12, Terjerat.

1106 Words
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan, Carolin. Ia baru saja mengambil ponsel dan hal itu adalah suatu hal yang seolah cukup terlambat ia lakukan. Ia baru mengingat ada dua orang yang mungkin saja tengah kelimpungan mencarinya. "Aku sampai lupa," gumam Carolin sembari memijat pelipisnya. Ia menghela nafas sejenak, berusaha meninggalkan sisa-sisa udara dalam rongga paru-parunya yang mungkin tadi ikut sesak saat mendengar percakapan manja dua orang yang kini hadir dalam hidupnya. Bukan... Lebih tepatnya ia yang menjadi orang ketiga. "Hallo," Carolin mulai mengawali percakapan yang kini tengah diperhatikan oleh Bian dalam diam. Pria itu menatap tajam, ia yang melihat wanita itu mulai bicara lirih mulai merasa tidak nyaman dan kesal. "Carolin! Apa kamu baik-baik saja?! Kamu di mana? Tolong beritahu aku dimana kamu, dan kalau bisa–kamu sharelok!" ucapan dalam sambungan telepon pada akhirnya mulai terdengar. Carolin tidak langsung menjawab, ia mendengarkan ucapan dari ucapan orang yang ada di sebrang, namun ia tampak enggan menjawab. "Aku baik-baik saja, kalian pulang saja." gumamnya sembari memejamkan matanya. "Tidak! Aku tidak bisa membuat kamu dibawa lelaki asing! Kamu bisa celaka! Katakan saja kamu ada di mana, aku akan meminta bantuan pada, Rey!" Ekspresi wajah Carolin seketika berubah saat ia mendengar ucapan dari temannya itu. Sebuah nama yang ia dengar kini lebih menakutkan dari apa yang mereka dengar! "Tidak! Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi! Sebaiknya kalian pulang saja, aku baik-baik saja. Aku tengah pulang kini ke rumah, kalian tidak usah khawatir." Carolin tampak menatap ke arah ponselnya setelah buru-buru mematikannya. Ada suatu hal yang membuatnya enggan berurusan dengan seorang pria yang dulu merupakan teman baiknya. Ia menutup sambungan telepon dan ia berusaha untuk tetap tenang. "Siapa dia?!" tekan Bian. "Siapa?!" bentak pria itu. Carolin akhirnya tersentak kaget setelah mendengar bentakan dari pria itu. Ia menatap bingung pada pria itu. Dan sesaat kemudian, tangannya terulur dan menarik pinggang Carolin. Tatapan mereka bertemu, ada suatu hal janggal yang mulai Carolin rasakan. "Kau tidak akan bisa berhubungan dengan siapapun selama kau menjadi istriku!" tekannya, Bian bicara dengan suara yang menyimpan banyak makna dan sebuah maksud! Carolin menatapnya dengan sangat serius, tidak ada rasa takut, tapi ia berusaha menjauh–meskipun jantungnya seakan hampir melompat dari tempatnya. Aroma mint dari mulut pria itu membuat hatinya bergetar. "Ini tidak adil, kamu bahkan masih berhubungan dengan wanita lain, tapi kamu memaksaku untuk tidak melakukannya! Aku akan bersikap seperti apa kamu, dan bukankah kamu melakukan hal yang kamu larang barusan?!" gumam Carolin dengan suara tegas. Akan tetapi, setiap hal yang ia lakukan kini seakan percuma saat Bian mulai membuatnya semakin dekat dan... Bibir mereka kembali bertemu. Bian membasahinya dan berusaha menyentuh ataupun menghisapnya. Ada suatu hal yang membuatnya terkadang tidak tahan untuk tidak melakukannya. Carolin terjebak antara perasaan dan juga tugasnya. Terkadang ia lupa, suatu saat identitasnya juga akan terbongkar! Decap itu membuat sopir yang mengendarai mobil sampai merasa ragu untuk melihat apa yang tengah mereka lakukan. "Aku tidak menerima penolakan, Carolin! Kamu istriku, maka–kamu harus melayani aku selayaknya seorang istri!" tuntut Bian. Carolin tersadar dari segaka ketidak adilan yang ia terima. Ia mulai menarik dirinya dan mengangkat tangannya untuk memberikan tamparan keras pada saat itu. Bian cukup terkejut saat merasakan tamparan yang ada di pipinya! Ia menatap Carolin dengan tatapan tajam. Wanita itu tampak menatao Bian dengan oandangan mata tajam! Pada saat yang bersamaan, pada akhirnya mobil mereka sudah memasuki halanan rumah besar milik Bian. Wanita itu membuka pintu mobil dan segera menuju ke rumah besar itu. Langkahnya gontai, dan harapan itu seakan tidak nyata. Bingung... Carolin berada dalam kebingungan yang membuatnya benar-benar sakit kepala dan menghela nafas berkali-kali. Saat ia masuk, tatapan para maid tertuju padanya, bukan tatapan ramah, melainkan tatapan yang tampak seolah hendak menghakimi. "Hentikan menatapku dengan tatapan seperti itu bila tidak ingin aku mencongkel biji matamu!" bentak Carolin pada seorang maid muda yang menatapnya. Ia mendekat dan berusaha ingin melakukan sesuatu hal pada maid itu, tapi tiba-tiba saja... "Carolin!" teriak Bian saat ia melihat Carolin marah-marah dan menghampiri salah satu maid-nya. Carolin menguringkan niatnya, ia membalikan tubuhnya dan menatap seseorang yang seakan membuat amarahnya kambali naik. "Bukankah aku sudah bilang padamu?! Kalau mereka terus menganggap ku binatang di sini, maka aku tidak akan tinggal dimanapun bersamamu! Jangan mentang-mentang kamu orang kaya, kamu bemperlakukanku sesuka hati dan membiarkan mereka semua mereka untuk membuat aku muak tinggal di sini!" tekan Carolin pada saat itu. Bian hanya diam setelah mendengarkan ucapan dari Carolin, akan tetapi setelah wanita itu pergi, ia akhirnya menatap tajam ke arah maid. "Kumpulkan semua teman-temanmu dan aku akan menunggu kalian di ruang kerja! Sekarang!" tekannya dengan suara yang terdengar sangat tegas. Ucapan yang merupakan perintah itu terdengar menekan mereka untuk melakukan segala hal yang Bian mau. Mereka menunduk dalam, dan menurut. "Baik, Tuan." jawab mereka, hampir bersamaan. Kehadiran Carolin tidak bisa lagi dianggap sebuah hal yang tidak berarti. Melihat bagaimana Bian bersikap, mereka menyadari akan ada masalah yang akan mereka terima dari sikap merekabtang tidak memanusiakan manusia! Seluruh maid tampak heboh, dan mereka juga akhirnya berbondong-bondong menuju ruang kerja Bian. Ketukan pintu mulai mereka ciptakan di daun pintu yang terdengar sampai ke dalam pintu ruangan. Pada saat itu, semua orang akhirnya mulai menatap satu sama lain dan sesekali mencoba menenangkan diri mereka. "Masuk!" perintah Bian dengan suara tegas dan berat. Setelah pintu terbuka, satu persatu dari mereka terlihat masuk ke dalam sana dan berjejer rapi di sana. Suara gebrakan meja mulai terdengar, dan setelahnya mereka bahkan sama-sama tersentak kaget. Tidak biasanya Bian berperilaku demikian, bahkan setelah mereka melakukan kesalahan pada Aleta, kekasih pria itu– biasnya ia hanya akan berteriak pada mereka. "Aku tegaskan pada kalian, meski aku memperlakukan wanita itu semena-mena, kalian harus memperlakukannya layaknya manusia, dan kalian harus memperlakukannya seperti memperlakukan aku juga!" tegasnya dengan suara lantang! Entah berapa kali saja pria itu menggebrak meja di hadapannya dengan sangat keras. Mereka bahkan langsung menunduk dalam dan tidak berani menatap wajah pria itu secara langsung! "Kalian dengar aku bicara atau tidak?!" teriaknya untuk sekali lagi. Hal itu membuat nyali mereka ciut. Seketika mereka bertanya-tanya, apakah yang membuat Bian sampai sebegitunya pada wanita itu? Apa dia se-sepesial itu? "Kalau dia sampai pergi lagi, maka akan aku putuskan satu jari kalian sebagai gantinya! Ini berlaku untuk kalian semua, bila satu wanita itu pergi, maka bersiaplah kalian akan kehilangan satu jari kalian!" ancamnya dengan sangat serius pada saat itu. Itu bukan hanya sebuah ancaman, Bian adalah seseorang yang selalu menepati setiap kata-katanya, biarpun itu kata-kata terburuk sekalipun, atau kata terkejam yang ia katakan. Dan inilah salah satu hal yang paling kejam diantara kata-kata yang pria itu katakan dalam seumur hidupnya. Lantas, apakah yang membuatnya demikian? Bahkan Carolin saja tidak akan menyangka Bian akan memberikan ancaman serius hanya karena dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD