"Kau gila ya?! Shhh! Pinggangku sakit, Wanita Gila!" gumam Bian sembari mencoba meresapi rasa sakit di pinggangnya. Carolin yang ada di atasnya akhirnya berusaha untuk bangkit. Ia memang tengah menindih Bian karena pria itu tadi memegangnya dan bahkan memeluknya.
"Kau yang gila! Ngapain kau tidur di sini juga?! Bukankah aku yang duluan ke sini?!" jawab Carolin dengan suara yang terdengar meninggi pada saat itu... Akan tetapi, tiba-tiba saja...
"Aagh! Kenapa kamu malah memelukku lagi pria Brengs*k?!" pekik Carolin pada saat itu.
"Agar kau sadar, aku adalah suamimu!" tekan Bian.
Kedua mata indah Carolin melebar pada saat ia mendengar ucapan dari pria itu, setelah itu–bibir mereka hampir saja kembali bertemu, akan tetapi–sebelum itu terjadi, Carolin akhirnya menarik dengan cepat tubuhnya, dan ia tampak segera berdiri.
Tatapannya sangat tajam, dan hal itu membuat Bian melakukan hal yang sama. Mereka seakan menarik lalu kembali menjauhi satu sama lain tanpa alasan yang mereka ketahui.
"Kalau memang kita hanya suami istri hanya di depan umum, dan keluargamu, untuk apa kita sedekat ini. Lagipula, aku tidak mau berurusan dengan wanita manja itu! Aku ingin muntah bila mendengar ia merengek padamu!" tekan Carolin pada saat itu. Wanita itu berbalik dengan angkuh, akan tetapi Brian malah merasa makin tertantang.
"Wanita itu tidak tertarik padaku?! Sungguh tidak tertarik? Apa aku kurang tampan?" gumam Bian dengan ekspresi wajah yang terlihat syok! Untuk pertama kalinya, ia baru merasakan tidak diinginkan. Padahal biasnya–banyak wanita yang tergila-gila padanya.
Carolin memang merasa kesal, dan sebenarnya ia juga merasa gugup dan berdebar di depan pria tampan itu. Akan tetapi, ia tidak ingin membuat Bian besar kepala andai pria itu mengetahui kalau dia memiliki perasaan untuknya.
Ia sekarang sudah ada di dalam kamar mandi, menutupnya dan mencoba menguncinya. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah mandi. Mungkin ia akan mengguyur tubuhnya dan mencoba untuk menghilangkan semua rasa amarah yang sudah memuncak di ubun-ubunnya.
Cukup lama Kiara mencoba untuk meredam semua hal yang ia rasa berlebihan, perlahan bulir air mulai terus menerus menghujaninya dan menciba menyadarkannya dari sebuah rasa yang tidak seharusnya ada. Ia terkesima dan terbawa suasana hati sehingga tidak menyadari, kalau sebenarnya ia salah bila saja ia memilih untuk terus mengejar mimpi yang jelas-jelas terlihat sangat sulit.
"Apa aku bisa mendapatkannya? Ia terlalu jauh untuk aku gapai, dan ia sungguh terlalu tinggi." gumam Carolin dengan suara lirih. Setelah ia merasa apa yang ia renungi sudah cukup, pada saat itu ia akhirnya mengambil bathrobe dan memakainya.
Tanpa ragu, Carolin akhirnya keluar kamar. Untungnya, tidak ada siapapun di sana, dan Bian juga sepertinya sudah keluar. Akan tetapi pada saat itu, Carolin melihat sebuah tote bag yang ada di ranjang.
Dengan perasaan was-was dan penuh perhitungan akhirnya ia mendekat. Perlahan ia membuka tas tersebut, dan...
Seketika ia menahan nafas setelah melihat sebuah dress putih tulang bertali spaghetti. Bahannya halus, dan mungkin nyaman dikenakan. Seperti biasa, ada pakaian dalam yang membuat Carolin merasa malu, dan wajahnya merah padam.
"Masa dia sampai tahu ukuran milikku?" gumam Carolin sembari menutup mulutnya dengan drees yang ia pegang pada saat itu. Harum, bahkan dress yang ia pegang sangat harum.
***
Di sebuah meja makan, seorang pria tampak duduk dan sesekali menyesap kopinya. Di salah satu kursi, ada seseorang yang menatapnya penuh curiga.
"Tidak bisakah kamu tidak menatapku begitu? Aku merasa risih!" tegur Bian. Tatapan mata elangnya juga tampak menusuk! Ia sudah mulai berekspresi serius, akan tetapi orang yang ia tatap itu tidak bereaksi sama sekali. Masih menatapnya dengan tatapan menyelidik dan hampir tidak memalingkan wajahnya.
"Hm, aku heran padamu–Bian. Apa kamu jatuh hati pada wanita itu?" Very mulai bicara dengan serius.
Sebagai seorang bawahan sekaligus sahabat, ia tentu harus memastikan satu hal.
"Bicara omong kosong apa itu?! Tidak mungkin aku menyukainya!" tolak Bian dengan sangat kasar, akan tetapi–suara langkah kaki menggunakan high heels membuat ucapannya terhenti.
Sayup-sayup Carolin mendengar ucapan dari Bian, hatinya sakit, dan ia sungguh merasa sedih, akan terapi–ia tidak boleh terlihat lemah.
Very yang melihat kedatangan Carolin seketika akhirnya merasa terkesimi. "Kalau begitu, buat aku saja ya?" gumamnya pada Bian.
Akan tetapi, Bian menarik dasi dari temannya itu sehingga membuat mereka malah menatap satu sama lain.
"Aku datang untuk sarapan, kalian malah pamer kemesraan. Baiklah, Tuan Bian– sekarang apakah aku boleh duduk?" tanya Carolin pada saat itu.
Spontan Bian melepaskan temannya itu, ia menjauh sejenak dan mereka berdua berusaha tampil cool di depan Carolin pada saat itu.
"Hm, ya..., silahkan." ujar Bian.
Carolin tersenyum, dan ia akhirnya duduk dengan anggun pada saat itu. Wanita itu terlihat jauh lebih cantik bila tampak tenang.
"Silahkan dinikmati," ujar Bian lagi.
Carolin akhirnya memulai sarapan, dan kedua pria tampan yang ada di sana juga ternyata melakukannya juga. Mereka sarapan dengan diam, dan Carolin tampak lahap saat memakan beberapa menu mewah yang disajikan.
Setelah beberapa saat, akhirnya sarapan selesai. Carolin bahkan sangat bingung apa yang harus ia lakukan di sana, hingga pada akhirnya ia menatap ke arah Bian untuk beberapa saat.
"Bolehkah aku pergi hari ini?" tanya Carolin sembari menatap ke arah Bian.
Bian yang baru saja selesai makan akhirnya menaruh garpunya dengan sangat kasar pada saat itu. Suara dari benturan garpu ke arah piring terdengar nyaring.
"Mau ke mana?!" tanya Bian dengan sangat kasar dan nada suaranya terdengar cukup arogan. Carolin sebenarnya ingin sekali memaki pria itu, akan tetapi–ia menahan diri.
"Hanya ingin bertemu taman," balas Carolin singkat.
"Teman yang membawamu kabur kemarin?" tanya Bian. Pertanyaan itu seolah menjadi sindiran, dan senyuman tipis yang tadi ada di bibir Carolin seketika hilang dan lenyap seketika.
"Cih, kalau bukan karena aku yang tak dianggap di sini, mungkin aku tidak akan kabur! Dasar pria bajing*n!" gerutu Carolin sembari menatap tidak suka ke arah Bian.
Semua orang seakan menahan nafas saat mendengar ucapan dari wanita itu yang selalu saja memaki Bos mereka. Bahkan Very sampai tersenyum lebar namun sangat kaku saat mendengar wanita itu lagi dan lagi akhirnya memaki temannya itu.
"Tidak boleh! Aku bilang tidak ya tidak!" tolak Bian.
Carolin yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya akhirnya menggebrak meja makan, dan bahkan mungkin kedua tangannya sangat sakit sekarang.
"Nona, tolong tenang sebentar. Ada sebab dan akibat kenapa tuan tidak memperbolehkan anda pergi. Hari ini, anda harus mengikuti sebuah tradisi dari keluarga regan, di mana mereka akan mengadakan minum teh bersama dan berbincang dengan anda." Very berusaha menenangkan, dan pada akhirnya Carolin diam.
Ia diam bukan bukan karena ia merasa tenang. Meskipun ia tidak lagi terlihat berapi-api ataupun menggebu-nggebu, ia sudah diam– dan semua orang menganggapnya sudah merasa jauh lebih baik. Akan tetapi, di balik semua itu–Carolin sebenarnya tengah resah dan gelisah dengan acara pertemuan keluarga pada saat itu. Pertanyaan demi pertanyaan tentu akan ia dapatkan, dan bagaimana ia harus menjawabnya? Sementara itu, ia sama sekali bukan anak dari kekuarga kaya yang mereka duga!