenang dan pergi mencari tempat aman untuk menghubungi Livy.
Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya ia sampai ke sebuah tempat yang merupakan sebuah kamar yang ia pakai beberapa malam. Ia masuk ke sana dan menutupnya. Dengan cepat Carolin menuju ke arah nakas yang ada di samping ranjang lalu meletakan apel yang ia ambil barusan sebelum mengambil ponselnya di sana.
Buru-buru ia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Livy. Kaki jenjang Carolin yang menggunakan high heels sudah berjalan kesana kemari dengan sangat panik. Wajahnya tegang, dan ia sungguh sangat gugup.
"Ayo angkat, Sil*n! Kau sengaja membuatku hampir mati menunggu?!" gumam Carolin. Ia bahkan hampir menggigiti kuku-kukunya
Pada akhirnya, Carolin sadar–ia harus menjaga penampilannya hingga ia baru saja mengakhiri rasa gugupnya yang tanpa sengaja tadi hendak menggigit kukunya hingga patah!
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sambungan telepon di ujung sana masuk juga dan dapat didengarkan.
"Hallo, Livy?!" panggil Carolin dengan suara yang terdengar meninggi. Akan tetapi, sorot matanya tak lepas dari pintu kamar tersebut. Ia takut, bila ia tidak memperhatikan pintu–mungkin saja, Bian masuk dan mendengarkan semua percakapannya dengan Livy.
"Ada apa, Carolin? Apa kamu menyerah? Baru beberapa hari, dan kalau kamu tidak sanggup, mungkin aku akan meminta uang yang ada padamu kembali padaku, dan kamu akan tertuduh menjadi penipu!" ancam Livy.
Sebenarnya Carolin merasa geram saat ia mendapatkan sebuah ancaman yang membuatnya sangat kesal dan tentu saja naik darah! Akan tetapi, ia sadar–Livy memiliki uang, dan segala tuduhan itu hanya akan berbalik padanya seorang diri.
"Sial*n! Kalau aku tertangkap polisi, maka keluarga mereka juga akan menanyakan kebenaran padamu! Kamu yakin, mereka akan percaya begitu saja kalau aku yang sengaja menjebakmu agar tidak menjadi istri dari putra mereka? Sementara kamu sendiri mengganti namaku di surat nikah, dan segala surat lainnya. Apa itu masuk akal?!" tekan Carolin dengan sangat kesal.
Hening seketika...
Livy tampak tengah memikirkan segala hal yang Carolin katakan, dan ia memang adalah wanita yang keras kepala, sehingga bukannya menanyakan Carolin ada keperluan apa, ia malah seolah mencemooh Carolin dan berpikir kalau Carolin tidak sanggup menjalankan kerja sama yang mereka sepakati sebelumnya.
"Ada apa?" Kali ini, suara Livy terdengar sedikit menurun, dan terdengar lebih santai.
"Akan ada pertemuan keluarga, sebaiknya kamu kirimkan cepat silsilah keluarga kamu, riwayat hidupmu dan segala pendidikan yang telah kamu tempuh! Soal pekerjaan dan yang lainnya, mungkin kamu bisa menjelaskan secara merinci agar aku bisa mengatakannya nanti. Ini bukan tentang aku, karena bila saja mereka mencemooh segala hal yang aku katakan yang mungkin saja aku katakan ternyata tidak pantas, kamulah yang seharusnya malu!" tekan Carolin dengan tegas.
"Apa maksudmu?! Kenapa aku yang harus malu?!" Suara Livy terdengar sedikit emosi, akan tetapi– ia masih belum meninggikan suaranya.
"Tentu saja karena mereka hanya mengenal keluargamu, bukan keluargaku, bukan tentang aku, tapi baik dan buruknya kamu, dan secara unggul dan tidaknya kamu!" tekan Carolin.
"Baik, aku akan mengirimkan semuanya. Tapi awas saja kalau kau sampai mempermalukan keluargaku!" Ucapan itu terdengar seperti sebuah ancaman, dan apa yang Livy katakan tentu hanya hal kecil yang bahkan tidak bisa membuat Carolin takut.
"Tenang saja, aku juga tidak ingin dipenjara! Sekarang, lebih baik kamu kirimkan saja semua hal yang aku pinta, kalau kamu tidak mau hal ini terbongkar lebih dini dan mengakibatkan kamu juga berada dalam sebuah masalah besar!" tekan Carolin.
"Aku akan kirimkan, sesuai permintaan kamu!" Sambungan telepon terputus, dan pada waktu beberapa saat kemudian, akhirnya Carolin menghela nafas lebih panjang, ia kini menunggu dengan cemas, dan berharap Livy dapat segera mengirimkan semua data yang ia butuhkan sebelum akhirnya Bian, maupun temannya membawanya pergi dari sana.
"Semoga dia tidak terlalu lama mengurusnya. Astaga, rasanya aku hampir mau pingsan hanya karena menunggu." gumam Carolin.
Carolin hanya bisa duduk dan menunggu, ia berulangkali menunduk dan menatap layar ponselnya yang terlihat tidak ada tanda-tanda seseorang mengirimkan pesan. Hingga pada saat Carolin mulai menenangkan dirinya, tiba-tiba saja pintu terbuka dan memperlihatkan seseorang yang datang mendekat dan membuat nafas Carolin seakan tercekat.
Seorang pria yang sudah mencuri hati Carolin itu tampak datang mendekat, akan tetapi, pesan dari sebuah nomor membuat Carolin kembali menoleh ke arah ponsel. Untuk saat ini–pesan dari ponselnya jauh lebih menarik daripada Bian yang ada di sana.
Tapi, suatu hal akhirnya terjadi dan mengejutkan Carolin, saat Bian tiba-tiba merebut ponselnya dan hendak melihatnya.
Carolin sontak langsung bangkit, ia berjinjit dan mulai mencoba merebut ponselnya dari tangan Bian.
"Kamu keterlaluan! Sekarang kembalikan ponselku!" tekan Carolin sembari mencoba meraih ponselnya, akan tetapi–Bian tampak mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, dan yang membuat Carolin makin terkejut–salah satu tangan Bian tampak menarik tubuh wanita itu agar makin merapat ke arah tubuhnya!
"Tindakanmu yang mengabaikan seorang suami itu bukanlah tindakan yang baik! Karena kamu sudah begitu kurangajar, maka kamu harus mendapatkan hukuman!" ujar Bian dengan penuh penekanan. Carolin menelan ludahnya kasar dan apa yang Bian lakukan akhirnya membuatnya kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya!