6, Terbangun di ranjang asing!

1077 Words
Carolin sampai resah, dan hal itu terjadi saat ia merasa ada sesuatu yang menyedot bagian intinya. Ingin rasanya ia melihat apa yang terjadi, namun ia tidak bisa melakukannya. Saat ia mulai mencoba menarik sesuatu yang tenggelam di sana, ia akhirnya memegang kepala Bian yang sedang asik memberinya surga duniawi. "Jangan lakukan itu!" tekan Carolin, Bian bangkit dan... Seketika tubuhnya terasa di tindih, dan "Aagh! A–apa yang kamu lakukan?!" Carolin menangis saat bagian intinya terasa robek, dan tubuhnya cenderung naik turun dengan pelan. "Aku tidak bisa menghentikannya. Kau istriku sekarang, kau harus melayani aku." ujar Bian sembari memacu pergerakan. Menusuk dalam, mengeluarkannya lagi dan ia melakukan dengan sangat brutal. Tadinya Carolin menangisi segala hal yang terjadi, namun setelah Bian mulai bergerak cepat, ia malah mendesah dan menerimanya. Kakinya melingkar di pinggang, dan tangannya mulai memeluk tubuh kekar seorang pria yang menjadi suaminya. Akhirnya, mahkota yang ia jaga terenggut juga. Yang paling menyedihkan adalah – ia terpaksa kehilangan hal itu karena mabuk. Tidak ada cinta diantara mereka, Bian melakukannya karena ia tidak bisa mengendalikan kelelakiannya yang bangkit hanya melihat tubuh Carolin. *** Pagi pun tiba... Mentari mulai menelusup di celah jendela. Carolin membuka matanya perlahan , dan hal pertama yang ia lihat membuatnya terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya terasa sakit semua, dan bahkan tidak ada bagian yang tidak merasakan sakit sama sekali. Saat ia melihat ke arah atap-atap kamar, ia mulai menyadari – ia berada di tempat yang tidak ia kenali di mana tempatnya. Langit-langit kamar asing, dan ia berusaha mengingat kejadian akhir kemarin hingga ia ingat satu hal yang membuat matanya terbelalak lebar. Perkataan dari seorang pejantan tangguh teringat begitu saja di dalam otaknya, dan kini Carolin bahkan menitikan air mata. "Aku tidak bisa mempertahankannya. Setelah apa yang aku lakukan terendus, bagaimana dengan benih yang di titipkan dalam rahimku?" gumamnya dengan suara yang terdengar parau. Isak tangisnya teredam, air mata mengalir deras, tanpa suara. Bahkan saat Carolin memejamkan mata, air mata itu mengalir begitu saja. Dengan sisa tenaga, Carolin bangkit dan berusaha untuk menuju ke kamar mandi. Tubuhnya terasa sakit semua, tapi bagian itu harus ia bersihkan karena terasa begitu lengket. Saat beberapa saat kemudian, Carolin terperangah saat ia memandang sekujur tubuhnya yang ditinggalkan banyak jejak merah. Matanya terbelalak lebar saat melihat pantulan dirinya di dalam cermin. "I–ini..., tidak mungkin!" gumam Carolin dengan suara bergetar saat melihat pantulan dirinya yang terlihat mengenaskan! *** Di waktu yang sama, namun di dalam tempat yang berbeda.. Seorang pria tampak duduk di ruang makan sembari melamun. Ada hal yang tampaknya sangat ia pikirkan. Beberapa pelayan bahkan bingung pada saat yang sama. Mereka ingin bertanya, tapi terlalu takut. "Bian, ada apa kamu memanggil aku pagi-pagi begini?" tanya Very. Meski Bian adalah bosnya, tapi ia akan memanggilnya dengan sebutan Tuan bila sedang ada di kantor saja, selebihnya – ia akan berinteraksi sama – layaknya dengan seorang teman. Bian tampak diam dan melamun, hal itu akhirnya membuat Very bingung. "Terjadi sesuatu?" tanya nya sembari duduk di salah satu kursi. Bian menghela nafas lalu menatap ke arah temannya. "Iya." balasnya dengan nada suara datar. Vary akhirnya merasa curiga saat melihat temannya itu, ia yakin ada suatu hal rumit yang terjadi. "Kalian tinggalkan tempat ini!" Vary mulai memerintahkan semua pelayan pergi, dan beberapa saat kemudian akhirnyanya mereka meninggalkan tempat itu dan hanya menyisakan Bian beserta Very. "Ada apa, Bian? Katakanlah, jangan membuat orang bingung!" tukas Very dengan sedikit kesal. "Very, aku melakukannya." Jawab Bian dengan suara rendah, namun tatapannya terlihat aneh. Temannya akhirnya merasakan bingung saat mendengar ucapannya. "Apa maksudmu?! Katakan yang jelas! Kau membuatku sakit kepala!" Ekspresi wajah Very tampak terlihat sangat emosi, dan hal itu sepertinya tidak dihiraukan oleh Bian. "Aku bisa melakukannya dengan wanita itu, bahkan aku keluar berkali-kali." ujar Bian. Very yang tercengang mendengar pengakuan temannya itu akhirnya melongo dan tak habis pikir. "Apa?! Bagaimana bisa?! Kau bahkan hanya mengenal namanya! Tapi pada kekasihmu sendiri kau tidak berdaya! Barangmu itu bahkan langsung loyo saat kalian bermesraan, 'kan?!" pekiknya dengan suara meninggi. "Ada apa ini?! Apa yang terjadi?" Suara familiar dari seseorang mulai terdengar. Seketika wajah Very tampak menegang sepenuhnya pada saat yang bersamaan kala itu. *** Carolin yang baru selesai mandi akhirnya bergegas mengambil barang-barangnya yang berserakan di lantai. Entah bagaimana semua bisa terjadi, ia tidak lagi memikirkannya. Saat ia mengambil gaun putih yang ia kenakan kemarin, ia juga merasa tidak bisa lagi memakainya. "Aku tidak mungkin memakai gaun pengantin kan? Aku akan cari baju lain, mungkin aku akan mendapatkannya di lemari." gumam Carolin. Seingat dirinya, ia memakai mini dress kemarin, tapi sudah entah ada di mana sekarang. Pada akhirnya Carolin mendapatkan pakaian pria, dan itu juga ukurannya sangat besar. Tapi, ia tidak punya pilihan lain selain memakainya. "Astaga, kenapa rencanaku berantakan begini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Carolin. Mengingat wajah tampan seorang pria yang kini menjadi suaminya membuat jantungnya berdebar sangat cepat. Carolin bahkan seperti menolak percaya dan ia menolak semua rasa yang ternyata tumbuh begitu saja. Mengingat pria itu memiliki kekasih, hatinya terasa sesak dan sakit. "Carolin, sadar..., kamu bahkan tidak di anggap sebagai istri! Mungkin harga dirimu adalah bayaran dari uang yang kamu dapatkan." ujarnya sembari terisak. "Aku ngga boleh begini, aku harus pergi dari sini." gumam Carolin. Saat ia mulai membuka pintu, akhirnya lagi-lagi ia tercengang di saat mendapati dirinya berada di sebuah rumah mewah yang begitu besar. Carolin menelan ludahnya kasar saat menyadari satu hal yang lebih penting. Ia kini benar-benar terjerumus dalam permainan berbahaya yang ia masuki sendiri. "Bisa di penjara aku kalau aku ketahuan menipu." gumamnya. Carolin merasa ingin lari, tapi ada suatu hal yang seakan menahannya untuk tetap tinggal di saat ia menyadari, mungkin ia telah jatuh cinta pada pria yang kini menjadi suaminya. Tapi di sisi lain, ia mengingat ucapan pria itu yang memiliki kekasih. "Apa aku harus membuatnya mencintaiku? Dengan begitu aku bisa selamat dari tuntutan penjara? Aku istrinya kan? Aku mungkin bisa mencobanya. Demi diriku, dan demi membangun kekuatan agar aku tidak akan ditindak pidanakan setelah ketahuan." gumamnya. "Tapi, kenapa aku merasa harus pergi?" Carolin akhirnya bingung, hingga ia memutuskan untuk mencari jalan agar keluar dari sana. Tapi tiba-tiba saja ia malah sampai ke sebuah ruangan yang tidak terduga. Alih-alih mendapatkan jalan dan pintu keluar dari rumah itu, ia malah makin masuk begitu dalam ke area rumah–karena memang rumah itu begitu besar, sedangkan Carolin sendiri tidak dapat menemukan satu orang pun yang bisa ia tanyai jalan keluar. Tubuh Carolin seakan terpaku, dan mematung, di tempat– di saat ia melihat apa yang ia lihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD