Mabuk! Carolin benar-benar mabuk! Kedua temannya sudah kewalahan mengurusnya yang tampak sampai teler karena mabuk berat. Mereka akhirnya berusaha membawa Carolin ke tempat aman dan nyaman.
Tapi meskipun demikian, mereka juga terlihat salah tingkah! Setelah sampai ke sebuah ruangan yang tampak asing, mereka mencoba mencari-cari cara agar bisa meredakan mabuk pada diri Carolin.
"Kayaknya kita butuh obat pereda mabuk deh, Ly," tutur Lala saat ia mulai merasakan rasa khawatir berlebih pada Carolin.
"Hm, benar sekali. Aku memilikinya, namun ada di dalam mobil!" Lily tampak terkejut saat mengingat obat yang ia maksudkan ada di dalam mobilnya yang kini berada di parkiran.
Carolin mulai muntah-muntah, dan hal itu membuat kedua temannya mual juga. Jujur, mereka adalah kalangan orang yang jijik dengan muntahan orang lain, sehingga saat Carolin muntah – bukannya membantu mereka tampak menghindar dan ikut mual.
"Aku mau ambil obat dulu." Lily langsungg pergi dari sana dengan alasan mengambil obat, ia akhirnya meninggalkan Lala yang tampak kebingungan sembari mual-mual.
Carolin sendiri merasa kepalanya seakan berputar saat ia merasakan efek mabuk dari minuman beralkohol yang ia konsumsi, dan akal sehatnya seakan diambil alih sehingga ia hanya mampu duduk dan berdiam diri dengan mata tertutup rapat.
"Lin, aku ke toilet dulu sebentar." Lala akhirnya memutuskan meninggalkan Carolin ke dalam toilet yang ada di ruangan itu. Ia sungguh merasa tidak sanggup lagi menghadapi rasa mual yang ada dalam dirinya.
***
Pada saat yang bersamaan, sekelompok orang tampak menjelajahi ruang demi ruangan yang ada di dalam Clubbing. Mereka seolah tengah menyisir tempat dan mencari-cari seseorang yang mungkin sangat penting. Tidak perduli ada larangan, tidak perduli terjadi perkelahian. Mereka semua mencari setiap sudut ruangan sampai akhirnya menemukan seseorang yang memang tengah ia cari-cari.
Seorang wanita muda duduk tak sadarkan diri dengan mata yang tampak tertutup rapat, dan mereka akhirnya mengangguk di saat menatap wajah satu sama lain pada saat itu.
"Ini orangnya?" tanya salah satu di antara mereka.
"Benar! Kebetulan dia mabuk, kita akan dengan mudah membawanya." timpal yang lain.
"Dia cukup berharga, jangan melakukan kesalahan sedikitpun kali ini!" tekan yang lain.
Salah seorang dari mereka yang memiliki tubuh paling tinggi tegap dari yang lainnya akhirnya menawarkan diri untuk mengangkat tubuh seorang wanita yang tampaknya tengah mabuk.
Tubuh itu tampak ringan, dan mereka membawanya tanpa perlawanan. Carolin yang mabuk berat akhirnya tidak menyadari kalau suatu bahaya kini tengah menggenggamnya.
Tubuhnya yang bak gitar spanyol itu segera dibawa entah kemana, dan ia yang masih mabuk terlihat tertidur lelap.
***
Lala yang baru saja menyelesaikan kewajiban rutin di toilet akhirnya selesai juga dengan urusan mual-mual sekaligus. Wanita itu keluar dari toilet, namun pada saat yang sama–jantungnya seakan-akan mau copot dari tempatnya saat tidak mendapati Carolin di sofa–di mana wanita itu duduk tadi.
Kepanikan melanda, dan ia tentu merasakan suatu ketakutan yang seakan mencekeramnya. "Carolin?!" Panggilnya dengan suara lebih tinggi, berharap temannya hanya melakukan hal konyol seperti tertidur di lantai ruangan.
Tak berselang berapa lama, akhirnya pintu terbuka. Ekspresi wajah Lala tampak tegang dan ia berharap yang datang adalah Carolin.
Saat pintu terbuka – Lala seakan menahan nafas. Tubuhnya seketika menegang tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa dengan wajahmu? Ekspresi wajahmu terlihat sangat tegang." gumam Lily. Dengan ragu, Lala akhirnya mendekat dan berusaha mengungkapkan suatu hal yang kini terasa mencekam.
"Carolin," gumanya.
"Kenapa dengan Carolin?" tanya Lily dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat tegang.
"Dia nggak ada."
Ucapan dari Lala seakan menjadi Sambaran petir di siang bolong! Mata Lily terbelalak lebar saat mendengar segala hal yang dikatakan oleh saudarinya itu.
"Jangan bercanda! Kenapa dia bisa hilang?! Bagaimana cara kamu menjaganya?!" Suara Lily meninggi dan rasa amarah mulai terselubung di benaknya pada saat itu.
"Aku tadi ingin ke toilet, maaf." gumam Lala sembari terisak. Ia sangat menyesali perbuatannya yang terlalu teledor sehingga mereka kehilangan teman mereka di tempat yang terkenal penuh bahaya.
Lily yang melihat tangisan saudara kembarnya akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Sekarang tidak ada waktu untuk menyesali apa yang terjadi, dan suatu hal yang harus mereka lakukan adalah mencari keberadaan Carolin.
"Oke, tidak ada waktu untuk menangisi kebodohan kamu, sekarang ayo kita pergi dan cari di mana keberadaan Carolin. Kalau bisa, kita harus meretas ponselnya dan mencari tahu di manakah ia sekarang.
***
Sementara itu di tempat lain...
Tepatnya di sebuah mobil mewah, Carolin yang memang mabuk akhirnya kini muntah-muntah di dalam mobil.
Para pria yang membawanya akhirnya dibuat mual oleh perbuatannya. Tapi apalah daya? Mereka tidak bisa berbuat banyak selain menutup hidung masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya mereka sampai ke sebuah mansion besar milik keluarga regan.
Di sebuah ruangan, Bian Regan menatap ke arah depan dengan tatapan dingin, datar, dan tajam! Tatapannya menerawang jauh kedepan, tapi ada suatu hal yang membara di dalam benaknya.
"Bian?" Panggil seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Bian yang tadi tengah memikirkan sesuatu akhirnya membuyarkan semuanya dan menatap ke arah sumber suara.
"Ada apa, Very? Apa mereka sudah datang?" Pertanyaan tanpa titik terang itu tentu dapat diartikan oleh asisten pribadi, sekaligus teman dekat Bian.
"Ya, sesuai dengan dugaanmu. Tapi–bolehkah aku tanya satu hal?" Pertanyaan itu seakan menggantung, tapi ada suatu keseriusan yang tidak ditampakkan, namun masih dapat dirasakan.
"Silahkan." jawab Bian singkat.
"Kenapa kamu setuju menikahi gadis itu? Dan saat wanita itu terang-terangan menolakmu, kenapa kamu malah mencarinya? Bukankah akan lebih baik kalau kamu membiarkannya pergi?" tanya Very. Suaranya memang terdengar datar, tapi ia sungguh sangat ingin tahu dengan segala alasan yang Bian miliki.
"Awalnya, aku ingin bersenang-senang dengannya, tapi tampaknya ia begitu tegas. Bahkan tampang dan uang yang aku memiliki tidak berhasil membuatnya menyerahkan diri padaku. Aku penasaran pada wanita itu." Ucapan Bian mengejutkan Very, ia menatap tidak percaya pada pria itu.
Pria yang bahkan tidak kuasa meniduri kekasihnya harena beberapa vaktor itu tampak bermain-main dengan api!
"Lagi pula, kamu kenal aku, kan? Aku tidak akan membiarkan milikku dimiliki orang lain! Lebih baik aku menghancurkannya dengan tanganku sendiri dari pada dimiliki oleh orang lain!" jawabnya tegas!
"Bian! Kamu harus ingat, kamu memiliki kekasih! Dan wanita itu hanya sosok asing yang tiba-tiba saja datang!"
Ucapan Very seakan menyadarkan Bian yang melampaui batas! Tapi Bian yang merasa ada ikatan lain enggan melepaskan wanita yang baru pertama kali ia temui itu.
Tatapannya, cara menolak, dan cara dia mendorong tubuhnya mengingatkannya pada seseorang yang sebenarnya ia miliki sekarang. Kenapa sikap itu terasa tidak asing? Kenapa sentuhan bibir itu terasa manis? Bian tidak bisa mengungkapkannya, dan bahkan seperti enggan mengakuinya. Tapi ada yang tertinggal –bukan hanya sekedar rasa, tapi juga ada kenangan yang seakan mengorek luka lama yang hampir sembuh–tapi tidak sepenuhnya!
"Aku tidak tahu, tapi–lakukan apapun yang aku katakan! Aku tidak ingin mendengarkan sebuah nasihat, apa lagi bantahan! Kamu camkan itu!" tekan Bian dengan suara tegas dan penuh rasa membara yang berkobar!