11, Apa-apaan?!

1002 Words
Carolin benar-benar menatap tajam ke arah pria yang ada di hadapannya! Dan setelah beberapa saat kemudian, ia memberontak dan... Layangan tangannya menghantam wajah pria tampan itu! "Jangan kamu kira kamu bisa memperlakukan aku sesuka hati! Kamu bahkan tidak bisa memerintahkan pembantumu untuk menghormati manusia! Sekarang apa-apaan ini?! Kamu memaksaku untuk ikut?!" Rahang Carolin seakan mengeras saat ia bicara pada saat itu. Dan beberapa saat kemudian akhirnya tubuhnya merapat karena tangan Bian yang mulai berada di pinggangnya. "Dengar, suka atau tidak, kamu harus tetap ada di kediamanku! Kamu sudah menyetujui pernikahan ini, maka kamu harus menjadi pajangan di sana sebagai istri dari pengusaha muda sukses seperti aku!" tekan Bian. Ucapan itu membuat Carolin seketika terdiam. Tatapannya yang tajam seketika berubah menyipit dan penuh kebencian. "Percaya diri sekali–Anda, cih! Mendidik pembantu saja tidak sanggup! Kamu memperkerjakan binatang di rumah itu!" gerutu Carolin! Brian sebenarnya sedikit kesal mendengar ucapan dari Carolin, akan tetapi, ia menahan diri dan berusaha untuk tidak marah-marah tidak jelas pada Carolin. Brian merasa wibawanya seketika runtuh bila ia sampai marah saat menghadapi wanita yang kini menjadi istrinya. "Aku akan membereskan masalah itu, sekarang pulang bersamaku!" tegasnya dengan suara yang terdengar sangat serius. Hal itu membuat Carolin merasa ragu. Apa ia bisa bertahan di sana? Sementara ia tidak dianggap sebagai manusia di sana? Dan bagaimana dengan teman-temannya? "Tidak! Aku bersama teman-temanku tadi, aku tidak mau membuat mereka khawatir!" tegas Carolin! Ia menolak dengan kasar segala ajakan Bian, dan hal utama yang membuatnya demikian karena ia merasa tidak dianggap ada di sana! Bian yang tidak menerima penolakan akhirnya mengangkat tubuh wanita itu dengan paksa! Tidak berselang lama–tubuh Carolin kini terduduk di atas pangkuan pria itu. Seketika tubuh Carolin menegang, tapi tatapan Bian seolah menantang dan menggoda Carolin pada saat ia mendudukannya di pangkuannya. "Kamu tampak seperti menantang ku, apa kamu yakin?" tanya Carolin sembari mengalungkan tangannya ke leher pria itu, ia mendekatkan wajahnya ke wajah pria tampan itu, nafas hangatnya sampai menyentuh permukaan wajah Bian, dan nafas Bian terasa berat untuk beberapa saat setelah ia melakukan hak tersebut! Tanpa mereka sadari, bibir mereka hampir bertemu. Carolin benar-benar melakukan hal nekat yang membuat Bian sampai kehilangan akal sehatnya pada saat itu. Akan tetapi... Suara dering ponsel menghentikan aksi mereka yang sebentar lagi hendak terjadi. Bian menatap layar ponsel dan foto Aleta dapat Carolin lihat. Bian langsung mengangkat telepon dari kekasihnya tanpa memikirkan Carolin yang ada di dalam pangkuannya. "Hallo, Aleta? Ada apa?" tanya Bian pada saat itu. "Bian, kamu di mana? Aku mimpi buruk, aku mimpi kamu pergi meninggalkan aku ." suara manja dan Isak tangis dari wanita itu dapat Carolin dengar. Pada saat itu, Carolin sungguh berasa dingin muntah mendengarnya. Carolin akhirnya langsung beranjak dari pangkuan Bian dan bergegas menuju ke kursi samping pria itu. Ia duduk menjauh, dan akhirnya kini begitu dekat dengan pintu mobil. Tubuhnya tampak begitu rapat ke arah pintu mobil, menjauhi Bian yang kini tengah menelpon kekasihnya. Memang, ia merasa khawatir dengan kondisi kekasihnya, akan tetapi–reaksi dari Carolin membuatnya merasa ada suatu hal yang salah pada dirinya. Sentuhan yang tertunda itu akhirnya membuat hati Bian sedikit merasa kecewa juga. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia kembali fokus pada ponselnya. Carolin akhirnya merasa pusing dengan segala hal yang ia alami sekarang. Hatinya terasa panas, perih dan sakit, ia juga merasakan sesak teramat sangat, tapi ia berusaha untuk terlihat biasa saja. Tanpa ia sadari, Bian melihat segala gerak-geriknya yang terkihat sangat aneh. "Jangan bilang kamu ini cemburu karena telepon dari kekasihku." ujar Bian pada saat itu. Carolin menoleh cepat saat mendengar ucapan dari Bian. "Cih! Aku ingin muntah mendengarnya! Kamu pikir, aku akan tetap menjadi wanita murah*n saat aku mendengar kamu bicara dengan kekasih kamu! Anggap saja hal yang terjadi antara kita hanya sebuah bayaran atas segala hal yang mungkin kamu rasa merugikan kamu, dan kamu dengar..., aku tidak akan membiarkan kamu kembali menikmati tubuhku!" ancam Carolin, ia menoleh ke luar jendela lagi. Dan untuk saat ini, ia berusaha mempertahankan hal itu. Carolin memang mungkin harus merebut Bian, namun bukan hanya tubuhnya saja, ia sungguh-sungguh harus mengambil seluruh hati pria itu agar ia bisa terbebas dari jeruji besi yang mungkin saja akan ia huni bila saja pria itu mengetahui semuanya. Entahlah apa yang Bian pikirkan sekarang, akan tetapi–Carolin akhirnya berusaha untuk mengabaikannya. Bian mengakhiri sambungan teleponnya setelah ia berjanji pada kekasihnya kalau ia akan datang, akan tetapi–ia kini justru terus memandangi Carolin yang tampak menatap keluar jendela. Pria itu sebenarnya merasa penasaran pada wanita yang kini menjadi istrinya, mengapa ia tidak tertarik padanya? Dalam segi fisik dan ekonomi, ia sudah begitu cukup. Wajahnya juga bisa dibilang di atas rata-rata. Ada banyak wanita yang mengemis cinta padanya dan bahkan menawarkan tubuhnya, akan tetapi–mengapa wanita itu malah tidak berlaku demikian. Tanpa Bian sadari–apa yang Carolin lakukan adalah sebuah taktik jitu untuk membuat pria itu penasaran dengan dirinya, dan Carolin juga paham– mungkin..., ada banyak wanita yang mengemis dan menggoda Bian dengan tubuh, sehingga pria itu akan memandang semua wanita itu sama, hingga pada akhirnya, ia memilih melakukan taktik tarik ulur pada Bisn agar perhatian pria itu sedikit demi sedikit tertuju kepadanya. *** Sementara itu di tempat lain... "Waduh! Kemana dia?!" pekik Lily saat ia tidak menemukan temsnnya di tempat yang tadi ia lihat dan awasi. Mereka sudah membawa salay satu scurity yang bekerja di sekitar sana, tapi pada akhirnya mereka tidak menemukan apapun juga! "Mana sih, Mbak?! Kalian mau nipu saya, ya?!" tekan lelaki itu dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal pada saat itu. Lala yang ada di sana juga akhirnya merass ningung saat ia juga melihat temannya sudah tidak ada di sana! "Tadi ada di sini, Mas! Aku melihatnya!" balas Lala. "Jangan-jangan dia diculik!" tekan dua wanita kembar itu dengan ekspresi wajah yang terlihat menegang sesaat setelah mereka akhirnya tidak melihat Carolin ada di sana. Mereka terlalu panik sehingga mencari bantuan tanpa memperhatikan dan mengawasi kemanakah pria itu membawa Carolin, dan mereka juga terlalu takut bila saja mereka memilih mengikuti Carolin pada saat Carolin dibawa pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD