5, Ranjang Panas!

1044 Words
Beberapa saat sebelum Lala keluar dari dalam toilet... Carolin yang sudah banyak memuntahkan segala isi perutnya akhirnya merasa kehausan, dan mulutnya terasa pahit dan bau. Tapi, ia yang memaksakan diri menatap ke berbagai arah dan juga menatap ke segala penjuru ruangan akhirnya tidak menemukan siapapun. Bahkan di meja ia tidak melihat apapun yang bisa meredakan dahaga dalam tenggorokannya. "Aku sendirian? Teganya mereka meninggalkan aku." gumamnya sembari terisak. Tenggorokannya bahkan sudah terasa sangat kering, dan ia akhirnya bergegas untuk berdiri dari duduknya dan berencana keluar dari dalam ruangan. Langkahnya tidak menentu, dan ia tampak sempoyongan. Meskipun demikian, ia tetap berusaha untuk segera mencapai daun pintu dan berusaha keluar dari sana. Tapi, baru saja membuka pintu dan hendak keluar, beberapa pria memakai pakaian formal berwarna hitam tampak mendatanginya dan..., "Mau apa kalian?! Aku tidak punya uang, jadi kalian tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dariku." gumam Carolin. "Kami tidak perduli soal itu, Nona. Dan tugas kami membawa anda kembali." ujar salah satu orang. Mata Carolin hanya terbuka setengah saja, dan hal itu akhirnya membuatnya kesulitan untuk melihat dengan jelas beberapa orang itu. Dahinya mengernyit saat mendengar kata kembali. Kembali pada siapa, dan kemana yang ia maksud? Ia bahkan tidak punya tempat yang benar-benar seperti rumah. "Tidak! Pergilah kalian, aku tidak mau ikut siapapun sekarang!" Tolak Carolin dengan sangat tegas sembari berusaha untuk memperlihatkan perlawanannya. Tapi, tampaknya orang-orang itu tidak perduli. Mereka menggenggam lengan Carolin dan membawanya pergi. Carolin sangat terkejut dengan segala hal yang mereka lakukan. "Lepaskan aku! Lepaskan aku sialan!" Meskipun ia berusaha untuk melepaskan diri, tapi nyatanya semua hal itu tidak dapat menghentikan mereka. Bukan hanya kalah tenaga, Carolin yang mabuk bahkan tidak dapat mengulur waktu untuk mencari bantuan. Ia langsung di bawa keluar dari sana, dan setelah itu akhirnya Carolin sampai ke sebuah mobil. Tanpa menunggu banyak waktu, akhirnya tubuhnya di masukan secara paksa ke mobil itu. Carolin tentu menolak dan bahkan seakan berusaha untuk kabur tapi– mabuk membuatnya tidak berdaya, dan mereka tidak perduli. Setelah beberapa saat kemudian setelah Carolin mencoba mengumpulkan tenaga, akhirnya ia mulai berteriak! Suara teriakan dari Carolin sungguh membuat telinga mereka seakan berdengung. "Astaga! Kita bisa stres kalau begini! Apa ada obat bius?" tanya seorang pria. Salah satu pria akhirnya tampak merogoh sakunya dan segera mengeluarkan sebuah sapu tangan dan juga sebuah semprotan. "Aku punya, kita bungkam saja mulutnya agar tidak membuat onar!" ujarnya. Pada akhirnya mereka membungkam Carolin hingga wanita itu jatuh pingsan tak sadarkan diri. Carolin tampak duduk tenang di dalam sana, dan bahkan kini kepalanya bersandar pada salah satu bahu seorang pria. Mobil terus melaju meninggalkan kawasan Clubing. Pada saat itu, mereka tampak terdiam. Sesekali mereka memperhatikan wajah Carolin yang terlihat sangat imut, namun juga terlihat cantik. Bulu matanya lentik, hidung mancung dan bibir mungil itu membuat semua pria yang ada di dalam mobil menahan diri agar tidak melakukan apapun pada wanita itu. Mereka tahu– mengganggu seseorang yang tengah dicari oleh bos mereka adalah suatu kesalahan fatal yang bisa membuat nyawa mereka melayang ke alam baka! *** Di sebuah kamar..., Bian tampak duduk di sebuah sofa yang ada di sana. Tangannya tampak menggoyangkan sebuah gelas berkaki panjang, dan..., bibirnya menyesap perlahan wine yang ada di dalamnya. Suara ketukan pintu mulai terdengar, Bian menghentikan minumnya dan segera bergegas menuju ke pintu kamar untuk mengetahui siapa yang datang. Setelah pintu terbuka, ia melihat Very ada di sana dan membungkuk sejenak. Ekspresi wajah Bian mulai terlihat datar, namun ia tetap diam. "Wanita itu sudah ditemukan, di manakah kita harus menaruhnya?" tanya Very pada saat itu juga. Ia tidak ingin berbasa-basi terlalu lama. "Bawa dia kesini." pinta Bian. Ucapan Bian akhirnya membuat Very tercengang sejanak. Ia bahkan menatap wajah temannya dengan tatapan tegang. "Aku sudah memerintahmu, sekarang pergi! Dan bawa wanita itu ke sini!" Ucapan Bian sedikit meninggi, Very akhirnya tidak dapat menolak. "Baik." balasnya sebelum pergi dari sana. *** Beberapa saat kemudian, hadirlah beberapa orang, dan salah satu dari mereka ada di urutan paling depan. Pria itu membawa Carolin yang tampaknya tidak sadarkan diri. Bian yang masih penasaran dengan wanita itu akhirnya mendekat, dan ia menatap wanita yang menyandang status sebagai istrinya itu tampak seperti tertidur lelap. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian datang membawanya dengan keadaan begini?!" Pertanyaan Bian terdengar mengintimidasi, dan mereka tampak merasa tertekan. "Maaf, Tuan – Beliau tadi sangat mabuk, dan kami hanya membiusnya sejenak karena nona tidak bisa diam dan terus memberontak." terang salah seorang pada saat itu. Bian menatap ke arah mereka dan mencoba menyelidiki segala hal melalui ekspresi wajah mereka. Seluruh anak buahnya tampak menelan ludah kasar setelah mendapatkan tatapan itu. "Berikan wanita itu padaku!" pinta Bian, dan anak buahnya menyerahkannya dengan mudahnya. Bak memberikan sebuah benda yang akhirnya Bian bawa ke ranjang. "Pergi, dan jangan ganggu aku!" tekannya lagi. Mereka semua pergi dari sana dan menutup pintu. Bian memang memiliki kekasih, dan dia bukanlah seorang Casanova, tapi – melihat tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya membuatnya merasa ada desiran aneh. Ingin rasanya ia menolak untuk tidak menyentuh wanita itu, tapi tidak bisa. Ia mulai mengawali sentuhan itu dari bagian kaki jenjang wanita yang kini membuatnya terbakar gairah. Gairah yang sulit timbul saat ia tengah bermesraan bersama kekasihnya kini benar-benar hidup dan membara. Tanpa sadar, Bian menanggalkan satu persatu apa yang ia kenakan. Naik ke atas ranjang dan mulai menghirup aroma harum dari tubuh Carolin. Carolin merasa tubuhnya panas seketika dan beberapa saat kemudian, ia mulai bangun dan mencoba menanggalkan semua yang ia kenakan Hal itu akhirnya membuat Bian menelan ludahnya kasar, ia menarik tangan Carolin dan mulai melumat bibir wanita itu. Carolin yang masih mabuk akhirnya menikmati apa yang mereka lakukan. "Ummmppph, lepaskan! Ummmpppphhh!" Carolin berusaha untuk memberontak, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Bian dengan rakus melahap, menyesap dan menggigit kecil. "Ah! Jangan" ujar Carolin saat ia merasa bagian intinya di masuki sesuatu dengan sangat cepat. Kaki Carolin gelisah. Bibirnya di bungkam, dan tubuhnya naik turun karena pergerakan di bagian intinya yang terasa memburu dan cepat. Desahan Carolin membuat Bian menggila, ia tidak bisa berhenti bergerak, dan suara desah itu membuat nafsu Bian meninggi. "Tidak bisa begini!" tekannya. Ia membuka paha dan mulai melakukan suatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali. Keringat membanjiri tubuh mereka, dan hawa panas di kamar itu menimbulkan sensasi ingin lebih. Bian gelap mata, lidahnya mulai menari-nari dan membuat Carolin merintih penuh nikmat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD